KETIKA MELIHATMU

1007 Words
TUJUH HARI SEBELUMNYA… Tok, tok tok… Ada ketukan di pintu ruangan hobinya. Lingga Mahapraja sedang berada di sebuah ‘garasi’ yang menjadi tempat favoritnya. Di sekelilingnya ada deretan mobil mewahnya, dan di sudut ‘garasi’ tersebut terdapat beberapa unit sepeda motor besar yang menambah lengkap koleksi otomotifnya. “Ya masuk,” ucapnya. Sosok Cakra Atmaja, tangan kanan ayahnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Lingga mengajak Cakra duduk di kursi panjang yang ada di sisi kiri ‘garasi’. “Ada apa?” tanyanya. “Om hanya menyampaikan permintaan ayahmu,” ucap Cakra sambil menyodorkan sebuah map. "Ini ada titipan. Ayahmu minta agar kamu langsung mengeceknya." Lingga menerima map tersebut dan membukanya. Di paling atas, terdapat selembar kertas dengan tulisan tangan ayahnya, Luhung Mahapraja. Ia pun membacanya. Tujuh hari lagi ada masquerade party charity gala. Ayah memintamu untuk hadir. Dalam gala tersebut, temui tiga orang perempuan. LANAYA ISVARA LARASATI ADELIA LITUHAYU KAYSHILA Ayah tidak akan memberikan petunjuk lebih lanjut. Ketiga perempuan itu akan hadir dengan mengenakan gaun berwarna merah. Kamu cari dan berkenalan lebih lanjut. Pilih seorang untuk menjadi istrimu. Di akhir surat ada tanda tangan khas ayahnya. Lingga menarik nafas panjang. “Apa ayah normal?” Lingga menatap Cakra dengan kesal. “Ayahmu normal dan baik baik saja,” jawabnya dengan tenang. “Tidak, tidak, tidak,” Lingga mengembalikan map tersebut ke tangan Cakra. “Ayah bersikap tidak wajar. Aku menolak perjodohan.” “Ehm, maaf,” Cakra berdehem sambil menyodorkan map tersebut kembali ke tangan Lingga. “Om ingin menyampaikan pesan dari ayahmu. Katanya, ‘sampai Lingga mengikuti permintaan yang tercantum di dalam map tersebut, saya menolak berkomunikasi’. Jadi, Luhung tidak akan mengangkat telepon ataupun membalas pesanmu sampai kamu mengikuti keinginannya,” jelasnya panjang lebar. Lingga bangkit dari kursinya dengan mata melotot, “Ayah kekanak kanakan sekali. Kelakuan seperti itu jauh dari kata dewasa. “Ini pemaksaan.” “Om hanya menyampaikan pesan ayahmu,” ungkap Cakra sopan. Lingga menghembuskan nafasnya. “Kenapa harus menemui mereka di charity gala tersebut? Saya tidak mood untuk datang,” ucapnya pelan. Cakra tersenyum, “Ketiga perempuan itu kebetulan akan berada di lokasi yang sama. Kamu bisa berkenalan dengan lebih natural, jadi tidak dengan sengaja diatur untuk pertemuan. “Selain itu, dalam acara tersebut, para tamu undangan wajib menggunakan topeng, sehingga kamu bisa menjadi dirimu sendiri, begitupun mereka. Jadi, sepertinya, ayahmu berharap, kalian bisa bersikap apa adanya dan berkenalan tanpa kepura puraan.” Lingga mengatupkan bibirnya dan mencoba mengikuti keinginan sang ayah. “Baiklah, baiklah. Nanti saya datang,” ucapnya malas malasan. “Sekarang, om pamit dulu.” Cakra bangkit berdiri. Cakra bergerak keluar dari ‘garasi’ besar itu dan menutup pintunya. Lingga kemudian menendang sebuah kaleng hingga penyok sebagai tanda kesal. Ia membuka map yang dibawa Cakra. Selain catatan tangan ayahnya, ada juga satu amplop berisi undangan. Ia membukanya. 'MASQUARADE PARTY CHARITY GALA' Hmm... Tujuh hari lagi. Apa ini berarti aku harus melupakan dia? Melupakan masa laluku. Matanya terpejam dan mengenang seseorang. Seorang gadis cantik. Gadis cantik itu, satu satunya, yang akan menjadi istriku. Meski entah siapa namanya dan entah dimana berada. Aku tidak bisa dengan mudah melupakanmu. Kamu cantik dengan aura yang menunjukkan seorang gadis pemberani. Tidak ada kata selain luar biasa memesona. Aku tidak pernah seperti ini. Tujuh tahun, cuma kamu. Lingga berbaring di atas kursi panjang di 'garasi' tersebut dan mengenang kejadian tujuh tahun lalu… Tak sengaja mataku melihatmu. Seketika, ada aliran listrik yang mengalir di tubuhku. >>> TUJUH TAHUN LALU… Saat menoleh ke luar jendela, Lingga melihat sesosok gadis cantik yang sedang berdiri di halte bis. Ia dengan reflek terus memperhatikannya dari dalam mobilnya. Kamu, cantik sekali. Lingga terpesona. Matanya tak berkedip. Gadis itu mengenakan celana jeans dan kaos putih. Penampilan sederhana namun berhasil menarik perhatiannya. Sebuah ransel berwarna putih tergendong di punggungnya. Rambut panjangnya terurai dengan bando yang menahannya. Mobil terus bergerak melintasi halte tersebut. Lingga menoleh ke belakang sambil tak berhenti memperhatikan sosok cantik yang menghipnotisnya itu. Setelah beberapa saat, ia berteriak. "STOP" "A.. Apa tuan?" tanya pengemudinya. "Berhenti," ucapnya. "Tapi ini di tengah jalan," pengemudinya kebingungan. "Bapak bisa lanjut, saya turun di sini dulu..." ucapnya lagi. "Tapi bukankah..." pengemudinya tidak melanjutkan ucapannya ketika menyadari tuan muda yang seharusnya ia antar menemui sang ayah di kantornya, malah turun dan berlari keluar dari mobil. Lingga berlari melawan arus menuju lokasi halte bis, tempat gadis cantik yang menghipnotisnya itu berada. Hingga akhirnya, ia tiba di halte, tepat saat bis berhenti di depannya. Sebelum bisa melakukan apapun, gadis berbandana itu naik kedalamnya. Ah... Bagaimana ini? Lingga belum pernah menumpang bis umum sepanjang hidupnya. Tapi, akhirnya memberanikan diri untuk naik. Gadis cantik itu tidak mendapatkan tempat duduk sehingga berdiri di lorong sambil berpegangan pada handle yang bergelantungan di tengah. Lingga menjaga jarak sambil diam diam terus menerus memperhatikannya. Ia menahan senyum menyadari kegilaannya naik bis umum yang entah akan membawanya kemana. Tapi, Lingga tidak peduli. Secara sembunyi sembunyi, matanya berulang kali melirik ke arah gadis cantik yang berdiri diam dengan tabah. Lingga mengagumi bibirnya yang mungil dengan hidung yang lancip. Matanya bulat sempurna hingga membuatnya begitu terpesona akan keindahannya. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga mengagumi rambut hitam panjang nan legam dan kemilau. Seperti orang aneh, tiba tiba saja, Lingga ingin mengelusnya. Gila. Apa ini isi pikiranku? Saat melamunkan segala isi kepalanya, bis mendadak berhenti. Lingga memperhatikan beberapa penumpang turun dari bis, termasuk juga gadis cantik itu. Oh, aku harus turun. Ia bergegas keluar dari dalam bis dan mencari cari gadis tersebut. Ternyata si cantik berjalan di trotoar lalu berbelok ke sebuah rumah sakit besar. Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia dokter? Atau mau berobat? Lingga tak berhenti dan terus mengikutinya. Tapi, di dalam rumah sakit, ia kehilangan jejaknya. Ah tidak. Kemana dia? Kenapa bisa menghilang dengan cepat dan tanpa jejak? Saat sedang celingukan mencari cari, tiba tiba saja, gadis cantik itu muncul di hadapannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi marah dan kesal. Lingga berubah gugup. “Apa yang kamu lakukan? Aku tahu kamu mengikutiku. Apa kamu stalker?” gadis itu bicara tanpa titik koma dengan nada kesal. O.. Ow… Lingga menelan air liurnya sebagai tanda gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD