Bebita sibuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan, sementara Felix malah main trolley, membuat Bebita harus mengejar-ngejarnya untuk meletakkan barang.
"Lix, diem dulu kenapa! Gue capek ngejar-ngejar lo mulu!" sungut Bebita, yang Felix balas dengan cengiran.
"Sorry beb." Ucap Felix sembari mendekati Bebita.
"Ikutin gue, jangan ngocar-ngacir kemana-mana.” Titah Bebita.
Felix menurut, ia akhirnya berjalan di samping Bebita, tapi tetap saja kakinya berada di atas trolley, meskipun sesekali turun buat dorong trolleynya pakai satu kaki.
Bebita tahu sekarang Felix sedang menahan diri untuk tidak mengomel, karena istrinya itu sedang memasukkan berbagai macam jenis sayur ke dalam trolley, terutama brokoli. Bebita sangat suka brokoli, berbanding terbalik dengan Felix, yang benar-benar membencinya.
"Beb, banyak banget sayurnya," keluh Felix.
"Biar sehat,” sahut Bebita.
"Entar beli ayam ya? Sama daging,” pinta Felix.
"Beli ikan aja." Pungkas Bebita, yang membuat Felix langsung mengerang kesal, dan sebagai pemberontakan, ia keliling lagi menggunakan trolley.
Bebita membiarkannya, malas meladeninya, rencananya mau ia tinggal pulang saja kalau Felix masih ngambek.
Bebita mulai mendekati aquarium, dan memilih-milih ikan yang mau ia beli, ia pun akhirnya membeli satu ekor ikan gurame yang masih hidup, udang, dan gurita. Saat sedang menunggu ikannya dibersihkan, ia mendengar suara debuman yang lumayan keras, Bebita langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari asal suaranya dari mana, dan rupanya Felix menubruk tumpukan dus bersama trolley-nya, sampai-sampai dusnya berserakan kemana-mana.
Bebita membuang mukanya, pura-pura tidak lihat, biarkan saja Felix dibantu orang, pikirnya.
Selesai ikan dibersihkan, Bebita berjalan pergi begitu saja meninggalkan Felix, yang sedang memasukkan barang-barang belanjaan yang keluar dari trolley.
Tak lama kemudian ia menyusul Bebita sambil berlari, gadis itu pun ikut lari untuk menghindar, sumpah, masih malu dengan tingkah Felix. Orang akan tahu kalau mereka saling mengenal, jika Felix mendekatinya. Parahnya, mereka bukan saling mengenal lagi, tapi memang suami-istri.
"Beb, tungguin!" teriak Felix, tapi Bebita pura-pura tidak dengar, "Beb! Berarti entar elu ya yang bayar belanjaannya?!"
Seketika Bebita berhenti lari, membuat trolley yang Felix bawa, menubruk punggungnya, untung tidak sampai jatuh.
"Felix!" sungut Bebita kesal.
Bebita menolehkan kepalanya ke belakang, dan melihat Felix sedang nyengir lebar, namun tak lama kemudian ia mengerucutkan bibirinya.
"Kepala gue sakit nih, tadi masih ke trolley, jadi ngejedug, ehh, malah lo kabur, bukannya bantuin gue,” ujar Felix.
"Tadi gue udah bilang apa? Jangan mainan trolley, kenakan azabnya. Bule Australia sok ganteng, disuruh jangan main trolley gak nurut, kena azab nabrak tumpukan kerdus dan nyusruk ke dalam trolley!” omel Bebita.
"Lo pikir ftv apa?” seru Felix.
"Masih mau gak nurut? Kayak anak kecil aja,” Bebita masih belum puas mengomel.
“Iya-iya, gue yang salah, puas?”
“Ya, emang lo yang salah. Bikin malu, ih,”
“Ehh, tapi tadi yang bantuin gue cewek-cewek cantik, masih muda-muda lohh...” goda Felix sambil memasang raut wajah jail.
Bebita tertawa, “Terus kenapa? Lo pikir gue bakal cemburu?”
“Ish, harusnya cemburu dong! Lo gak cinta ih sama gue,” kata Felix.
“Udahlah, gue mau cepet pulang, capek.”
Felix akhirnya mendorong trolley-nya, lalu Bebita berjalan di sampingnya.
•••
Selesai membayar barang belanjaan, Bebita menyuruh Felix membawa semua belanjaan, dan ia dengan gampangnya menurut, padahal itu hanya alibi Bebita saja agar mereka langsung pulang tanpa mampir-mampir ke toko-toko lain, seperti toko pakaian atau sepatu, Bebita malas. Tapi Felix malah suka sekali ke sana, ia bisa berjam-jam berada di sana, hanya untuk memilih mana yang mau ia beli, atau sekedar cuci mata. Cukup sekali Bebita pernah menemaninya belanja, dan ia kapok. Ia sendiri kurang suka belanja, kecuali ada yang dibutuhkan, jadi saat itu ia tidak membeli apapun, tapi Felix membelikannya sepatu pasangan.
Tapi kalau ke store makeup, Bebita bisa berjam-jam sih, sampai Felix jadi menjaili mbak-mbak yang bekerja di sana.
"Beb, ini mau langsung pulang?" tanya Felix.
"Iyalah, masak mau jalan-jalan sambil bawa belanjaan kayak gitu?" respon Bebita, yang membuat Felix menghela napas.
“Gue kira belanja tuh, bukan belanja bulanan tadinya,” gumam Felix.
"Di rumah bahan makanan hampir habis, sabun, sampo dan lain sebagainya juga. Lagian udah berumah tangga, harus kurang-kurangin beli yang gak perlu,” tutur Bebita.
Felix berdecak, “Tau gitu gue di rumah aja tadi, tidur,”
"Ih, kan mumpung lo lagi gak ada jadwal, harus dimanfaatkan dengan baik dong, berduaan sama gue, belanja bareng tuh salah satu kunci keharmonisan pasangan. Lo gak seneng nemenin gue belanja? Bantuan gue belanja? Gak seneng? Mau gue minta tolong laki-laki lain?”
“Ya, gak gitu, iya gue gak maksud gitu,” Felix kelabakan mendengar ocehan Bebita, “Cuman... gue pengen liat-liat sepatu sama baju, ah, atau gini aja, kita naruh belanjaan di mobil, habis itu balik lagi ke dalem mall?" Felix berkata sambil menatap Bebita dengan raut wajah sumringah, serta penuh harap.
“Enggak, gue beli ikan, nanti jadi bau kalau kelamaan gak ditaruh kulkas,” tolak Bebita.
“Kan ada es batunya,” timpal Felix.
“Lo bisa berjam-jam liat sepatu sama baju, keburu mencair esnya, apa lagi di dalem mobil, panas.”
Felix seketika bungkam, ia menghentakkan kakinya kesal, sembari berjalan duluan meninggalkan Bebita. Bebita tetap tenang, dan mengikuti Felix dari belakang. Seperti sedang momong bocah rasanya, pikir Bebita.
•••
Bebita sibuk di dapur mengolah ikan yang tadi dibeli, sementara Felix menonton televisi di rumah tengah. Sejujur hubungan suami istri seperti ini membosankan, padahal baru beberapa hari menikah, rasanya sudah jenuh.
Biasanya, rata-rata kalau pengantin baru, suami suka menggoda istrinya, lalu sang istri ogah-ogahan atau malu-malu meresponnya, sementara Bebita dan Felix? Malah diam-diaman. Bebita jadi merasa seperti ibu yang sedang mengurus anak.
Sebenarnya Felix ingin membantu Bebita memasak, tapi takut malah bikin rusuh, apa lagi gadis itu sebelumnya baru mengomelinya karena memecahkan piring saat sedang cuci piring.
"Lix!" Bebita tiba-tiba memanggil Felix.
"Apa?” sahut Felix.
"Godain gue dong!" teriak Bebita iseng, Felix terkejut, dan tidak ada respon, membuat Bebita berdecak kesal.
Akhirnya Bebita kembali fokus memasang, tetapi tiba-tiba ada sepasang lengan yang melingkar di bahunya dari belakang.
Bebita tersentak kaget, dan sontak menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, karena merasakan hembusan napas Felix di sana, pucuk hidungnya dengan Felix seketika bersentuhan, membuat keduanya sama-sama membulatkan mata, dan semburat merah menghiasi pipi mereka secara bersamaan.
"Apa sih?" seru Bebita salah tingkah.
"Tadinya katanya minta digodain?" ujar Felix.
"Kan bercanda gue, bikin jantungan aja sih." omel Bebita sembari memalingkan wajahnya dari Felix, untuk menutupi wajahnya yang tidak karuan.
Bebita pikir setelah itu Felix akan melepas pelukannya, tetapi ternyata tidak, pemuda itu masih setia memeluknya. Sebenarnya Felix memeluk Bebita bisa dihitung jari, ia lebih sering menyandar dari pada memeluk.
Tak lama kemudian Felix meletakkan dagunya di atas bahu Bebita, membuat Bebita semakin gugup, namun berusaha tetap bersikap tenang.
"Ngerasa aneh gak sih, gue peluk gini?" tanya Felix.
"Iya, aneh,” jawab Bebita jujur.
Meskipun ia bilang aneh, bukan berarti mau tidak menginginkan pelukan ini, sayangnya Felix malah melepasnya, dan Bebita tidak sempat menahannya, mau minta peluk lagi, tentu saja malu dan gengsi. Padahal hatinya seketika mencelos begitu Felix melepas pelukannya.
Bebita melanjutkan aktivitasnya memasak, seolah tidak terjadi apa-apa, kalau Felix memilih duduk di kursi meja makan, dan setelah itu tidak ada obrolan apapun di antara mereka.
•••
Bebita dan Felix tengah makan siang saat ini, beberapa kali Felix mengeluh karena duri di ikan, pdahal duri gurame tidak begitu banyak. Akhirnya Bebita pun berinisiatif memisahkan antara daging dan duri untuk Felix.
"Jangan kayak bocah, lah,” cibir Bebita.
"Tapi makan ikan emang rempong banget, makanya gue gak suka,” dengus Felix.
"Tapi ikan itu jauh lebih sehat dari daging, lebih murah juga. Emang gak mau uang penghasilan lo jadi lebih hemat?" tutur Bebita.
"Ya iya sihhh..." gumam Felix.
Keduanya kemudian saling terdiam, Felix sebenarnya merasa malu dan tidak enak sudah bersikap kekanakan belakangan ini pada Bebita. Tapi ia merasa nyaman, hanya Bebita yang mau meladeni sikap manjanya.
“Ngomong-ngomong...” Felix tiba-tiba bicara dengan nada ragu-ragu, membuat Bebita menatapnya dengan alis bertaut.
“Kenapa?” tanya Bebita.
“Gue minta maaf udah kayak bocah terus, gue... gak tau kenapa ngerasa nyaman bersikap kayak gitu ke elo,” ujar Felix.
Bebita tersenyum tipis, “Gak papa, tandanya lo nyaman sama gue.”
Felix menghela napas lega mendengar jawaban Bebita, ia kemudian terpikir sesuatu. Dengan mata bergetar dan malu-malu, ia mengutarakan pertanyaan yang membuat Bebita melotot terkejut.
“Lo... mau nyoba first night?” tanya Felix.
“Hah? Mendadak?” respon Bebita.
“Lo gak mau, ya?”
“Bukan gak mau, kenapa tiba-tiba? Ya, jelas gue kaget lah, jangan-jangan lo minta maaf gara-gara mau itu lagi,”
Felix menggeleng, “Enggaklah, kali aja habis ngelakuin itu, kita gak terlalu aneh gini hubungannya,”
“Hahaha, gak cuman gue ternyata yang ngerasa hubungan kita aneh, ya udah, boleh,”
“Serius? Lo yakin? Gue gak mau nyakitin lo,” kata Felix.
Bebita tersenyum, sembari menganggukkan kepalanya yakin, “Iya gue yakin.”
Sebenarnya ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi, tapi kan mereka sudah suami istri, sudah seharusnya melakukan itu. Mungkin saja setelah melakukannya, akan ada perubahan di hubungan mereka.
•••
Felix bilang tidak ingin menunggu malam, sudah mainstream dan ia takut mengantuk, jadi Bebita sudah siap sore ini, ia sudah mandi, sudah wangi, dan mengenakan pakaian yang lebih terbuka seperti biasanya, meskipun sebenarnya hanya kaos oblong dan celana di atas paha. Biasanya Bebita menggunakan celana paling pendek selutut.
Tak lama kemudian Felix memasuki kamar, suasana kamar seketika berubah menjadi menegangkan bagi Bebita maupun Felix.
Felix memperhatikan Bebita sejenak, kemudian mengeluarkan komentar.
"Pakai lipstick?" tanya Felix.
"Liptint sih lebih tepatnya, tapi sama-sama pewarna bibir, hehe,” jawab Bebita.
"Luntur gak entar?" Felix kembali bertanya, yang Bebita jawab dengan gelengan.
“Aman kok, gak akan luntur.” Gumam Bebita.
Felix menutup pintu kamar, membuat suasana kamar semakin menjadi-jadi tidak enaknya, tegang, canggung, malu dan takut, campur aduk jadi satu.
Untuk pertama kali bagi keduanya, merasa debaran jantung yang kencang akibat satu sama lain.
Felix tak lama berjalan ke arah kasur, membuat Bebita yang sebelumnya berada di tengah kasur, sontak bergerak mundur, hingga punggungnya menyentuh sandaran kasur.
Felix naik ke atas kasur, lalu merangkak mendekati Bebita, gadis itu menghindar, dengan cara menggeser tubuhnya ke samping, membuat Felix mendengus dan berdecak.
"Ya jangan kabur-kaburan, gimana gue mau mulai nih?" protes Felix.
"Serem tau gak?” rengek Bebita.
Felix meraih salah satu tangan Bebita, kemudian menariknya sambil ia merubah posisi jadi duduk. Tubuh Bebita pun akhirnya jadi berdekatan dengannya, gadis itu kemudian memejamkan matanya, begitu Felix mendekati wajahnya.
"Jelek banget,” celetuk Felix, yang sontak membuat Bebita membuka matanya, ia menatap pria itu kesal sembari memukul dadanya.
“Resek banget!” seru Bebita.
Felix tertawa, namun tak lama kemudian ia menyatukan bibirnya dengan Bebita, yang membuat gadis itu tersentak kaget. Butuh waktu baginya untuk beradaptasi, sampai akhirnya ia terbiasa, dan memejamkan matanya.
Keduanya sama-sama pasif, jadi banyak diamnya, Felix lalu melepas tautan bibir mereka, dan memindahkan bibirnya ke telinga, dan turun lagi ke rahang. Bebita hanya bisa terdiam, sambil berharap pria itu tidak dapat mendengar debaran jantungnya.
Saat tangan Felix hendak melakukan hal yang lebih jauh, mereka dikejutkan dengan suara bel serta orang berteriak di luar.
"Paket!"
Keduanya seketika saling tatap.
“Paket? Astaga, gue baru inget, gue pesen album, terus hari ini nyampe, udah disms tadi, aduh, lupa,” ujar Bebita, yang membuat Felix mendengus.
"Maaf...” ucap Bebita.
Ia buru-buru turun dari kasur sembari membenahi penampilannya.
“Udah, biar gue aja yang ambil, lo pakai celana pendek kayak gitu,” kata Felix sembari turun dari kasur.
“Hehehe, makasih.” Ucap Bebita seraya memeluk tubuh Felix sejenak dari samping.