"Jadi gak?" tanya Bebita saat Felix baru saja menyerahkan pakaitnya, Felix menggeleng, raut wajahnya terlihat kesal, tapi berusaha ia tutupi.
"Gak ah, udah gak mood. Coba dong liat apa yang lo beli,” kata Felix sembari duduk di pinggir kasur, di samping Bebita.
Bebita pun kemudian membuka paketnya, dan Felix ikut membantu buka. Ada empat buah album, yang Bebita beli sekaligus, belinya sudah lama sebelum menikah, baru sampai hari ini, maklum pre-order dan pengiriman dari luar negeri.
Bebita mulai membuka satu-persatu album, yang pertama album dari boygrub favoritnya, sambil berharap dapat bonus photocard member favoritnya.
Saat membuka album kedua, ia memekik senang, karena akhirnya mendapat photocard member favoritnya.
Felix yang melihat reaksi senang Bebita begitu mendapatkannya, mendengus, “Masih gantengan gue,” gumam Felix.
“Bukan masalah gantengnya, tapi talentanya, udah gitu dia baik banget orangnya, pokoknya gue sayang banget sama dia!” Bebita berbicara dengan semangatnya.
“Hah, lo tuh udah nikah, masih aja fangirl-an kayak gini, berasa diduain gue, entar kalau kita udah punya anak gimana coba?” tutur Felix.
"Ih, emang gue mangkir dari tugas gue sebagai istri karena fangirl-an? Enggakkan? Lagian kita emang udah kayak suami istri? Enggak, lo aja masih kayak bocah, udah mikirin sampe masalah anak segala,” ujar Bebita.
“Tapi kan kita udah nikah, meskipun gak kayak suami istri umumnya, t*i statusnya suami istri,” timpal Felix.
"Ya tapi kita gak kayak suami istri! Lagian apa salahnya sih gue seneng-seneng? Ini pakai uang gue sendiri kok belinya, lo cemburu gue seneng karena cowok lain?”
Felix seketika bungkam. Bebita jadi kehilangan mood, ia akhirnya membereskan album-albumnya, kemudian turun dari ranjang.
Bebita bisa merasakan Felix terus memperhatikan gerak-geriknya, tapi ia tidak peduli. Selesai menyimpan album, ia memilih keluar kamar meninggalkan Felix.
Suasana mendadak jadi terasa tidak nyaman, kalau mau berduaan dengan Felix.
•••
Felix merenung di kamar, kenapa ia bisa sekesal ini hanya karena Bebita mengidolakan pria lain? Cemburu? Tapi perasaannya kan tidak jelas pada Bebita. Apa karena statusnya yang sudah menjadi suami Bebita, jadi otomatis timbul rasa cemburu?
Felix menghela napas, bingung dengan perasaan dan jalan pikirnya sendiri. Ia merasa pernikahannya terasa agak aneh dan janggal, apa karena ia tidak pernah pacaran sebelumnya, jadi tidak punya pengalaman sama sekali dalam menjalin hubungan asrama? Tapi sepertinya banyak orang yang nasibnya sama sepertinya, namun tidak semembingungkan ini kehidupan pernikahannya.
Yah, tapi Felix kan tidak tahu lebih dalam rumah tangga orang lain bagaimana.
Ya sudahlah, jalani saja, pikir Felix, mungkin nanti bisa berubah.
Sebenarnya Felix tiba-tiba melamar Bebita, karena ibunya ingin ia cepat-cepat menikah, saingan dengan temannya yang anaknya sudah menikah.
Padahal anak teman ibunya itu lebih tua empat tahun darinya, tapi tetap saja, ibunya merasa tersaingi. Usia Felix itu masih sangat muda, meskipun terbilang sudah dewasa, tapi sebenarnya masih bisa dikategorikan anak-anak, usianya dua puluh dua tahun. Ia sama sekali belum ada rencana menikah sebelumnya, ia memacari Bebita, karena jujur saja, merasa kesepian saat itu.
Sayang tidaknya ia dengan Bebita, jelas ia sayang, tapi belum tahu sebagai apa, entah teman, sahabat, saudara, atau pasangan. Ia juga meragukan perasaan Bebita padanya, apa gadis itu menyayanginya sebagai pasangan?
Setelah cukup lama merenung di kamar, Felix memutuskan keluar kamar. Saat ia keluar, ia melihat Bebita tengah tiduran di sofa sambil menonton televisi.
Entah dorongan dari mana, ia tiba-tiba ingin bermanja-manja pada Bebita. Ia pun kemudian mendekati Bebita, dan naik ke atas tubuhnya, tangannya merengkuh pinggang Bebita, kemudian kepalanya ia letakkan di bahu gadis itu.
Bebita tentu saja terkejut, namun ia tidak berkomentar apapun.
"Boleh elusin kepala?” pinta Felix dengan nada suara pelan.
Tanpa mengatakan apa-apa, Bebita menuruti kemauan Felix. Elusan tangan Bebita sangat lembut, membuatnya jadi mengantuk, padahal Felix berniat mengajak Bebita ngobrol sebelumnya, tapi karena mengantuk, ia akhirnya jadi tertidur.
•••
Felix terbangun, dan menemukan posisinya masih sama, memeluk Bebita. Ia beranjak dari atas tubuh Bebita, dan menemukan gadis itu tertidur.
Beruntung tubuh Felix tidak terlalu besar, jadi Bebita tidak keberatan menahan bobot tubuhnya. Namun tetap saja, Felix sedikit tidak tega.
Felix turun dari sofa, kemudian menggendong tubuh Bebita untuk dipindahkan ke kamar, kasihan kalau tidur di sofa, pikir Felix.
Setibanya di kamar, ia membaringkan tubuh Bebita dengan hati-hati di kasur, saat gadis itu menggeliat, ia mengusap kepala Bebita agar tetap tertidur. Setelah memastikan Bebita dalam posisi yang nyaman, Felix melirik ke arah jam dinding, sudah hampir memasuki malam, tetapi Bebita belum masak makan malam.
Makanan harus ada sebelum Felix merasa lapar, dari pada masak, Felix memutuskan untuk cari makan di luar, selain lebih cepat, ia jadi tidak harus makan sayur. Yah, lagi pula ia tidak begitu pandai mengolah sayur.
Felix pun pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan menyisir rambut, ia lalu membalut celana pendeknya dengan celana jeans panjang, dan jaket bomber. Bersiap keluar untuk cari makan.
Setelah mengantungi ponsel dan dompet, ia pun lekas pergi, kali ini ia tidak naik mobil, karena pergi sendiri. Dari pada memenuhi jalan, ia juga malas harus terjebak macet nantinya, lebih baik jalan kaki, naik kendaraan umum atau motor kalau pergi-pergi sendiri. Sayangnya ia tidak punya motor.
•••
Felix tidak menemukan makanan yang pas untuk makan malam di sekitar apartemen, jadi ia terpaksa harus pergi lebih jauh, tapi karena ia merasa jaraknya masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, ia pun memutuskan pergi jalan kaki, meskipun napasnya jadi ngos-ngosan karena jalan jauh.
Yah, tidak masalah sih, sekalian olahraga, pikir Felix. Ia membeli seblak makaroni, kebab, martabak telur, martabak manis, bakso, tahu pedas sepuluh biji, dan ayam geprek sambal hijau
Mantap, perutnya siap-siap meledak, sekaligus telinganya, ia yakin Bebita pasti akan mengomel ia membeli banyak makanan dari luar. Bebita memang sangat menjaga apa yang dimakan.
Selesai membeli semua makanan ini, ia langsung pulang, tanpa mampir kemana-mana lagi, karena sudah gelap, ia jadi buru-buru pulangnya. Takut Bebita sudah bangun, lalu masak, hah, jangan sampai. Nanti makanannya mau dikemanakan?
Saat sedang berjalan di koridor apartemen, ia malah tanpa sengaja menabrak seseorang, saat ia melihat siapa yang ditabrak, Felix tertegun sejenak melihat wajahnya, cantik.
Iya, yang ia tabrak perempuan, menggunakan kerudung coklat dan jaket hoodie berwarna putih, serta rok panjang krem.
Felix tersenyum padanya, dan ia membalas senyumannya, namun kemudian buru-buru pergi.
Mata Felix tanpa sadar tidak lepas dari gadis itu, namun beberapa saat kemudian ia teringat Bebita, bisa-bisanya ia kagum dengan gadis lain? Pikir Felix.
Ia pun buru-buru pulang ke unit apartemennya, dan berusaha melupakan sosok gadis tadi.
•••
Bebita terbangun dan menemukan dirinya sudah berada di kamar, tetapi ia tidak menemukan Felix. Disaat sedang kebingungan mencari, ia mendengar suara pintu yang dibuka tutup.
Tak lama kemudian muncul sosok pria berambut coklat, berkulit sedikit gelap di kamar, ia tersenyum manis pada Bebita, sembari menunjukkan belanjaan yang ia bawa. Raut wajah Bebita seketika berubah jadi garang.
"Siapa yang bolehin lo beli-beli jajanan sembarangan?" ujar Bebita sambil berkacak pinggang.
"Yang bolehin? Yang bolehin diri gue sendiri." Jawab Felix.
Bebita turun dari ranjang, ia mendekati Felix, kemudian mengecek apa saja yang sudah dibeli pria itu. Ada tahu pedas dan seblak, yang tadinya mau marah, jadi tidak jadi.
"Pokoknya gak boleh sering-sering beli makanan di luar,” ucap Bebita.
"Iya, iya. Seneng juga kan lo gue beliin jajanan gini? Emang gak bosen makan sayur mulu?" timpal Felix.
Bebita tidak menjawab, ia mengambil kantung plastik berisi seblak dan tahu, kemudian membawanya ke ruang tengah, Felix mengikuti, lalu di samping Bebita sembari meletakkan makanan yang lain ke atas meja.
"Cuci muka dulu lah, baru juga bangun,” titah Felix.
Lagi-lagi Bebita tidak menjawab, ia langsung bangkit berdiri untuk cuci muka di cucian piring, malas mau ke kamar mandi.
Saat ia kembali seusai mencuci muka, ia melihat Felix sudah makan duluan, tapi yang ia makan martabak manis. Bebita pun kemudian duduk di tempatnya semula, dan memilih memakan seblak lebih dulu untuk pembuka.
"Eh Beb," panggil Felix.
"Hhmm?" sahut Bebita tanpa melihat ke arah Felix.
"Gue tadi ketemu cewek cantik,” ujar Felix sembari menatap Bebita dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bebita hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon, kemudian bertanya, "Dia tinggal di sini juga? Lo nanya namanya siapa gak?"
Felix terlihat kecewa dengan reaksi Bebita, namun ia kemudian menutupinya.
"Kayaknya sih tinggal di sini juga. Gue gak nanya, soalnya dia langsung pergi," kata Felix.
"Kenapa gak lo cegat?" tanya Bebita.
"Gue terlalu terpesona,” ucap Felix.
Bebita tidak merespon, tapi tidak terlihat raut wajah kecewa atau kesal di wajahnya.
Keduanya pun akhirnya malah jadi diam-diaman, dan fokus menyantap makanan masing-masing.
Bebita tidak tahu, kenapa ia biasa saja mendengar cerita Felix, ia pikir Felix mungkin hanya kagum saja.
"Kalau gue deketin gimana?” tanya Felix.
"Emang dia mau?” respon Bebita.
"Ya, mau aja kali, siapa sih yang mau nolak gue?"
"Gue,"
"Lah terus kenapa lo jadi istri gue?"
"Biar pas pulang kampung gak ditanyain, kapan nikah,"
Raut wajah Felix seketika langsung tertekuk.
"Lo juga samakan?" tuding Bebita.
"Dih, enggak,” tukas Felix.
Bebita menatap ragu Felix, Felix balik menatap Bebita dengan tatapan kesal.
“Kita sebenernya nikah karena apa sih?” tanya Bebita.
“Yah, karena saling suka,” jawab Felix.
“Kalau saling suka gak mungkin lo masih bahas cewek lain,” kata Bebita.
Felix malah tersenyum mendengarnya, “Lo cemburu?”
Bebita mendengus, “Udahlah, males bahasnya,”
“Eh? Lo sendiri tadi yang bahas.”
Bebita pura-pura tidak dengar dan melanjutkan makannya.