Shazia menyingkirkan tangan Azril yang sedang memeluk pinggangnya dengan hati-hati, dia bangkit dari tempat tidur dan memperbaiki pakiannya lalu keluar dari kamar Azril. Tidurnya sama sekali tidak nyenyak dan itu membuat Shazia pusing. Isi pernyataan itu masih terngiang-ngiang kepalanya, dia langsung mencuci wajah dan bersiap-siap untuk masak. Shazia masih bisa berpura-pura di depan Azril, walaupun itu menyakiti hatinya. Setelah berpikir semalaman, Shazia akhirnya memikirkan jika Azril tidak memberitahunya karena sesuatu hal. Dia akan menunggu Azril untuk menjelaskan hal itu kepadanya. Shazia tidak akan menanyakan itu dan memutuskan menunggu kemauan Azril untuk bercerita jujur. “Azril, bangun…” Azril baru saja membuka mata ketika dia melihat Shazia melangkah ke dalam kamar. “Barusan

