Chapter 5 - Bulan Madu dan Mimpi Buruk

2188 Words
Tiba-tiba saja Kamil jadi teringat kembali akan pertanyaan yang waktu itu keluar dari mulut Natasha. “Apa yang akan kamu perbuat seandainya suatu hari nanti kita harus berpisah?” tanyanya waktu itu. Awalnya dia mengira Natasha sudah tak sadarkan diri saat melontarkan pertanyaan itu. Namun siapa sangka ternyata itu bukanlah sekadar racauan. Dan Kamil tak akan dengan mudahnya menceraikan Natasha. Dia sangat mencintainya. “Beri aku waktu satu bulan lagi untuk membuktikan padamu kalau kita bisa memperbaiki semuanya bersama-sama,” pintanya mantab. Ada keyakinan yang terlukis jelas di wajahnya. Keyakinan kalau dia bisa terus melanjutkan ikatan pernikahan ini. Berbanding tebalik dengan suaminya, Natasha malah kelihatan putus asa. Layaknya seorang pendaki yang sedang tersesat di tengah-tengah hutan rimba, dan lupa bagaimana caranya membaca arah mata angin. “Lalu apa yang akan kamu lakukan jika pada akhirnya semua tidak membuahkan hasil?” tanyanya. Kamil menghela nafas panjang. Dia lalu terdiam sejenak untuk berpikir. “Baiklah. Jika memang itu yang terjadi …,” ucapnya. “… maka aku akan menyerahkan semuanya ke tanganmu.” Waktu sebulan itu benar-benar dimanfaatkan oleh Kamil untuk menyenangkan hati Natasha. Dia menghujani Natasha dengan banyak hadiah. Sesuatu yang dulu hanya dilakukannya di saat perayaan hari ulang tahun Natasha, perayaan hari ulang tahun pernikahannya dan di hari kasih sayang. Mulai dari tas, baju, sepatu, peralatan makeup hingga produk perawatan kulit yang mahal sekalipun, semua dia belikan untuk wanita yang sangat dicintainya itu. Jika akhir pekan tiba, Kamil juga membatasi kegiatan rumah yang seharusnya dilakukan Natasha. Dia begitu memanjakan Natasha. Menganggapnya selayaknya ratu. Tak peduli meskipun isi kantong dan tenaganya jadi terkuras habis. “Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini semua, sayang,” kata Natasha. “Kamu malah membuatku merasa jadi istri yang tak berguna.” Dia, dibantu oleh Kamil, sedang sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di perabot rumahnya. Itupun sebelumnya, Natasha harus bersitegang dulu dengan Kamil. Kalau tidak, mustahil Kamil mau mengizinkannya untuk ikut bersih-bersih. Padahal yang mau dia bersihkan itu juga hanya debu-debu halus, bukannya barang-barang yang terkontaminasi dengan racun. Kamil tersenyum. “Aku melakukan semua ini secara suka rela,” katanya sambil menggerakkan kemocengnya untuk membersihkan rak bukunya yang berdebu. “Aku menganggap surat cerai itu sebagai cambuk peringatan, agar aku bisa lebih menyenangkan dirimu,” imbuhnya. “Kamu sudah lebih dari menyenangkan diriku. Sungguh,” ucap Natasha. “Tapi aku belum bisa menyenangkanmu di atas ranjang,” debat Kamil. Natasha menggeleng. “Tidak, bukannya kamu tidak bisa,” tampiknya. “Tapi penyakitku inilah yang membuatku jadi tak bisa menikmati sentuhan darimu.” Diletakkannya kemocengnya ke atas meja. Kamil lalu berdiri menghadap Natasha dan meletakkan kedua tangannya di pinggang Natasha. “Besok tanggal merah, bukan?” tanyanya, yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan kepala. “Aku sudah buat jadwal temu dengan seorang seksolog terbaik seantero negeri ini.” “Besok?” tanya Natasha terkejut. “Ya,” jawab Kamil. “Karena jadwal seksolog itu sangat padat dan susah sekali membuat janji temu dengannya, jadi aku tak mau mendengar ada kata penolakan. Oke?” “Terima kasih untuk semuanya, sayang,” kata Natasha selepas mencium pipi kiri dan bibir Kamil. “Semoga kali ini pengobatanmu berhasil,” ucap Kamil dengan senyumnya yang manis. ***** Keesokan harinya, keduanya menghabiskan waktu kira-kira hampir satu jam lamanya untuk konsultasi dengan seksolog senior berkacamata tebal itu. Namanya Dokter Carna Atalli. “Sebelumnya apa ibu sudah pernah coba pakai ‘alat bantu’ dewasa?” tanya sang dokter. “Sudah, dok,” jawab Natasha. “Apa ada perubahan?” Natasha menggeleng. “Belakangan hari ini tidak. Kemarin malam suami saya juga sudah coba mengajak saya ‘berhubungan badan’ lagi, tapi hasilnya tetap sama,” jelasnya. “Saya tetap kesulitan mencapai klimaks setiap kali berciinta dengan suami saya.” Dengan sigap Kamil merangkul sekaligus mengusap-usap pundak Natasha. Dia jadi merasa bersalah sekaligus iba, walaupun adanya kondisi Natasha sekarang bukanlah akibat dari perbuatannya. “Apakah ibu memiliki luka trauma pada organ panggul atau organ kelamin?” tanya Dokter Carna seraya membetulkan kacamatanya. “Tidak.” “Apakah ibu pernah mengalami komplikasi akibat pembedahan pada daerah panggul, pembedahan ginekologi, atau tindakan prostatik?” “Seumur hidup, saya belum pernah yang namanya memasuki ruangan operasi, dok,” jawab Natasha lagi. “Apa ibu punya riwayat penyakit seperti cedera pada sumsum tulang belakang atau kencing manis?” “Tidak, dok. Saya maupun keluarga saya semuanya sehat.” Dokter Carna terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Bagaimana dengan riwayat penyakit psikologis?” tanyanya. “Apa ibu memiliki gejala-gejala seperti gangguan kecemasan, stres atau depresi?” Pertanyaan Dokter Carna tadi begitu mengetuk hati Natasha. Bagaimana bisa dia melupakan soal kesehatan psikologisnya? “Akhir-akhir ini saya memang sedang stres, terutama soal kerjaan,” aku Natasha. “Dan … anorgasmia saya ini kadang membuat saya jadi sulit berinteraksi dengan orang lain, terutama lawan jenis.” Manik Kamil sontak terbuka lebar. Dia begitu terkejut. Apakah dirinya termasuk ke dalam daftar lawan jenis yang dimaksud oleh istrinya? Setelah menjalani beragam pemeriksaan dan konsultasi, Dokter Carna akhirnya memvonis Natasha mengidap anorgasmia situasional. “Ini adalah jenis gangguan 0rgasme yang paling umum,” tuturnya. “Di mana seseorang hanya bisa mencapai puncak kenikmatannya dalam situasi atau pasangan tertentu. Pada kasus ini, biasanya gangguan 0rgasme dapat pulih dengan sendirinya,” timpalnya. Tanpa sadar senyum Kamil merekah saat dirinya mendengarkan penjelasan dari sang dokter. Bisa sembuh dengan sendirinya? Hebat. Itu tandanya masih ada secercah harapan bagi Natasha. Dokter Carna lalu memberikan Natasha resep vitamin dan obat-obatan, termasuk pil warna merah jambu yang merupakan gabungan dari senyawa sildenafil dan testosteron. Keduanya langsung mampir ke apotek setelah itu. “Kenapa kamu tidak cerita kalau akhir-akhir ini kamu sedang stres?” tanya Kamil kelar membayar resep obatnya. Dia dan Natasha sedang jalan bersama menuju parkiran mobil. “Aku cuma tidak ingin menambah beban pikiranmu,” jawab Natasha. “Karena aku tahu, bukan cuma aku saja yang kadang jadi stres karena kerjaan.” Kamil mendengus kesal. Dia lalu berdiri terdiam di tempatnya sambil berkacak pinggang. “Lagi-lagi kamu memakai alasan itu,” gerutunya. “Tidak ada yang namanya istilah ‘menambah beban pikiran’. Aku ini suamimu, Natasha. Sudah seharusnya aku yang kamu jadikan sebagai tempat bercerita, demikian pula sebaliknya.” “Maafkan aku …,” gumam Natasha. Ditangkupkannya wajah Natasha dan diciumnya bibirnya dengan lembut. Kamil sama sekali tidak mengindahkan beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya. “Yang terpenting sekarang, jangan sekali-kali mencoba untuk menutup-nutupi semuanya dariku, oke?” pintanya. “Aku cinta padamu.” Natasha hanya tersenyum sembari mengangguk. ***** Berhubung minggu depan ada tiga hari libur nasional, Kamil yang masih melanjutkan misinya untuk menyenangkan hati Natasha itu lantas menggunakannya untuk mengajak Natasha liburan. Dia memilih pulau Yasawa yang letaknya ada di negara Fiji, salah satu negara kepulauan yang masuk ke dalam wilayah Samudra Pasifik. Hitung-hitung sekalian bulan madu kedua dan ambil cuti. Dulu keduanya pernah menghabiskan waktu bulan madunya di Budapest, Hungaria. Setelah itu tadinya keduanya berencana ingin melanjutkan bulan madunya di Bulgaria. Tapi apa daya Kamil dan Natasha malah tersesat di Romania. Kamil menyewa resort tropis yang letaknya ada di tengah-tengah Pulau Yasawa. Dia dan Natasha menginap selama lima hari di sana. Karena resort tersebut sifatnya pribadi, maka hanya ada mereka dan tim housekeeping yang menempati resort tersebut. Sore telah tiba. Matahari sedang terbenam, menghiasi langit dengan corak oranye kemerahan. Natasha melepas sandalnya dan jalan bertelanjang kaki menyusuri pasir pantai yang warnanya putih itu. Ombak yang bergulung-gulung membawa air laut hingga ke tepi pantai, termasuk beberapa hewan laut yang tak sengaja hanyut terbawanya. Diambilnya sebuah cangkang kerang yang ukurannya lebih besar dari telapak tangannya, dan dipandanginya dengan sorot kagum. Belum pernah Natasha melihat kerang sebesar ini. Diletakkannya lagi cangkang kerang itu ke atas pasir, yang seketika kembali dibawa hanyut oleh ombak air laut. Tawa Natasha lepas saat tiba-tiba Kamil mengangkat tubuhnya dari belakang. “Apa kamu suka dengan pantai ini, sayang?” tanyanya di dekat telinga Natasha. Natasha lalu membalik tubuhnya dan melingkari kedua tangannya di leher Kamil. “Oh, sayang, pantai ini begitu indah,” sahutnya. Diambilnya sebuah bunga kamboja yang barusan dipetiknya dan diselipkannya ke telinga kiri Natasha. “Kamu sangat cantik, sayang,” puji Kamil. Dengan perlahan Kamil menyatukan bibirnya dengan bibir Natasha. Ciuman itu terasa lembut dan malu-malu di awal, namun semakin lama berubah jadi makin b*******h. Kamil lalu membaringkan tubuh Natasha ke atas pasir. Keduanya melanjutkan cumbuannya, dan terkikik geli saat air laut menyapu tubuh serta wajahnya. “Aku rasa kita harus pindah ke kamar,” gumam Natasha. Digendongnya tubuh istrinya dan dibawanya menuju kamar tidurnya. Terlebih dulu Kamil menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan Natasha dengan ganas sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia lalu lanjut melucuti satu per satu pakaian yang menutupi tubuhnya, tanpa sedetikpun melepas kontak matanya dengan Natasha. Diambilnya cairan pelumas serta ‘alat getar’ yang bentuknya mirip seperti alat vital milik laki-laki itu dari atas meja. Kamil lalu menyuruh Natasha untuk duduk membelakanginya seraya menyenderkan bahunya ke atas dadanya. Dituangkannya cairan pelumas itu ke atas lipatan kenikmatan milik Natasha, membuat tubuh Natasha sedikit bergelinjang saat cairan yang rasanya agak dingin itu menyentuh bibir kewanitaannya. Dengan gerakan menggoda Kamil memainkan kedua jari tangan kanannya di daerah kewanitaann serta klit0ris Natasha. Setelah dia merasa kalau milik Natasha sudah cukup basah dan siap untuk ‘dimasuki’, barulah Kamil meraih ‘alat getar’-nya dan menggerakkannya dengan arah berputar searah jarum jam di titik klit0ris Natasha. Pertama-tama dia memilih tingkat getaran medium. Kamil menyeringai, lalu menekan pilihan getaran yang paling kencang, membuat Natasha semakin terbuai dengan ‘mainan dewasa’ tersebut. “Ahhh sayang …,” desah Natasha seraya memejamkan kedua maniknya dan meremas paha Kamil. Dengan pelan Kamil membelah dinding kewanitaann Natasha menggunakan ‘alat getar’ tersebut. Dia lalu menghujamkan ‘alat getar’ tersebut dengan tempo cepat, persis seperti setiap kali dirinya ‘memasuki’ milik Natasha yang hangat. Mata Natasha makin terpejam erat. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Menit demi menit telah berlalu. Tapi kenapa dia tak kunjung merasakan getaran kenikmatan itu? “Sayang,” panggil Kamil yang masih sibuk memainkan ‘alat getar’ itu di daerah kewanitaann Natasha. “Apa kamu sudah mau mencapai klimaks?” tanyanya. Dia sudah dibakar oleh nafsu. Ingin agar kejantanannya yang gantian merasakan kenikmatan dari jepitan dinding kewanitaann istrinya. “Nghh … belum, sayang,” jawab Natasha separo mengerang. Dan saat dirinya berkata demikian, gerakan tangan Kamil berubah jadi semakin semangat. Tangan kiri Kamil, yang tadinya sibuk memegangi paha mulus Natasha, kini berganti meremas satu gundukan ranum milik Natasha. Dengan harapan stimulasi di puncak gundukan kembarnya itu juga bisa membuat Natasha semakin dekat dengan orgasmenya. ‘Ayolah, sedikit lagi,’ benak Natasha frustrasi. Tetapi semua sia-sia. Natasha lagi-lagi gagal meraih nikmat bercintanya. Dia pun mampu merasakan betapa resah dan capeknya Kamil, yang sedaritadi terus-terusan ‘menyervis’ dirinya. Tak mau membuang-buang waktu, Natasha akhirnya meminta Kamil untuk berhenti. “Stop,” ucapnya. “Kenapa?” tanya Kamil seraya mengerutkan dahinya yang mulus. Dibaliknya tubuhnya dan ditangkupkannya wajah Kamil dengan kedua tangannya. “Masuki aku sekarang,” pinta Natasha. Kamil menuruti permintaan Natasha. Dia lalu beranjak membungkus batang beruratnya yang tengah berdiri dengan tegak itu menggunakan ‘alat pengaman’-nya. Ditindihnya tubuh Natasha ke atas ranjang dan dimasukinya miliknya dengan perlahan. Kamil mendesah keenakan saat miliknya bersatu kembali dengan milik Natasha. Dia membenamkan wajahnya ke leher Natasha yang jenjang lalu mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang liar. “Oh, f**k, Natasha,” desah Kamil. Percintaan itu berlangsung lumayan lama. Namun sialnya, sama seperti sebelumnya, hanya Kamil yang berhasil mencapai puncak kenikmatannya. Dan begitu memperoleh kesadarannya kembali, perasaan Kamil jadi dibuat terenyuh saat dia melihat ada kesedihan yang terpancar di paras cantik istrinya. “Natasha?” panggil Kamil. “Kamu belum mencapai klimaks?” tanyanya. “Tidak,” bohong Natasha dengan senyumnya yang tipis. Dalam hati, dia juga mengasihani dirinya sendiri. Bahkan seksolog yang paling terkenal sekalipun tak mampu mengobati anorgasmia-nya. “Kamu sudah membuatku puas.” “Katakan padaku jika memang kamu belum puas, sayang,” desak Kamil dengan dahinya yang tambah mengernyit. “Jangan bohong padaku.” “Aku tidak bohong, sayang,” tampik Natasha. Dia lalu menyingkirkan tubuh Kamil dari atas tubuhnya. “Aku mau mandi dulu. Badanku lengket.” Tapi Kamil tidak mengizinkan Natasha beranjak dari atas ranjang. Dengan cekatan dia menindih tubuh Natasha kembali dan menyirami leher, wajah serta gundukan kembarnya dengan kecupan-kecupannya yang sarat akan hasrat. “Aku akan pastikan kamu mencapai klimaksmu kali ini,” gumamnya. “Tidak usah, sayang,” tolak Natasha sembari terus mencoba untuk menghindari ciuman bibir Kamil. Namun Kamil sama sekali tak mempedulikan permintaannya. Tanpa aba-aba, dia langsung ‘memasuki’ Natasha kembali lalu menyambar bibir Natasha dengan ganas. “Mphhh!” erang Natasha yang terus meronta-ronta di bawah dekapan tubuh suaminya. Efek ‘pil biru’ yang sebelumnya dikonsumsi oleh Kamil tak hanya membuat miliknya keras dan tahan lama. Tapi juga membuatnya hanyut terbawa oleh kenikmatannya sendiri. Membuatnya lupa akan perasaan dan penyakit istrinya. Tepat setelah Kamil memperoleh puncak kenikmatannya yang kedua, dan selagi dia masih kelelahan akibat percintaan panasnya itu, buru-buru Natasha menyingkir dari hadapan Kamil. Dia lalu memakai kembali seluruh pakaiannya dengan tergesa-gesa, dan meninggalkan Kamil sendirian di dalam kamar. “Natasha, tunggu!” teriak Kamil. Namun pintu sudah keburu ditutup. Natasha sama sekali tak menoleh. Sambil menangis dia berlari ke arah pantai.     ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD