Begitu mendengar ucapan Paula, Adrian merasa seolah-olah kakinya terantuk batu. Sebuah petir yang tak terlihat menyambar kepalanya. Mustahil Paula sedang mengandung buah cintanya. Meskipun gemar ‘berbagi desahan’ dengan wanita, tapi Adrian adalah laki-laki yang paling berhati-hati soal yang namanya kehamilan. Dia selalu memastikan untuk menggunakan ‘pengaman’—atau paling tidak, jika sedang kepepet sekali, membuang ‘benihnya’ di luar. Dia belum siap jadi seorang ayah.
Adrian yang sudah kadung malu dan dongkol dengan perbuatan Paula lantas dengan secepat kilat mengakhiri pertemuan bisnis itu. Untungnya, setidaknya dia masih bisa sedikit bernafas lega karena Paula datang menggerecok di saat pertemuan bisnisnya telah usai. Dimintanya seluruh tamu undangannya untuk pulang. Diajaknya Paula untuk bicara empat mata dengannya di ruang kerja pribadinya.
“Kalau memang benar kamu sedang mengandung anakku, aku mau kita memeriksanya ke dokter kandungan sekarang juga,” ajak Adrian dengan nada bicara mengancam. “Biar aku yang menanggung seluruh biayanya.”
Dahi Paula seketika mengernyit tak suka. “Jadi kamu tidak mempercayaiku?” ucapnya. “Untuk apa aku membohongimu, sayang? Dia ini memang benar anakmu kok!” cetusnya.
Adrian menggeleng. “Aku tak akan mempercayaimu sebelum aku melihat buktinya dengan mata kepalaku sendiri,” tampiknya serius.
Paula hanya terdiam di tempatnya. Dia memutus pandangannya dengan Adrian dan beralih menatapi sebuah jam pasir yang tergeletak di atas meja kerja Adrian yang tertata dengan rapih.
Melihat Paula tak bergeming layaknya sebuah manekin, dengan kesal Adrian lalu menghubungi Sofie, personal asistennya. Dia tak mau membuang-buang waktunya yang berharga itu dengan Paula. Baginya waktu adalah uang. “Tolong atur ulang seluruh jadwalku dan buatkan aku jadwal pertemuan dengan dokter kandungan besok, di rumah sakit manapun,” perintah Adrian di telepon sembari memandangi wajah Paula dengan sorotnya yang membunuh.
“Baik, boss,” sahut Sofie. “Apa ada lagi yang boss perlukan?” tanyanya.
Sontak Paula langsung menghentikan obrolan Adrian dengan personal asistennya. “Tunggu!” katanya bak sedang kebakaran jenggot.
Adrian meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia jadi semakin yakin kalau Paula hanyalah mengada-ada saja.
“Sebenarnya aku …,” gumam Paula sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia menelan salivanya dengan kasar. “… aku cuma bermain-main denganmu, sayang. Aku tidak sedang mengandung anakmu,” akunya.
Sebuah seringai serigala muncul di wajah tampan Adrian. Dia lanjut bicara dengan Sofie di telepon. “Tidak jadi. Batalkan saja,” ucapnya sebelum memutus panggilannya. Adrian beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati Paula, yang sedang duduk di depan meja kerjanya. Dia lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dan mencengkeram dagu tirus Paula dengan tangan kanannya. “Aku masih memberikanmu kebebasan kali ini. Tapi jika suatu saat nanti kamu mengulanginya lagi, kamu tahu ‘kan apa konsekuensi yang akan kamu terima, hm?” gumamnya.
“I … iya, sayang …,” kata Paula terbata-bata.
Mantan kekasih Adrian yang ke-dua belas itu memang penurut. Berbanding tebalik dengan sifat Adrian yang dominan. Adrian bisa saja menyuruh Paula untuk mengusap bahkan menjilat sepatu pantofelnya di depan khalayak umum, dan Paula akan dengan senang hati melakukannya asalkan dia bisa bersama-sama dengan Adrian lagi.
“Jangan panggil aku ‘sayang’,” ujar Adrian. “Aku bukan kekasihmu.”
“Ya, Tuan …,” gumam Paula. Dia masih mengingat permainan peran yang sering dilakoninya dengan Adrian dulu. Paula akan berlagak selayaknya asisten rumah tangga yang siap memenuhi hasrat tuannya kapapun saat diminta.
“Good girl,” kata Adrian sembari mengusap-usap kepala Paula, seakan-akan Paula adalah hewan peliharaan yang nurut dengannya. “Sekarang, pergi dari sini dan jangan pernah kembali. Kecuali aku yang menyuruhmu untuk kembali. Mengerti?”
Paula hanya mengangguk dengan nurut. Dia pergi dari gedung Enigma Softwares setelah itu sambil menutup-nutupi wajahnya dengan rambutnya karena enggan ditatap orang.
Dua jam sebelum jam kerja berakhir, personal asisten Adrian mendatangi ruang kerja Adrian. “Saya dengar setelah pertemuan bisnis tadi kita kedatangan tamu tak diundang. Apa itu benar, boss?” tanya Sofie, sekadar basa-basi. Dia tengah hamil tua.
Adrian menghela nafas panjang. “Benar. Tapi tidak usah khawatir, dia sudah ‘kuurus’,” jawabnya. Dia lalu melayangkan pandangannya pada sebuah map kertas yang sedang dipegang oleh Sofie. “Ada yang mau kamu bicarakan denganku?” tanyanya.
Diletakkannya map kertas tersebut ke atas meja kerja Adrian. “Ini surat pengunduran diri saya, boss,” jawab Sofie.
Hanya dibacanya surat pengunduran diri itu sekilas. “Kamu mau resign?” tanya Adrian kaget.
“Ya, boss,” jawab Sofie sembari mengangguk. “Rencananya setelah melahirkan saya tidak akan kerja lagi dan mau fokus mengurus anak,” jelasnya.
“Kenapa mendadak sekali, Sofie?” tanya Adrian.
Kepalanya seketika jadi tambah sakit. Dia memijat pelipis mulusnya dengan frustrasi. Padahal Sofie adalah personal asisten kesayangannya. Kerjanya ulet, teliti dan terorganisir. Hampir tak pernah dia mengecewakan boss-nya. Dia juga mampu mengikuti serta mengatur jawal Adrian yang terkadang terlampau sibuk itu.
“Baiklah, kalau memang begitu keputusanmu,” timpal Adrian. “Tolong perintahkan tim HRD untuk segera mencari penggantimu, dan janganlah resign dulu sebelum aku mendapat penggantimu. Oke?” perintahnya.
Sofie mengangguk sambil tersenyum. “Oke, boss,” katanya.
“Semoga kelahiranmu lancar,” ucap Adrian.
“Terima kasih, boss.” Sofie terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Omong-omong, kenapa boss menyuruh saya untuk mengatur jadwal dengan dokter kandungan? Apa kekasih boss sedang mengandung?”
“Aku sedang tidak punya kekasih,” jawab Adrian dengan raut wajah getirnya.
**Sepulang kerja**
Adrian jalan menelusuri lorong gedung Enigma Softwares dengan langkah gontai. Lelah sekali rasanya. Hari ini dia bukan cuma sibuk karena harus mengurus pertemuan bisnis itu, tapi dia juga harus berhadapan dengan mantan kekasihnya yang agak ‘rada-rada’.
Ayahnya, Berend, yang masih terbaring lemas di ranjang rumahnya, tiba-tiba meneleponnya. “Ya, ayah?” sapa Adrian.
“Bagaimana pertemuan bisnisnya? Lancar?” tanya Berend.
“Ya,” jawab Adrian acuh tak acuh.
“Ayah dengar ada seorang perempuan yang datang ke pertemuan itu dan bilang kalau dia tengah mengandung anakmu?”
Sudah Adrian duga kalau kabar tak mengenakkan ini akan sampai ke telinga ayahnya dengan cepat. “Benar,” jawabnya. “Tapi ayah tidak usah memikirkannya. Perempuan itu mantan kekasihku, dan dia cuma mengaku-ngaku. Dia tidak sedang mengandung anakku.”
“Ah, sayang sekali,” tutur Berend dengan sedikit bumbu kekecewaan di nada bicaranya. “Padahal kalau benar, tadinya baru saja ayah ingin merayakannya dengan membuatkanmu pesta yang meriah.”
“Aku pulang dulu,” kata Adrian yang sudah malas berbincang dengan ayahnya. Keinginan Berend dan mendiang istrinya, Aleyna, agar Adrian cepat menikah dan memiliki anak memanglah belum sirna. “Semoga lekas sembuh, yah,” tutupnya. Panggilanpun berakhir.
Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik yang usianya kira-kira lima tahun lebih muda daripada Adrian, datang tergopoh-gopoh menghampiri saat Adrian hendak menekan tombol lift menuju parkiran mobil.
“Eh … Mister Adrian?” panggil wanita cantik itu kikuk.
Diperhatikannya sejenak penampilan wanita tersebut dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Rambutnya yang panjang sedada, berwarna coklat sedikit pirang dan bergelombang itu digerai dengan bebas. Dia mengenakan dress warna hitam polos yang panjangnya selutut, yang mencetak setiap inchi lekuk pinggang dan gunung kembarnya dengan indah. Telapak kakinya yang mulus itu dia lindungi mengenakan sepasang high heels warna nude.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adrian semangat.
Perempuan itu mengulurkan tangan kanannya. “Perkenalkan, namaku Demelza Galimuna. Saya putri Tuan Neumann,” jawabnya.
Diterimanya uluran tangan Demelza. Telapak tangannya terasa halus sekali. “Tuan Neumann dari perusahaan Galactic Industrial?” terka Adrian.
“Ya, Mister Adrian.”
“Panggil saja Adrian,” kata Adrian dengan senyumnya. “Kenapa belum pulang?” tanyanya bingung.
“Aku menunggumu,” jawab Demelza malu-malu. “Aku … ingin kenal lebih dekat denganmu,” imbuhnya dengan sedikit semburat merah di pipinya.
“Tidak seharusnya kamu menungguku, Demelza,” kata Adrian. “Aku bukan laki-laki yang pantas untuk wanita semanis dirimu.”
Demelza menggeleng. “Jangan beranggapan seperti itu, Adrian. Kita bahkan belum saling mengenal?” tampiknya.
Adrian tersenyum nakal. “Kamu yakin mau mengenaliku?” tanyanya seraya mengusap pipi Demelza dengan jari-jari tangan kanannya.
Diambilnya sebuah kartu nama dari dalam clutch-nya lalu diberikannya pada Adrian. “Ini nomor ponselku,” tutur Demelza. “Kutunggu telepon darimu.” Dia lalu menyuguhkan Adrian sebuah kecupan di pipi kirinya sebelum pergi meninggalkannya.
*****
Sampai kini, setelah dilihatnya lembaran surat cerai itu, Kamil tetap terus mencoba untuk berpikir positif. Pikirnya, siapa tahu dia cuma salah paham. Siapa tahu kalau ada salah satu teman Natasha yang berniat untuk menceraikan pasangannya, dan meminta agar Natasha saja yang mencetak contoh surat cerai itu. Apalagi jabatan Natasha di kantor juga memungkinkannya untuk memakai mesin cetak dan mesin fotokopi.
Dan yang paling penting, toh namanya maupun nama Natasha tak tertera di sana. Hubungannya dengan Natasha juga baik-baik saja. Obat dari dokter juga nampaknya sudah mulai membuahkan hasil. Lantas apa yang harus dikhawatirkan?
Tetapi demikian, masih ada sedikit rasa ganjil yang mengganjal hati Kamil. Hal itu bahkan sampai membuat dirinya jadi kurang fokus di tempat kerja. Padahal hari ini kafe Bean Latte Bistro miliknya sedang ramai didatangi pengunjung. Terhitung dua kali banyaknya Kamil melakukan kesalahan. Yang seharusnya diberikan kopi americano, malah diberikannya matcha latte. Yang seharusnya tidak pakai gula, dia malah menuangkan gula sebanyak tiga sendok.
Sore itu, Kamil memutuskan untuk menutup kafenya lebih awal. Dia lalu mampir ke tempat kerja Natasha dan terus menunggunya hingga jam pulang kerja.
Natasha begitu terkejut saat melihat Kamil sedang menunggunya sendirian di lobby. “Sayang?” panggilnya. “Tumben datang ke kantorku? Memangnya kafemu sudah tutup?” tanyanya heran.
Kamil mengangguk. “Aku tutup lebih awal hari ini,” jawabnya. Diperlihatkannya sebuah goodie bag berisi sebotol anggur yang barusan dibelinya pada Natasha. “Aku beli wine. Pasti enak kalau dimakan dengan steak,” sambungnya.
“Eh? Kenapa tutup lebih awal? Kamu sakit?” tanya Natasha cemas.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Kamil dengan senyumnya. Dia lalu merangkul pundak Natasha dan jalan bersama menyusuri lobby menuju pintu keluar. “Aku mau mengajakmu makan malam,” katanya.
“Ah, jadi karena itu kamu menutup kafemu lebih awal? Soalnya masak steak butuh waktu yang lumayan lama, bukan?” terka Natasha dengan senyumnya.
Kamil hanya tersenyum tipis. Sesungguhnya bukan cuma itu alasan utama dia menutup kafenya lebih awal hari ini.
Natasha menikmati makan malam buatan suaminya dengan lahap. Kalau boleh dibilang, ini adalah salah satu steak paling enak yang pernah dia cicipi sepanjang hidupnya. Rasa dan tingkat kematangannya pas. Bahkan sangkinan terlalu fokus menyantap steak-nya, Natasha sampai tak menyadari kalau sejak tadi seringkali Kamil curi-curi pandang menatap wajah cantiknya.
“Sayang?” panggil Kamil. Dia belum menghabiskan steak-nya. Pikirannya menyulitkannya untuk fokus menikmati rasa masakannya. “Ada yang mau aku tanyakan padamu.”
Diletakkannya garpu dan pisau steak-nya ke atas piring. “Soal apa, sayang?” tanya Anastasia penasaran.
“Tadi pagi, saat kamu masih tidur, aku lihat ada amplop yang kamu selipkan di macbook-mu,” ujar Kamil. “Dan saat aku membacanya, ternyata isinya … contoh surat cerai? Kenapa kamu menyimpan surat semacam itu, Natasha?” tanyanya resah.
Ada ketakutan dan kegelisahan yang terpancar dari setiap kata yang dilontarkan oleh Kamil. Hal itu membuat tubuh Natasha seketika membatu. Dia tak tahu harus memulai semuanya dari mana. Memang telah lama dirinya berniat menceraikan Kamil, tetapi dia belum melangkah sejauh itu untuk merealisasikan niatnya ke pengadilan.
Dan Natasha tak mungkin berbohong. Alasan apa lagi yang harus dia gunakan? Surat cerai itu bukanlah rekayasa dan candaan semata.
Setelah seluruh nyalinya sudah terkumpul, barulah Natasha mau membuka mulutnya kembali. “Aku … memang berniat menceraikanmu,” jawabnya nanar. “Tapi aku belum membawanya ke pengadilan, karena akupun masih menimbang-nimbang semuanya. Maafkan aku karena sudah menyakiti perasaanmu, sayang …”
“Apa yang salah dariku, sayang?” tanya Kamil sembari memegangi kedua lengan Natasha. “Apa yang tidak kamu suka dariku? Katakanlah padaku, biar aku memperbaikinya.”
Natasha menggeleng. Air matanya mulai berjatuhan dengan deras. “Bukan kamu, tapi aku yang salah,” lirihnya. “Aku tak sanggup membohongimu lagi. Penyakitku ini sudah jadi ‘racun’ yang akan mencegah kita meraih kepuasan. Dan asalkan kamu tahu, obat dari dokter itu tak membuahkan hasil. Aku memalsukan orgasmeku kemarin karena aku tak mau menambah beban pikiranmu.”
Diusapnya air mata yang membasahi Natasha dengan ibu jarinya. Kamil lalu membenamkan kepala Natasha ke atas dadanya yang hangat. “Kita masih bisa mencari dokter lain,” katanya iba. “Pasti ada jalan untuk mengobati anorgasmia-mu, sayang.”
“Memang,” gumam Natasha. “Tapi rasanya … aku sudah tak mampu merasakan lagi yang namanya kebahagiaan …”
Kamil merenggangkan pelukannya. Dia lalu terdiam sejenak, memandangi Natasha dengan mimik wajahnya yang serius. “Aku tak mau bercerai denganmu,” tukasnya.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥