"men-menikah?" tanya om Berto kaget
Deven mengangguk tegas
"kenapa?, kalian..." tante Melissa yang bicara
Deven mengeluarkan hasil USG Marcha dari tas nya
amplop cokelat
tante Melissa mengambil nya lalu membuka nya amplop itu dan melihat isinya dan semua keterangan nya
"ini..."
"Marcha hamil" kata om Berto
"dan itu adalah tanggung jawab saya om" kata Deven
"kenapa?, kalian?"
"dad, mom... Marcha bisa jelasin" kata Marcha dengan wajah pucat
"ini udah menjelaskan semuanya" kata om Berto marah "kurang ajar ya kamu Deven, Marcha ini anak om... atasan kamu"
"saya kenal Marcha sebelum..." kata Deven
"lupakan saja, saya tidak akan menerima karyawan sendiri jadi anggota keluarga apalagi karyawan rumah sakit" teriak om Berto
"anak.." kata Deven
"pergi ke bidan, cari cara menggugurkan nya" kata om Berto tidak punya empati
"om... dia anak saya" kata Deven
"keluar kamu dari rumah saya" teriak om Berto
"Dev, lo yang bener dong" kata Ingvar dengan kening berkerut tampak kesal "ini kakak gue"
Deven gak nyangka bahkan Ingvar juga marah padahal Deven berusaha bertanggung jawab dengan perbuatannya kepada Marcha
"gue..." kata Deven
"KELUAR" teriak om Berto
Marcha menarik lengan Deven untuk berdiri
"lo keluar dulu Dev" kata Marcha sembari berbisik pelan
"tapi ini anak gue" kata Deven
"ini bukan waktu buat bahas anak" kata Marcha menyeret Deven keluar dari rumah Marcha
keluarga Marcha mengikuti Deven dan Marcha keluar
"om..." Deven sudah akan berkata tapi
"lo pergi dan jangan kembali kesini dan juga ke rumah sakit" kata om Berto dengan wajah penuh amarah "saya pecat kamu sekarang"
Deven melihat daddy Marcha itu berjalan ke arah pintu dan membantingnya
"kamu mengecewakan tante Dev" kata tante Mellissa
"Deven cuma ingin bertanggung jawab" kata Deven
"bukan masalah bertanggung-jawab tapi seharusnya dari awal kalian tidak melakukan hal yang memalukan ini" kata tante Mellissa yang lalu mengikuti om Berto masuk ke dalam rumah
"Var" panggil Deven
Ingvar hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kecewa dan ia masuk ke dalam rumah
"Cha" panggil Deven
"gue udah bilang khan, gak bisa Dev" kata Marcha
"tapi di rahim lo itu tetap anak gue" kata Deven
"gue tau tapi menikah sama lo itu gak mungkin, keluarga gue gak akan pernah setuju apalagi karena gue hamil" kata Marcha "buat keluarga gue ini sudah pasti aib"
"kita sudah melakukan nya atas dasar suka sama suka dan itu bukan aib" kata Deven
"lo tau background keluarga gue" kata Marcha "mereka gak akan semudah itu ngijinin gue nikah sama sembarangan lelaki apalagi kalau lo cuman dokter di rumah sakit punya keluarga gue, we are on different level"
"gue gak peduli apapun alasannya, yang sekarang terjadi lo hamil dan lo hamil anak gue" kata Deven
"kita omongin ini nanti lagi ya Dev, gue mesti hadapi bonyok gue" kata Marcha
"tapi..." kata Deven
*give us a time" kata Marcha "keluarga gue pasti shock"
Deven menghela nafasnya, memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku
"fine, call me if you need anything Cha" kata Deven
Marcha mengangguk dan ia segera masuk ke dalam rumah nya
Deven melihat punggung Marcha menghilang dari balik pintu dan berharap kalau Marcha... apapun yang terjadi tidak menggugurkan anak mereka
Deven membalikan badannya dan pergi dari rumah Marcha
malam itu Deven tidak bisa tidur
pikiran nya hanya ada di Marcha dan anak mereka
dan pekerjaan Deven...
om Berto sudah memecatnya jadi Deven tau diri kalau hari ini dia tidak perlu datang ke rumah sakit
tapi pagi itu...
hp Deven berdering
Deven melihat di layar monitor
Ingvar yang telepon...
Deven menghela nafasnya, mungkin ini urusan rumah sakit bukan tentang Marcha
kalau urusan Marcha
kenapa bukan Marcha yang telepon Deven?
sudahlah, ia tetap harus mengangkat telepon ini
"hallo Var" sapa Deven dengan nada datar
"lo dimana?, ada masalah di UGD" kata Ingvar
"om Berto kemaren khan pecat gue Var" kata Deven "gue seharusnya gak..."
"ini nyawa orang Dev, lo masih ngomong masalah kakak gue?" tanya Ingvar
"gue cuman ngikutin apa yang pimpinan rumah sakit katakan" kata Deven
"Dev, kita omongin ini nanti pokoknya lo sekarang kesini dan bantuin gue" kata Ingvar "situasi disini darurat"
"okay, gue kesana sekarang" kata Deven
"thanks ya Dev" kata Ingvar
Deven tidak berkata-kata dan mematikan hp nya lalu ia berangkat ke rumah sakit.
Deven datang
Ingvar dan seluruh dokter di UGD tertolong
meskipun butuh sekitar 5 jam Deven berjuang menyembuhkan pasien kritis akibat kecelakaan beruntun di tol
"thanks ya Dev" kata Ingvar menepuk pundak Deven
Deven diam saja tidak menaggapi Ingvar ketika melihat ruang kerja Marcha kosong
"kakak gue masih gak yakin mau ketemu lo atau gak" kata Ingvar
"bonyok lo?" tanya Deven
"mereka masih shock Dev, sama kayak waktu gue pertama kali tau kalau lo sama kak Marcha" kata Ingvar "tapi entah gimana nyokap gue kayak nya udah lebih kalem dan setuju buat kakak gue ngelahirin cucu mereka"
mata Deven melebar kaget "oh ya?"
"jangan terlalu senang, bokap gue masih belum bisa terima elo, dia masih marah, lo gak bisa nyalahin" kata Ingvar "gue sendiri juga bingung"
"maksud nya lo bingung?, lo gak percaya ama gue Var?" tanya Deven
"bukan masalah percaya gak percaya sama lo Dev" kata Ingvar "lo ngomong nikah itu aja bukan masalah mudah dan ini kakak gue, lo cuman tidur sama dia... the important things is, do you have feelings love for my sister?"
Deven diam saja
"kalau lo gak cinta, gak usah ngomong masalah nikah" kata Ingvar "I can't think you can make my sister happy"