Bab 9 ( Pencarian Berlanjut )

1022 Words
Zio tampak berpikir sebentar dan dia kembali melihat pada Rize. “Bukannya takut, Rize, aku berani saja asal jangan sampai mati, aku kan masih belum menikah dan merasakan memiliki keluarga. Masa aku harus mati dulu sebelum merasakan itu?” Rize seketika tertawa renyah. “Menjadi seorang kepala panglima perang itu tidak semudah Hara menjadikan kamu seperti itu. Hara bisa saja mewujudkan menjadi apa yang kamu inginkan, tapi apa kamu nantinya akan dapat menjalankan kewajiban dan tugas kamu dengan baik? Apalagi menjadi seorang kepala panglima perang itu mudah. Ingat itu.” “Mau aku jadikan sekarang?” “Tidak perlu, kalau aku menjadi kepala panglima perang sekarang, aku tidak akan dapat ikut dengan Rize.” Zio tertawa cekikikan. “Hara, terima kasih untuk apa yang sudah kamu lakukan untukku. Aku dan Zio akan pergi dari sini dalam beberapa hari.” “Berhati-hatilah, Rize, dan selalu waspada kepada setiap orang yang menurutmu orang baik dan terdekat dengan kamu. Bawalah ini bersama dengan kamu.” Sebuah ranting pohon berwarna ungu dengan dipenuhi bunga berwarna-warni menjulur pada tangan Rize memberikan sesuatu pada Rize. “Apa ini, Hara?” “Kotak itu kelihatan tidak berharga, tapi kamu dapat menyimpannya karena suatu saat kamu akan membutuhkannya. Kotak itu dapat melindungi diri kamu saat diri kamu tidak berada pada tempatnya.” Zio tampak heran mendengar apa yang dikatakan oleh pohon indah berwarna ungu itu. “Terima kasih sekali lagi, Hara.”  Pangeran Rize dan Zio pergi dari sana. Mereka berjalan menuju pada pintu dimensi di mana tempat Paradise tinggal, tapi sebelum sampai pada tempat itu mereka di panggil oleh seseorang dari arah belakang. “Rize, Zio, kalian mau ke mana?” suara Tsamara dari arah belakang mereka. “Tsamara, kami mau pergi untuk mencari bola kristal ungu yang hilang itu.” “Kalian mau mencari bola kristal ungu itu? Kalian mau mencari ke mana bola itu, dan kenapa sepertinya kalian akan pergi jauh dari sini?” Tsamara melihat Zio membawa tas selempang miliknya yang terbuat dari anyaman. “Kami mau pergi ke suatu tempat, Tsamara.” “Ke mana? Apa aku boleh ikut? Aku juga mau membantu kalian mencari bola kristal ungu itu.” Tsamara memegang lengan tangan Rize. Rize melihat pada lengan tangannya. “Tsamara, aku minta maaf kamu sebaiknya tetap di sini untuk mengawasi juga keadaan di sini. Aku dan Zio akan pergi untuk mencari bola itu. Aku tidak mau mengajak kamu karena bisa saja tempat itu sangat berbahaya dan aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu nantinya.” “Rize, bukannya kita bersahabat, dan aku akan memastikan tidak akan menyusahkan kamu nantinya. Ajak aku untuk mencari bola kristal ungu itu.” “Maaf, Tsamara, aku tidak dapat mengajak kamu. Kamu jagalah baik-baik istana ini, dan doakan agar aku dapat menemukan bola itu secepatnya sebelum hari penobatanku.” Rize mengusap pundak Tsamara.” “Rize, kenapa tidak kita ajak saja Tsamara ikut dengan kita?” bisik Zio. “Tidak bisa Zio, kita ini bukan sedang bersenang-senang. Kita tidak tau ada apa nanti di depan kita dan aku tidak mau membahayakan nyawa Tsamara.” “Hem... tidak mau membahayakan nyawa Tsamara, tapi membahayakan nyawaku.” Rize melirik pada Zio. “Kalau kamu berubah pikiran masih ada waktu, Zio.” Terdengar tawa cekikikan Zio. “Aku hanya bercanda, Rize, kamu jangan serius begitu.” “Rize, aku mohon ajak aku,” ucap Tsamara memelas. “Tsamara, aku dan Zio akan pergi dulu ke tempat itu dan nanti jika aku rasa keadaan di sana aman, aku akan mengajak kamu ke sana untuk mencari bola kristal itu. Aku harap kamu bisa mengerti, lagipula kamu di sini juga harus menjaga bibi kamu yang sedang sakit, kasihan jika bibi kamu yang sakit ditinggal sendiri.” Tsamara yang melihat Rize yang kekeh tidak ingin mengajak dirinya akhirnya memutuskan tidak mau memaksa. “Baiklah.” Tsamara mengangguk. “Aku harap kamu mengerti, aku akan mengajak kamu untuk mencari bola itu jika keadaan memungkinkan. “Kalau begitu hati-hatilah Rize dan aku harap kamu secepatnya menemukan bola kristal ungu itu.” Tsamara tiba-tiba memberikan pelukan pada Rize. Kedua mata Zio mendelik melihat kejadian indah di depannya. “Ehem... Rize, apa kita bisa pergi sekarang? Jangan membuat aku iri melihat kemesraan kalian.” Tsamara langsung melepaskan pelukannya pada Rize. Manik mata gadis cantik itu memandang lekat pada Rize. “Aku akan berhati-hati, kamu juga jagalah diri kamu baik-baik di sini, Tsamara.” “Iya, Rize. Zio, tolong jaga Rize dan kamu juga harus menjaga diri kamu.” “Tenang saja,” ucap Zio. Rize dan Zio berjalan menuju ke hutan untuk melintasi dimensi Paradise, mereka berdua tidak tau jika dari kejauhan Tsamara ternyata mengikuti ke mana Rize dan Zio pergi. “Mereka menghilang dari balik pohon itu?” Tsamar berjalan mendekat saat dia memastika Rize dan Zio sudah menghilang dari sana. Dia memandangi pohon besar berwarna ungu itu, bahkan menempelkan tangannya pada dahan pohon dengan penasaran. “Ke mana mereka berdua pergi? Dan bagaimana bisa mereka menembus pohon ini?” Tsamara tampak bingung di tempatnya. Pangeran Rize dan Zio yang sudah ada di hutan belakang sekolah Paradise dengan cepat berjalan menuju di mana Paradise bersekolah. Mereka melihat suasana sekolah yang saat itu sudah sepi. “Ke mana orang-orang di sini?” Zio tampak mengedarkan matanya melihat sekeliling gedung sekolah yang sudah tidak ada penghuninya sama sekali. “Iya, apa mereka pergi dari sini? Gedung ini sepi.” Rize dan Zio berjalan menyusuri setiap ruang kelas yang ada di sana. “Bangunan ini bagus sekali ya, Rize? Aku dua kali mengelilingi bangunan ini merasa senang sekali, apalagi banyak anak gadis yang cantik-cantik dengan baju yang memperlihatkan kaki jenjang mereka.” Zio terkekeh pelan. “Mereka cantik, tapi pakaian yang mereka kenakan aku tidak menyukainya.”  “Mungkin di sini mereka kekurangan bahan untuk membuat pakaian yang dapat menutupi kaki mereka, tapi aku senang saja bisa melihat kaki indah mereka.” Rize menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh pengawal setianya itu. “Keadaan di sini sudah agak gelap, mungkin mereka sudah pulang ke rumah.” “Kenapa di sini cepat sekali berubah malam? Di tempat kita tadi masih sangat cerah?" Zio tampak melihat ke atas langit yang mulai gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD