Rize gantian mengangguk. “Mungkin pohon Hara ingin aku mengetahui tentang kehidupan gadis gendut itu.”
“Oh iya! Siapa tadi namanya?” Zio tampak berpikir.
“Paradise, nama yang indah, tapi tidak seindah kehidupannya,” ucap Rize pelan sambil mengkhayal sosok Paradise yang tadi dia bertemu lagi.
“Iya, Paradise. Rize, apa mungkin pohon Hara memberi kamu kunci dimensi itu karena dia tau akan terjadi hal seperti ini? hal di mana kamu kehilangan bola kristal dan pohon Hara memberi kamu suatu clue di mana kamu bisa mencari bola kristal itu?”
Pangeran tampan itu tampak sedang berpikir. “Jadi maksud kamu, bola itu memang benar ada di dimensi Paradise?”
“Betul sekali. Ya sudah! Kita sekarang pulang saja dan kamu meminta izin kepada ibu kamu akan mencari bola itu dan aku akan mengatakan pada ibu serta adikku jika aku akan membantu kamu mencari bola itu.”
“Okay!”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan di mana Rize menuju istananya untuk menemui ayahnya juga karena ingin meminta maaf jika dia hari ini belum dapat menemukan bola kristal itu, walaupun nanti bakalan dia terkena marah.
Rize berjalan menuju istananya dan terdengar suara panggilan dari sahabat cantiknya. "Rize. kamu dari mana saja?" Tsamara mendekat dan Rize masih terdiam.
"Rize, ayah mau bicara sama kamu," suara berat ayah Rize tiba-tiba terdengar di sana. Tsamara menunduk memberi hormat.
"Iya, Yah." Rize berjalan pergi mengikuti ayahnya.
“Apa? Kamu belum menemukan bola itu? Rize, penobatan kamu juga tidak lama lagi, lalu bagaimana ayah bisa menobatkan kamu sebagai seorang raja di sini jika bola kristal yang sebagai simbol kekuasaan raja tidak ada?”
Rize hanya bisa terdiam di tempatnya, dia tau jika dia salah, dia juga sudah berusaha mencari keberadaan bola itu, tapi memang belum menemukan di mana bola itu berada. “Rize, apa sebenarnya kamu memang tidak ingin menjadi raja di negeri Purpelium ini?”
“Kenapa ayah bicara begitu?”
“Jika kamu memang serius ingin menjadi raja di sini dan menggantikan ayah untuk memimpin negeri Purpelium, kamu tidak akan sampai teledor menghilangkan bola berharga itu.”
“Aku benar-benar tidak sengaja menghilangkannya, Yah, dan aku akan bertanggung jawab menemukan bola itu.”
“Sayang, Rize sudah berusaha mencari bola itu, jangan menyalahkan dia terus,” bela wanita cantik di samping ayah Rize.
“Kamu yang terlalu memanjakan dia sehingga dia menjadi anak yang suka meremehkan suatu hal yang penting. Lalu, bagaimana jika bola itu tidak diketemukan sampai hari penobatannya? Aku juga sudah berusaha menyembunyikan berita tentang hilangnya bola itu dari rakyat kita. Kalau mereka sampai tau akan timbul masalah lagi.”
“Ayah, Ibu, beri aku waktu untuk mencari bola itu, aku tidak berani berjanji akan menemukan sebelum hari penobatanku, tapi aku akan berusaha mencarinya. Dalam beberapa hari ini izinkan aku untuk pergi dari negeri Purpelium ini karena aku dan Zio akan pergi ke suatu tempat di mana aku yakin bola itu berada.”
“Kamu mau pergi ke mana, Rize?” tanya ibu ratu dengan suara cemas.
“Ibu jangan mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja dengan Zio. Ibu doakan saja semoga aku segera menemukan bola kristal itu.”
“Rize, jangan membuat ibu khawatir, ibu tidak mau kamu sampai kenapa-napa nantinya.” Tangan wanita cantik itu memegang kedua lengan putranya dan menatap lekat pada anak semata wayangnya.
“Yah, aku mohon beri aku izin untuk beberapa hari meninggalkan negeri Purpelium ini.”
“Baiklah kalau tujuan kamu untuk mencari bola kristal itu.”
“Tapi Sayang....” Ibu Rize tidak menyangka jika suaminya malah mengizinkan Rize untuk pergi.
“Kamu jangan khawatir, dia putraku dan aku percaya dia dapat menjaga dirinya dengan baik. Rize juga dapat lebih bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan.”
Rize pergi dari negeri Purpelium setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Rize memutuskan untuk pergi menemui sahabatnya, dia berada di depan pohon Hara. Rize terdiam menatap pohon besar berwarna ungu dan terdapat seperti serat-serta halus berwarna putih yang mengelilingi pohon tersebut.
“Rize, kamu kenapa pergi ke sini?” tanya Zio yang ada di sampingnya.
“Aku tau, jika kamu mengetahui semua yang akan terjadi di sini, tapi kamu tidak mau memberitahuku. Aku menghormati semua keputusan kamu itu, Hara.”
“Rize, semua yang terjadi sudah takdir yang harus semua orang jlani, dan aku tidak boleh merusak apa yang seharusnya terjadi. Rize, aku percaya jika semua akan dapat menghadapi takdir hidupnya karena itu menjadi salah satu perjalanan hidup yang harus di hadapi,” Pohon besar itu mengeluarkan suaranya.
“Hara, kamu, kan dapat mengabulkan semua keinginan, kenapa kamu tidak mengabulkan keinginan Pangeran Rize untuk mendapatkan kembali bola kristal ungu itu? Setidaknya beritahu Pangeran Rize di mana bola itu agar kita dapat langsung mengambilnya tanpa harus mencari-cari seperti ini?” cerocos Zio.
“Zio, aku sudah menjelaskan pada Rize kenapa aku tidak mau mengabulkan permintaanya itu, dan Rize juga sudah mengerti akan maksud aku. Kepergian kalian mencari bola itu akan membawa kalian kepada suatu hal yang akan membuat banyak perubahan untuk kehidupan ini.”
“Tapi katanya kamu pohon yang dapat mengabulkan keinginan seseorang, tapi ternyata kamu pemilih keinginan siapa yang mau kamu kabulkan dan tidak,” Zio seolah merasa kecewa.
“Sudahlah, Zio. Apa kamu tidak dengar tadi Hara mengatakan apa? Dan aku percaya apa yang Hara lakukan merupakan hal yang terbaik.”
“Kalau begitu apa kamu mau mengabulkan permintaan aku, Hara?”
“Permintaan kamu? Coba katakan apa permintaan kamu?”
“Aku ingin menjadi seorang kepala panglima perang kelak seperti kakekku dulu. Apa aku bisa? Atau kamu bisa mengabulkan permintaan itu?”
“Tentu saja kamu bisa menjadi kepala panglima perang, jika kamu menjadi prajurit setia dan rela mengorbankan nyawa kamu seperti apa yang kakek kamu lakukan dulu dan itu tanpa bantuanku, Zio.”
“Apa? Mengorbankan nyawa?” Zio tampak terkejut.
“Apa kamu tidak tau bagaimana gagah dan beraninya mendiang kakek kamu dalam melindungi raja dan negeri Purpelium ini? Kakekmu dengan sangat berani berdiri di garda terdepan saat sebuah pedang akan mengenai tubuh raja yang tak lain adalah kakek Rize.”
“Apa aku juga harus mengorbankan nyawa untuk Rize?” Zio tampak ragu-ragu melihat pada Rize.
“Kenapa? Kamu takut mengorbankan nyawa untukku?” tanya Rize.