Zio yang melihatnya hanya tersenyum kecil membiarkan pangerannya itu melakukan apa yang dia semestinya lakukan dari tadi.
“Aku kira dia bukan Pangeran Rize sahabatku yang aku kenal, ternyata dia memang Rize yang sama yang aku kenal selama ini. Rize yang tidak bisa melihat suatu perbuatan yang tidak baik terjadi. “
Beberapa ranting pohon tampak mulai bergerak merambat menghampiri Rufo dan teman-temannya yang ada di sana. Anak-anak nakal itu tampak panik melihat ranting-ranting pohon yang dapat bergerak bahkan dapat melilit kaki dan tangan mereka. Tidak lama terdengar teriakan ketakutan mereka di sana.
“Rufo, apa yang terjadi? Kenapa ranting-ranting ini dapat bergerak seperti ini? Rufo!” teriak Taza yang tubuhnya sudah terangkat ke atas karena dililit beberapa ranting.
“Aku juga tidak tau, Taza. Mungkin hutan ini ada hantunya dan marah dengan kita karena kita mengganggu tempat mereka,” suara Rufo terdengar setengah berteriak karena dia juga tubuhnya sudah terangkat ke atas.
Oneil yang melihatnya tampak kaget dan hanya bisa melongo melihat kejadian di depannya di mana semua teman-teman jahatnya sudah melayang di atas. Tidak lama ikatan tangan Oneil terlepas, Oneil yang masih terpaku dengan kejadian di depannya malah diam di tempatnya dan melihat Taza serta yang lainnya ketakutan berusaha melepaskan lilitan ranting pohon yang tiba-tiba dapat bergerak.
“Oneil! Kamu tidak apa-apa?” suara Paradise yang ada di sana memanggil Oneil. Paradise juga tampak kaget melihat apa yang terjadi dengan teman-temannya.
“Paradise? Kamu kenapa bisa ke sini?”
“Sudahlah! Kita pergi saja sekarang daripada kita nanti juga kena marah oleh penghuni hutan ini.” Paradise dengan cepat mengambil seragam Oneil dan menggandeng tangan Oneil, menyeretnya pergi dari sana. Mereka berdua berlari secepatnya meninggalkan hutan itu.
Rize yang melihat hal itu akhirnya menurunkan salah satu tangannya yang mengepal ke atas dan perlahan-lahan cuaca di sana kembali cerah, bahkan ranting-ranting pohon yang melilit Taza dan teman-temannya perlahan bergerak menurunkan mereka perlahan-lahan dan kembali ke pohon masing-masing seperti semula. Taza serta yang lainnya langsung berlari berhamburan meninggalkan hutan. Mungkin kejadian tadi akan membuat mereka jera untuk tidak berbuat jahat lagi.
“Ya! Kenapa kamu lepaskan anak-anak nakal itu, Rize? Kamu jatuhkan saja tadi mereka semua ke tanah biar pada patah tulangnya, jadi mereka tidak akan bisa masuk ke sekolah dan mengganggu si gendut itu lagi.”
“Aku tidak mau menjadi mereka yang berbuat kejam atau jahat pada orang lain, aku melakukan hal itu hanya ingin membuat mereka jera dan semoga setelah ini mereka tidak akan berbuat jahat lagi pada dua orang lugu itu atau dengan lainnya.” Rize berjalan pergi dari sana.
Zio berlari mengikuti Rize yang ternyata berdiri di depan sebuah pohon besar dengan banyak sekali bunga berwarna ungu yang memenuhi sebuah ranting tipis yang menjulur panjang sampai menyentuh batang paling bawah pohon itu. Rize menatap pohon itu.
“Rize, kita mau pulang?”
“Iya, kita akan pulang sebentar karena aku akan berpamitan kepada ibuku untuk pergi beberapa hari mencari bola kristal ungu itu. Bagaimanapun aku tidak mau membuat ibuku cemas karena aku tidak berada di istana dalam beberapa hari dan kamu bisa tetap tinggal di dalam istana jika mau.”
“Rize, aku akan membantu kamu mencari bola kristal ungu itu sampai ketemu, dan kalaupun kamu sampai diusir dari istana karena tidak menemukan bola itu, aku akan tetap di sini untuk menjaga istana.”
Rize melihat Zio dengan menghela napas panjangnya. “Aku kira kamu akan mengatakan jika kamu akan mengikutiku keluar dari istana jika aku diusir.”
Zio meringis menunjukkan gigi putih ratanya. “Maaf Rize, bukannya aku tidak setia kawan, tapi kamu tau sendiri kalau aku adalah tulang punggung keluargaku setelah kepergian ayahku dalam perang beberapa tahun yang lalu, aku di sini harus menjaga ibu dan adikku yang masih membutuhkan aku. Kalau aku juga terusir dari Negeri Purpelium ini, siapa yang akan menjaga mereka, bisa-bisa ibuku yang menjadi pelayan di istana kamu terkena imbasnya.”
“Iya, aku paham. Sekarang kita pulang dulu, dan aku akan mencari dengan lebih keras di mana bola kristal itu. Percayalah, Zio, aku tidak akan membiarkan negeri Purpelium ini dalam bahaya apalagi sampai membuat rakyatku menderita.” Tangan Rize menepuk pundak Zio.
“Aku percaya pada kamu, Rize.”
Rize kemudian menempelkan tangannya pada batang pohon besar itu sambil memejamkan kedua matanya, dan seketika bunga berwarna ungu yang menjulur panjang itu bergerak ke atas dan tampak cahaya berwarna ungu keluar dari bunga-bunga itu dan dalam sekejap Rize serta Zio sudah berada di dimensi miliknya, tepat di hutan belakang istananya.
“Zio, aku harap kamu masih tetap ingat untuk tidak menceritakan tentang dimensi lain dari negeri kita pada siapapun. Bahkan Tsamara juga tidak boleh tau, walaupun dia sahabat kita, tapi dia tetap tidak boleh mengetahuinya.”
“Kamu tenang saja.” Mereka berjalan pergi dari sana.
Zio yang berjalan di belakang Rize sepertinya sedang memikirkan sesuatu hal. “Rize!” Tiba-tiba tangan Rize di tarik oleh Zio dari belakang.
“Ada apa, Zio?” Rize berbalik badan dan melihat penasaran.
“Bukankah di negeri kita ini ada pohon kebijaksanaan dan dapat mengabulkan keinginan seseorang?”
“Pohon Hara maksud kamu?”
“Iya, pohon Hara. Kenapa kamu tidak meminta pada pohon Hara agar memberitahu di mana letak bola kristal ungu itu?”
Pangeran Rize tersenyum kecil. “Sebelum kamu menyuruhku ke sana, aku sudah lebih dulu menemui pohon Hara untuk bertanya kepadanya. Dia mengatakan jika aku harus berusaha mencarinya sendiri karena itu adalah sebuah kecerobohanku tidak dapat menjaga bola kristal yang sangat berharga untuk Negeri Purpelium ini.”
“Apa? Dia berkata begitu? Bukannya dia pohon yang bisa mengabulkan keinginan, tapi kenapa dia malah tidak mau memberitahu kamu?” Zio tampak bingung,
“Apa kamu ingat dia juga makhluk kebijaksanaan, jadi dia tidak mau semudah itu aku lolos dari kesalahan yang aku buat. Mungkin dia ingin aku agar lebih berusaha menjaga baik-baik apa yang sudah diamanatkan ayahku.”
“Bisa jadi.” Zio mengangguk-angguk. “Pohon itu memang suka bertindak sesukanya. “Lalu, kenapa dia mau memberitahu kamu jika ada kunci untuk pergi ke dimensi lain saat itu?”
“Awalnya aku hanya bercerita jika aku sangat bosan dengan hidupku yang berjalan biasa saja di negeri ini, katanya aku tidak bersyukur dan dia malah memberitahu tentang adanya kehidupan di dimensi lain.”
“Lalu, dia memberikanmu kunci itu?”