Bab 6 ( Kekejaman Taza )

1035 Words
Tidak lama dari tempat mereka berdiri, mereka melihat ada beberapa anak laki-laki dan juga gadis yang Rize dan Zio lihat saat menyiksa Paradise ada di sana, dan kali ini mereka sepertinya membawa sahabat Paradise bersama mereka. “Itu, kan teman si gadis tambun tadi? Dia mau dibawa ke mana oleh anak-anak itu?” tanya Zio. Pangeran Rize tidak menjawab pertanyaan Zio, dia malah sudah berjalan pergi mengikuti ke mana Oneil yang dibawah oleh anak-anak itu pergi. Rize memiliki perasaan yang tidak enak akan terjadi hal buruk pada sahabat Paradise itu. Oneil dibawa oleh anak laki-laki dan beberapa teman laki-lakinya ke hutan belakang sekolah di mana Rize juga tinggal, tapi beda dimensi. Sesampai di sana anak laki-laki yang memiliki tinggi sekitar 177 cm dengan penampilan tidak rapi langsung menyuruh Oneil membuka semua bajunya. “Kalian mau apa? Kenapa membawaku ke sini?” “Banyak bicara kamu! Aku menyuruh kamu membuka semua baju kamu sekarang!” titahnya dengan suara keras. “Aku tidak mau, Rufo.” Oneil memegang erat bajunya, takut jika Rufo dan teman-teman nakalnya akan membuka paksa baju, bahkan merobeknya. “Kamu berani membantah perintahku? Aku mau membuat kamu supaya tidak ikut campur lagi jika adikku Taza sedang mengerjai Paradise.” “Iya, aku sebal sekali kamu selalu mencampuri urusanku dengan si jelek dan gendut itu. Apa kamu tidak bisa, tidak selalu sok jadi pahlawan untuk si jelek gendut itu?” “Kalian ini kenapa begitu jahat dengan Paradise? Dia itu gadis yang baik dan dia selalu memberi jawaban ulangan sama kamu, Taza. Kenapa kamu suka sekali merundungnya?” “Memangnya apa urusan kamu? Dia harus mau menjadi budakku seperti ayahnya dulu memperlakukan ayahku menjadi budaknya.” Tatap Taza dingin. “Taza, ayah Paradise itu orang yang baik, ayah kamu saja yang sudah bekerja dengan tidak jujur. Seharusnya ayah kamu bersyukur karena ayah Paradise tidak melaporkan ayah kamu malah hanya memecat ayah kamu saja dari pekerjaannya.” “Jangan sok tau! Ayahku sudah bekerja dengan sebaiknya, tapi ayah Paradise saja yang tidak berterima kasih, dan karena hal itu mamaku harus pergi meninggalkan ayahku karena dianggap ayahku hanya pengangguran saja.” “Aku tau semua karena nenekku pernah bercerita padaku, kamu harusnya bisa membedakan mana yang benar dan salah.” Ayah Taza dulu pernah bekerja dengan ayah Paradise, ayah Paradise memiliki kantor kecil di mana ayah Taza dijadikan bagian keuangan di sana, dan ayah Paradise sangat percaya pada ayah Taza. Namun, ayah Taza malah memanfaatkan kepercayaan ayah Paradise dengan mencuri dan merubah laporan keuangan yang tidak semestinya, ayah Paradise yang mulai curiga akhirnya mengetahui hal itu setelah menyelidikinya dan ayah Taza mengaku jika dia melakukannya karena tuntutan dari istrinya akan barang-barang mewah. Ayah Paradise yang tidak tega untuk melaporkannya, akhirnya memecat ayah Taza dari pekerjaannya dengan uang pesangon yang cukup. “Banyak bicara! Rufo, kita buat si anak manja dan culun ini mendapat malu sehingga dia tidak akan berani membela si gendut jelek itu.” Anak laki-laki yang di panggil Rufo pun mengangguk dan segera mereka yang terdiri dari beberapa anak laki-laki dan Taza yang menyeret Oneil tepat di bawah pohon dan kemudian mengikat kedua tangan Oneil ke belakang dengan tali. “Kalian mau apa? Lepaskan aku!” teriak Oneil yang tidak digubris oleh anak-anak nakal itu dan mereka malah tetawa dengan kerasnya. Rufo mengeluarkan sebuah kotak transparan yang berisi seekor katak. Kedua mata Oneil membulat lebar melihat hewan yang sangat dia benci itu. Oneil memang sangat takut dengan katak, ada pengalaman buruk dengan hewan amfimbi satu itu.. “Rufo, kamu mau apa? Lepaskan aku!” teriaknya yang tetap tidak didengarkan oleh Rufo dan yang lainnya. “Buka bajunya dan masukkan katak jelek ini ke dalam celananya, biarkan katak jelek yang seperti Paradise ini bermain dengan pria culun ini,” ucap Taza dengan seringai jahatnya. “Taza, Rufo, aku mohon jangan lakukan itu denganku,” mohon Oneil. “Makanya jadi orang jangan sok pahlawan, kalau kamu mau kami maafkan jangan lagi ikut campur dengan apa yang adikku Taza lakukan pada si jelek itu.” “Aku juga tau jika tadi, pada saat aku dan Yoala mengerjai Paradise, kamu di sana menolong dengan mengeluarkan suara aneh itu sehingga membuat aku dan Yoala pergi karena takut. Sekarang ini adalah hukuman buat kamu," ucapnya marah. “Kalian memang benar-benar jahat dan keterlaluan, suatu saat kalian akan mendapat balasan atas perbuatan kalian itu.” “Banyak bicara! Ini karena kamu yang sok menjadi pahlawan untuk si gendut jelek itu. Berjanjilah kalau kamu tidak akan membantu si jelek itu lagi, maka kami tidak akan melibatkan kamu.” Oneil terdiam sejenak, tidak lama terlukis senyuman miring panjang pada bibir Oneil yang membuat Rufo dan Taza tampak bingung. “Kamu kenapa tersenyum begitu?” tanya Rufo heran. “Aku bukan seorang pengecut yang hanya karena ancaman kalian, aku tidak akan meninggalkan sahabatku itu sendiri. Paradise gadis yang sangat baik dan dia adalah sahabat terbaik yang aku punyai, aku akan terus membelanya walaupun kalian akan menyakitiku.” “Kamu dan sahabat gendut kamu itu memang sama-sama manusia bodoh yang seharusnya tidak berada di sekolah ini. Mari kita lihat seberapa besar persahabatan kalian, dan apa kamu akan tetap bertahan untuk tetap membela si jelak itu?” Rufo mulai mendekat dengan hewan katak yang dibawanya dan bersiap-siap untuk memasukkan ke dalam celana Oneil di mana atasan Oneil sudah di lepaskan oleh teman Rufo dan teman satunya bersiap dengan apa yang akan terjadi pada Oneil. “Rufo hentikan! Jangan berbuat keterlaluan.” Tampak wajah ketakutan Oneil melihat hewan yang sangat dia benci itu semakin mendekat ke arahnya. Sebelum katak itu dimasukkan ke dalam celana Oneil. Tiba-tiba keadaan di sana seketika berubah,dari yang semula cerah menjadi gelap menyelimuti hutan di mana anak-anak nakal itu akan membully Oneil, keadaan di sana juga terlihat mencekam serta pohon-pohon yang ada di sana tampak daun serta ranting-rantingnya bergemeretak tertiup angin yang mulai kencang. “Rufo, kenapa keadaan di sini tiba-tiba menakutkan seperti ini?” Taza seketika tampak memegang lengan tangan Rufo dengan erat. Rufo memperhatikan keadaan sekitarnya dengan wajah datar seolah dia tidak menampakkan ketakutan sama sekali. Di tempatnya Rize sedang memejamkan kedua matanya dengan salah satu tanganya mengepal ke atas seolah memerintahkan kepada alam agar membantu keinginannya merubah suasana di sana yang tadinya cerah menjadi seolah akan turun badai hujan besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD