Rize berjalan dengan gagahnya masuk ke dalam istana, di sana sudah duduk raja dan ratu dari negeri impian Purplelium dengan muka kesalnya melihat putranya yang malah bersikap santai tidak merasa bersalah sama sekali.
“Ayah, aku--.”
“Cukup, Rize! Apa kamu sudah menemukan bola kristal itu?” Rize menggeleng perlahan. “Apa? Jadi kamu belum menemukan bola kristal ungu milik kerajaan kita?” Tangan ayahnya sudah mengepal erat memegangi tepian kursi kebanggaannya itu.
“Sayang, Rize masih berusaha mencarinya. Aku yakin dia akan bisa menemukan bola kristal ungu itu,” ucap lembut wanita yang terlihat sangat cantik di sampingnya. Dia adalah ratu di kerajaan itu, dan juga ibu Rize yang sangat baik hati dan lembut.
“Aku tidak menyangka jika putraku ini akan membuat main-main bola yang sangat berharga untuk kerajaan ini, kenapa dia tidak bisa menjaganya dengan baik. Apalagi sebentar lagi dia akan dinobatkan sebagai raja di kerajaan ini, dan bola krital ungu itu yang nantinya akan menjadi pelengkap untuk dirinya menjadi raja di kerajaan ini, kalau itu sampai di temukan orang lain, dia bisa memerintah kerajaan ini karena memegang bola dari leluhur kita itu.”
Waktu itu Rize yang didatangi ayahnya di dalam kamarnya untuk memberikan bola krital ungu itu. Ayahnya berharap Rize akan bisa menjadi penerusnya, oleh karena itu ayah Rize memberikan Rize bola itu agar Rize bisa menjaganya, tapi apa yang terjadi? Rize malah teledor dan menghilangkannya.
Rize waktu itu diminta sahabatnya--Tsamara untuk menunjukkan bola kristal ungu kerajaan yang menjadi simbol kerajaan purplelium yang tidak semua orang itu tau. Tsamara hanya seorang anak pelayan di kerajaan itu yang menjadi salah satu sahabat Rize. Mereka bisa berteman baik karena Tsamara pernah menolong Rize saat dia terjatuh dari kudanya saat berburu, Tsamara juga ternyata seorang gadis yang sangat pemberani dan dia juga suka berburu.
“Jadi ini bola kristal ungu itu?” Kedua mata Tsamara membulat melihat bola berukuran sedang dengan warna ungu yang berkilauan dan di dalamnya terdapat seperti salju yang turun.
“Iya, sebentar lagi aku akan menjadi penerus kerajaan Purplelium ini setelah aku dinobatkan menjadi raja di sini.”
Tsamara membawa bola itu, dia sangat takjub memandangi bola itu. “Rize, kalau kamu nanti menjadi raja di sini, apa kamu masih mau berteman sama aku?” Gadis dengan penampilan tomboy itu berjalan membelakangi Rize.
“Dasar gadis bodoh! Tentu saja aku akan tetap mau berteman sama kamu. Aku tidak akan berubah, aku akan tetap menjadi Rize yang kamu kenal.”
“Kalau seumpama aku yang membawa bola ini, berarti aku bisa menjadi ratu di sini, ya, Rize?” ucapnya kemudian.
“Tentu saja, siapapun yang memegang bola ini dan masuk ke dalam istana, dia akan bisa memerintah semua yang ada di istana, bahkan di luar istana.” Saat Rize akan mengambilnya, dengan cepat Tsamara menggenggam bola itu. “Tsamara, berikan bola itu.”
“Tidak mau, aku ingin merasakan menjadi ratu yang di hormati.” Tsamara mengangkat bola itu ke atas, seolah dia sedang membawa kemenangannya.
“Bola itu tidak untuk bercanda, Tsamara.” Rize menarik tubuh Tsamara mendekat ke arahnya, kedua mata mereka saling memandang. Perlahan Tsamara menurunkan tangannya yang terangkat membawa bola. Rize dengan cepat ingin merebutnya. Terjadilh adegan saling berebut dengan diiringi canda dan tawa mereka.
“Pangeran, kalian sedang apa?” tanya seorang prajurit kepercayaan Rize.
“Zio bantu aku mengambil bolaku dari tangan gadis nakal ini!” titah Rize.
Zio kemudian berlarian dengan mereka dan akhirnya bola itu terlepas dari tangan Tsamara dan menggelinding entah ke mana. Dari situlah awal bola kristal ungu itu menghilang entah ke mana.
Kembali ke dalam istana, di mana pangeran Rize sedang di sidang oleh ayahnya karena belum menemukan bola itu. Padahal bulan depan dia sudah akan di nobatkan untuk menjadi raja di sana, tapi bola itu malah hilang.
“Aku akan segera menemukan bola itu, Yah. Bahkan aku akan menembus dimensi pohon ungu itu, siapa tau dia menggelinding sampai di sana.”
“Ayah tidak mau tau! Kamu segera temukan itu sebelum ditemukan oleh orang yang salah, jika itu terjadi maka sama saja kehancuran untuk kerajaan Purplelium.” Raja dengan marahnya berdiri dari kursi kebanggaanya dan pergi dari sana.
Ibunda Rize turun dari singgasananya dan menemui putra semata wayangnya itu. “Rize, kamu harus tau sifat ayah kamu itu, dia sangat keras, tapi dia melakukan semua ini karena dia snagat menyayangi kamu, dia ingin kamu nantinya bisa menggantikannya menjadi raja yang bisa memerintah dengan baik kerajaan ini jika dia sudah tidak bisa memerintah lagi karena usia dan tenaganya yang sudah tidak memungkinkan.” Tangan lembut wanita itu mengusap kepala putranya.
“Iya, Bu. Aku akan segera mencari bola itu dan mendapatkannya. Aku pergi dulu.” Rize pergi dari sana.
Paradise dan Oneil berjalan bersama menuju rumah mereka, keadaan Paradise sudah lebih baik. Wajahnya juga sudah bersih, Oneil mengantarkan Paradise pulang ke rumahnya, rumah mereka saling berdekatan hanya berjalan beberapa blok saja. Mereka tinggal di perumah Elite di kota Pure Line.
“Ayah.” Paradise melihat ayahnya yang ada di depan rumah, sepertinya ayah Paradise akan pergi untuk berdagang.
“Paradise, itu ayah kamu.”
“Iya, Ayahku sepertinya akan pergi berdagang dalam beberapa hari seperti biasanya,” ucapnya pelan, dan mukanya tampak sedih.
Oneil yang melihatnya tampak heran. “Kamu kenapa mukanya jadi sedih begitu? Apa kamu baik-baik saja?”
Paradise tersenyum pada Oneil. “Aku baik-baik saja. Oneil, terima kasih sudah mengantarku, kamu pulanglah sekarang.”
“Aku akan mengantar kamu sampai ke rumah kamu, sekalian aku akan menyapa ayah kamu, Paradise.” Mereka akhirnya berjalan berdua.
“Paradise, kamu sudah pulang?” Tangan pria paruh baya itu mengusap pucuk kepala putrinya dan mengecup kening Paradise. “Sayang, ayah akan pergi dalam dua minggu, kamu di rumah baik-baik dengan ibu dan adik-adik kamu, Ya?”
“Tentu saja, Sayang, aku akan menjaga Paradise dengan sangat baik. Dia sudah seperti anakku sendiri. Iya, kan, Paradise?” Tangan wanita yang berpenampilan glamor itu memeluk pundak Paradise dan dengan samar dia mencengkeram kuat pundak Paradise, seraya dia memberikan senyum palsunya pada anak tirinya itu. Gadis bernama Paradise saat itu sebenarnya merasa sakit pada pundaknya, tapi dia berusaha menyembunyikannya, dia tau jika ibu tirinya itu sangat membencinya, dia sekarang hanya berpura-pura saja.