Bab 3 (Pencarian Bola Kristal Ungu )

1093 Words
Bab 3 (Pencarian bola kristal Ungu ) Oneil yang juga masih ada di sana, menyapa ayah Paradise dan mengucapkan semoga ayah Paradise sukses dalam pekerjaannya. “Terima kasih, Oneil. Sampaikan salamku kepada nenek kamu, Ya?” Oneil mengangguk. “Yah, nanti kalau pulang jangan lupa membawakan aku oleh-oleh yang banyak, Ya?” ucap salah satu adik kembar Paradise. “Iya, Yah, aku juga mau ayah membawakan banyak baju dan perhiasan yang indah untukku,” lanjut saudara kembar Paradise yang satunya. “Iya, nanti ayah akan membawakan kalian semua barang-barang yang kalian inginkan. Paradise, kamu ingin ayah membawakan kamu apa? Apa kamu mau baju yang bagus?” Tangan pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu mengusap pucuk kepala putrinya. “Aku tidak mau apa-apa, Yah. Aku melihat ayah pulang dengan baik-baik saja, aku sudah sangat senang.” “Kamu itu memang selalu begitu, setiap ayah pergi tidak pernah meminta apa-apa sama ayah. Kalau begitu akan ayah bawakan sekotak coklat yang lezat untuk kamu, apa kamu mau?” Paradise hanya mengangguk perlahan. Kemudian ayah Paradise masuk ke dalam mobilnya dan berpamitan pergi dari sana. Wajah Paradise tampak sangat sedih melihat hal itu. “Bibi, saya izin pulang dulu kalau begitu,” ucap Oneil pada ibu Paradise. “Iya, pergi sana! Paradise masih banyak pekerjaan di rumah.” Katanya ketus dan ibu Paradise membawa Paradise masuk ke dalam rumah. Oneil yang melihatnya agak sedikit heran, kenapa ibu Paradise terlihat sangat tidak bersahabat begitu? Padahal saat Oneil di rumah Paradise dia selalu bersikap baik? Oneil berjalan pergi dari sana. Di dalam rumah kedua saudara kembar Paradise langsung melepaskan tas sekolah milik Paradise dan melemparkan seenaknya ke lantai. Dia kemudian duduk dengan angkuhnya. “Hei, gadis gendut! Cepat kamu pijit kakiku yang capek ini,” titahnya dengan kasar pada Paradise. “Iya, aku juga sangat capek, beberapa hari ayah di rumah aku banyak sekali melakukan pekerjaan rumah. Aku sekarang capek sekali,” lanjut saudara kembar yang satunya. Paradise yang tidak berani melawan kedua saudara kembar tirinya itu duduk di bawah kaki Odec dan Odil. Kemudian dia mulai memijit kaki Odec. Sedangkan ibunya yang adalah ibu tiri Paradise tersenyum senang melihat hal itu. Dulu kehidupan Paradise sangat bahagia, dia memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi dia, Ibunya Paradise meninggal di saat usia Paradise menginjak 10 tahun karena sakit kanker yang di deritanya. Setelah setahun kematian ibunya, tidak lama ayahnya datang dengan membawa seorang wanita bersama dua orang anak kembarnya yang di beri nama Odec dan Odil, mereka berdua seumuran dengan Paradise, mereka memiliki paras yang cantik. Awal mereka berada di rumah itu, sikap mereka sangat baik, ibu tiri Paradise sangat menyayangi Paradise, memperlakukannya dengan sangat baik. Pun dengan adik-adik tirinya juga sangat baik pada Paradise. Namun, lambat laun sikap mereka berubah saat ayah Paradise pergi untuk berdagang dan selalu pergi lama sekali, bahkan sampai berbulan-bulan. Mereka mulai memperlakukan Paradise dengan sangat kejam, seluruh pekerjaan rumah harus dilakukan oleh Paradise, padahal di sana ada beberapa pelayan. Mereka semua diancam oleh ibu tiri yang kejam itu agar tidak menceritakan kepada ayah Paradise. “Mulai sekarang, si anak gendut ini akan membantu pekerjaan rumah kalian, dia tidak boleh manja, dan tidak boleh malas. Lihat saja tubuh kamu itu, itu karena kamu suka sekali bermalas-malasan di rumah,” titah ibu tiri jahat itu. Paradise yang tidak berani melawan akhirnya menuruti semua apa yang diperintahkan oleh ibu tirinya. Bahkan jika ayahnya tidak di rumah, tempat tidur milik Paradise akan di pakai oleh kedua saudara tirinya itu dan menyuruh Paradise tidur di loteng yang penuh debu. Penderitaan yang Paradise alami di rumah dan di sekolah tidak ada yang tau. Bahkan Oneil tidak tau jika di rumah Paradise juga kerap mendapat penyiksaan. Hari itu Paradise banyak melakukan pekerjaan, walaupun begitu ibu tiri Paradise selalu memberi makan Paradise dengan banyak sekali makanan yang enak-enak, ibunya tidak mau jika Paradise nanti berubah kurus dan akhirnya ayahnya curiga. Malam itu Paradise tidur di loteng dengan isak tangisnya, dia sama sekali tidak menginginkan hidupnya seperti ini, dia lelah dengan kehidupannya yang seperti ini. “Pangeran Rize, kita mencari ke mana lagi bola itu? Sudah lama kita kelilingi istana ini, dan bahkan diluar kerajaan ini, tapi tetap saja keberadaan bola itu tidak ada,” terang prajurit kepercayaan Rize. “Aku akan mencari di luar dimensi ini. Siapa tau bola itu keluar menembus pohon ungu itu.” “Maksud Pangeran Rize?” “Aku kemarin tidak sengaja melihat ada dua orang yang mirip sekali dengan kita, hanya saja pakaian yang mereka gunakan berbeda dengan pakaian kita. Wajah mereka juga sangat lucu seperti ada coretan yang menakutkan di wajahnya.” “Pangeran jangan menembus pohon ungu itu. Apalagi tentang orang-orang yang Pangeran itu katakan, siapa tau mereka bukan orang baik. Kalau ada apa-apa dengan Pangeran, apa yang harus saya katakan kepada ayah dan ibu kamu?” Tangan Rize menepuk pundak prajurit yang juga menjadi sahabatnya itu. “Kamu tenang saja, aku akan menjaga diriku baik-baik, lagian aku lihat dua orang waktu itu sepertinya tidak jahat.” “Tapi Pangeran--.” “Sudah! Kamu jangan banyak bicara, kamu jangan bilang siapa-siapa, ayo ikut aku sekarang.” Mereka berdua menuju ke pohon ungu yang bisa membawa Rize ke dimensi di mana Paradise tinggal. Dengan mudah Rize menembus pohon itu dan sudah berada di hutan belakang sekolah Paradise. “Pangeran, ini tempat apa?” Zio sangat heran melihat tempat itu. "Aku juga tidak tau, kita jelajahi saja. Eh, tapi jangan sampai ada yang bisa melihat kita.” Mereka menggunakan kekuatan mereka agar tidak terlihat. “Pangeran, apa hal ini tidak akan bisa membuat mereka tidak melihat kita? Siapa tau mereka memiliki kekuatan di atas kita?” “Kita coba saja, kamu tidak perlu banyak tanya.” Mereka berdua berjalan menyusuri tempat itu. Sedangkan di tempat Rize. Tsamara tampak bingung mencari keberadaan bola itu, dan sekarang dia juga tidak menemukan di mana Rize dan Zio. “Mereka berdua ini ke mana? Kenapa tiba-tiba tidak ada di sini?” Tsamara mengedarkan pandangannya mencari kedua sahabatnya itu. “Apa mereka sudah kembali ke istana?” Tsamara kembali menuju ke istana. Rize dan Zio akhirnya sampai di sekolah Paradise. Mereka melihat aneh pada baju seragam sekolah yang di pakai oleh anak-anak di sana. Bahkan Zio mencoba menghindar agar tidak tertabrak oleh mereka saat berjalan. Zio tampak ketakutan dan memasang kuda-kuda jika sewaktu-waktu dia mendapat serangan.Pangeran Rize malah tampak biasa dan mengamati satu persatu mereka di sana. Dia masih tampak bingung dengan orang-orang di dimensi Paradise. Bukankah dia adalah gadis yang kulihat di hutan waktu itu?" Rize melihat ke arah Paradise yang berjalan takut masuk ke arah gerbang sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD