Bab 4 ( Penolong )

1141 Words
Zio masih memperhatikan orang-orang yang baginya sangat mirip bentuk dengannya, hanya apa yang mereka pakai sangat aneh. Dari atas sampai bawah Zio memindai mereka, Zio juga heran mengapa mereka tidak ada yang membawa senjata seperti apa yang dia bawa? Malahan mereka membawa buku yang mirip seperti yang sering dia baca jika malam hari sebelum tidur, hanya saja buku yang mereka bawa lebih kecil bentuknya. “Pangeran Rize, mereka ini pasti para makhluk yang sangat kuat, buktinya mereka tidak membawa senjata, jangan-jangan mereka memiliki kekuatan yang sangat besar jadi hanya dengan tangan kosong mereka dapat mengalahkan kita,” cerocosnya. Zio yang berbicara dan merasa tidak mendapat tanggapan dari pangeran Rize menoleh dan ternyata sang pangeran sudah tidak ada di sebelahnya. “Aduh! Dia ke mana? Kenapa meninggalkan aku sendirian? Kalau dia diserang dan ada apa-apa, aku harus bicara apa dengan raja dan ratu?” Zio berlarian mencari di mana pangerannya berada. Zio akhirnya menemukan di mana pangeran Rize, hanya dia merasa aneh melihat pangerannya berdiri dengan muka aneh dan sedang melihat serius pada seorang gadis tambun yang tidak jauh dari tempat Rize berada. “Pangeran apa yang kamu lakukan di sini?” Zio bertanya pada Rize, tapi dia tetap tidak mendapat jawaban dari Rize. “Pangeran, kamu kenapa memperhatikan gadis itu terus?” Zio kembali bertanya. “Zio, kamu lihat gadis dengan badan tambun itu.” Rize menunjuk ke arah Paradise yang sepertinya tengah bersembunyi di balik dinding kelasnya. “Lihat, memangnya kenapa? Kamu suka sama dia? Pangeran, kita datang ke sini untuk mencari bola kristal ungu itu, kamu malah mencari calon istri, lagian orang tua kamu tidak akan mau menerima gadis dari dimensi lain,” cerocosnya lagi. Rize hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang diutarakan oleh pengawal setianya itu. Tidak lama dari arah belakang Paradise ada seorang gadis dengan rambut dikuncir kudanya langsung menarik tas Paradise dan menyeret Paradise ke belakang sekolah. Rize dengan cepat mengikuti mereka. Pun dengan Zio yang juga kaget tiba-tiba pangerannya berlari pergi. “Kamu masih berani datang ke sekolah, Gadis tidak tau malu.” Gadis dengan kuncir kudanya itu mendorong Paradise sampai tubuh gadis malang itu menabrak dinding di sana. “Yoala, aku harus datang ke sekolah karena aku tidak mau ketinggalan pelajaran, kamu kenapa jahat sekali sama aku?” ucap Paradise dengan mata yang berkaca-kaca. “Tidak mau ketinggalan pelajaran? Ahahahha! Kamu itu tidak pantas sekolah di sini, walaupun kamu anak orang kaya di sini, tapi lihat saja diri kamu yang dapat membuat mata sakit jika melihatnya,” ucap Yoala sangat kasar dan melukai hati Paradise. Zio yang melihat dan mendengar apa yang terjadi pada Paradise sampai melototkan kedua matanya. “Gadis cantik itu kenapa sikap dan bicaranya sekasar itu? Apa dia pimpinan di sini sehingga dia berbuat seperti itu?” Rize masih terdiam di tempatnya melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua. Rize masih ingat dengan wajah Paradise saat dia melihatnya di hutan belakang sekolah, dan entah kenapa Rize seolah ada magnet yang menariknya untuk mencari tau tentang gadis itu. “Kamu tunggu di sini, aku akan memanggil Taza, dia pasti senang jika mainannya sudah datang.” “Yoala, jangan lakukan itu, aku hanya ingin ke kelasku dan belajar.” “Sudah aku bilang, kamu tidak perlu belajar susah-susah, gadis seperti kamu hanya akan membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman.” Gadis jahat itu mengambil ponselnya dan menghubungi temannya yang biasa suka menyiksa Paradise. “Itu benda apa yang di taruh di telinganya?” Zio yang penasaran mencoba mendekatkan telinganya pada benda pipih yang dianggapnya aneh. Dia sangat terkejut saat telinganya mendengar ada suara cekikian seorang gadis di dalam benda pipih itu. “Taza, kamu cepat ke sini sebelum bel masuk berbunyi, kamu tidak mau melewatkan kesempatan ini kan?” ucap Yoala dengan riang. “Pangeran, benda itu bisa mengeluarkan suara, itu pasti benda yang sangat istimewah dan senjata mereka yang canggih,” cerocos Zio sekali lagi. “Zio, kamu jangan banyak bicara dulu, aku ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu padanya,” jawab Rize. “Gadis besar ini aneh sekali, kenapa dia tidak melawan temannya yang kecil seperti Tao-Tao ini?” Tao-Tao sebutan hewan peliharaan Zio yang mirip dengan marmut kecil. “Sebelum Taza datang kamu harus dirias sebegitu cantik agar tuan putri cantik Taza menyukai penampilan kamu.” Tangan gadis yang bernama Yoala itu melemparkan tas Paradise ke bawah dan dia melepas bandana yang ada di rambut Paradise. Yoala mengacak-acak rambut Paradise dengan kasar dan dia mengambil bedak di tasnya kemudian mengoleskan bedak yang sangat tebal pada wajah Paradise dengan tertawa senang. “Yoala, sudah! Aku mohon, aku hanya mau masuk ke kelas dan belajar.” “Banyak bicara kamu!” “Eh! Aduh!” Tiba-tiba Yoala merasakan tangannya yang seperti tersengat listrik saat akan menampar wajah Paradise. Bagaimana tidak tersengat listrik?  Zio yang melihat Paradise akan ditampar langsung menempelkan tombaknya pada tangan Yoala dan dia mengalirkan sengatan listrik yang tidak terlalu besar pada tangan Yoala, tapi bisa membuat Yoala terkejut dan seolah tangannya kram. “Zio! Apa yang kamu lakukan?” Rize bertanya dengan nada agak kesal. “Aku hanya menyetrumnya sedikit, habisnya dia mau berbuat kasar, kamu juga kenapa diam saja melihat gadis yang kamu sukai diperlakukan seperti itu?” Zio mengerutkan kedua alisnya. “Kamu jangan ikut campur urusan dimensi mereka, kita hanya akan melihatnya dulu apa yang akan mereka lakukan.” “Kelamaan,” Zio berjalan mendekat kembali ke arah Rize. Tidak lama gadis yang kapan hari menyiksa Paradise datang ke sana, dia melihat aneh pada Yoala yang memegangi tangannya yang sakit akibat disetrum oleh Zio dengan tombaknya. “Kamu kenapa, Yoala?” “Tidak apa-apa, hanya saja saat aku mau menampar gadis jelek ini, tapi kenapa tiba-tiba tanganku seperti tersengat listrik?” Yoala tampak bingung. “Kamu mungkin hanya mengalami kram saja, nanti juga hilang.” Taza sekarang melihat ke arah Paradise. “Hai gadis jelek! Mana pangeran culun kamu? Apa dia tidak masuk hari ini?” “Taza, aku mohon biarkan aku masuk ke dalam kelas,” Sekali lagi Paradise memohon kepada temannya. “Kamu boleh masuk ke dalam kelas, tapi sebelum itu kamu harus diriasi dulu supaya kamu banyak di sukai, bahkan dikagumi oleh teman-teman satu kelas kita.” Taza mencari sesuatu di dekat dia berada, dan kebetulan semalam hujan sehingga di sana tanahnya agak becek. Taza memiliki ide yang sangat jahat, dia mengambil lumpur dengan tangannya dan akan mengoleskan pada wajah Paradise, tapi dia terkejut saat mendengar suara tertawa seseorang yang sangat keras di sana. “Taza, itu suara ketawanya siapa?” Yoala seketika mendekat kepada Taza dengan takut. “Aku tidak tau. Kamu kenapa dekat-dekat begini?” “Aku takut,” ucap Yoala lirih. “Kalian sedang apa di sini? Pergi! Atau aku akan memakan kalian semua,” ucap suara itu dengan sangat keras dan terdengar menakutkan. Sontak saja kedua gadis jahat tersebut berlari ketakutan dari sana meninggalkan Paradise sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD