"Karena aku tidak mau kau memeluk pria lain, selain diriku.” Pipi Thea terasa panas saat satu kalimat yang dilontarkan padanya mengiang di telinga. Ia tidak menyangka cintanya bisa mengucapkan hal semanis itu. Senyuman pun merekah. Entah mengapa dadanya serasa berlomba. Saat menatap pantulan kaca, Thea seolah melihat anak gadis yang baru merasakan cinta pertama. Berbunga-bunga. Ia tidak melebih-lebihkan perasaannya terhadap Ri Han. Ia pernah merasakan cinta sebelumnya, tapi baru kali ini ia merasakan cinta yang membuat dadanya bergetar. “Thea.” Panggilan Ri Han dari luar kamar memecah renungan asmara Thea. Wanita itu segera membenahi rambutnya yang masih basah dan merapikan bathrobe yang ia pakai. Segera, ia berjalan cepat keluar kamar. Semenjak sesi peluk-memeluk, Ri Han memperlakukan

