Maniknya tergenang air mata. Yang ia lakukan hanya berjalan di tengah hujan yang mengguyur tubuhnya. Masa depannya kini berubah suram. Untuk pertama kali, takdir menjatuhkannya hingga hancur berkeping-keping. Setelah orangtuanya meninggal karena kecelakaan, ia diusir dari rumah yang menjadi satu-satunya warisan orangtuanya. Ia pun terpaksa keluar dari universitas karena halangan biaya dan kondisi yang semakin memprihatinkan. Bahkan untuk sekadar makan dan mencari tempat berlindung pun terasa begitu susah. Bagi seorang gadis yang selalu diperlakukan layaknya putri dalam dongeng, hidup sendirian bukanlah hal yang mudah. Mengapa harus dirinya? Mengapa semua kemalangan bertubi-tubi menghantam dan menghancurkannya? Apa kesalahan yang telah ia perbuat? Suara isakannya kalah dengan suara deras

