"Selamat pagi, Sayang." Suara Dandi langsung terdengar menembus telingaku.
Dia membuatku terbangun di pagi-pagi seperti ini. Padahal aku masih mengantuk. Apalagi baru tidur dini hari tadi. Tadinya aku ingin pura-pura tidur saja, tapi dia memainkan rambutku, wajahku bahkan jemari tangannya kembali meraba pinggangku.
Aku membuka mataku, "Hmm.."
Dandi masih berada di atas ranjang sepertiku. Ternyata dia masih telanjang di bawah selimut bersamaku. Kulit tubuhnya benar-benar seputih s**u, lebih halus ketimbang kulitku. Dia membuatku iri.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Tanyaku mengerutkan dahi, "mau mencekikku?"
"Tidak mungkin," ucapnya mulai bangun sambil memakai piyamanya kembali, "aku ingin membuatmu tidur saja sebenarnya, tapi ini jam enam, kita harus sarapan tepat waktu."
"Aku pas.."
"Nggak boleh Sayang, makan teratur, olahraga teratur, tidur teratur, harus begitu mulai sekarang," dia menarik lenganku agar aku memberinya perhatian.
Aku akhirnya bangun dari ranjang. Karena masih malas, aku sedikit lama melakukannya.
"Oh iya, hari ini mendadak ada kerjaan penting, jadi setelah sarapan nanti, tetaplah di rumah ini dan tunggu aku pulang. Tidak akan lama kok. Kamu boleh melakukan apapun.." terang Dandi sembari menyeretku ke dapur.
Tempat ini sangat luas, kamar ke dapur saja melewati lorong panjang dan puluhan ruangan. Hampir tidak bisa dibedakan ruangan satu dan lainnya, semua pintunya sama. Iya, bagiku semuanya sama, hiasan dindingnya, lukisannya, lampu gantungnya. Intinya semua yang kulihat tampak sama.
Tidak ada pembantu ataupun orang lain yang menunjukkan dirinya. Tapi aku bisa tahu kalau banyak sekali yang sedang mengawasi kami. Mungkin dari mata lukisan, balik lubang kunci pintu, atau lainnya.
Dandi sama sekali tidak terpengaruh. Dia memaksaku duduk di salah satu kursi meja makan, lalu memakai celemek hitam.
"Aku tidak terlalu suka daging, Sayang, tapi jangan khawatir, kebutuhan protein tetap akan aman.." katanya saat mengeluarkan beberapa sayuran dan beberapa bahan makanan lain.
"Oke."
Dia sungguh bisa memasak, tangannya sudah terbiasa memegang pisau. Kecepatannya luar biasa seperti chef yang sering kulihat di televisi. Dia tidak butuh buku paduan dan tahu-tahu aroma sedap tercium.
Aromanya membuat perutku berbunyi seketika.
Aku lapar.
Dia menyajikan sarapan padaku. Entah apa yang dia taruh di atas piring ini. Tapi cukup menggugah selera makanku.
Kami segera memakannya.
Dandi mendadak berkata dengan nada santai, "Sayang, kamu bisa bermain-main disini, ada banyak orang kok, di halaman depan juga ada labirin, di halaman belakang ada taman bintanangku juga."
"Aku hanya perlu ponsel, selain itu, tidak ada yang menarik."
"Oh, pasti kamu akan tertarik, tapi nanti siang saja ya kita main sama-sama."
"Aku tidak paham ucapanmu."
"Nanti juga tahu."
"Boleh kutanya sesuatu yang penting, Dandi?"
"Tentu saja, Sayang."
"Siapa itu Kitten 53? Apa kamu akan menemuinya nanti?"
"Hmm.." dia malah membalasnya dengan senyuman. Tidak ada jawaban apapun seolah-olah aku tidak usah mengetahui tentangnya. Ini sikap yang tidak kusukai.
Menurutku ada banyak sekali rahasia dibalik tampang menawan itu. Sejujurnya aku tidak ingin mengetahuinya lebih banyak. Namun entah mengapa, sejak semalam, dia membuatku tidak ingin melepaskannya.
Oh, tidak. Itu artinya aku punya keinginan. Selama ini aku mengunci diriku sendiri agar tidak ingin apapun. Karena semua yang kuinginkan selalu tidak menjadi milikku.
Sekarang aku menginginkannya untukku saja. Rasa cemas, waspada, ingin tahu, perasaan menyebalkan ini mendadak menggelayuti diriku. Dandi, aku harus tahu apa yang akan dia lakukan sebentar lagi.
Aku mungkin bisa tenang jika sebelumnya tidak membaca pesan dari si Kitten. Sayangnya, aku sudah membacanya. Sekarang aku takut dia pergi menemuinya.
Saat kami sudah sarapan, dia bergegas meninggalkanku. Sedangkan aku mulai diintai banyak orang di rumah ini. Kemanapun, dimanapun, mata-mata asing seolah tertuju padaku. Rasanya aku tidak punya privasi.
Namun ini malah mengingatkanku pada masa kecilku. Iya, banyak sekali mata tua yang selalu tertuju padaku. Tatapannya bahkan lebih buruk, seperti predator yang ingin memangsaku. Jika dibandingkan dengan mereka, pengamanan di rumah ini cukup remeh bagiku.
Aku hanya perlu bersandiwara, memaksa salah satu dari mereka untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Lalu saat sudah di tengah jalan raya begini, aku menancapkan ujung garpu ke leher sopirnya sehingga dia kehilangan keseimbangan. Sudah pasti, orangnya Dandi itu kuat-kuat, mana mungkin mati karena garpu.
Setidaknya mobilnya hilang kendali dan keluar jalur. Aku tidak terlalu polos memilih jalan yang ramai kendaraan dan samping kanan-kiri jurang. Ini hanya jalanan biasa, tapi tetap saja, mobilnya menabrak ke pohon. Ya~ aku pasti selamat, aku kan di kursi belakang. Meskipun kepalaku terbentur kursi juga.
Sakit, tapi menurutku biasa saja ketimbang sopir itu yang masih bersikeras menghentikanku keluar sekalipun dia mencengkram lehernya erat-erat. Dia lebih takut dibunuh Dandi ketimbang mati dalam kondisi seperti ini.
Aku berhasil keluar sebelum orang-orang berkerumun.
"No..na?!" Teriak sopir itu.
"Maaf ya, kamu pasti bisa selamat' kan? Itu tidak sakit'kan?" Tanyaku tersenyum sambil melarikan diri ke arah berlawanan dengan orang-orang.
Beberapa dari mereka sadar aku keluar, tapi aku buru-buru berlari ke arah ruko-ruko pembelanjaan. Hampir semua orang keluar untuk melihat kecelakaan kecil yang diakibatkan sopir Dandi.
Aku tidak menyangka sopir Dandi terlalu polos.
Kuusahakan agar tidak memakai uang dari kartu kredit Dandi. Aku ingin memastikan sesuatu agar hidupku lebih tenang. Mungkin saja benar pacarku itu sedang bersama si Kitten.
Akhirnya aku pergi ke kantor polisi terdekat.
Aku datang kesana tanpa kendaraan, jadi aku langsung menuju kesana dan melaporkan, "Pak, tolong saya, motor saya diambil teman saya, ini nomor ponselnya, bisakah dilacak?"
"Mana? Biar langsung dilacak.."
Aku memberikan nomor ponsel si Kitten 53. Aku tidak perlu khawatir dengan sikap para polisi ini. Seingatku di wilayah ini, mereka tidak terlalu peduli dengan kejahatan kecil. Jadi setelah mereka memberitahuku wilayah terakhir pemilik ponsel, mereka menyuruh teman-temanku yang mengejar.
Aku tersenyum pada mereka, "Terima kasih."
Kalau saja aku tidak bodoh dalam hal teknologi, aku tidak akan meminta bantuan. Tapi masalahnya aku juga malas. Jika bisa bertanya, untuk apa bersusah payah. Lagipula polisi-polisi ini juga terlalu polos.
Mereka melihatku dengan wajah prihatin, beberapa diantaranya sampai berkata, "Kuantar pulang ya, biar nanti aman, masalah kendaraan biar nanti proses asuransi saja."
"Oh, tidak perlu, nanti saya akan membuat laporannya, saya sudah ditunggu orang di depan. Makasih, Pak."
Beberapa di antara mereka memang menyebalkan. Seharusnya membantuku mencari pelaku, mereka malah tetap bersantai. Setidaknya ada orang yang mulai memberitahu ada kecelakaan di dekat situ.
Oh, aku harus pergi.
Aku pergi ke lokasi yang diberitahukan kepadaku. Ternyata masih cukup jauh perjalanannya. Syukurlah aku masih menyimpan uang tadi, jadi aku bisa memesan taksi online.
Dia berada di sekitar wilayah apartemen. Aku tidak mengetahui nama aslinya, jadi aku benar-benar berharap wanita ini masih di luar sehingga wajahnya kukenali.
Memang mencari orang yang belum pernah dikenal itu sulit, aku sudah hampir setengah jam menyusuri beberapa tempat di sekitar sini. Tidak ada tanda-tanda orang mencurigakan dari pihak Dandi, tidak ada juga wanita yang mirip dengan foto itu.
Polisi jelas memberikan peta yang jelas, posisi wanita itu ada disini. Dia sudah pasti masuk ke dalam apartemennya.
Apa aku harus menunggu seperti orang bodoh di lobi?
"Sayang? Pantas saja, orang-orang rumah panik dan tidak berani menjawab pesanku.. pantas saja ada berita salah satu mobilku menabrak pohon.. pantas saja ya.." suara Dandi mendadak sudah ada di belakangku.
Kami berada di taman dekat apartemen yang teduh dan tidak terlalu ramai. Namun akan jelas terlihat kalau dia tiba-tiba memukulku sampai pingsan. Jadi aku percaya diri saja saat bertemu dengannya.
Ini tengah hari.
Aku melihatnya sedang membawa sebuah koper besar, cukup besar sepeti hendak bepergian jauh. Aku memicingkan mataku padanya, "Bagaimana kamu tahu aku ada disini?"
"Aku bisa mencium aroma tubuhmu kuat sekali."
Dasar pembohong..
Aku mengganti pertanyaanku, "Kenapa kamu disini? Mau kemana kamu? Jalan dengan Kitten?"
"Baru sehari tidur denganku, kamu sudah seposesif ini," dia mendekatiku sambil membelai rambutku dengan lembut.
Aku tahu dia hendak berbuat sesuatu padaku.
Dia berkata, "Aku ini tidak suka saat perintahku dilanggar. Tapi aku lebih tidak suka melihatmu berkeliaran tanpa pamit, Sayang."
Dandi mulai bertingkah aneh seperti menghela napas terlalu panjang. Kelihatan sekali kalau ada amarah, kebahagiaan, serta rasa cemas berlebihan ingin dia luapkan.
"Aku ini benci pembohong, Dandi.." ucapku datar sambil menyentuh pisau lipat di saku dress-ku, "kamu bohong, aku akan membuatmu menyesal.."
"Sayang, sayang, tenanglah.." dia malah senang mendengar, "aku ingin bermain denganmu. Ayo kita pulang!"
Saat dia mengedipkan sebelah matanya, sesaat itu pula seseorang membekap hidungku dari belakang. Aku ingin sekali melawan karena bagiku ini biasa, tapi ternyata bau obat bius ini sangat manis, manis, manis, memabukkan, memusingkan. Pandanganku buyar seketika.
Satu-satunya yang kudengar ada suara Dandi yang memanggilku, "My sweet kitty."
•••