06. Kitten 53 [Bag. 1]

1841 Words
Dandi mengajakku belanja semua pakaian yang sama saja menurutku. Dress dengan banyak warna dan motif. Dia lebih terobsesi memilih pakaian itu ketimbang aku. Malahan aku tidak terlalu suka dengan berbelanja pakaian. Mungkin akan lebih baik kalau pergi ke minimarket dan membeli makanan. Setelah berjam-jam memilih pakaian, dia mengajakku ke tempat masakan Jepang. Aku tidak perlu memilih makanan karena dia seenaknya memesan untukku. Kelihatannya dia tidak mau aku makan daging. Kurasa aku sudah tahu kalau dia ini sangat menjaga pola makan. Ketika Dandi fokus pada makanannya, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh area Mall ini. Ada dua orang pria yang berkemeja hitam sedang duduk berdua di meja lain. Kelihatannya mereka akrab dan saling mengobrol santai. Akan tetapi aku tahu kalau mereka sesekali memperhatikan kami. Aku bertanya pada Dandi, "Kenapa kamu sangat betah dikelilingi stalker?" "Mereka tidak mengganggu' kan?" Dandi melirik ke orang-orangnya yang langsung memalingkan pandangan, "sebenarnya aku tidak butuh juga, tapi kadang ada kejadian tidak terduga, jadi mereka itu sangat berguna." "Kejadian apa?" Ia tertegun sejenak, lalu tersenyum padaku, "Eh, misalnya.. kamu lari mungkin." Sebelum kujawab, seseorang mengantarkan pesanan kami. Perlu waktu setengah jam untuk menghabiskan makanan ini. Dandi juga tidak terlalu buru-buru, dia bilang sedang santai karena kliniknya sedang tutup akibat kekurangan karyawan. Dia bilang sedang proses mencari orang baru. Menurutku dia ini seperti anak manja yang berada di tubuh orang dewasa, gampang bosan, pemilih, suka mempermainkan orang dan pikirannya mengerikan. Kami makan tanpa gangguan dan pembicaraan. Selama berjam-jam, kami hanya berjalan-jalan sampai betisku terasa mekar. Di saat aku yang lesu sepanjang hari seperti bunga layu, dia begitu terlalu aktif dan ceria. Kuakui, kami terkesan tidak cocok, tapi ketidakcocokan itulah yang menurutku saling merekatkan. Memang orang yang pasif sepertiku berdampingan dengan orang aktif sepertinya. ••• Kami baru selesai jalan-jalan saat malam hari. Awalnya aku diajak berputar-putar di jalanan kota yang padat ini, tapi lama kelamaan sekarang malah menuju ke jalanan kecil yang mirip arah menuju hutan. Tidak ada kendaraan, tidak ada orang, hanya ada pepohonan rimbun di sepanjang jalan. Dandi menjelaskan setelah hampir setengah jam kami masuk jalanan mengerikan ini, "Oh iya Sayang, kita ini nggak perjalanan pulang ke apartemenku loh." "Terus? Rumah jagal?" Tanyaku spontan. "Bukan, rumah mendiang kakekku, disana sangat sejuk dan menyenangkan, halamannya luas. Kita bisa main-main disana." Dia mengatakan hal yang terdengar normal, tapi entah mengapa bagiku dia sedang berbicara dengan binatang. Iya, bermain-main, menyenangkan, halaman luas, apalagi kalau bukan berkeliaran seperti anjing? Aku menghembuskan napas panjang lalu bertanya, "Apakah jauh?" "Tidak terlalu." "Oh.." Dandi tiba-tiba menghentikan mobilnya setelah melihat dari arah berlawanan ada cahaya lampu dari sebuah mobil. "Dandi, kenapa kita berhenti?" Tanyaku. "Bentar, aku ingin melakukan sesuatu." "Sesuatu apa?" Tanyaku mulai cemas karena mobil itu berhenti tepat di hadapan kami, "apa kamu kenal?" "Tentu," ucap Dandi keluar mobilnya, lalu menuju bagasi belakang. Kulihat dia mengambil sesuatu. Karena disini pencahayaan lampu jalannya cukup jelas, aku langsung tahu itu adalah kapak. Di mobil depan itu, ada dua orang pria berkemeja hitam dengan topeng pencuri warna putih yang membawa keluar seorang pemuda yang berpakaian serba putih. Dia langsung berteriak menggila begitu dikeluarkan dari mobil. Wajahnya ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari dua orang bertopeng itu. Aku penasaran dengan mereka, jadi aku ikut keluar menghampiri Dandi. Mataku tidak lepas dari pemandangan sepi jalanan ini. Walaupun sepi seperti ini, tetap saja kemungkinan ada orang lewat. Eh.. atau mungkin tidak.. Dua pria bertopeng tadi menghantamkan kepala pemuda itu di atas kap mobil Dandi dengan kasar dan keras. Salah satu dari mereka menahan kepalanya agar tidak bergerak. Dandi menjajal ketajaman kapaknya dengan menancapkannya dengan sengaja ke kap mobilnya. Dia tampak menganggukkan kepala, lalu bertanya pada pemuda itu, "Jadi kau mau mengatakan pesan terakhir?" "Pak Hardana,... Percayalah .., itu bukan ide... saya, saya sangat menyesal. Tolong ampuni saya.." ucap pemuda itu nyaris sesenggukan karena takut setengah mati. Memangnya siapa yang tidak takut berada di posisinya dengan orang gila membawa kapak di sebelahnya? "Kau mau menukar kepalamu dengan tangan atau bagian mana? Terserah, aku ini... Baik hati," ucap Dandi dengan suara nyaris berbisik. Wajahnya tampak sumringah terhias oleh seringaian lebar. Dia merendahkan tubuhnya agar bisa berbisik lagi pada pemuda itu, "Coba pikir, kalau tanganmu yang hilang, kau masih hidup, kalau aku penggal kepalamu disini, kau langsung mati loh." Dua orang bertopeng tadi terlihat tidak terganggu sama sekali oleh ucapan majikannya. Malahan mereka semakin menahan tubuh pemuda itu agar tidak terus berontak. Pemuda itu terus memohon, "Pak, saya berjanji.. akan mengembalikan uangnya tolong ... Tolong maafkan saya." Dandi menghela napas panjang, "Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan uang yang kau korupsi. Aku hanya benci orang yang sudah mencuri tapi tidak tahu diri. Kau tidak bekerja dengan baik, para anak anjingku banyak yang mati.. aku tidak terima." Dia berpura-pura sedih di hadapannya. Ternyata pacar baruku sangat ahli membuat suasana semakin menegangkan. Ia kembali berkata, "Inilah kenapa aku tidak suka berdebat, orang sepertimu tidak mau mengakui kesalahan." Pemuda itu langsung membalas, "Saya salah.. saya minta maaf, tolong ampuni saya.." "Iya kuampuni," Dandi tersenyum aneh padanya. Orang itu malah semakin ketakutan, "Pak?" "Lihat dirimu, kenapa tidak ada yang percaya saat aku berkata seperti itu?" Dandi kembali berpura-pura sedih, tapi kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak sambil mengayunkan kapaknya ke pergelangan tangan kanan pemuda itu. Kejadiannya cepat sekali, syukurlah aku tidak terlalu fokus sehingga satu-satunya yang terlihat di mataku adalah darah mendadak sudah deras dan ada potongan tangan jatuh ke aspal jalan. Lalu suara histeris orang itu mulai mengganggu telingaku. Mendengar suara tawa dan kesakitan histeris bersamaan membuatku mual seketika. Apalagi bau darah mulai tercium. Aku lantas menoleh ke sembarang arah. "Lepaskan dia, aku akan mengejarnya," kata Dandi memperhatikan jam tangannya, "masih sore ini.." Dua pria bertopeng tadi langsung melepaskan pemuda itu. Dia berlari menjauhi kami dengan langkah gemetaran dan tidak kuat. Dia akan mati kehabisan darah. Suara minta tolong ya nyaring sekali, aku sampai kasihan... ...Kasihan pada diriku sendiri karena melihat pemandangan menjijikan seperti ini. Aku tidak mau terlalu sering melihat pacarku berbuat seperti ini di depanku. Bukannya mengejar, pacarku ini malah mengarahkan ujung kapak berdarahnya pada salah satu anak buahnya. "Kau... Memandangi Elisse-ku dari tadi bukan?" Dia bertanya serius. Pria yang dituding itu spontan menjawab, "Tidak, Tuan!" Dandi langsung memberikan respon benci, "Berani sekali bicara padaku?" "...." Pria itu menggelengkan kepala cepat. Walaupun tidak jelas wajahnya, tapi dari tatapan matanya, jelas sekali kalau dia takut. Temannya saja sampai gemetaran. "Lupakan, ayo bantu aku menangkapnya, dan... Kau.." kata Dandi melirik pria satunya, "jaga Elisse, jangan melihatnya terlalu lama atau kulubangi matamu, jangan biarkan dia lari, ataupun ngambek, atau.. ku..bunuh." Pria itu mengangguk. Sementara itu, Dandi dan pria yang dituduhnya tadi mulai berlari mengejar orang tadi. Kelihatannya dia berlari masuk ke pohon-pohon sekitar karena tidak ada jejaknya sama sekali. Padahal ini sudah malam, aku tidak yakin Dandi bisa melacaknya. Aku bertanya pada pria bertopeng yang sama sekali tidak melihatku, "Apa Dandi akan membunuhnya?" Dia mengangguk singkat. "Kenapa kalian tidak boleh bicara?" Dia menggelengkan kepala. Aku menghela napas panjang, "Katakan padaku atau aku akan bilang pada Dandi, kamu berusaha menyentuhku." Dia menengok sekitar dan memastikan majikannya sudah menghilang, lalu menjawab dengan suara pelan, "Maaf, Nona, Tuan tidak suka kami bersuara." "Kenapa?" "Saya.. kurang tahu, Nona." "Oh, kenapa kau bekerja pada psikopat sepertinya?" Dia kaget sampai-sampai melotot padaku, "Eh.. Tuan itu baik, Nona." "Waw," aku takjub dengan ucapannya yang bohong itu, "dia membunuhmu loh kalau aku ngambek, aku ngambek kalau dibohongi.." "Nona.." Aku tersenyum padanya, "Jadi jawab pertanyaanku dengan jujur. Aku tidak akan mengadukan pada Dandi seburuk apapun alasanmu bekerja padanya." "Eh," dia masih berat mengatakannya, bola matanya kemana-mana mencoba untuk menghindariku. Namun kemudian, dia akhirnya mengaku, "saya seorang tahanan hukuman mati, Nona." "Hah?" "Hampir seluruh penjaga Tuan itu tahanan yang dibebaskan saat hukuman mati dilaksanakan, Nona. Kami sudah dianggap mati oleh negara, kami tidak punya identitas. Jika kami melarikan diri, keluarga Hardana akan membunuh kami dan itu tidak akan bisa diusut polisi karena kami.. tidak punya identitas." "Wah," aku sedikit kaget mendengarnya. Orang yang ada di depanku ternyata kriminal yang kejahatannya sudah pantas dihukum mati. Aku jadi penasaran, "apa hukumanmu sampai dihukum mati?" Dia tertegun sesaat sebelum menjawab dengan suara dingin, "Penyekapan, pembunuhan berencana, Nona." Dalam sekejab aura di sekitarnya menjadi berat. Tatapan matanya yang tadi takut mendadak kosong bagaikan mata ikan. Kukira dia orang normal yang terjebak bekerja dengan Dandi, ternyata sama saja. Bahkan sekarang dia kemungkinan tersenyum di balik topengnya. Jelas, semuanya psikopat.. "Oke," aku mengangguk saja sambil menatap ke pepohonan dimana Dandi masuk barusan, "jadi apa disini aman? Kalau ada orang lewat bagaimana?" Kulihat ceceran darah dimana-mana, "ada tangan, darah.." "Tidak masalah, Nona. Bagian Fixer akan membereskannya. Mereka selalu ada di sekitar Tuan." Aku mengerutkan dahi, "Fixer.. oke, nggak paham." "Ada dua penjaga keluarga Hardana, Nona. Eksekutor dan Fixer, saya eksekutor, kami biasanya yang selalu di sekitar Tuan. Sementara Fixer yang membersihkan kekacauannya." "Oh, enak sekali ya menjadi kaya dan berkuasa, bisa gila seenaknya," gumamku lirih. Aku jujur mengatakan ini. Memang benar, Dandi adalah sosok impian yang ingin kuraih dalam hidupku. Anehnya, takdir mempertemukan kami. Beberapa lama kami hanya diam menunggu Dandi. Bukan main lamanya sampai sejam sampai aku kembali ke dalam mobil. Sedangkan pria itu masih berdiri tegak seperti patung. Tidak bergerak, tidak berbicara, tidak melakukan apapun. Dia sangat totalitas. Aku memainkan ponsel baru pemberian Dandi sambil menunggunya keluar hutan. Saat kudengar ada getaran di atas dashboard, aku baru sadar kalau ponselnya ketinggalan. Karena aku sangat penasaran dengan apapun, aku memeriksanya. Beruntungnya aku, layar ponselnya tidak terkunci. Hal pertama yang kulihat setelah melihat galerinya adalah rekaman dan foto-fotoku yang dia ambil dari CCTV waktu itu. Pantas saja perasaanku tidak enak, dia memang mengerikan. Aku paling benci gerak-gerikku diperhatikan sampai disimpan seperti ini. Aku kemudian beralih pada chat yang dikirimkan padanya. Disini tertulis nama pengirimnya : Kitten 53 • ..Selamat malam, Pak Dandi Saya mau bertanya apakah lusa saya boleh ijin tidak masuk kerja? Saya mohon maaf karena mendadak, adik saya sakit, Pak • Begitu pesan yang kuterima dari seseorang yang memasang foto profil cantik bak model. Ada perasaan benci saat melihatnya karena dia lebih cantik dariku. Kulitnya lebih putih, matanya lebih lebar dan senyumannya sangat cerah. Kedengkianku membara seketika. Lebih parahnya lagi, ternyata riwayat chat mereka terkesan sangat manis. Mungkin mereka akrab sekali, walaupun sebagai bos dan karyawati. Tadinya aku ingin membalasnya, tapi kulihat Dandi sudah keluar dari hutan dengan penampilan seperti orang gila. Dia berlumuran darah dari rambut sampai sepatu. Anehnya dia keluar sendirian. Setelah membersihkan diri sesaat dengan tisu pemberian penjaganya, dia masuk ke mobil bersamaku lagi. Dengan baju masih merah, dia tersenyum padaku dan bertanya, "Sayang, lama ya?" "Membosankan." Dia mencium keningku sekilas, lalu mulai menyalakan mobilnya, "Maaf ya, agak rumit tadi disana, gelap juga, aku takut ada binatang buas." "Terus dimana penjagamu yang satunya?" Dia baru menjawab setelah melakukan mobilnya, "Mati." "Kenapa mati?" "Aku ingin menyelamatkanmu, Sayang, coba pikir kalau dia masih hidup, dia akan mengganggumu. Kamu tidak lihat'kan caranya tadi melihatmu? lama sekali, aku takut, bisa-bisa dia berbuat aneh padamu.." Aku mengangguk setuju, "Syukurlah, kebanyakan laki-laki seperti itu, mengerikan, Itulah kenapa aku tidak suka laki-laki." Dandi tersenyum kecil, "Tidak berlaku untukku' kan?" "Oh," aku membalas senyumannya, "tentu saja, kamu pengecualian." "Baguslah." Aku memandang ke arah jendela untuk memandangi situasi jalanan yang masih suram, sepi dan mencekam. Meskipun demikian, pikiranku masih tertuju pada si Kitten 53. Aku menambahkan perkataanku, "Aku percaya padamu, Dandi. Jadi sebaiknya hanya aku yang jadi gadismu karena aku ini pencemburu." "Tentu, tentu saja," dia tertawa terbahak-bahak seolah-olah sangat bahagia mendengar kalimat tadi terucap dari bibirku. Aku belum sepenuhnya suka padanya, aku hanya tidak suka dijadikan pajangan seperti orang lain. Aku mau menjadi istimewa, yang lain tidak boleh sederajat denganku di matanya. Tidak boleh atau kulenyapkan mereka semua. Aku tidak suka sakit hati karena itu membuatku kepikiran sepanjang waktu. Jadi satu-satunya cara adalah memusnahkan sumber sakit hatinya. Kuberikan senyuman manis pada pacar baruku. Hari ini, malam ini, kami akan memulai hidup baru. Hanya aku dan dia, lainnya tidak perlu ada. Termasuk si Kitten 53. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD