Dia terdengar kompleks. Hanya saja aku tidak peduli. Bagiku dia kelihatan seperti tambang emas. Lagipula dari mimik wajahnya, aku tidak merasa terancam.
Tak berselang lama, omeletnya sudah jadi dan dihidangkan kepadaku dengan cara yang sangat elegan. Dia cocok jadi apapun kurasa. Dia benar-benar berbeda dari saat menjadi dokter hewan, lalu orang biasa, lalu sekarang ini menjadi pacarku.
Oh.. pantas saja orang-orang tidak akan menaruh curiga padanya. Dia bisa berubah-ubah kepribadian sesuai dengan situasi tertentu. Sekarang, dia bak seorang kekasih yang sangat memanjakanku.
Dan ini membuat bulu tengkukku berdiri, aku tidak suka dimanja. Perbuatan baik seseorang terasa menyakitkan di tubuhku.
Ia duduk di depanku lalu menjelaskan hal yang tadi lagi, "Aku bisa masak juga terpaksa dulu, banyak orang yang ingin meracuniku sejak kecil. Aku ini anak tunggal, jadi kalau aku mati, hilang atau semacamnya, maka Hardana tidak punya penerus."
"Harusnya orangtuamu membuat anak lagi. Kenapa orang kaya selalu hobi punya anak satu?"
"Mamaku tidak suka melahirkan, Papaku tidak suka anak-anak. Aku ini anak hasil di luar pernikahan. Tidak sengaja dibuat."
Dia menjelaskan itu sambil memakan omeletnya dengan santai. Ekspresinya malah terkesan ingin tertawa karena mungkin aku sedang mengajaknya bergurau.
"Kurasa aku juga anak diluar nikah, aku dibuang di panti asuhan," ucapku mengangguk, "tapi enaknya kamu, lahir di keluarga kaya. Aku dari kecil sudah susah."
"Kamu mau kucari orangtuamu?"
"Untuk apa? Palingan juga sudah mati."
"Jangan begitu, Elisse, orang jahat itu matinya susah."
Aku tersenyum mendengarnya, "Sepertimu?"
"Setiap kamu tersenyum, aku merasa kalau jantungku benar-benar bekerja. Aku menyukaimu," dia mulai menyentuh pelipis dan sekitar mataku juga, lalu menambahkan, "matamu seperti mata boneka."
Dia membuat senyumanku pudar karena ucapannya yang aneh. Karena mungkin aku membisu saja, dia bertanya hal lain, "Oh iya, kamu mau kuliah'kan Sayang?"
"Iya. Kenapa?"
"Kamu kuliah saja di Universitas Edelweiss. Keluarga Mamaku adalah pemilik yayasannya. Nanti kukasih kartu namaku, mereka akan langsung menerimamu tidak perlu mengurus administrasinya. Kamu tinggal putuskan saja masuk jurusan apa, disana ada fakultas kesehatan juga loh, kenapa tidak jadi perawat saja?"
"Aku tidak suka bau obat."
"Terserah kamu," Dia pun berdiri seraya menyunggingkan senyuman padaku, lalu menaruh piringnya ke wastafel. Ia mengajakku, "Ayo mandi, setelah itu kubelikan baju untukmu, dan ikut aku bekerja. Kebetulan ruang bawah tanahku kosong."
"Bekerja? Ruang bawah tanah?"
Dia meregangkan otot jemari tangan dan lehernya sambil bertanya hal lain, "Kamu tahu cara kerja jantung tidak?"
"Maksudnya?"
"Saat kecil, kakekku menunjukkan cara kerja jantung secara langsung padaku, itu menyenangkan. Kukira.. kamu akan suka juga."
Aku menjawabnya langsung, "Tidak."
"Kalau gitu kita main petak umpet gimana? Kebetulan aku gampang bosan, Sayang, jadi kalau lari-lari kayaknya seru. Mumpung hari ini aku tidak ada meeting."
"Aku tidak paham istilah psikopatmu, Dandi."
Dia tertawa lirih. Senyuman liciknya mulai menghiasi wajah penuh dusta itu. Meskipun demikian, lagi-lagi aku tidak merasa terancam berada di sekitarnya.
"Oke, ayo mandi, terus belanja, dan kutunjukkan taman favoritku," dia mulai memaksaku berdiri, lalu mencium pipiku sesaat seraya merayuku, "kumandikan ya?"
"Aku bisa mandi sendiri."
Dia sepertinya memang tidak bisa dibantah, jadi aku membiarkannya membawaku ke kamar mandi. Dari semalam dia tidak berniat melakukan apapun padaku. Bahkan saat kami berada di satu ruangan dalam kondisi tanpa busana pun, dia hanya fokus membersihkan tubuhku saja.
Sekarang aku benar-benar yakin, Dandi ini memang sangat menghayati perannya sebagai dokter hewan. Dia dokternya, aku hewannya. Ya, dia terus menerus memperlakukanku seperti binatang yang tengah melakukan sesi mandi. Tatapan matanya masih sama seperti awal kami bertemu.
Dia terobsesi pada mataku karena terus menyentuh pelipis dan kelopak mataku. Mungkin gadis lain akan takut karena ada kemungkinan mata mereka akan diambil dan dimasukkan toples. Tapi entah mengapa, aku merasa aman.
Atau mungkin aku memang seperti ini?
Aku kan tidak peduli, hidup juga pasti mati. Malahan Dandi memberikanku secercah harapan bahwa hidup ini sedikit bisa dinikmati. Kata siapa bahagia itu sederhana, jadi mudah dicapai. Bagiku itu sulit sekali, tersenyum tulus saja sulit bagiku karena tidak alasannya.
Tapi Dandi.. dia perhatian padaku tulus. Dia tidak menganggapku aneh, malahan dia memujiku. Dia tidak bosan berbicara denganku meskipun sudah semalaman kami bersama. Dia tidak memberikanku tatapan bosan seperti yang lainnya.
Intinya aku mulai nyaman.
•••
Aku keluar duluan dari kamar mandi. Langkahku terhenti karena di kamar ini tiba-tiba ada dua orang pria berkemeja hitam lengan panjang dengan kepala terpasang topeng kelinci dan kucing lucu.
Jika dilihat dari otot lengan mereka dan topeng itu, rasanya aku tidak ingin melihatnya lama-lama. Apalagi mereka berfiri tegap tak bergerak sedikitpun, tidak berkata apapun meskipun aku sudah muncul disini.
"Siapa kalian?" Tanyaku. Aku tahu reaksiku cukup santai. Mau bagaimana lagi, setelah melihat pria berkemeja putih bertopeng tadi malam, aku merasa ini bagian dari pengawal Dandi.
Sayangnya mereka tetap diam tidak menjawabku.
Satu-satunya yang kutahu adalah tatapan mata mereka di balik topeng itu cukup bengis, menakutkan. Mereka seperti komplotan preman yang banyak terlihat di jalanan.
Baru ketika Dandi keluar, sikap mereka berubah. Keduanya dengan kompak membungkukkan badan sampai mata mereka menatap lantai.
Dandi bertelanjang d**a, bagian bawahnya hanya terbalut handuk. Kulit tubuhnya benar-benar lebih mulus dariku, lebih putih mirip sekali dengan s**u.
Aku saja sampai tergoda. Ya, ini aneh. Padahal aku tidak pernah suka laki-laki apapun bentuk tubuhnya. Tapi kali ini, kuakui, Dandi sangat menggoda.
Ia berkata pada kedua orang itu, "Hmm.. mulai besok, jangan datang terlalu pagi, aku lupa memberitahu kalian kalau disini ada kekasihku sekarang."
Kedua orang itu mulai menegakkan tubuh mereka lagi.
"Oke, pergi saja, aku tidak butuh apapun," Dandi mengusir mereka hanya dengan satu lambaian tangan.
Dan lagi-lagi tidak ada yang berani mengatakan apapun. Mereka keluar tempat ini dengan langkah cepat dan tanpa suara apapun. Aku curiga semua orang yang bekerja untuknya itu bisu.
Aku bertanya pada Dandi, "Siapa mereka?"
Dandi tampak mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. Lalu menoleh padaku untuk menjawab, "Orang tidak berguna."
"Kenapa mereka memakai topeng aneh?"
"Jangan bilang aneh dong, Sayang. Wajah mereka tidak imut, jadi aku muak jika melihatnya terlalu lama. Aku tidak suka wajah siapapun, jadi aku selalu menyuruh mereka memakai topeng."
"Kamu aneh ya?"
"Sayang, apa aku belum bilang? Aku ini sangat suka dengan keindahan dan yang manis-manis, sepertimu.. yang sangat mirip dengan.. anak anjing."
Daripada aku mendengarkan ucapan obsesi anehnya lagi, aku lantas bertanya kembali, "Kenapa mereka kemari? Kamu memperbolehkan orang-orangmu masuk ke apartemenmu sembarangan?"
"Iya, mereka selalu punya akses ke rumah, ke apartemenku, ke semua tempatku, karena aku punya kebiasaan buruk kalau sedang malas, Sayang.." sahutnya santai sambil membuka lemari untuk mengambil kemeja putih.
"Kenapa kesini tiap pagi?"
"Biasanya mereka hanya memastikan apakah ada mayat yang perlu dibuang atau tidak."
"Oh, sayang sekali aku masih hidup."
Dia tertawa saat memakai kemejanya, "Sayangku, kau masih curiga padaku ya? Mana mungkin aku membunuhmu. Lagipula kondisi tubuhmu belum ideal, itu berdampak pada harga pasaran organ dalammu."
"Kamu mau menjualku?"
"Enggaklah," dia tersenyum lebar padaku, "aku sangat menyukaimu. Beruntung sekali bisa bertemu denganmu, Sayang."
Aku mengangguk saja, "Baiklah, terserah, tapi sekarang.. apa aku harus memakai pakaianku tadi malam lagi?"
Dia mengeluarkan sebuah dress biru selutut bercorak bunga-bunga dari lemari. Lalu menyerahkannya padaku, "Ini pakailah dress ini, pasti cocok untukmu."
"Dress siapa ini?"
"Entahlah, aku lupa. Kayaknya wartawan yang pernah berusaha mengajakku tidur."
"Terus dia kemana?"
"Kemana lagi?"
Kulihat pakaian ini sangat feminin.. sekali. Aku tidak pernah suka dengan gaya yang terlalu menunjukkan sisi genderku ini. Kalau berada di jalanan dengan memakai pakaian seperti ini, pasti akan jadi korban penculikan.
Tanpa banyak bicara lagi, aku memakainya di depan Dandi langsung. Semenjak semalam, aku tidak malu telanjang di depannya. Lagipula dia masih belum ingin menyentuhku juga.
Oh, mungkin baginya ini bukan waktunya 'kawin'. Bukankah hewan memiliki siklus perkawinan sendiri. Ya, aku mengatakan ini karena aku merasa dokter hewan ini, kelakuannya lebih mirip hewan ketimbang manusia. Dia tidak suka orang lain, tapi menyukai binatang.
Sepertiku.
Dia pikir aku anjing.
•••