"Tinggal kepala, tangan ...," jawabnya begitu saja. Tapi sedetik kemudian dia menoleh ke arahku dengan tatapan dingin sembari bertanya balik, "oh aku lupa, kita pasangan baru jadi kamu tidak tahu kebiasaanku, kamu.. tidak keberatan'kan, Sayang?"
Sudah kuduga, ada yang tidak beres dengan tampangnya. Dia yang tadinya kelihatan berwibawa ternyata memang psikopat asli. Menurutku orang sepertinya tidak akan pernah mengenal kata cinta, jadi aku mulai ragu dia tulus bersamaku.
Tapi kembali lagi ke pokok permasalahan. Kalau sudah menjadi saksi begini, aku tidak akan dibiarkan hidup tenang. Lagipula dia kaya, jadi tidak masalah bagiku.
"Tidak..masalah," sahutku sambil menutup hidung dengan sapu tangan karena baunya menyebar semakin parah. Aku tidak tahu berapa orang yang terpotong-potong di kantong-kantong itu, tapi kelihatannya ini jauh lebih sadis dari yang kuperkirakan.
Dandi gila.
Dia gila.
Dia mulai memandangi kantong-kantongnya tanpa ada perasaan risih sedikitpun. Jangankan risih, aku sangat heran dengan kondisi hidungnya yang tidak terpengaruh.
Aku yang berdiri jauh saja masih mencium baunya, dia malah menghadap langsung.
"Maklum ya, Sayang, keluarga Hardana itu keluarga dokter, kami tidak akan membiarkan organ tubuh dibuang begitu saja, membunuh untuk menyelamatkan nyawa orang juga," jelasnya dengan senyuman lebar ditujukan kepadaku, "kapan-kapan kujelaskan tentang keluargaku kalau kamu tahan berhubungan denganku."
"Kalau aku tidak tahan?"
"Entahlah, mungkin akan kumasukkan kamu ke dalam toples karena aku mulai mencintaimu."
"Oh.."
"Kamu tidak lari?"
"Kenapa?"
"Karena aku sedang bersama mayat disini."
"Memangnya kenapa kalau ada yang mati? Manusia itu'kan banyak, kalau mati beberapa'kan tidak masalah. Lagipula aku tidak kenal, untuk apa aku peduli?"
"Bagus sekali, Elisse-ku, sudah kuduga, kamu memang jodohku, aku yakin kalau aku memang jatuh hati padamu sejak pandangan pertama," dia berkata-kata dengan suara sedikit maniak, lalu memberikanku senyuman licik seraya berkata lagi, "matamu indah sekali.. seperti ikan mati."
Dari tadi dia terdengar seperti memujiku, tapi dengan kalimat-kalimat menjengkelkan. Dari mulai anjing, ikan mati, jurang tak berdasar, sekalian saja lubang hitam.
Tiba-tiba saja ada cahaya dari mobil putih yang mendekat, sontak saja aku sedikit panik. Apalagi mobil itu malah berhenti tepat di samping mobil yang kami tumpangi.
"Dandi.." panggilku.
Seorang pria berkemeja putih dan berpenutup kepala hitam bak pencuri keluar dari kursi pengemudi. Dia berpenampilan sangat rapi lengkap dengan sarung tangan dan sepatu. Satu-satunya yang terlihat darinya adalah dua pasang mata berkilatan.
Ia tidak berbicara sepatah katapun, tapi malah membungkukkan badan sedikit kepada Dandi.
Dandi melepaskan sarung tangannya dan menyerahkannya kepada pria itu. Kemudian ia menyeretku untuk masuk ke dalam mobil yang baru datang itu. Dia tidak berkata apapun juga dan hanya tersenyum-senyum seolah menikmati semuanya.
Hanya aku yang tidak tahu apapun.
Setelah Dandi melajukan mobil putih ini, aku menoleh sesaat ke pria berkemeja putih tadi yang masih membungkuk dari kejauhan kepada kami. Aku yakin dia semacam b***k karena kelihatannya terlatih untuk membungkuk begitu.
"Siapa dia, Dandi?" Tanyaku penasaran.
Dia menjawab, "Hanya pengawal saja."
"Bagaimana dia tahu kita ada disini?"
"Itu tugasnya."
"Maksudnya.."
"Intinya mereka akan selalu datang saat aku butuh bantuan. Mereka itu selalu ada di sekitarku karena kalau tidak ada yang datang begitu aku memanggil, aku akan memotong ginjal mereka satu per satu."
"Mereka ya.. jumlah mereka berapa?"
"Dua puluh per anggota keluarga."
"Dua puluh per anggota keluarga?" Ulangku bingung menanggapi jawaban seperti itu, "Wah.."
"Iya, kenapa?"
Aku takjub dengan kekayaan keluarganya yang sampai membuat para karyawan memperbudak diri. Kekayaan yang selama ini kuimpikan sedari kecil mendadak berada di depan mataku. Kulihat pacarku sendiri yang mulai tampak menarik perhatianku.
Dia tampan, mempesona, dan beneran kaya. Dia tidak seperti berandal jalanan yang bisanya cuma menghajar orang lalu akibatnya dihajar balik. Dandi-ku superior, tidak akan tersentuh.
Oh, aku suka ini.
"Bodoh sekali mereka yang mau bekerja untuk psikopat," gumamku memandangnya.
Dia tertawa mendengarku, lalu menjelaskan dengan lirih, "Uang lebih keji daripada diriku, dan.. Sayang, jangan sebut aku psikopat terus dong. Kegiatan ini hanya hobi yang menguntungkan.."
"Setidaknya biarkan aku hidup sebulan, Dandi."
"Elisse Sayang, tolong jangan terus menerus mengira aku sedang menargetkan dirimu sebagai korban dong. Apa wajahku tidak bisa dipercaya?"
"Tidak."
"Ya.. nanti akan suka sendiri. Aku ini orangnya menyenangkan loh, kamu suka bersenang-senang tidak? Nanti kuajarkan caranya tersenyum, Sayang."
Sepertinya dia paham kalau aku ini pribadi yang membosankan. Aku jadi terharu, dia memahamiku meskipun baru mengenal diriku. Biasanya yang kenal aku sehari saja, pasti sudah menyingkir karena sikap dinginku.
Akan tetapi Dandi malah terlihat gemas padaku.
Aku tersenyum kecil, "Oke."
Tak lama kemudian, kami akhirnya keluar dari jalanan sepi dan sampai di jalan raya utama yang mulai dipenuhi lampu-lampu gedung pencakar langit. Meskipun sudah hampir tengah malam, tapi jalanan malah semakin ramai. Sudah hampir beberapa bulan, aku tidak pernah jalan-jalan di kota. Mataku yang dapat melihat gemerlap lampu saja sudah cukup senang.
Kasihan sekali diriku. Kerja terus tanpa istirahat tanpa menikmati waktu jalan-jalan.
"Mau mampir atau tidur, Sayang?" Tanya Dandi.
Aku menoleh padanya, "Tidur."
"Baiklah, apartemenku ada di sana itu, kita tidur sama-sama. Besok kuajak belanja pakaian, bagaimana?"
Aku mengangguk.
"Aku akan membuatmu sangat cantik besok," bisiknya dengan suara sangat menganggu. Dia sepertinya sudah sedari awal membayangkan diriku dalam balutan baju yang dia inginkan.
Ah, salah satu fetishnya pasti.
Ah, memangnya aku boneka?
Ah, pasti merepotkan.
•••
Malam ini aku tidur di apartemen Dandi. Baru kali ini aku memasuki wilayah yang disebut apartemen. Suasananya sangat tenang, nyaman, bersih. Baru masuk saja, aku sudah langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Aroma kamar Dandi benar-benar membuatku melayang.
Entahlah, aku hanya ingin tidur saat menciumnya.
Tidur seolah-olah besok tidak bangun lagi.
Tadinya kukira Dandi akan membunuhku juga, tapi ternyata esok harinya aku masih bisa membuka mataku di ranjang yang sama aku tidur. Dia tidak ada di ruangan ini, pintunya terbuka. Pasti sudah keluar dari tadi.
Padahal masih jam enam pagi. Kurasa tadi malam kami tidur tengah malam. Aku saja masih mengantuk. Namun perlahan ada aroma gurih tercium ke hidungku.
Aku turun ranjang dan kuikuti sumbernya. Apartemen Dandi ini sangat luar biasa tersusun rapi, tidak ada debu sedikitpun, semua terkesan baru. Aku yakin sekali orang ini perfeksionis. Setelah kejadian tadi malam, tentu saja orang sepertinya harus sempurna.
Dia berbahaya.
Tapi menariknya, dia bisa memasak. Kelihatannya banyak sekali sayuran aneh yang tidak pernah kulihat sebelumnya di atas meja dapur ini.
Padahal sedang menghadap ke penggorengan, tapi dia sudah tahu aku datang. Ia menyapaku, "Sayangku, sudah bangun? Aku membuat sarapan untuk kita."
Dia menyebutkan nama masakan dalam bahasa lain. Aku tidak mengerti satu kata pun, kemungkinan dari Perancis atau lainnya. Intinya aku tidak mengerti dia bicara apa.
"Kenapa tidak membuat telur dadar saja?" Tanyaku.
"Boleh."
Aku duduk di depan meja makan, memperhatikan punggungnya lama sekali. Seharusnya aku yang posisinya.
"Kamu bisa masak ya?" Tanyaku lirih.
Ia menjawabnya setelah menoleh padaku sekilas, "Tentu saja. Aku belajar masak dari SMP mungkin."
"Padahal kamu hanya perlu memesan makanan atau menyewa pembantu."
"Aku punya pembantu bulan lalu."
"Terus?"
Kulihat dia mulai membuat omelet sesuai permintaanku. Dia jadi terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Sudah mati."
"Apa aku perlu tahu alasannya?"
Ia tertawa sambil melirikku tajam, "Kalau dia wanita pasti alasannya sama, Sayang. Aku ini.. benci digoda."