Suasananya menegangkan. Aku tidak melihat pelayan dimana-mana, Dandi bilang mereka berjaga di luar juga. Rumah ini luas sekali memang, aksitekturnya yang kuno menambah kesan ngeri. Aku tidak tahu kenapa kakek Dandi membangun rumah yang lebih mirip labirin ini, banyak ruangan berpintu sama sehingga kabur pastilah sulit— aku saja pernah masuk kamar dengan mayat. Jendela juga tinggi— kacanya tebal, agak sulit keluar. Satu-satunya jalan aman keluar adalah segala pintu. Seingatku pintunya ada sepuluh mungkin, termasuk pintu keluar ke balkon atas. Sunyi sekali, hanya sepatu Dandi yang terdengar tap ... tap ... tap ... Sementara kaki telanjangku tak bersuara, hanya meninggalkan noda lumpur di lantai. “Dimana mereka?” tanyaku sambil menoleh ke lorong-lorong di sepanjang kami berjalan. “Di ka

