Arya Renta yang Angkuh

1552 Words
Kemarin Bengkel Reyncar dihebohkan oleh hilangnya sebuah mobil customer. Hari ini dikejutkan kedatangan Arya, kakek Nando yang terkenal galak dan angkuh. Dari segi usia yang sudah berkepala enam, Arya memang terbilang renta, namun semangatnya lebih muda dua puluh tahun. Bahkan meskipun untuk berjalan harus mengandalkan kursi roda, ia masih tampak angkuh. Keangkuhan Arya sudah terasa ketika Faizin menyongsong kedatangannya di depan pintu utama bengkel. Dengan memasang wajah marah, ia membuang muka saat Faizin bermaksud mencium tangannya. Runtuh wibawa Faizin, karena kejadian itu disaksikan semua karyawan Reyncar yang berbaris menyambut kedatangannya. Faizin berusaha membesarkan hati. Ia tetap menaruh hormat kepada Arya. "Selamat datang, Pak!" Faizin mengangguk hormat sebagai ganti salaman yang ditolak. Arya memberi isyarat kepada asisten agar berhenti mendorong kursi roda. Ia memandang Faizin tajam. "Ucapan selamat datangmu pada saya adalah ucapan selamat jalan dari saya untukmu." Faizin tersenyum pedih. Sejak dulu Arya tidak pernah menyukainya dan beberapa kali terindikasi bermaksud menjauhkannya dengan Reynaldi. "Bawa saya ke ruangan Reynaldi!" Arya memberi isyarat kepada asisten untuk mendorong kursi roda. Arya menuju ruangan Reynaldi. Ruangan itu jarang sekali dimasuki, kecuali cleaning service yang membersihkannya seminggu sekali. Faizin mengekor Arya. Pikirannya kacau. Hatinya tidak enak. Firasatnya berkata, sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya. Namun buru-buru ia menepiskannya. Sampailah Arya di ruangan Reynaldi. Ia menyuruh Faizin untuk ikut memasukinya. Asisten memarkir kursi roda di belakang meja kerja Reynaldi. "Duduk!" suruh Arya kepada Faizin. Faizin duduk. Arya menatap Faizin. "Reynaldi masuk rumah sakit gara-gara kasus memalukan di bengkel yang kau kelola." Faizin menunduk. "Saya tidak akan membahas soal kasus hilangnya mobil customer. Itu ranah kepolisian!" Faizin terhenyak. "Kepolisian?" Arya melotot. "Pemilik mobil melaporkan Reyncar ke polisi! Kalau kau becus menangani itu, pasti kasus itu nggak akan masuk ranah hukum!" Faizin kembali menunduk. "Ini situasi buruk, Zin!" Napas Arya ngos-ngosan setelah membentak Faizin. "Reyncar dilaporkan ke polisi. Reynaldi masuk rumah sakit. Dan kau sama sekali tidak berguna. Maka itu aku ambil alih kebijakan di sini!" Faizin sudah menduga sebelumnya. Arya merasa menguasai semua, bahkan atas Reyncar yang murni milik Reynaldi. Secara peraturan, Arya tidak bisa ikut campur apalagi mengambil alih kebijakan Reyncar karena tidak memiliki kaitan sama sekali. Sayangya Faizin tidak berani membantah. "Kau keberatan, Zin?" Faizin diam, tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. "Sikap diam kamu adalah jawaban!" Intonasi Arya kembali naik. "Jawaban bahwa kau keberatan. Tidak masalah! Saya tidak minta kau menerimanya. Saya hanya meminta kau mengundurkan diri!" Faizin tersentak. Reflek ia menandang Arya. "Apa ucapan saya kurang jelas?" "Saya tidak akan mengundurkan diri," ucap Faizin tegas. "Kenapa?" "Saya diberi amanat Pak Reynaldi untuk menjaga dan membesarkan Reyncar. Kalau saya mundur berarti saya khianat!" dalih Faizin. "Itulah kesalahanmu!" Arya menunjuk muka Faizin. "Kau tidak menjaga Reyncar dengan baik bahkan membuat malu saja." Faizin enggan berdebat. Ia merasa percuma adu argumen dengan kepala batu berhati keras macam Arya. Lelaki renta itu hanya mau didengar dan tidak sebaliknya. "Zin, kau mau mengundurkan diri atau tidak, itu tidak berpengaruh. Saya akan memecatmu sekarang juga. Jangan khawatir saya tetap akan memberi pesangon sesuai jabatan." "Mohon maaf, bapak tidak berwenang memecat saya." Faizin melawan. Ia tidak mau terus-terusan ditindas. Ia harus bersikap. "Lancang sekali mulutmu!" "Sesuai AD/ART, hanya melalui rapat umum pemegang saham saja kepala bengkel bisa diangkat dan diberhentikan," ucap Faizin tegas. "Ini darurat! Reynaldi sudah setuju bengkel ini saya ambil alih. Jadi percuma saja kau melawan." Arya tersenyum mengejek. "Bapak membawa buktinya?" Arya menggebrak meja! "Saya tidak perlu bukti untuk meyakinkan pecundang sepertimu!" Faizin menelan ludah. Situasi ini sungguh pelik. Meskipun Reyncar adalah milik Reynaldi, tetapi Arya merasa berhak menguasai semua. Celakanya, Reynaldi selalu tidak pernah berani menentang mertuanya tersebut. "Kau diberi waktu sampai besok sore untuk membereskan barang-barang. Setelah itu silakan ambil pesangon dan gaji terakhir!" Faizin menelan ludah. Ia tidak kuasa melawan Arya. Jika bersikeras melakukannya keadaan akan semakin buruk. Sementara jika ia menuruti Arya, ia akan merasa bersalah kepada Reynaldi. "Kau boleh meninggalkan ruangan ini!" usir Arya secara halus. Faizin meninggalkan Arya tanpa pamit. Ia melangkah tanpa arah. Pikirannya kacau. Hatinya sakit. Mulai besok ia akan menjadi pengangguran. Yang membuat hatinya pedih adalah ia akan meninggalkan Reyncar dalam situasi sedang dihadapkan pada masalah. Faizin berpapasan dengan Nando. "Kamu sibuk, Do?" tanya Faizin. "Masih ada pekerjaan, Pak," jawab Nando. "Tapi kalau ada sesuatu hal penting yang ingin bapak bicarakan, saya bisa meluangkan waktu." Faizin menggeleng. "Sebenarnya ada, tapi kamu fokus saja sama pekerjaan." "Baik, Pak!" Sebelum berlalu dari hadapan Nando, Faizin berpesan," Do, kalau sedang luang, temuilah kakekmu. Beliau ada di ruangan papimu." Nando terdiam. Mimiknya menunjukkan kegelisahan. Arya memang kakeknya, tetapi ia tidak pernah nyaman berlama-lama dengan lelaki itu. "Kalaupun kamu menghindar, beliau tetap akan memintamu menemuinya!" Faizin berkata seperti itu karena yakin posisinya akan diserahkan pada Nando untuk sementara. Nando mengangguk paham. Faizin menepuk bahu Nando. "Semangatlah. Jika ada kesulitan jangan ragu hubungi bapak!" Nando mengangguk. "Iya, Pak!" Faizin berlalu dari hadapan Nando, meneruskan langkah tanpa tujuan pasti. Sesekali pandangannya diedarkan ke seluruh sudut area Reyncar. Ketika pandangan Faizin tertambat kepada mushola, hatinya menjadi sedih. Bangunan itu selalu tampak meneduhkan, ia yang membangunnya. Namun, ia sadar, dirinya nyaris tidak pernah menginjak lantai di sana. Faizin sudah lupa kapan kali terakhir ia bersujud di atas sajadah. Yang bisa ia ingat adalah sejak muda ia sangat jauh dari Tuhan. Begitu lama selama puluhan tahun wajahnya tidak pernah terbasuh air wudhu. Bahkan ia sudah tidak ingat cara melakukannya. Sebuah ironi ketika ia kadang mengingatkan karyawannya untuk sholat tetapi ia sendiri tidak melakukannya. Kini tiba-tiba hati Faizin tersadar, hatinya sudah lama merasakan kehampaan. Ia menduga semua karena ia tidak memiliki ikatan hati dengan Sang Pencipta. Bukannya Faizin tidak ingin bertaubat. Ia tahu dirinya sering menyesali hidupnya yang tidak dihiasi dengan ibadah. Namun ia tidak tahu kenapa dirinya merasa berat untuk melakukannya. Selalu ada saja hal yang membuatnya untuk kembali menjadi hamba Tuhan yang seharusnya. "Pak!" Faizin terkesiap, baru menyadari Hendi sudah berada di depannya. "Ada apa, Hen?" tanya Faizin. Wajah Hendi pucat. Gesturnya menunjukkan kegelisahan. "Ada dua orang polisi mau menemui bapak!" "Polisi?" Faizin kini ingat kalau Reyncar dilaporkan ke polisi oleh pemilik mobil yang hilang. "Iya, Pak. Mereka ada di lobi," beritahu Hendi. Faizin berusaha menunjukkan ketenangan agar Hendi tidak cemas. "Kamu kembalilalh ke pekerjaanmu, tidak perlu ada yang dicemaskan." "Baik, Pak." *** Faizin membetulkan posisi selimut yang menutupi separuh badan istrinya. Perempuan yang sudah ia nikahi selama seperempat abad itu tampak tertidur pulas. Ia sangat menyayanginya melebihi apa pun karena perempuan itu telah menerima dirinya seutuhnya. Rumania, itu nama istrinya. Nama yang unik untuk orang Indonesia. Namun meskipun namanya sama dengan salah satu negara di Eropa Timur, tetapi perempuan berusia empat puluh lima tahun tersebut asli keturunan Jawa. Tidak ada yang tahu kenapa istrinya diberi nama itu, bahkan pemilik nama itu sendiri. Rumania, atau yang kerap kali dipanggil dengan sebutan Nia, dulunya adalah seorang psikiater terkenal. Parasnya pun manis, meskipun memiliki kulit gelap. Karirnya yang cemerlang terpaksa terhenti karena pernah mengalami kelumpuhan akibat stroke. Faizin tetap setia meskipun istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Bahkan meskipun perempuan itu mempersilakannya untuk menikah lagi, ia tidak mau. Sepuluh tahun lalu, ketika Rania mengalami kelumpuhan, Faizin dengan sabar dan telaten merawat istrinya tersebut tanpa pernah sekalipun mengeluh. Ia sangat menyayanginya dan bersumpah akan merawatnya hingga akhir hayat. Itu membuat Rania merasa terharu sekaligus menyimpan perasaan bersalah karena selain belum kunjung hamil, juga karena selalu membuat suaminya repot. Maka itu ia meminta Faizin untuk menikahi perempuan lain. Dengan tegas Faizin menolak. Ada banyak alasan kenapa ia bersikap seperti itu, namun alasan paling utama adalah karena ia yakin hanya Nia yang bisa menerima keadaan dirinya apa adanya. Ada satu aib kelam yang hanya dirinya dan istrinya saja yang tahu. Ia yakin perempuan lain akan meninggalkannya jika mengetahuinya. Nia adalah sosok malaikat bagi Faizin. Dengan gigih, perempuan itu menuntunnya menjadi pribadi yang lebih baik agar keluar dari 'aib kelam' tersebut. Memang faktanya Faizin belum berhasil, tetapi Nia terus berusaha, bahkan saat kondisi badannya lemah seperti sekarang ini. Ponsel Faizin berdering. Ia segera keluar kamar agar bunyinya tidak mengganggu istrinya yang sedang tidur pulas. Faizin ke teras. Di sana ia menjawab panggilan tersebut. Rupanya Risma menelepon. "Bapak di rumah?" tanya Risma. "Iya, saya di rumah. Ada kabar apa?" "Saya ingin bertemu dengan bapak, kalau bisa jangan di rumah." "Saya tidak bisa keluar rumah." Faizin memang nyaris tidak pernah keluar rumah jika tidak untuk urusan mendesak. "Kalau begitu bagaimana kalau saya ke rumah bapak?" Faizin berpikir sejenak, mempertimbangkannya. Kemarin malam ketika Risma mengajak dua orang ke rumahnya, Nia sempat mencemaskannya. Maka itu ia tidak mau obrolannya dengan Risma kembali membuat istrinya cemas. Kemarin malam ketika mereka membahas rencana untuk menyelidiki kasus hilangnya mobil, Nia memang tidak mendengar secara jelas, tetapi perempuan ahli ilmu kejiwaan itu bisa merasakan suaminya sedang mengahadapi masalah berat. "Ada petunjuk penting soal keberadaan mobil itu, Pak," beritahu Risma. "Kalau bapak berkenan, kami akan ke sana untuk memberitahukannya secara lengkap." Faizin bimbang. Ia sangat antusias atas kabar baik tersebut, tapi ia berada dalam dilema. Jika pertemuannya berlangsung di rumah, ia tidak mau istrinya kembali mencemaskannya. Di sisi lain jika di luar rumah, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya pada malam hari. Faizin punya ide. "Bagaimana kalau besok saja di tempat lain yang aman?" "Malam ini bapak sedang sibuk ya?" "Saya tidak bisa keluar rumah malam ini!" aku Faizin. "Baiklah tidak apa-apa. Kalau begitu, bagaimana kalau kita meeting di sebuah kafe?" Risma menawarkan opsi. "Saya setuju," ucap Faizin. "Jam berapa?" "Jam delapan di Seatle Cafe." "Baik!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD