Tindak Pidana

1056 Words
"Kamu dipanggil ke ruangan Pak Faizin sekarang, Des!" beritahu Risma. Alih-alih merespon, Desi bersiul-siul, seolah tidak pernah mendengar ucapan Risma. Sikap Desi membuat Risma kesal. Ingin sekali ia menonjok muka menyebalkan itu. Jika bukan karena tidak ingin membuat kekacauan pada hari terakhirnya di Reyncar, mungkin ia akan menyeret Desi ke toilet dan menguncinya dari luar. Ponsel Desi berdering. "Ada apa, Do?" tanya Desi kepada Nando lewat telepon. "Kamu dipanggil Pak Faizin, sekarang di ruangannya." Desi mendengus sambil melirik Risma. "Oke!" Ia mengakhiri panggilan sambil berjalan meninggalkan Risma. Baru beberapa langkah, Desi berpapasan dengan Hendi yang berlagak seolah tidak mengenalnya. "Hai, Ris!" teriak Hendi dari kejauhan. Ia sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi hati Desi. Usahanya berhasil. Desi meliriknya geram. Hendi membuang muka sebagai balasan atas lirikan tajam Desi. Ia terus melangkah menuju meja Risma. "Aku pasti mengganggu ya?" tanya Hendi ketika mendapati wajah mendung Risma. "Kalau jawab iya, aku pergi." Risma menggeleng tanpa memandang Hendi. "Menggeleng itu artinya 'enggak mengganggu' kan?" Hendi memastikan. Risma menoleh. Ia tidak enak hati kalau mengabaikan Hendi. "Kamu nggak ada pekerjaan?" "Aku shift siang!" jawab Hendi. Risma heran. "Kok jam segini udah sampai bengkel?" "Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin membahasnya sekarang. Risma diam, berpikir. "Jangan bilang kamu lagi banyak pekerjaan!" ujar Hendi. "Kalau lagi banyak pekerjaan memangnya kenapa?" Risma balik bertanya. "Berarti kamu bohong!" jawab Hendi. "Aku tahu mulai hari ini kamu sudah tidak memiliki pekerjaan di Reyncar." Risma tersentak, menatap Hendi heran. "Aku sudah tahu," ujar Hendi. "Tahu apa?" Risma memastikan. "Tahu kalau kamu akan pergi dari sini." Risma mendengus. "Dari mana kamu tahu?" "Nanti kujelaskan, tapi jangan di sini." Risma membereskan mejanya. Setelahnya, ia mencangklong tas. "Ayo, kita ke kafe sebelah bengkel." Nando mengacungkan kedua jempol. Risma dan Nando jalan berdua menuju kafe di sebelah bengkel. Mereka menjadi pusat perhatian, termasuk Desi dan Nando yang sedang duduk di kursi depan ruangan Faizin. "Kamu di sini aja dulu, aku mau menemui Nando dan Desi sebentar," ucap Risma, meninggalkan Hendi yang hanya bisa mematung. Nando dan Desi terkejut melihat Risma mendekati mereka dengan penampilan sangat percaya diri. Risma menyeringai kepada Nando. "Do, aku sudah menjelaskan semua kepada papimu. Beliau sangat luar biasa, menyikapinya dengan bijak, enggak sepertimu yang justru bermufakat dan berkomplot dengan pencopet." Desi membuang muka saat Risma menyebut kata 'pencopet' dengan menatapnya. "Fakta bahwa aku melakukan kesalahan pada Reyncar sudah kuakui dan meminta maaf. Papimu dan Pak Faizin pun sudah memaafkan." Risma memajukan wajah lebih dekat ke wajah Nando. "Tapi, bersekongkol dengan pencopet adalah tindakan pidana!" Nando membalas tatapan Risma. "Aku enggak terlibat atas hilangnya ponsel kamu!" Risma menjauhkan kembali wajahnya dari Nando. Ia tertawa. "Tapi kamu mengetahuinya dan diam saja. Itu ada pasalnya, Do!" Desi kesal dengan sikap Risma. "Setelah gagal menghancurkan Reyncar, sekarang kamu bisa tertawa hah?" Risma menyeringai. "Kalimatmu itu pun bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong, selain terbukti mencuri ponsel tentunya." "Aku nggak mencuri!" Desi tidak terima. "Bukan mencuri tapi mencopet!" "Itu strategi buat menangkal kejahatanmu, Ris!" Risma tertawa ngakak. "Ironi sekali hidupmu, Des! Orang kaya dan berpengaruh sepertimu akan dipenjara gara-gara mencopet ponsel. Hahaha. Kasihan sekali, sudah gagal mengemis cinta, dijodohkan dengan lelaki pengecut, dan sebentar lagi akan ditangkap polisi!" Kekesalan Desi sudah tidak bisa ditahan. Ia bermaksud menjambak rambut Risma. Namun, Risma sigap. Reflek ia menghindar dan membanting Desi ke tanah. Desi meringis kesakitan, tidak menyangka Risma memiliki ilmu bela diri. Nando, Hendi, dan beberapa orang kaget dengan adegan tersebut. Risma mendekati Desi yang masih terkapar di lantai. "Aku lebih kaya darimu, lebih cantik juga, dan aku bisa melakukan hal yang lebih pedih darimu. Jangan pernah macam-macam lagi denganku!" Desi meringis kesakitan. Ia berusaha bangkit, namun badannya terasa remuk. Risma menunjuk muka Nando. "Sebentar lagi aku akan bikin kamu merasa lebih sakit dari yang Desi dapatkan!" Nando menghunus tatapan ke Risma, tanpa mengucapkan sepatah kata sampai Risma pergi dari hadapannya. *** "Tadi Risma mengaku kehilangan ponsel," ucap Faizin, membuka pembicaraan dengan Nando dan Desi. "Katanya sebelum itu ia sempat berada di coffeshop bersama Nando, kemudian ada seorang perempuan menabraknya yang membuatnya kehilangan keseimbangan, lantas badannya mengenai seorang lelaki." Nando menimpali. "Iya, benar, saya dan Risma memang pernah ke coffeshop sebelum ia menyadari ponselnya hilang." Faizin menatap Desi. "Kemudian besoknya bapak menerima laporan perihal jati diri Risma, lengkap dengan file video dan gambar darimu. Ini kebetulan yang langka." Desi menunduk. "Saya minta maaf, Pak." "Minta maaf atas apa?" "Sebenarnya saya tidak menyewa hacker," aku Desi. "Saya menyuruh orang buat mengambil ponsel Desi." Faizin mendengus. Ia tidak terkejut karena sejak awal sudah menduganya. "Kamu sadar apa, apa yang kamu lakukan itu tindak pidana?" "Tapi, saya melakukan itu untuk membongkar identitas Risma." Desi berdalih. "Membongkar identitas Risma, tujuannya apa?" "Saya curiga dengan sikap aneh Risma." "Aneh seperti apa?" desak Faizin. "Ya, misalnya dengan mudah ia bisa mendapatkan beberapa customer baru." Faizin menguji alasan Desi. "Lalu kenapa hal yang sama tidak kamu perlakukan terhadap kepala admin sebelumnya yang bahkan mendapatkan lebih banyak customer dari Risma?" Desi gelagapan. "Ya karena...." "Karena admin sebelum Risma bukan ancaman buatmu?" pancing Faizin. Desi terpojok. "Tapi faktanya admin sebelumnya tidak sejahat Risma yang menyusup dan pura-pura menjadi bagian Reyncar, padahal niatnya busuk." "Oke, anggap saja itu benar!" Faizin bersedekap. "Tetapi bukan tugasmu mengurusi karyawan lain, apa lagi sampai mencuri ponsel!" Desi menunduk, kalah argumen dengan Faizin. Faizin beralih menatap Nando. "Sejaub mana kamu terlibat dengan apa yang Desi lakukan?" "Maaf, Pak, saya baru tahu Desi menganbil ponsel Risma setelah ia memberitahukannya," jawab Nando. Faizin mendengus. "Jadi kemarin kamu memberikan keterangan bohong?" Nando menunduk. "Saya berkata apa adanya kepada bapak, kecuali soal Desi menyewa hacker." Faizin menggebrak meja pelan, namun efeknya mampu membuat Nando dan Desi tertekan. "Kalian dalam masalah besar jika Risma melaporkan ke polisi perihal ponselnya yang hilang!" Faizin menatap Nando dan Desi bergantian. "Apakah kalian juga akan memberikan keterangan pada polisi bahwa kalian melakukan itu untuk melindungi Reyncar dari penyusup yang berniat busuk?" Nando dan Desi semakin menunduk. "Apa pun tujuan kalian, tidak dibenarkan untuk melakukan cara-cara yang melanggar hukum. Soal Risma itu urusan bapak!" Faizin menatap Desi. "Paham Desi?" Desi mengangguk. "Paham, Pak." Faizin menatap Nando. "Kamu memang anak bos, tetapi dalam hal pekerjaan kamu harus menurut sama bapak. Kamu keberatan?" Nando menggeleng. "Enggak, Pak." "Enggak mau atau nggak keberatan?" "Enggak keberatan, Pak!" Faizin menarik napas panjang. "Sekarang kalian kembalikan ponsel Risma dan minta maaf padanya!' Desi melirik Nando. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD