Stalker

1130 Words
Pria itu masih menunggu Yoona di dekat ruang loker sambil memainkan ponsel. Setelah Yoona selesai mengganti pakaian, Yoona keluar dan mendapati Kevin masih menunggu ditempat yang tadi. Gadis itu terperanjat kaget, memundurkan tubuh sambil menahan suara jeritan yang hampir saja keluar. Dia tidak menyangka Kevin menjadi orang yang seperti ini. “Apa yang sedang kamu lakukan, hmm?” Yoona menyipitkan kelopak mata, otaknya berputar memikirkan keberadaan Kevin yang sedang menunggu dirinya. “Apa kamu ingin menghajarku lagi, atau jangan-jangan kamu penguntit, hmm?” “Aku ingin jalan-jalan denganmu, hmm?” Kevin berkata sambil menarik dua sudut bibirnya ke atas, berlagak manis agar Yoona luluh dan mengabulkan permitaannya. Mungkin karena Kevin terlalu berharap bahwa Yoona mengiyakan permintaannya, gadis itu malah pergi meninggalkan Kevin dan berjalan santai ke arah pintu belakang. Melihat perlakukan Yoona terhadapnya, pria itu memutar bola mata jengah, alisnya saling bertaut sambil memandangi punggung Yoona yang hampir menghilang dari balik pintu. “Hei, tunggu.” Teriak Kevin dengan suara lantang, hampir semua orang yang berada di sekitarnya harus repot-repot untuk memfokuskan pandangan ke arah Kevin. Akibat dari tingkahnya itu, Kevin harus menanggung malu dan berlari ke arah Yoona. Kedua tangan Kevin langsung mencengkram bahu Yoona, membuat bola mata Yoona hampir mencuat keluar. Ya Tuhan, Yoona sudah berusaha mengabaikan panggilan Kevin, tapi kenapa pria di sebelahnya tidak pernah menyerah. Sebenarnya Yoona juga menanggung malu akibat Kevin yang meneriaki dirinya baru saja, tapi dia berusaha acuh agar orang lain mengira kalau Kevin tidak berteriak kepadanya. Tapi apa yang terjadi, Kevin malah berlari ke arahnya, seakan dia juga ingin Yoona menanggung malu bersama dirinya. “Apa kamu tuli, hmm. Kamu sengaja tidak mendengarkan aku?” Tanya Kevin dengan nada menyalahkan namun masih diiringi dengan seulas senyum manis. Kevin memiringkan wajah dengan tajam untuk menatap Yoona. “Aku berusaha meraihmu tapi kenapa kamu malah pergi, hmm?” “Ngg… aku ada urusan dengan teman. Aku harus pergi.” Jawab Yoona, pandangannya lurus ke depan namun suaranya terdengar bergetar. Berharap Kevin tidak bisa mendengarnya. Semoga saja Kevin memiliki pendengaran yang tidak normal, tidak menangkap suara Yoona. Tapi ternyata harapan Yoona pupus saat Kevin mengeluarkan pertanyaan untuk dirinya. “Ada apa denganmu?” Tanya Kevin, meraih bahu Yoona, lebih tepatnya menyentuh bahu Yoona untuk kedua kalinya. Yoona yang merasakan sentuhan Kevin langsung mengambil napas panjang, berusaha mengatur detak jantung agar lebih santai menghadapi Kevin. Dia tidak ingin Kevin mendengar bunyi detak jantungnya namun sekarang detak jantung itu malah berpacu lebih cepat, menimbulkan bunyi yang sulit untuk disembunyikan oleh Yoona. Astaga, bagaimana mengatasi keadaan ini. Perlahan, Yoona menempelkan sebelah tangan didepan d**a dan betapa mengejutkannya kalau bunyi detak jantung Yoona mulai bisa terdengar. “Apa kamu sakit, hmmm?” Karena khawatir dengan perubahan sikap Yoona, menjadi pucat, Kevin langsung menempelkan punggung tangan ke kening Yoona. Lantas, Yoona berusaha menahan napas, lalu tangannya segera menyingkirkan tangan Kevin. “Aku baik-baik saja.” Kata Yoona sambil mengambil napas kembali. “Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba mengajakku pergi? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan, hmm?” Yoona berusaha sekuat tenaga untuk memberi penegasan pada kalimat tersebut, menutupi dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. “Aku sudah memiliki kafe, dan usaha lainnya. Untuk apa aku bekerja? Hidupku sudah bosan karena menghabiskan uang terlalu banyak. Aku hanya butuh teman dan teman itu kamu.” “Biasanya orang sepertimu punya teman yang menempel seperti lintah. Jangan berbohong!” ucap Yoona, menghentikan langkah, bola matanya menatap Kevin. Gadis itu merutuk dalam hati, tidak percaya dengan ucapan Kevin baru saja. Bagaimana bisa seorang seperti Kevin yang sangat keren di mata Yoona, tidak memiliki teman satu orangpun. Dan dia sekarang sedang berbohong dihadapannya dengan mengatakan hal seperti baru saja. “Astaga, aku hanya becanda. Kenapa dengan sikapmu. Kenapa berlebihan sekali?” Kevin menyempatkan bibirnya tersenyum, melihat sikap Yoona yang terlalu serius saat ini. “Nggg…” Yoona menghentikan kalimatnya, otaknya tidak dapat bekerja untuk menjawab ucapan Kevin yang memang benar. Yoona akhirnya kembali memfokuskan tatapan ke depan. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri, kenapa sikap dia berlebihan. Mungkin Yoona terlalu berharap kalau Kevin hanya ingin berteman dengannya. Menganggap dirinya spesial bagi Kevin. Hei, Yoona. Tolong sadarkan dirimu. Belum lama mengenal Kevin tapi kenapa Yoona sudah tergila-gila terhadap pria itu. “Aku lapar.” “Hah?” Kevin tercengang, sedikit bingung dengan jawaban Yoona yang tidak masuk akal. Namun, dibalik itu, Kevin merasa senang karena Yoona akhirnya mau makan bersama dengannya. “Aku akan mentraktirmu makanan enak.” “Kamu kan pengangguran, jangan sombong.” Gerutu Yoona, melemparkan tatapan maut saat menghadapkan wajah ke arah Kevin. “Baiklah, aku akan membelikan makan di tenda,” Yoona akhirnya tersenyum, melihat Kevin mengalah untuk dirinya. Tanpa menatap Kevin lagi, Yoona mengangguk penuh semangat sambil memegangi perutnya yang mulai lapar. Saat mereka mulai berjalan menyeberangi jalan raya, langkah mereka berhenti sejenak. Kepala mereka dengan cekatan menoleh ke belakang, melihat seorang wanita berdiri memanggil nama Kevin. Pikiran Yoona mulai berkenala kemana-mana. Sorot matanya tidak berhenti menatap wanita yang masih mengawasi mereka berdua dari jauh. Yoona menilai wanita itu merupakan kekasih Kevin. Dalam hitungan detik, wanita itu sudah berdiri dihadapan Kevin dan Yoona. “Siapa dia? Aku sudah menghubungimu, kenapa tidak ada kabar, hmm?” Wanita itu menunggu jawaban Kevin sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya yang berwarna hitam. Yoona mengira tas itu sangat mahal meskipun dia tidak terlalu mengerti merk. Setelah ponsel berhasil berada digenggaman wanita itu, ia menunjukan beberapa panggilan keluar, ke Kevin. “Apa kamu sengaja memblokir nomorku? Kenapa kamu seperti ini?” “Aku sibuk. Aku harus pergi.” Jawab Kevin acuh, lalu dia segera meraih tangan Yoona untuk menggandengnya, lalu mereka berjalan meninggalkan wanita itu. “Kevin!!” Teriak wanita itu. Mendengar Rachel berteriak, Kevin menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Rachel beberapa detik. “Aku sudah muak denganmu, Rachel!” “Kenapa kamu berubah, apa salahku padamu?” Wajah Rachel berubah menjadi memelas, suaranya ia turunkan beberapa oktaf, membuat orang-orang yang berada disekitarnya menatap kasihan. Tapi tidak untuk seorang Kevin yang keras kepala, pria itu masih menunjukan ekspresi marah dan tidak bersalah. Seakan semua yang terjadi antara mereka merupakan kesalahan Rachel, bukan Kevin. “Aku sudah lelah dengan semuanya. Sudah lelah dengan perjodohan ini.” Jawab Kevin setelah mengambil napas panjang, kali ini suaranya mulai terdengar santai namun tegas. “Aku akan mengadu ke Ayahmu.” Rachel mengancam seraya mengusap wajah berulang kali, entah dia mengeluarkan air mata atau tidak. Karena Kevin dan Yoona tidak melihatnya, jarak mereka yang terlalu jauh. Di sisi lain, Yoona membuka rahangnya dengan lebar, menatap Kevin dengan penuh kebingungan. Saat ini perasaan Kevin sedang kacau dan Yoona tidak perlu meminta Kevin untuk menjelaskan siapa wanita itu. Suatu saat nanti, Kevin pasti akan menjelaskannya. Dan Yoona harus menyiapkan hati agar dia tidak perlu kecewa. Akhirnya Kevin membawa Yoona pergi dari Rachel, membiarkan wanita itu berdiri sendirian sambil melihat kepergian mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD