Kencan?

1211 Words
Kevin masih mencengkram erat pergelangan tangan Yoona, malah semakin kuat, membuat Yoona sedikit menahan sakit. Yoona memilih untuk diam, tanpa memperhatikan wajah Kevin, apalagi untuk memprotes pergelangan tangannya. Dia tidak berani. Saat ini Yoona memutuskan untuk mengalah, menunggu Kevin yang memulai pembicaraan. Pembicaraan apa saja, tidak perlu menjelaskan wanita tadi. Jujur, keadaan saat ini menjadi dingin melebihi tiupan angin di malam hari, membuat Yoona merinding. Padahal sebelum wanita itu datang, Kevin tampak ceria, Yoona masih berada di atas Kevin, maksudnya Kevin masih bisa mengalah dan mengerti Yoona. Tapi sekarang Yoona-lah yang harus mengalah, berusaha mengerti perasaan dan keadaan Kevin. Yoona langsung menoleh ke arah Kevin, begitu pria itu mulai melontarkan kalimat dengan santai. “Mau makan apa?” Tanya Kevin, akhirnya melepaskan cengkraman tangan Yoona. Pria itu masih belum sadar, akibat dari cengkramannya itu pergelangan tangan Yoona lebam. “Ngg.. bagaimana kalau kaki ayam dan soju, hmm?” Yoona berusaha mungkin untuk menyunggingkan senyum, berharap Kevin ikut tersenyum, padahal ia masih meringis menahan sakit. Kenyataannya Kevin tidak ikut tersenyum, malah tangan Kevin mengusap lembut wajah Yoona agar gadis itu tidak perlu melakukan hal itu—tersenyum. “Hei…!” “Oke, aku mau kaki ayam.” Kevin menyapu pandangan ke segala arah, mencari tenda pinggir jalan yang menjual kaki ayam. Ia membutuhkan waktu lumayan lama untuk menemukannya. Akhirnya Yoona menunjuk sebuah tenda di ujung jalan yang ramai oleh pengunjung. “Disana, disana ada kaki ayam.” Yoona bersemangat, meraih tangan Kevin tanpa sadar, lalu membawanya ke tenda tersebut dengan langkah cepat. Kevin hanya menurut, berusaha mengulas senyum. Ia sedikit senang Yoona menggandeng tangannya, apalagi Yoona terlalu bersemangat. Bola mata Kevin melirik ke pergelangan tangan Yoona, dan betapa terkejutnya dia melihat lebam di tangan Yoona. Kevin langsung melirik wajah Yoona sesaat, lalu fokus ke arah depan. Sifatnya yang kasar masih saja belum hilang. dia tidak sadar telah menyakiti Yoona, tapi kenapa gadis itu diam saja, tidak melakukan protes apapun. Pasti Yoona sudah menyiapkan beberapa pertanyaan atau mungkin seribu pertanyaan untuk dirinya. Ia lebih memilih diam bahkan saat menahan sakit. Beberapa kali Kevin menatap Yoona—gadis itu terlalu fokus berjalan, merasa kasihan. Apakah Yoona akan menderita kalau menjalani hidup bersama Kevin? Kevin terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. “Bibi, pesan dua porsi kaki ayam dan dua botol soju.” Yoona mendekat ke penjual yang sudah berumur setengah abad. Mendengar permintaan Yoona, penjual itu tersenyum karena gadis itu sangat bahagia. Setelah selesai memesan, Yoona menarik tangan Kevin—dia belum melepaskan tangan Kevin sedari tadi, menyeretnya ke sebuah bangku kosong. “Pelan-pelan. Disini tidak akan ada orang yang merebut bangkumu itu.” Kevin berkata dengan menggerutu, alisnya saling bertaut. Dia merasa sedang membawa seorang anak kecin yang sangat bersemangat akan dibelikan maianan mahal. Tapi Yoona bukanlah anak kecil, dia sudah besar hanya saja sikapnya memang masih seperti anak kecil. Melihat raut Yoona yang berubah menjadi datar, Kevin langsung menarik sudut bibirnya, membuang wajah karena sikap Yoona yang menggemaskan. “Silakan dinikmati. Kalian seperti pasangan yang baru saja menikah.” “Ha?” Kevin mendekatkan botol soju ke arahnya, lalu wajahnya melirik ke arah Yoona yang menatap kaki ayam pedas dihadapannya. “Lihatlah, dia terlihat masih seperti anak kecil, bagaimana bisa aku menikahinya?” Penjual itu tertawa sambil menutup mulutnya mendengar jawaban Kevin, menatap Yoona dan Kevin bergantian. Lantas Yoona hanya mengerucutkan bibir sambil menatap kesal ke arah Kevin. “Tapi kalian berdua sangat cocok.” Kata penjual seraya meninggalkan mereka berdua, membiarkan untuk menyantap hidangan yang sudah siap di atas meja. Yoona masih kesal karena ucapan Kevin, ia menopangkan kepala pada sebelah tangan. Bola matanya tidak berhenti mengarah ke Kevin, berharap Kevin membalas tatapannya dan langsung meminta maaf. Ternyata harapan Yoona hilang—ke sekian kali. Kevin malah sibuk menatap dua porsi kaki ayam pedas didepannya sambil melipat kedua tangan di atas meja. Berulang kali dia menoleh ke setiap pelanggan disekitarnya ia duduk, yang sedang memenuhi mulut mereka dengan kaki ayam, ya mereka sangat menikmati makanan itu. Melihat raut Kevin yang bingung, Yoona langsung menegakan kepala, mengikuti pandangan Kevin yang masih saja menatap orang-orang yang sedang menghabiskan kaki ayam itu. Yoona akhirnya tersenyum, mulai sadar kalau pria itu tidak pernah memakan kaki ayam, mungkin dia juga belum pernah makan di tenda seperti ini. “Apa kamu tidak suka kaki ayam?” Tanya Yoona sambil mengambil kaki ayam menggunakan sumpit, mendekatkannya ke mulut Kevin yang tertutup rapat. “Ini enak kok, serius.” “Nggg…” Kevin menggigit bibir bagian tengah, maniknya fokus dengan kaki ayam didepan mata. Dia sedang mengajak bibirnya untuk bergerak, bekerjasama untuk menghabiskan kaki ayam itu. “Aku tidak suka pedas.” “Kamu berbohong lagi” Tiba-tiba Yoona menggebrak meja dengan sebelah tangan, membuat orang-orang didalam tenda menahan protes sambil menatap tajam ke arah Yoona. “Sejak kapan kamu jadi pemarah?” Kevin yang berada dihadapan Yoona terkejut, memundurkan punggungnya, melihat perubahan sikap Yoona baru saja. “Jangan bilang sejak berteman denganku ya?” Goda Kevin, yang akhirnya meluluhkan sikap Yoona dengan membuka mulut dengan lebar. Tangannya mendorong tangan Yoona agar memasukan kaki ayam ke dalam mulutnya. “Bagaimana, hmm?” Yoona membentuk garis dibibirnya, bola matanya sangat bersinar menatap Kevin yang sedang menelan kaki ayam dengan hati-hati. “Ini tidak ada tulangnya lho, telan saja semuanya.” Yoona langsung menuangkan botol soju ke dua gelas kecil, setelah terisi semuanya ia menyodorkannya kepada Kevin yang masih saja mengunyah kaki ayam. Setelah mulut Kevin kosong, wajahnya mengangguk berulang kali, memberi isyarat kalau kaki ayam memang benar enak. “Hmm… aku suka.” Kevin meraih gelas yang diberikan Yoona, lalu menenggak soju itu dengan cepat. “ternyata memang enak. Sebelumnya aku belum pernah mencoba karena memang tidak ada yang mengajakku makan disini.” “Kalau kamu belum pernah memakan kaki ayam, kenapa menerima ajakanku tadi?” Yoona bertepuk tangan, memperlihatkan deretan gigi putihnya saat Kevin mengambil kaki ayam. “Aku hanya ingin menuruti kemauanmu saja.” Kata Kevin dengan nada santai. “Sepertinya kamu bahagia saat ingin memakan kaki ayam.” “Tentu, makanan pedas membuat stresmu hilang.” “Ha?” Kevin yang sedang mengunyah makanan langsung berhenti. Menatap Yoona dengan serius. “Apa aku terlihat stres, hmm? Aku baik-baik saja.” “Aku tidak mengatakan ini untukmu. Aku yang sedang stres, hmm!” Yoona lagi-lagi bersikap kasar, membanting sumpit di atas piring kaki ayam. “Kenapa kamu mengajakku makan?” “Aku hanya ingin membalas kebaikanmu kemarin. Kamu sudah membuatkan makanan enak, jadi aku ingin membelikanmu makanan enak.” Jelas Kevin, kata-katanya terdengar jujur, membuat Yoona menelan air liur berulang kali. Yoona langsung meraih gelas berisi soju, memiringkan wajah sebelum membasahi tenggorokannya dengan soju. Astaga, Yoona terlalu berlebihan saat menerima ajakan Kevin tadi. Dia berpikir Kevin mulai tertarik padanya, lalu mengajaknya makan. Tapi ternyata semua itu untuk membalas jasanya yang sudah membuatkan makanan untuk Kevin. Kecewa! Sebisa mungkin Yoona menyembunyikan kekecawaan itu dari Kevin, dia langsung memenuhi mulut dengan kaki ayam tanpa melirik ke arah Kevin. Akibat dari sikapnya itu, dia langsung tersedak. “Hei, pelan-pelan. Aku tidak akan menghabiskan makananmu.” Kevin memajukan tubuhnya, meraih punggung Yoona. Lalu dia menepuknya dengan lembut. Setelah Yoona berhenti batuk, Kevin menuangkan soju untuk Yoona. “ada apa denganmu, hmm?” Yoona hanya menggelengkan kepala berulang kali setelah menatap Kevin. Dia kembali fokus memasukan kaki ayam ke dalam mulutnya. *BERSAMBUNG* Mohon bersabar, yaaa....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD