Salah Paham

1068 Words
Yoona merasa telah kehilangan harga diri ketika menghabiskan tiga porsi kaki ayam dihadapan Kevin. Gadis itu terus memegangi perut, menahan sakit. Kaki-kakinya masih berusaha menelusuri trotoar yang sudah mulai sepi oleh pejalan kaki. Yoona masih mengurungkan niat untuk berbicara dengan seseorang yang berjalan di belakangnya. Entah, sejak dia mengenal Kevin, perubahan pada dirinya terlihat begitu mencolok—menurut Yoona. Gadis yang semula pendiam, menahan segala amarah, tiba-tiba saja menjadi pemarah dan pendendam begitu mengenal seorang Kevin. Mungkin karena dia merasa nyaman berada di dekat Kevin. Kevin masih santai, memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, pandangannya lurus ke depan, memperhatikan setiap pergerakan kaki-kaki Yoona yang melangkah agak menjauh darinya. Kevin tidak mengerti dengan perubahan sikap Yoona yang tiba-tiba saja tidak mau bicara. Gadis itu mulai diam mematung setelah menghabiskan makanan tadi. Jangan-jangan Yoona merasa sakit? Pikiran itu langsung membuat Kevin mempercepat langkah, berjalan sejajar dengan Yoona. Gerakan cepat, Kevin mencengkram tangan Yoona, membuat gadis itu menghentikan langkah sambil memekik kesakitan. Wajahnya menunjukan ekspresi marah, alisnya saling beradu, membuat Kevin salah tingkah. “Hei, kenapa baru sekarang kamu berteriak kesakitan?” Kevin membuang tangan Yoona, sedikit kecewa karena Yoona menahan kesakitan akibat cengkraman tangannya sedari tadi. Dan baru sekarang dia melepas semuanya. “Ini lebam karena cengkramanku yang tadi, kan? Kenapa kamu menahannya sampai sejauh ini? Seharusnya kamu berteriak sejak awal tadi?” “Maksudmu?” Yoona memegangi pergelangan tangannya—tangan yang baru saja Kevin sentuh. Wajahnya tertunduk ketakutan mendengar Kevin menaikan nada suara. “Kita harus mengobati lukamu.” Kevin berjalan meninggalkan Yoona, mengarah ke sebuah toko obat. Tapi ternyata Yoona tidak mengikuti kemana kaki Kevin melangkah. Gadis itu lebih memilih duduk di bangku kosong, tidak jauh dari lokasi toko obat tersebut. Setelah Kevin selesai membeli beberapa keperluan untuk mengobati luka Yoona, dia melangkah mencari keberadaan Yoona. Lantas, setelah menemukan gadis itu, dia mendekat. “Maafkan aku.” Yoona berusaha mencairkan suasana. “Aku seharusnya tidak menahannya sedari tadi. Tapi aku berusaha mengerti keadaanmu yang tidak baik-baik saja, hmm.” Yoona menggigit bibirnya dengan lembut, kepalanya masih tertunduk, tidak menatap Kevin. “Aku akan menjelaskannya kepadamu. Tapi kita urus lukamu dulu.” Kevin melipat kedua lutut didepan Yoona sambil menyentuh wajah Yoona dengan telunjuk, mengangkatnya hampir sejajar dengan wajahnya. Disana masih terlihat wajah Yoona sedih. Namun kali ini Kevin tidak peduli dengan ekspresi wajah itu. Dia lebih fokus pada pergelangan tangan Yoona, mengobatinya dengan hati-hati. Setelah selesai semuanya, Kevin beranjak berdiri, duduk di sebelah Yoona. “Aku menjadi korban perjodohan oleh orangtua. Aku dan Rachel sudah lama bertunangan. Tapi aku rasa aku tidak mencintainya. Aku akan menjelaskan semua pada Ayah, mungkin nanti.” Kevin berbicara dengan menyandarkan kepala pada sandaran bangku, membiarkan bola matanya memandangi langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Tiupan angin malam malah membuat suasana hati Kevin menjadi baik. Dengan santainya, dia meletakkan sebelah kaki ke kakinya yang lain. “Aku hanya ingin bebas.” “Tapi bagaimana dengan Rachel? Apa dia setuju?” pertanyaan yang keluar dari Yoona membuat Kevin menegakkan tubuh. Wajahnya menatap serius ke Yoona. “Tentu saja harus setuju. Untuk apa melakukan pernikahan kalau hanya sebelah pihak? Aku melakukan ini demi kebaikan dia. Dia bisa mencari pria yang mencintainya. Bukan dia yang mencintai seorang pria.” Ternyata Kevin masih memiliki rasa kasihan pada Rachel. Dia ingin Rachel lebih bahagia dengan orang lain, daripada dengan dirinya. Kevin merasa tidak mampu memberikan kebahagian pada gadis itu. Sebenarnya sudah lama dia ingin membatalkan pertuangannya dengan Rachel, tapi dia sibuk menyelesaikan beberapa urusan. “Apa penjelasanku sudah cukup untukmu?” Yoona menganggukkan kepala penuh semangat. Meskipun dia sedikit kecewa karena Kevin sudah memiliki tunangan, tapi begitu mendengar penjelasan dari Kevin, Yoona merasa bisa memiliki Kevin. Astaga. Sejak kapan Yoona memiliki impian itu? bukankah kehidupan mereka sangat berbeda, bagaikan pangeran dan rakyat jelata? Yoona juga tidak begitu yakin akan direstui oleh Tuan Joo, meskipun dia baik kepada Yoona belum tentu dia menyerahkan anak tunggalnya kepada Yoona. Gadis itu mengerutkan kening, berusaha berpikiran tenang. Namun lagi-lagi, keinginan yang sulit di raih itu memenuhi seluruh otaknya. “Iya sudah cukup. Tapi kenapa kamu menjelaskan semua itu kepadaku, hmm?” Mungkin bagi teman Yoona, pertanyaan itu cukup mengejutkan sekali karena seorang Yoona berani menanyakan hal seperti itu. Yoona sendiri juga terkejut, mengapa dia berani melontarkan pertanyaan itu kepada Kevin, tentu saja dia berharap mendapatkan jawaban yang sesuai dengan hatinya. “Ya karena kita berteman. Aku ingin membagi semuanya kepadamu. Entah itu hal bahagia atau sedih.” Ucap Kevin dengan santai. Untung saja Kevin tidak menatap Yoona. Gadis itu memperlihatkan wajah kecewanya lagi. Bagaimana tidak kecewa, ternyata Kevin menganggap Yoona hanya seorang teman. Kali ini Yoona berhasil menyembunyikan kekecawaannya. Kevin tidak perlu mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Memang hubungan mereka harus seperti ini, tidak perlu lebih. Mulai sekarang Yoona berusaha untuk meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak pantas untuk Kevin. “Oh,, begitu. Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, teman.” Yoona menyelesaikan kalimatnya dengan senyum palsu. Tangannya menepuk bahu Kevin berulang kali—seperti salah tingkah, atau menyembunyikan sesuatu. Kevin hanya mengernyitkan kening, menatap heran Yoona. “ayo kita pulang, aku harus bekerja besok pagi.” “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.” Kevin mulai berdiri, lalu mengulurkan tangannya kepada Yoona, berusaha membantu Yoona berdiri. Tapi Yoona menangkis tangan Kevin dengan cepat, membuat Kevin menyipitkan sebelah mata. “Ayo berangkat.” Teriak Yoona dengan keras, membuat Kevin berpikir bahwa gadis itu baik-baik saja. Kevin membuka rahang dengan lebar, tidak menyangka kalau Yoona berlari, meninggalkannya. Dengan hitungan detik, Kevin segera menyusul Yoona. **** Langkah Yoona berhenti, begitu mengenal sesosok pria sedang berdiri didepan swalayan, di sudut jalan—hampir dekat dengan tempat tinggalnya. Sedangkan Kevin masih berada di belakang Yoona, karena pria itu tidak bisa berlari kencang akibat soju yang memenuhi rongga perutnya. Yoona memasukan tangan ke jaket tipis, menatap lembut ke arah sesosok pria tadi. Nathan, ya, dia adalah pria yang sekarang berjalan mendekati Yoona. Wajahnya tampak memelas, seperti meminta penjelasan kepada Yoona. Bola matanya dipenuhi oleh kesedihan. Tubuh yang biasanya terlihat kekar, sekarang terlihat biasa saja. “Darimana saja kamu, hmm?” Nathan meraih kedua tangan Yoona, menahannya agar tidak pergi begitu saja. “Terakhir kali kita bertemu saat aku menemanimu di rumah sakit? Kenapa kamu pergi begitu saja? Padahal aku sedang membelikanmu bubur.” Yoona terkejut mendengar ucapan Nathan. Dia segera melepas tangan Nathan dengan lembut. Ternyata selama ini Nathan tidak pernah meninggalkannya. Bahkan dia sangat perhatian kepada Yoona, melebihi seorang teman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD