Berusaha Santai

1075 Words
Sudah beberapa hari Yoona sengaja tidak bekerja karena dia mengambil cuti, cuti yang seharusnya tidak dapatkan oleh  karyawan baru. Tapi karena Tuan Joo mengerti dan membiarkan Yoona fokus pada persiapan kuliahnya, sehingga gadis itu mendapatkan empat hari cuti. Suara kendaraan beroda empat mulai terdengar di area kampus—tempat dimana Yoona akan menghabiskan waktu untuk mencari ilmu. Yoona menoleh ke segala arah, melihat beberapa mahasiswa baru sedang keluar dari mobil, lantas mereka membawa beberapa berkas adminstrasi di sebelah tangannya. Yoona mengulum senyum, berniat untuk menemui salah satu di antara mereka, tapi dia mengurungkan keinginannya. Dia merasa tidak pantas berteman dengan mereka, apalagi mereka tidak butuh seorang teman miskin seperti Yoona. Kehidupan mereka jauh berbeda. Dengan langkah santai, Yoona menyusuri jalan setapak, hendak mendatangi ruang administrasi. Karena beberapa hari lagi dia harus mengikuti masa orientasi sebagai mahasiswa baru. Setelah sampai di sebuah gedung berukuran besar dan megah, Yoona menoleh ke segala arah, memperhatikan setiap bangunan yang berada di sekitarnya. Beberapa orang sudah melakukan antrean untuk mengumpulkan beberapa berkas. Karena Yoona masih menikmati keberadaannya disini, di sebuah kampus favorit semua orang, dia hanya berdiri memandangi satu persatu orang yang lewat dihadapannya—serta antrean panjang mahasiswa baru lainnya. Yoona mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, sengaja tidak ia ikat karena udara dingin mulai menyerang. Bodo*nya lagi, dia hanya mengenakan kaus tipis dan rok berbahan jeans berukuran panjang. Gadis itu terperanjat kaget, merasakan sentuhan tangan yang mendarat di bahunya. Perlahan dia membalikan tubuh, menemukan seorang wanita berdiri dibelakangnya—sekarang mereka saling berhadapan. Secepat mungkin Yoona menyapa wanita itu, mengulas senyum tipis di wajahnya. “Hei, mahasiswa jurusan apa?” tanya dia sembari memberikan salam perkenalan pada Yoona. Suaranya terdengar lembut, wajahnya berbentuk oval—seperti milik Yoona. Dia tidak memiliki garis dikelopak mata, sedangkan bibirnya berwarna merah jambu—sangat natural. Yoona sedikit melirik ujung kaki sampai rambut wanita itu, cukup sempurna. Terlihat kalau wanita didepannya itu adalah orang kaya. Lalu, untuk apa dia mendekati Yoona untuk mengajaknya berkenalan? “Jurusan bisnis.” Jawab Yoona, membalas salam dari wanita itu. “Perkenalkan, namaku Yoona.” “Oh. Aku juga mengambil jurusan itu.” Wanita itu terdengar bahagia saat menemukan seorang teman yang satu jurusan dengannya. Saking semangatnya, wanita itu meraih tangan Yoona, mengangkatnya ke atas—bagaikan menang di sebuah kejuaraan. “Aku Lee Dae In.” “Wow, namamu cantik seperti orangnya.” Yoona senang diperlakukan seperti itu pada Dae In. wanita itu terlihat bahagia sangat mengenal Yoona, tapi jujur. Yoona masih berpikir macam-macam mengenai perkenalan yang aneh ini. Setelah melakukan obrolan ringan, beberapa mahasiswa laki-laki berusaha menyapa Dae In dengan lembut, membuat Dae In tersipu malu. Yoona sedikit terkejut melihat sikap Dae In—seperti butuh perhatian. “Ngg.. ayo kita melakukan antrean.” Yoona menarik tangan Dae In saat temannya itu sedang membalas senyuman seorang pria yang menyapanya tadi, begitu Yoona menyuruh Dae In untuk mengikutinya, Dae In segera mengubah ekspresi tidak senang di wajahnya. Untung saja Yoona tidak fokus akan hal itu. Dia lebih fokus dengan antrean yang sudah panjang, mungkin butuh waktu beberapa jam untuk memasukan berkas miliknya ke dalam sana. ** Yoona sudah selesai membersihkan diri setelah seharian berada di kampus. Dia segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, lalu membuka ponselnya untuk melihat pesan. Seperti yang dia duga, Dae In mengiriminya sebuah pesan, memberikan penawaran kepada Yoona untuk ikut bergabung di sebuah grup mahasiswa baru. Setelah Yoona mengiyakan, Dae In menambahkan kontak Yoona ke dalam grup tersebut. Wow, Yoona merasa bahagia melihat perkumpulan mahasiswa baru sedang mengobrol di grup ini. Mereka saling berkenalan dan mencari teman yang satu jurusan. Yoona mencoba meletakkan kedua tangan di atas kepala, membiarkan ponselnya tergeletak di sampingnya. Dia membayangkan saat kelas sudah dimulai. Dia bertemu dengan beberapa orang baru—berkenalan—bermain bersama—mengobrol. Tidak, Yoona menggeleng dengan cepat. Dia harus membagi waktu antara kuliah dan mencari uang. Huft, Yoona memiringkan tubuhnya ke hadapan ponselnya. Seharusnya dia tidak perlu bekerja, cukup untuk kuliah saja. Tapi keadaan—lah yang mengharuskan Yoona melakukan ini. Tiba-tiba Yoona memikirkan ibunya, membayangkan kalau dia masih hidup, begitu juga dengan Ayahnya. Kenapa dia tidak bertanggung jawab sama sekali terhadap anak semata wayangnya. Ya, Yoona sedang merindukan ibunya. Dia harus rajin belajar dan bekerja, tidak boleh mengeluh. Ibunya mungkin bahagia melihat Yoona melakukan semua hal itu. Setelah beristirahat cukup lama, Yoona melihat ponselnya menyala dan melihat Nathan mengiriminya sebuah pesan. Dia sudah berada didepan pintu rumah Yoona. Seketika Yoona memeluk ponselnya yang berukuran kecil—lalu bola matanya mengarah ke pintu yang terlihat dari tempat tidurnya. Dia ketakutan, untuk apa Nathan menemuinya pada jam segini. Mendengar Nathan berteriak, memanggil namanya. Yoona semakin merasa takut. Perasaan itu tidak beralasan. Karena Yoona tidak enak dengan tetangganya, gadis itu berlari menuju pintu, berniat untuk membukanya. Tapi setelah ia buka daun pintu, Nathan sudah tidak berada disana. Wajahnya segera ia keluarkan untuk menoleh ke kanan-kiri, mencari Nathan. Ya, pria itu sedang menuruni anak tangga. Cekatan, Yoona menutup pintu rumah, dan berlari menyusul Nathan. “Hei! Nathan!” Teriak Yoona sambil  melambaikan tangan. “Ngg?” Nathan yang langsung mendengar suara Yoona, langsung memutar tubuhnya. Disana terlihat wajahnya bersinar terang melihat keberadaan Yoona. Entah, kenapa gadis itu seperti menghindarinya. Padahal Nathan tidak melakukan kesalahan apapun. “Hei?” Yoona berjalan mendekati Nathan, dan dia melemparkan senyum padanya. “Sudah lama kita tidak bertemu.” Ujar Yoona, sedikit bersemangat. Dia sudah membuang rasa takut pada Nathan beberapa menit yang lalu. Kenangan saat pertama kali bekerja di kafe, Nathan—lah yang menemani Yoona, mengajaknya mengobrol, dan mengajaknya makan siang. Yoona tidak boleh jahat kepadanya. “Bagaimana dengan urusan kuliahmu?” Nathan mengelus kening Yoona yang tertutupi oleh rambut, melakukannya berulang kali, membuat Yoona sedikit tersipu malu. “Semoga lancar.” “Ya, aku mendapatkan banyak teman. Dan ada seorang teman cantik yang mengajakku berkenalan!” Yoona mulai melangkahkan kaki, diikuti oleh Nathan yang berdiri sejajar dengannya. Entah, mereka akan pergi kemana. “Oh… pantas kamu selalu mengabaikanku.” Protes Nathan sambil mengusap rambut Yoona—membuatnya terlihat berantakan, kali ini pembicaraan mereka sangat santai, tidak ada pertengkaran sama sekali. Ditengah pembicaraan mereka, perut Yoona langsung berbunyi. Lantas, pendengaran Nathan yang masih normal itu, langsung melirik ke arah perut Yoona. “Kamu belum makan, hm?” terdengar nada Nathan sangat khawatir. “Ngg…” Yoona menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Wajahnya tersipu malu menatap Nathan. Seharusnya sebelum pulang kerumah, Yoona harus mampir untuk membeli makanan. Huft, sangat memalukan sekali. “Aku ingin makan ramyun.” ==BERSAMBUNG==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD