Di Pecat?

1226 Words
Gelap mulai menyelimuti langit-langit di sebuah kota, bunyi klakson kendaraan yang lalu lalang memenuhi atmosfer, mengganggu pendengaran seorang gadis yang sedang berdiri di depan kafe. Ini sudah hari ke-empatnya tidak masuk bekerja, sedangkan dia sengaja menyempatkan diri untuk melihat keadaan kafe. Lebih tepatnya dia sedang mencari seseorang yang sudah lama tidak ia temui, Yoona sedikit merasa rindu. Tapi sepertinya dia melakuan kesalahan, tidak seharusnya dia menemui orang tersebut disini. Yoona sedang menempelkan wajah pada kaca jendela kafe, manik cokelatnya itu sibuk menyapu seluruh pandangan di dalam kafe. Karena seseorang yang ingin ditemuinya tidak ada, maka Yoona bergegas pergi. Jujur, Yoona ingin mengunjungi rumah Kevin—pria yang sedang ia rindukan, tapi keberaniannya surut mengingat dia bukan siapa-siapa, lebih tepatnya dia hanya seorang karyawan saja. Yoona menengadahkan kepala ke atas, sekilas melihat keadaan langit yang semakin gelap. Kaki-kakinya tanpa sadar mulai membawanya berjalan di sebuah kawasan mewah, dimana dia pernah menginjakkan kaki disini. Setelah sadar akan keberadaannya, Yoona terperangah melihat rumah Kevin sudah ada dihadapannya. Dia tidak mungkin membiarkan tubuhnya masuk ke dalam untuk menemui Kevin. Sangat tidak mungkin. Namun tanpa sengaja, Yoona melihat seseorang sedang keluar dari rumah Kevin, seorang wanita dengan pakaian ketat hampir membentuk lekuk tubuhnya yang seksi. Ya, dia Rachel. Sudah beberapa hari ini Kevin tidak menemuinya. Apakah mungkin dia sudah berbaikan dengan Rachel dan mulai menjauhi Yoona? Pikiran itu terus menari-nari di dalam otaknya, membuat Yoona mengurungkan niat untuk mendapatkan seorang Kevin. Seharusnya dia tidak perlu berbuat sejauh ini, membiarkan perasaannya larut lebih dalam untuk Kevin. Yoona tidak menyangka dan sangat terkejut ketika melihat kejadian yang tidak diharapkannya berada dihadapannya. Saat Rachel keluar dari rumah Kevin, tidak berselang lama Kevin mengikuti langkah Rachel yang memasuki sebuah mobil. Agar keberadaannya tidak diketahui oleh Kevin, Yoona segera bersembunyi di balik pohon besar—samping pintu pagar. Oh, tidak. Sekarang Yoona paham mengapa Kevin tidak pernah mencari dirinya, ya karena dia sudah kembali ke pelukan Rachel, tunangannya. Yoona harus menyiapkan diri, mungkin saja Kevin akan segera menikah dengan Rachel dalam waktu dekat. ** Hari ini saatnya Yoona untuk bekerja sebelum dia mulai sibuk dengan kuliahnya. Tinggal beberapa hari lagi dia menjalani masa orientasi mahasiswa di kampus. Mungkin ini cara dia mulai melupakan Kevin, dia sedang berusaha melupakan Kevin. Tapi rasanya sulit untuk melakukannya karena dia masih bekerja di kafe milik ayah Kevin. Fokus Yoona menjadi hilang saat dia memikirkan Kevin—lagi, nampan berisi minuman kopi yang akan ia berikan kepada pelang*an di sebuah meja, tiba-tiba saja tumpah dan berserakan di lantai. Itu semua karena Yoona tidak sengaja menendang kursi yang menutupi jalannya. Lantas, beberapa karyawan hanya melirik tajam ke arah Yoona, mereka tidak membantu sama sekali. Berbeda dengan salah satu pelangg*n yang duduk tidak jauh dari Yoona menjatuhkan minumannya, dia segera membantu Yoona memunguti gelas kertas yang sudah tidak berisi itu ke atas nampan. Melihat tangan-tangan lain yang ikut berkutat membereskan gelas, Yoona langsung mendongak ke atas, melihat seseorang yang sedang membungkuk di depannya. Dia Dae In, teman kuliahnya. “Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Dae In setelah menegakkan tubuh. “Terima kasih bantuannya. Sejak kapan kamu disini, hm?” Tanya Yoona sambil mengangkat tubuhnya. “Sebentar, aku harus mengganti minuman ini.” “Iya santai saja.” Jawab Dae In sambil melihat kepergian Yoona. ** Sebuah ruang kerja yang tertata rapi dengan cat dinding berwarna putih polos, menjadi tempat Yoona berdiri saat ini. Gadis itu sedang duduk sambil menundukan pandangan ke bawah, menatapi kedua tangan di atas pangkuannya. Yoona tidak menyangka kalau kecerobohannya membuat dia harus menghadap ke Tuan Joo. Jujur, Yoona sama sekali tidak berniat melakukan hal itu, hanya saja fokus dia hilang beberapa detik sehingga membuat minuman di nampannya terjatuh. “Semua karyawan mengeluh tentang perlakuanku ke kamu.” Ucap Tuan Joo sebelum menegak secangkir kopi didepannya. “Lantas, aku harus membuat keputusan yang terbaik untuk kita semua.” Mendengar ucapan Tuan Joo yang sangat serius, Yoona perlahan mengangkat kepala, berusaha menatap bola mata Tuan Joo yang ternyata sudah menatap Yoona sedari tadi. Yoona berusaha menyiapkan hati, siapa tahu Tuan Joo akan memecat Yoona sebentar lagi. Oh, padahal Yoona sebentar lagi akan masuk kuliah dan dia tidak ada waktu untuk mencari pekerjaan. Sedangkan dia juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya. “Baik, Tuan.” Suara itu terdengar bergetar namun santai. “Saya akan menerima keputusan terbaik dari Anda.” Yoona mulai menghela napas panjang, mengerjapkan kelopak mata, berharap kejadian saat ini hanya—lah sebuah mimpi di malam hari. “Aku ingin kamu merawat Ibu Kevin.” Kalimat yang baru saja keluar berhasil membuat Yoona bernapas lagi. Maksudnya, dia tidak akan dipecat oleh Tuan Joo. “Setelah keadaan disini membaik, kamu bisa kembali lagi ke kafe.” “Terima kasih, Tuan Joo.” Yoona segera membungkukkan badan, setelah itu dia memasang senyum ramah terbaiknya. Meskipun hubungannya dengan Kevin tidak baik-baik saja, dia akan mengabaikan hal itu. Saat ini yang terpenting adalah mencari uang untuk bertahan hidup. Entah—lah, dia mungkin lebih sering melihat Kevin dan Rachel disana, bermesraan. Yoona tidak peduli, sungguh. “Kamu boleh pulang sekarang. Dan besok bisa langsung kerumah.” Perintah Tuan Joo dengan wajah datar. Lalu dia menatapi kepergiaan Yoona sebelum menghabiskan kopi di cangkir yang ia genggam. ** Sebagian karyawan sedang berdiri dibalik pintu untuk menunggu Yoona, lebih tepatnya menunggu kabar mengenai keputusan yang diambil atasannya. Tidak lupa, Nathan berdiri paling depan dengan memasang wajah penuh khawatir. Mendengar bunyi ganggang pintu, Nathan segera menyambut Yoona yang keluar saat itu dengan mendekatkan tubuhnya ke daun pintu. Saat tubuh Yoona mulai muncul, wajahnya menampakkan hal yang biasa saja, tentu saja ekspresi itu membuat para karyawan jengah setengah mati, karena mereka berharap Yoona segera dipecat dari sini. Yoona berusaha menyeringai tipis saat melihat Nathan berdiri dihadapannya. Manik mata Yoona memperlihatkan kebahagiaan sehingga membuat Nathan dapat bernapas—lagi. Namun begitu dia melihat karyawan lain sedang berdiri dibelakang Nathan, Yoona melemparkan tatapan tajam. Dasar pengadu. Padahal masalah yang terjadi tadi bukan masalah besar. Mereka hanya mencari celah untuk menghancurkan Yoona. “Kamu baik-baik saja, hm?” Tanya Nathan seraya meraih bahu Yoona dengan lembut. “Tentu saja. Tapi mulai besok aku sudah tidak bekerja disini.” Jelas Yoona, mengakhiri kalimatnya dengan senyum tipis. “Ha, maksudmu? Kamu di pecat?” Nathan meninggikan suara, meraih tangan lain untuk mencengkram bahu Yoona. “aku akan menjelaskan semuanya pada Tuan Joo.” “Tidak perlu.” Yoona menahan pergelangan tangan Nathan saat pria itu berjalan melewati tubuh Yoona, berniat untuk menemui Tuan Joo. “Aku masih menjadi karyawan Tuan Joo, kok.” Mendengar ucapan Yoona, Nathan memutar tubuh dan berdiri kembali dihadapan Yoona. “Maksudmu apa, jelaskan semuanya sekarang.” “Aku masih menjadi karyawan Tuan Joo dan aku tidak bekerja di kafe ini dalam waktu yang lama. Entah sampai kapan.” “Lalu kamu akan bekerja dimana, hm?” “Kamu akan mengetahuinya nanti, tidak sekarang. Karena disini banyak sekali mata-mata!” Ucap Yoona seraya mengalihkan pandangan yang semula menatap serius ke Nathan, kini menjadi menatap ke karyawan lain dibelakang Nathan. Akhirnya Yoona dapat melemparkan tatapan tajam ke arah mereka. “Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu.” Akhirnya Nathan mengukir sebuah senyuman manis di wajahnya, membuatnya Yoona ikut tersenyum juga. “Baiklah.” “Kalian puas—kan mendengar keputusan dari Tuan Joo?” Nathan membalikkan tubuh, menatap geram ke arah karyawan lainnya. Setelah berkata seperti itu, Yoona pergi begitu saja tanpa mengucapkan kalimat perpisahan, lalu diikuti langkah Nathan dibelakangnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD