Pertama Bekerja Di Rumah Kevin

1146 Words
Hari ini semoga bahagia, Yoona ingin membiarkan hidupnya bahagia. Dia hanya perlu melakukan hal yang seharusnya ia lakukan, tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi mengurusi hidup orang lain. Saat ini Yoona mengenakan celana jeans panjang dengan kaus lengan pendek untuk memulai pekerjaan pertamanya di rumah Tuan Joo. Jujur, ini sebuah pekerjaan yang memang seharusnya tidak ia lakukan karena dia tidak punya pengalaman merawat orang sakit sama sekali, entah mengapa Tuan Joo menyuruh Yoona untuk merawat istrinya. Dan satu hal yang membuatnya berat bekerja disini, dia akan lebih sering bertemu dengan Kevin. Melihat daun pintu terbuka lebar, Yoona sedikit gugup hendak melangkah masuk ke dalam rumah Kevin. Entah mengapa perasaannya menjadi berantakan, memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi saat dia berada disana. Semoga saja Tuan Joo segera membebaskan Yoona untuk merawat istrinya, dan dia bisa secepat mungkin kembali di kafe. Dengan kekuatan yang ia miliki, Yoona berhasil berdiri di ambang pintu utama. Terlihat istri Tuan Joo sedang duduk di kursi roda sendirian, di sebuah ruang tamu yang sangat luas, hampir saja menjadi lapangan bola bagi Yoona. Akhirnya Yoona mulai berjalan mendekat, berniat untuk menyapa istri Tuan Joo. Tak di sangka, tiba-tiba Kevin muncul dari balik pilar berukuran besar melebihi besar tubuh Kevin, sehingga Yoona benar-benar tidak tahu kehadirannya disana. Sontak, langkah kaki Yoona berhenti, menatap wajah Kevin saja membuat darahnya berdesir. Mendengar decitan sepatu yang bergesekan dengan lantai, Kevin dan Ibunya langsung mencari sumber bunyi itu. Melihat kedatangan seorang gadis yang sudah lama tidak ia temui, wajah Kevin yang semula datar berubah menjadi bahagia. Cekatan, Kevin langsung berjalan menghampiri Yoona yang masih diam mematung. “Aku merindukanmu!” Kalimat itu terdengar serius, terlebih lagi Kevin langsung meraih tubuh mungil Yoona ke dalam dekapannya. “sudah lama kita tidak bertemu.” “Ngg… Maaf.” Lirih Yoona sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Kevin. Dalam sekejap, Yoona sudah berdiri didepan Ibu Kevin, hendak memberinya salam. Kevin hanya menelan air liur, memperhatikan sikap Yoona yang begitu canggung, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Terlebih lagi Yoona jarang menatap mata Kevin—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Mungkin saja Yoona sungkan menerima pelukan dari Kevin dihadapannya ibunya, sehingga dia menolaknya dengan kasar. Kevin berusaha memahami akan hal itu, dan sedikit menerima sikap Yoona. Tapi ada satu hal yang membuat Kevin penasaran, kenapa gadis itu tidak mau menatapnya sama sekali, kenapa? *** Setelah Yoona membaringkan Ibu Kevin di atas kasur, dia berjalan keluar kamar, berniat mengambil minuman hangat untuk diberikan kepadanya. Yoona sudah berada di dalam dapur, tidak sengaja bertemu dengan Kevin. Mungkin Kevin sengaja ingin menemuinya disana, seperti ingin mengatakan sesuatu. Karena saat berjalan ke arah dapur, dia melihat Kevin berada di ruang tengah. Tapi ternyata dugaan Yoona salah besar, Kevin hanya mengambil air putih dari lemari pendingin, meminumnya sampai habis. Meletakannya di atas meja dengan kasar, menghasilkan bunyi yang membuat Yooa terkejut sambil mendelikkan mata. Lalu, dia pergi begitu saja seperti tidak menganggap keberadaan Yoona disana. Ah, sial! Yoona melihat tingkah Kevin hanya menghela napas panjang, sebisa mungkin dia berusaha mengabaikannya. Mungkin saja dia kecewa karena Yoona tidak membalas pelukannya tadi. Setelah menaruh gelas di atas nampan, Yoona berjalan ke arah kamar Ibu Kevin. Begitu dia mulai menyentuh ganggang pintu kamar, sebuah tangan menahan gerakan tersebut. Akhirnya daun pintu itu tidak berhasil terbuka. Yoona melirik sebuah tangan yang menyentuh tangannya, lalu dia langsung berbalik untuk melihat seseorang yang berdiri dibelakangnya. Oh, Kevin. Yoona segera meletakkan nampan di sebuah meja dekat pintu masuk. “Ada apa denganmu, hm?” Tanya Kevin ketus, tangannya dengan kasar menarik tubuh Yoona, membawanya ke sebuah ruangan yang berada disamping kamar Ibu Kevin. “Hei, lepaskan.” Teriak Yoona, namun hanya Kevin saja yang bisa mendengar suara jeritan Yoona yang sangat kecil, bahkan itu tidak bisa disebut sebuah jeritan, lebih tepatnya rintihan. “Ada apa denganmu?” Kevin mengulang kalimatnya lagi setelah berhasil membawa Yoona ke ruangan, lebih tepatnya kamar kosong. “kenapa kau acuh?” Yoona menahan napas seketika, melihat jarak dia dengan Kevin hanya beberapa jengkal. Dia bisa mencium aroma napas Kevin yang hangat, begitu juga sebaliknya. Mata mereka saling menatap tajam, penuh dengan arti.  “Aku baik-baik saja.” Jawab Yoona sambil mengalihkan tubuhnya dari Kevin, ia sedikit menjauh. Kedua tangannya ia sembunyikan dibelakang tubuh, wajahnya tertunduk takut. “Apa aku ada salah denganmu, hm?” Yoona tidak menyangka kalau Kevin mengikutinya kemana dia pergi. Dan, dia berdiri didepan Yoona dengan jarak yang sangat dekat, semakin dekat. Bibirnya hampir bersentuhan, bahkan hidung Yoona bisa menyentuh hidung Kevin yang mancung itu. astaga, Yoona bisa luluh. “kamu sengaja mengabaikanku karena Rachel, hm?” Yoona terperangah, sontak dia mendorong tubuh Kevin dengan kasar, membuat tubuh Kevin sedikit terdorong ke belakang. Kevin hanya menyipitkan sebelah mata, menatap Yoona yang berusaha kabur dengan membuka pintu kamar. Tapi gerakan Yoona berhasil dikalahkan oleh Kevin. Cekatan, Kevin mencengkram erat pergelangan tangan Yoona, membuat Yoona merintih kesakitan sambil membalikkan tubuh, berniat melepaskan tangan Kevin. “Rachel mengancammu—kan? Cepat jujur!” Yoona masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Kevin tapi masih belum bisa. Mendengar nada suara Kevin yang terdengar serius, Yoona hanya menggeleng ketakutan. Sorot matanya hanya terpaku pada pergelangan tangannya. “Lantas, kenapa kamu seperti ini, hm?” “Lepaskan aku!” Baru kali ini Kevin mendengar Yoona mengeluarkan kalimat bernada tegas dan serius, membuat Kevin harus melepas cengkraman itu. Akhirnya dia membiarkan Yoona keluar dari kamar. Dengan kesal, Yoona membanting daun pintu dengan tenaga yang ia miliki sekuat mungkin, membuat pintu itu berbunyi sangat keras. Yang dilakukan Kevin hanya memutar bola mata sambil Kevin menggigit bibirnya dengan lembut melihat kepergian Yoona. Saat ini pandangan Kevin tidak fokus, dia selalu menatap bergantian setiap lukisan di dinding kamar itu. Dia sangat yakin kalau Rachel mengancam Yoona untuk menjauhi dirinya. Kevin sedang berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk meluluhkan Yoona agar mau berbicara, bahkan menatapnya matanya saja dia tak mau. *** Yoona mengambil napas panjang sebelum memberanikan diri untuk mendorong ganggang pintu kamar Ibu Kevin, dia berharap ibunya tidak mendengar bunyi bantingan pintu baru saja. Yoona sengaja melakukan itu karena sikap Kevin yang berlebihan. Atau malah sebaliknya, sikap Yoona yang berlebihan? Menurut Yoona dia bersikap biasa saja, tidak ingin melanjutkan perasaannya yang entah akan terbalaskan atau tidak. Dia hanya perlu menjauh agar tidak menyakiti perasaannya yang sangat rapuh. Lagi pula Kevin hanya menganggap dia sebagai teman, tidak lebih. Setelah berhasil membuka daun pintu, Yoona melihat Ibu Kevin menatap ke arah luar jendela, mengawasi dedaunan yang jatuh ke tanah. Dia mengabaikan kedatangan seseorang yang sedang mendekatinya. Melihat ibu kevin yang sedang fokus, Yoona tak ingin mengganggunya. Ia segera berbalik arah, melupakan sesuatu yang seharusnya ia berikan kepada Ibu Kevin. Ya, Yoona seharusnya memberikan minuman berisi air putih. Dalam hitungan detik, Yoona menyadari keberadaan seseorang sedang berdiri di ambang pintu—saat masuk ke dalam kamar Yoona lupa menutup pintunya. Tuan Joo sedang membetulkan posisi kacamata, lalu melemparkan senyum terhangatnya pada Yoona. Setelah itu, dia berjalan mendekati Yoona. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD