“Bagaimana hari pertamamu? Apa ada kesulitan? Istriku tidak rewel—kan?” Tanya Tuan Joo berjalan melewati pundak Yoona, lalu dia melangkah ke istrinya yang masih memfokuskan pandangan ke luar jendela. Yoona mengikuti langkah Tuan Joo—yaitu mendekati Ibu Kevin.
“Semua baik-baik saja, Tuan.” Jawab Yoona terdengar gusar, padahal dia sedang berbohong. Kalau saja Tuan Joo tahu kejadian beberapa menit lalu, mungkin dia akan murka. Entah, siapa yang akan dia bela mati-matian. Yoona menaikkan bahu, tidak peduli kalau Tuan Joo akan memarahinya dan lebih membela Kevin.
“Aku sengaja membiarkanmu untuk merawat Ibu Kevin. Karena aku jarang datang ke kafe, jadi aku tidak bisa mengawasi semua karyawan. Aku takut terjadi apa-apa denganmu.” Ujar Tuan Joo sambil mengangkat tubuh istrinya berpindah ke atas ranjang. Lalu dia menyelimuti tubuh istrinya yang terlihat sangat kurus dan berwarna pucat.
“Terima kasih, Tuan.” Yoona sedikit merasa lega karena keputusan Tuan Joo sangat tepat meskipun dia harus berhadapan dengan Kevin setiap harinya—mungkin? Dan melakukan pekerjaan disini tidak membuat Yoona merasa lelah. Dia hanya perlu menemani ibu Kevin dan menuruti permintaannya—meskipun dia jarang meminta sesuatu. Satu hal lagi yang membuat Yoona senang berada disini, jarak rumah Kevin lumayan dekat dengan kampus Yoona sehingga dia tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi terlalu banyak.
Hari pertama bekerja dirumah Kevin, Yoona menghabiskan waktu delapan jam berada disini. Setelah Tuan Joo kembali bekerja, Yoona baru bisa pulang. Mungkin saat Yoona sudah kuliah, dia hanya perlu bekerja selama empat jam saja, sama seperti di kafe. Tapi sebisa mungkin Yoona akan menyempatkan diri datang kerumah kalau ada waktu luang saat kuliah.
Yoona mengambil tas selempang di sebuah kamar yang sudah disiapkan oleh Tuan Joo, mungkin kamar ini pernah menjadi tempat tidur Yoona beberapa waktu lalu saat menginap disini. Dan sekarang Yoona bisa kembali lagi di kamar yang cukup nyaman dan sangat luas. Setelah mengambil barangnya, Yoona berjalan menuju kamar Ibu Kevin, hendak berpamitan. Namun Yoona melihat seorang wanita sedang masuk ke dalam kamar Ibu Kevin sambil membawa sebuah buket bunga mawar berukuran besar.
Sontak, Yoona langsung terkejut mengetahui kalau hubungan Kevin dan Rachel benar-benar sudah membaik. Untung saja Yoona sudah bersikap dingin kepada Kevin, sehingga dia sedikit lega. Karena Rachel sedang memasuki kamar itu, Yoona akhirnya memutar arah tujuan, yaitu kembali ke kamarnya sambil menunggu Rachel pergi.
Kevin yang melihat Yoona sedang mengawasi Rachel dari jauh, mulai mengikuti langkah Yoona.
“Ayo masuk.” Ajak Kevin sambil menggandeng tangan Yoona untuk masuk ke dalam kamar. Lantas, Yoona hanya menautkan kedua alis sehingga saling beradu. Sorot matanya seakan ingin menyerang Kevin atau menghajar tubuh pria itu. Tapi gerakan tangan Kevin mampu menghipnotis Yoona, yang pasrah begitu saja dan mengikuti langkah Kevin dari belakang.
Rachel yang mendengar bunyi pintu kamar terbuka, langsung terperangah. Dia fokus dengan tangan Kevin yang menggandeng tangan Yoona. Bahkan saat Rachel mengarahkan maniknya kesana, Kevin sengaja menggenggam telapak tangan Yoona dengan erat. Pemandangan itu membuat Tuan Joo yang sudah berada disana hanya mengulas senyum tipis, menatap Kevin dengan tatapan menilai.
“Apa maksudmu?” Tanya Rachel kepada Kevin dengan ketus. Lalu dia menatap tajam ke arah Tuan Joo yang duduk di samping istrinya yang sedang tertidur pulas. “Paman, lihat Kevin!” Rachel berusaha menyalahkan Kevin didepan Tuan Joo, namun Tuan Joo hanya menganggukan kepala perlahan, berusaha menenangkan Rachel.
“Ayah, Yoona sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku akan mengantarkannya pulang.” Mendengar penjelasan Kevin pada ayahnya, terlebih lagi dihadapan Rachel, membuat darah Yoona berdesir. Jadi hubungan Kevin dan Rachel belum membaik? Terjawab sudah kalau Yoona sudah berburuk sangka pada Kevin. “Kamu jangan pernah mengganggu Yoona, ingat! Keluarga kita sudah membatalkan pertunangan kita. Jadi kita sudah tidak ada urusan lagi.”
Rachel hanya bisa menghela napas panjang saat melihat Kevin membawa pergi Yoona begitu saja. Rasanya dia ingin melemparkan suatu benda ke arah Kevin dan membuat kepalanya tak berbentuk lagi. Tapi dia sadar akan keberadaannya sekarang. Sekuat tenaga Rachel menahan diri didepan Tuan Joo dan ibu Kevin yang sedang tertidur. Wanita itu hanya bisa mengepalkan kedua tangan sambil memikirkan rencana untuk menghancurkan Yoona.
***
Kevin membuka pintu penumpang bagian depan untuk Yoona, seketika Yoona hanya diam dan langsung mengikuti keinginan Kevin, yaitu masuk ke dalam mobil. Melihat Yoona sudah duduk di kursi, Kevin segera masuk—juga ke dalam, ke kursi pengemudi. Begitu Yoona sudah mengenakan sabuk pengaman, Kevin mulai menyalakan mesin dan membawa mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Beberapa menit dalam perjalanan, Kevin dan Yoona lebih memilih untuk saling diam, menikmati perjalanan malam. Yoona dengan santainya menatap ke luar jendela, sesekali dia mengerjapkan kelopak mata karena lelah. Saat dia berusaha membukanya kembali, terasa sangat berat. Dia ingin tidur, melewati malam yang terlihat kacau ini. Seharusnya Yoona bersyukur saat Kevin lebih memilih dirinya dibanding Rachel, apalagi dia melakukan itu didepan Tuan Joo. Tapi perasaan Yoona mulai tidak enak, dia takut terjadi sesuatu pada dirinya, suatu hari nanti.
“Kenapa kamu melakukan itu, hm?” Tiba-tiba Yoona bertanya sambil menoleh ke arah Kevin. Tapi gadis itu malah sedikit tersentak saat Kevin sudah menatapnya lebih dulu.
“Aku sengaja melakukan itu agar Rachel berhenti mengejarku.”
Oh sial. Ternyata Kevin hanya memanfaatkan Yoona saja. Dia tidak memikirkan bagaimana Yoona ke depannya.
“Turunkan aku sekarang.” Perintah Yoona sambil memegang kenop pintu mobil, dia berniat untuk mendorongnya kalau saja Kevin tidak menuruti kemauan Yoona. Sekilas Yoona melirik ke arah Kevin yang masih fokus ke depan.
“Kenapa, ha?” Jawab Kevin singkat sambil sekilas melirik ke arah Yoona, namun dia segera mengalihkan pandangannya ke depan—lagi, karena jalan didepannya mulai padat kendaraan.
“Cepat turunkan aku. Kalau tidak, aku akan melompat sekarang!” Kali ini Yoona mempertegas nada suaranya, manik matanya terlihat hampir keluar saat melirik Kevin.
“Kenapa, salah aku apa?” Tanya Kevin dengan polos, ekspresi wajahnya seperti malaikat yang tidak pernah melakukan dosa sekecil apapupun, membuat Yoona mengerutkan kening. Yoona hanya menggelengkan kepala dengan memutar bola mata, dia bingung, haruskah dia melanjutkan dramanya karena merasa dimanfaatkan oleh Kevin? Tapi pria itu sama sekali tidak peka, jadi untuk apa dia melanjutkan dramanya. Akhirnya Yoona menempelkan punggung pada sandaran kursi, kepalanya sedikit mendongak ke atas dengan mata terpejam dalam hitungan detik.
“Lupakan.” Ujar Yoona dengan menghembuskan napas panjang. Wajah dia sudah berubah menjadi santai namun dipaksakan. Kevin tidak pernah mengetahui apa isi kepala Yoona, sehingga dia memilih untuk diam tanpa penjelasan. Lagipula mereka hanya berteman, bukan menjalin hubungan. Tidak ada yang spesial.
“Kenapa kamu diam saja, aku butuh penjelasanmu.” Kevin mengurangi laju kendaraan, yang pada akhirnya dia menepikan mobil di sebuah jalanan yang sepi dan gelap. “Aku tidak ingin kamu memendam masalahmu sendiri.” Setelah mematikan mesin mobil, Kevin meraih tangan Yoona dengan lembut, sedikit meremasnya. Bola mata itu sedang menatap penuh perasaan, membuat Yoona yang sedang fokus melihat luar jendela segera menyadari perlakuan Kevin.
“Hei. Ada apa denganmu?” Yoona memalingkan wajah ke arah Kevin, sedikit melirik ke bawah untuk memastikan kalau Kevin menyentuh tangannya. Lantas, Yoona segera melepaskan tangan Kevin dengan lembut, yang sejujurnya dia juga ingin menikmati genggaman tangan Kevin. Tapi dia segera sadar, Kevin hanya menganggapnya teman saja.
“Kenapa kamu tadi marah, hm? Tolong jelaskan.” Karena Yoona melepaskan genggamannya, kini Kevin menyentuh setir mobil.
“Kenapa kamu memanfaatkan aku?” Tanya Yoona kembali menatap luar jendela, tanpa mereka sadari, hujan deras sedang membasahi jalanan, menambah suasana menjadi tambah canggung. “Kamu sengaja memanfaatkan aku untuk melepaskan Rachel?”
“Maksudmu? Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Kening Kevin berkerut saat memandangi Yoona, rahangnya hampir terbuka lebar. Dia tidak menyangka kalau Yoona berpikiran seperti itu, membuat Kevin merasa bersalah. “Aku tidak pernah memanfaatkanmu sama sekali.”
“Tapi aku merasa kamu sudah memanfatkan aku.” Sebuah jawaban yang membuat Kevin menelan air liur, tapi dia sedikit merasa kesulitan saat menelannya, terasa berat. Kedua tangannya mencengkram erat kemudi setir. Sesaat, Yoona nekat mendorong kenop pintu mobil, dan membiarkan tubuhnya berlari keluar. Dia tidak peduli hujan mengguyur tubuhnya, karena dia sedang menangis dan berharap tidak ada orang yang tahu keadaannya sekarang.
Kevin memukul setir mobil dengan keras, dia tidak mampu mengejar Yoona di tengah hujan, namun di sisi lain dia juga merasa bersalah telah menyakiti Yoona dan membuat kesalahpahaman. Bagaimana bisa Kevin tidak berpikir kalau Yoona merasa dimanfaatkan olehnya. Kevin masih berada di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan, dia juga enggan untuk mencari Yoona menggunakan mobil, entah alasan apa yang membuatnya seperti ini.