***
Yoona menangis, hampir setiap detik dia masih mengeluarkan air mata. Tubuhnya basah, tapi dia sengaja melakukannya, tidak ingin berteduh di suatu tempat. Dia sebenarnya ingin berharap, berharap Kevin mengejarnya, atau menahan kepergiannya. Tapi Yoona sadar kalau pria itu sangat tidak peka, sekalipun dia sudah menyakiti Yoona. Setelah Yoona mengusap wajahnya, meskipun hujan masih membasahi wajahnya, dia berlari menuju arah rumah. Mungkin dia butuh waktu beberapa menit untuk sampai disana, karena Kevin menepikan mobilnya tidak jauh dari tempat Yoona tinggal.
***
Masa orientasi mahasiswa sudah selesai beberapa jam yang lalu, membuat beberapa mahasiswa tersebut merasa lelah termasuk Yoona dan Dae In yang sedang duduk menghabiskan minuman soda. Mereka berdua dengan santainya saling bercerita mengenai masa sekolah menengah ke atas, lebih tepatnya Yoona banyak menjadi pendengar setia Dae In yang selalu memamerkan teman kencannya pada Yoona. Yoona sebisa mungkin memberikan tanggapan dan senyum pada Dae In, ya senyum palsu.
“Aku menyesal tidak menghabiskan waktu lebih banyak untuk berkencan saat SMA,” Ujar Dae In sambil menghela napas panjang, manik mata hitamnya menatap keadaan langit cerah di atas sana. Sedangkan rambut panjangnya saling berterbangan karena angin bertiup kencang. “bagaimana denganmu, Yoona? Kau pasti lebih banyak berkencan—bukan?” Dae In bertanya dengan mengalihkan pandangan ke arah Yoona.
“Ah.. tentu saja tidak. Aku sibuk bekerja paruh waktu.” Jawab Yoona dengan senyum penuh keraguan.
“Mana mungkin. Pasti banyak sekali laki-laki yang memintamu untuk menjadi teman kencanmu—kan?” Mendengar ucapan Dae In yang terdengar aneh bagi Yoona, gadis itu mulai terganggu dengan ucapan Dae In yang asal bicara. “Jujur saja. Kita sekarang teman—bukan?” Dae In menyikut lengan Yoona dengan di akhiri tawa bahagia.
“Ah… rasanya aku harus pergi.” Tiba-tiba saja Yoona beranjak berdiri seraya menyahut botol soda di atas bangku. Wajahnya sengaja tidak menatap Dae In, karena dia mulai malas menghadapi sikap Dae In yang kekanak-kanakan. “Aku harus bekerja. Sampai jumpa besok di kelas pertama.”
“Ha… Ngg… baiklah. Sampai jumpa.” Suara Dae In terdengar samar melihat Yoona mengabaikannya. Tapi kali ini dia hanya pasrah saat temannya itu pergi begitu saja. Dia paham kalau Yoona harus melakukan pekerjaan. “sampai jumpa besok.” Sekali lagi Dae In mengucapkan kata perpisahan pada Yoona sambil melambaikan tangan, namun sayangnya Yoona sama sekali tidak menoleh belakang ke arah Dae In.
**
Dengan langkah kesal, Yoona menghentakkan kakinya ke tanah karena masih mengingat perkataan Dae In beberapa menit yang lalu. Bagaimana bisa dia berteman dengan Dae In yang menjadi tukang pamer. Seakan dia tidak mau kalah dengan apa yang dilakukan oleh Yoona. Dan ya ampun, Yoona sama sekali belum pernah berkencan dengan pria mana—pun. Dae In sengaja menghina kelemahan Yoona.
***
Yoona menundukkan pandangan ke bawah saat dia berjalan keluar area kampus. Tidak sadar kalau seseorang sedang berdiri menyandar sebuah mobil, kedua tangannya melipat didepan da*a sambil menatap tajam kedatangan Yoona yang hampir mendekatinya. Setelah jarak mereka begitu dekat, Rachel—wanita yang sengaja menemui Yoona, menjulurkan kakinya ke arah Yoona yang sebentar lagi akan melewatinya. Karena pandangan Yoona masih fokus ke bawah, dia bisa melihat sebuah kaki sengaja menghalangi jalannya.
Kaki itu terlihat milik wanita karena mengenakan heels berwarna merah jambu. Cekatan, Yoona mengangkat wajah dan melihat Rachel sedang berdiri dihadapannya. Kedua alis Yoona langsung beradu, darahnya mengalir cepat seakan dia melihat malaikat maut sedang menjemputnya, membawanya ke alam baka. Yoona mengerutkan kening, menahan napas beberapa detik saat menatap Rachel.
Yoona tidak boleh terlihat lemah saat berhadapan dengan dia. Seketika, Yoona menarik napas panjang beberapa kali, bersiap untuk bertarung melawan wanita didepannya meskipun dia tidak memiliki tenaga. Ya, Yoona sudah lama ingin berhadapan dengan Rachel, wanita yang selalu bersikap kasar dan memaki dirinya didepan umum.
“Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Kevin? Kamu sengaja mengabaikanku?” Rachel masih melipat kedua tangannya didepan, namun kali ini dia melangkah mendekati Yoona, padahal jarak mereka sudah begitu dekat. Rupanya Rachel ingin melihat Yoona dengan beberapa jengkal saja. “Apa perlu aku menghajarmu? Supaya kamu sadar?”
“Kevin sudah memutuskanmu, jadi kalian sudah tidak ada hubungan sama sekali.” Yoona menyunggingkan senyum penuh kemenangan, telah berhasil mengeluarkan kalimat itu kepada Rachel, sebuah keajaiban baginya. “Dia berhak mendekati siapapun karena dia memang tidak terikat oleh seorang wanita.”
Kalimat Yoona membuat Rachel semakin memanas, membuat kedua tangannya saling mengepal, hendak ia layangkan ke wajah Yoona dalam hitungan detik. Sejak kapan gadis polos itu berani mengeluarkan kalimat seperti itu. Rachel cukup tercengang, melihat perubahan pada diri Yoona, yang semula hanya diam saja saat Rachel memakinya.
Untung saja Rachel berhasil menahan diri, untuk kedua kalinya. Dia memang tidak perlu mengotori tangan untuk menyentuh wajah Yoona, yang menurutnya sangat menjijikkan berbuat seperti itu. akhirnya dia memutuskan untuk berbuat sesuatu, sehingga membuat Yoona dijauhi oleh teman-teman kuliahnya.
“Kita belum putus.” Bentak Rachel, wajahnya dipenuhi oleh amarah, sehingga warna kulitnya berubah menjadi merah padam. “Sekali lagi aku peringatkan, ya! Jauhi Kevin!”
“Kalau kalian belum putus, kenapa Kevin menggenggam tanganku dihadapan Tuan Joo? Lalu membawaku pergi?” Yoona semakin percaya diri mengeluarkan kata-kata itu. Wajahnya masih terlihat penuh kemenangan, tidak merasa takut oleh ancaman Rachel sedikit—pun. Yoona pernah berjanji untuk membuat Rachel cemburu, meskipun dia sempat putus asa melakukan hal itu, tapi sekarang waktunya dia membalas dendam.
“Hei!” Teriak Rachel dengan mulut terbuka lebar, suaranya membuat orang di sekitarnya menatap aneh ke arahnya. Berbeda dengan Rachel yang sudah tersulut emosi, Yoona mulai bersikap santai dengan melipat kedua tangan didepan da*a, sebelah kaki ia majukan sedikit. “kamu hanya gadis miskin, tidak pantas untuk Kevin! Kamu hanya seorang bawahan dia, tidak lebih. Kamu bahkan bermimpi untuk menjadi seorang puteri saat sudah berhasil memilikinya? Semua itu tidak akan terjadi selama aku masih hidup!”
Deg. Kalimat itu berhasil membuat Yoona meneguk air liur, kaki yang menopang tubuhnya seakan goyah setelah mendengar ucapan Rachel yang benar adanya. Yoona sebisa mungkin bersikap baik-baik saja, tidak ingin menunjukan kalau dia sudah kalah didepan Rachel.
“Meskipun miskin, Kevin tetap tertarik padaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa!” Jawab Yoona, menyipitkan sebelah mata memandangi Rachel. Berharap wanita itu menyerah untuk memaki kelemahan Yoona. “untuk apa punya segalanya tapi tidak pernah dicintai oleh dia?”
Rachel dengan kesal menghentakkan kaki sebelum pergi meninggalkan Yoona. Telunjuknya terangkat mengarah ke Yoona, tepat di bola matanya. Mulutnya sedikit bergetar seperti mengeluarkan u*****n tapi tidak terdengar sama sekali. Setelah itu, Rachel berlari masuk ke dalam mobil, membiarkan Yoona sendirian.
Yoona menarik sebelah sudut bibir menatap kepergian Rachel. Tatapannya menyiratkan kalau dia sedang bahagia, dia merasa puas sudah berhasil membuat wanita itu tidak berkutik, bahkan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata—pun. Ya, akhirnya Yoona berhasil melawan Rachel untuk pertama kalinya.