Pesta

1433 Words
Kuliah pada jam pertama di pagi hari merupakan masalah berat yang harus dilalui oleh para mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswa baru karena mereka belum biasa menjalani aktivitas ini. Berbeda dengan yang lainnya, Yoona dengan penuh semangat menenteng ransel berisi laptop dan beberapa alat tulis di tangan kanannya. Sedangan tangan yang lain membawa segelas kopi hangat, sengaja untuk menemani hari pertamanya masuk kuliah. Saat dia sedang memasuki kelas terlihat banyak sekali bangku kosong dan hanya beberapa orang saja yang menempati bangku itu. Yoona sedikit terkejut melihat Dae In sudah berada disini, duduk bersama beberapa pria disebelahnya. Melihat kedatangan Yoona—gadis itu masih berdiri di ambang pintu masuk, Dae In dengan penuh semangat melambaikan tangan ke arahnya. Lantas, Yoona melirik bangku di sebelah Dae In yang masih kosong. Dengan santainya, Yoona berjalan mendekati Dae In sambil menyapanya dari jauh. “Aku sengaja mencarikan bangku kosong untukmu,” Ucap Dae In dengan senyum khasnya, kelopak mata hampir membuatnya terpejam dan bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Siapa—pun yang melihatnya akan tertular oleh senyuman itu. “kemari—lah, cepat!” Pinta Dae In saat Yoona berusaha mendekatinya. Padahal keadaan ruangan masih sepi tapi seolah orang sudah mulai berdatangan berebut bangku itu. Yoona hanya menghembuskan napas panjang, sambil mengingat kembali sikap Dae In yang menyebalkan. “Aku mengerti,” Jawab Yoona dengan membalas senyuman Dae In. Lalu dia segera mendorong bangku ke belakang agar mudah untuk duduk. “Kamu sangat rajin, sudah berada di kelas.” “Tentu. Aku sengaja melakukan itu. untuk mencarikanmu bangku kosong.” Jawab Dae In dengan menyipitkan kedua mata—tak lupa dia juga menyunggingkan senyum ke arah Yoona dan beberapa pria di sebelahnya. “Kamu hebat Dae In. Kamu memang teman terbaik bagi Yoona.” Ujar Pria berkacamata yang mengenakan kaus polo, tepat di sebelah Dae In. Mendengar pujian itu, Dae In langsung menutup sebagian wajah menggunakan kedua tangan karena tersenyum malu. Beberapa saat kemudian Dae In memukul genit pria berkacamata itu, membuatnya merasa senang. “Yoona, kamu harus bangga punya teman seperti Dae In. Selain cantik, dia juga baik hati. Jarang sekali menemukan teman seperti itu.” Yoona mencari sumber suara itu dengan memajukan tubuh sambil memiringkan wajah. Ternyata dia seorang pria berpostur tubuh tinggi dan berkulit sawo matang, terlihat wajahnya sedikit rupawan, namun Yoona tidak tertarik. Yoona hanya menjawab seperlunya seraya melirik ke arah Dae In yang masih tersipu malu, seakan dia haus akan pujian. Menyadari Yoona sedang menatapnya dengan sedikit sinis, Dae In melebarkan tatapan ke arah Yoona seperti terkejut. Untuk menghindari salah paham, saat itu juga Yoona langsung menarik senyuman ke arah Dae In, senyum kepalsuan. “Sekali lagi, terima kasih Dae In. Kamu memang teman terbaik—ku!” Tiba-tiba Yoona merangkul bahu Dae In dengan lembut, sedikit memaksa agar Dae In tidak curiga kalau Yoona mulai muak dengan sikapnya yang berlebihan. “aku akan membalas kebaikanmu.” “Tidak perlu. Aku senang melakukan itu padamu.” Dae In meraih tangan Yoona yang masih merangkul tubuhnya, menyentuhnya untuk ia genggam sebentar. “Bagaimana kalau kita kumpul nanti malam?” Penawaran pria berkacamata itu langsung disetujui oleh beberapa temannya, begitu juga dengan Dae In yang mengiyakan penuh semangat. Yoona hanya diam saja, fokus mengeluarkan buku kosong dan pena dari dalam tas. Karena Yoona tidak mengiyakan tawaran itu, Dae In langsung menyenggol lengan Yoona, sedikit membuatnya tersentak. Lalu, Yoona menatap penuh pertanyaan ke arah Dae In. “Bagaimana, kamu akan ikut bersama kami kan? Kamu harus ikut bergabung nanti malam.” Dengan manjanya Dae In meraih lengan Yoona, memeluknya dengan senyum penuh harap. Sejujurnya Yoona tidak tertarik sama sekali untuk mengikuti hal seperti itu. Dia jarang sekali bergaul dengan banyak orang termasuk orang yang baru ia kenal. Namun karena Dae In terus memaksanya ikut, terpaksa sekali Yoona menyetujui permintaan Dae In. “Baiklah. Demi kamu aku akan ikut bergabung.” Mendengar jawaban dari Yoona, sontak Dae In langsung memeluk tubuh Yoona dengan erat. Disana Yoona merasakan sedikit ketulusan Dae In sebagai teman. Semoga saja Dae In benar-benar tulus menjadi teman Yoona. Dengan penuh semangat, pria berkacamata itu mulai berteriak, mengajak teman-temannya yang sudah menempati bangku kosong di kelas itu untuk mengikuti acara nanti malam. Beberapa orang langsung mengiyakan dengan semangat yang membara. Yoona hanya bisa menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Semoga acara nanti malam segera berakhir dengan cepat. Saat kuliah berakhir Yoona langsung pamit denga Dae In, hendak bekerja. Dae In masih berpikir kalau Yoona bekerja di kafe, nyatanya Yoona belum cerita kalau dia tidak bekerja disana. Rasanya Yoona memang tidak perlu menceritakan hal itu, dia masih belum terbiasa dengan orang baru. *** Yoona sudah berada di samping Ibu Kevin yang sedang tidur siang. Ia menatap pilu keadaan wanita paruh baya itu. Sebenarnya dia masih terlihat cantik, dikarenakan tubuhnya sangat kurus dan berkulit pucat, membuat dia sangat menyedihkan. Merasakan ada seseorang yang sedang duduk di sebelahnya, Ibu Kevin membuka kelopak mata. Dia tersenyum menyambut kedatangan Yoona. Lantas, tangannya bergerak untuk ia raih, lalu ia genggam dengan erat. Yoona sedikit terkejut melihat sikap Ibu Kevin. Dengan tatapan lembutnya, Ibu Kevin semakin mencengkram tangan Yoona, seakan dia ingin mengatakan sesuatu namun tertahan karena keadaan. Gadis itu hanya bisa membalas Ibu Kevin dengan menyentuh tangannya—juga, mengelus secara perlahan. Perbuatan Yoona itu di lihat Tuan Joo dari balik pintu kamar yang terbuka lebar, dia sudah mengawasinya beberapa menit yang lalu. Pria itu mengulas senyum sumringah, bersyukur sudah membawa Yoona ke dalam keluarganya. Gadis itu memiliki hati yang hangat dan lembut, siapapun yang sudah mengenalnya pasti akan mudah tertarik padanya. Tuan Joo sudah cukup untuk melihat Yoona dan istrinya, kemudian dia meninggalkan tempat itu. Tak sengaja Tuan Joo melihat Kevin sedang duduk di sebuah sofa ruang keluarga, wajahnya mendongak ke atas, matanya tidak fokus karena sedang memikirkan sesuatu. Lantas, pria itu mendekati anaknya yang belum menyadari kehadirannya. “Hei, sedang apa?” Tanya Tuan Joo, berusaha duduk sejajar dengan Kevin. Mendengar suara Ayahnya yang begitu dekat, lamunan Kevin langsung buyar. Tubuhnya langsung duduk dengan tegak sambil menatap sang Ayah. “Sedang memikirkan sesuatu, Dad.” “Apa itu? Apa pekerjaanmu?” Tuan Joo mengelus bahu Kevin berulang kali, membuat Kevin sedikit merasa geli, tapi dia memilih pasrah. “Tentu saja tidak. Semua yang berhubungan dengan pekerjaan baik-baik saja.” Jawab Kevin dengan menggelengkan kepala penuh keyakinan, karena memang dia tidak memikirkan hal itu sam sekali. “Lalu apa yang sedang kamu pikirkan, hm? Siapa tahu ayah bisa membantu dan memberikan solusi.” Tuan Joo meluruskan tubuh, sebelumnya dia duduk menghadap Kevin untuk melihat lebih dekat wajah anaknya itu. “Ayo katakan, apakah itu tentang—“ Ucapan Tuan Joo berhenti saat Kevin menggoyangkan kaki Ayahnya. Ayahnya tidak menyadari kehadiran Yoona yang berjalan melewati ruang keluarga itu, hendak ke dapur mengambil minuman untuk Ibu Kevin. Kepala Kevin bergerak ke depan, memberi isyarat pada Ayahnya. “Hai, kenapa kamu belum pergi? Apa kamu tidak jadi pergi ke acara itu?” Tanya Tuan Joo sambil meninggikan nada suara, mengingat jarak mereka berdua lumayan jauh. Yoona sudah memberi tahu Tuan Joo kalau dia mempunyai acara pada malam hari melalui pesan singkat saat dalam perjalanan kemari, sekedar meminta izin padanya. Sebenarnya Tuan Joo menyuruh Yoona tidak perlu datang kesini, namun gadis itu tidak enak dan tetap masuk kerja hari ini. “Sebentar lagi, Tuan!” Jawab Yoona sambil mendekat. Matanya tetap fokus pada Tuan Joo dan mengacuhkan Kevin, menganggapnya makhluk tak kasat mata. Hal itu membuat Kevin menggelutukkan gigi dengan kesal seraya bergumam dalam hati. Tuan Joo sangat peka, berbeda dengan anaknya yang tidak peka sama sekali. Melihat gelagat mereka berdua yang saling diam, Tuan Joo menahan tawa. Satu hal lagi, Tuan Joo bisa menebak kalau Kevin sedang ada masalah dengan Yoona, ya. Gadis itu yang sedang dipikirkan anaknya sedari tadi. “Bagaimana kalau Kevin mengantarmu pergi?” Tanya Tuan Joo pada Yoona, tanpa persetujuan Kevin. “Tidak perlu Tuan.” Jawab Yoona dengan hati-hati saat bosnya memberikan tawaran yang sangat menarik. Seharusnya tawaran itu tidak datang saat mereka sedang marahan. “Tidak mau.” Jawab Kevin, sedikit ketus. Mendengar jawaban mereka berdua yang hampir bersamaan, Tuan Joo akhirnya melepaskan tawa sambil menatap Yoona dan Kevin secara bergantian. Pandangan itu membuat Kevin kesal, akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. Yoona menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara saat melihat tingkah Kevin, seperti anak kecil. Seharusnya dia meminta maaf padanya, mengakui kalau sudah memanfaatkan Yoona untuk memutuskan hubungannya dengan Rachel. Apa karena dia menganggap teman, jadi dia tidak merasa bersalah. Hei! Seorang teman juga punya perasaan. “Kalau pulang larut malam, menginaplah disini.” Ucapan itu seperti memelas, tidak ingin mendengar penolakan lagi dari Yoona. Lantas, Yoona langsung menganggukan kepala dengan cepat, lalu dia pamit untuk pergi ke dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD