Sebuah Ketertarikan

3675 Words
Di tengah kegelapan malam, angin mulai menusuk tubuh orang-orang yang masih berkeliaraan diluar rumah. Suara gonggongan anjing saling bersautan tidak mau mengalah, terdengar jelas berada di sudut jalan. Rumah-rumah sudah meredupkan sebagian cahaya lampu, menandakan malam semakin larut. Namun, berbeda dengan ketiga orang yang sedang dipertemukan dalam satu waktu ini, mereka saling bertukar pandangan, sangat sengit. Kevin, pemuda yang memiliki kulit sawo matang terkejut, ternyata ia melepaskan Yoona dari dekapannya. Melihat gadis itu tersungkur di atas tanah, kedua tangan Kevin segera bergerak ke bawah hendak mengangkat tubuh Yoona kembali. Belum sempat ia menyentuh tubuh Yoona, tangan Nathan segera menangkis gerakan tersebut. Membuat Kevin langsung melirik Nathan dengan tatapan tajam. Yoona ingin melerai mereka, berusaha mengeluarkan suara untuk sekedar berteriak. Tapi dia mengalami kesakitan, membuat wajahnya meringis menahan perih di bagian kaki. Dengan terpaksa, Yoona membiarkan mereka berkelahi dan ia fokus mengusap kaki berulang kali untuk meredakan rasa sakit. Tiba-tiba Nathan mengayunkan tangan ke arah Kevin, namun kali ini Kevin menahan tangan Nathan yang akan menyentuhnya, lagi. Kevin tidak akan membiarkan Nathan memukulnya. Cekatan, sebelah tangan Kevin langsung membuat kepalan, mengayun cepat ke arah wajah Nathan. Karena Nathan begitu fokus terhadap gerakan Kevin, pria itu berhasil menghindari pukulan Kevin. Dalam hitungan ketiga, Nathan menggerakan kaki, mengarahkan kaki ke Kevin. Tubuh pria itu sedikit goyah, tapi dengan usahanya berhasil seimbang lagi. “Tolong hentikan,” Teriak Yoona. Begitu mendengar Yoona bersuara, Nathan meliriknya—Yoona sedang merintih kesakitan, padahal sebentar lagi Nathan akan membuat wajah Kevin babak belur—lagi. Karena dia merasa kasihan pada Yoona, akhirnya dia mengurungkan niat dan langsung mendekati Yoona, mencoba menyentuh kaki Yoona yang kesakitan. “Aku harus membawamu ke rumah sakit.” Nathan cepat-cepat mengangkat tubuh Yoona, tapi Kevin menahan bahu Nathan sehingga gerakannya—pun langsung terhenti. “Kamu siapa, hmm?” Kevin membentak Nathan, setelah menarik bahunya, membuat wajahnya menghadap ke Kevin. “Apa urusanmu?” “Aku rela dipecat dari pekerjaan setelah menghajar anak bosku!!” “Hah?” Kevin ternganga, lalu merebut tubuh Yoona dari dekapan Nathan. Setelah tenaganya berhasil membawa Yoona, Kevin berjalan ke arah mobil, lalu memasukannya. “Mau kamu apakan dia?” Nathan menyeret lengan Kevin, setelah pria itu memasukan Yoona ke dalam dan berhasil menutup pintu mobil. “Aku tidak rela kamu membawa Yoona pergi, paham!” “Aku akan membawanya kerumah sakit!” Sahut Kevin, mengabaikan Nathan yang berdiri dihadapannya. Dia sengaja menabrak bahu Nathan dan berjalan ke arah kursi pengemudi. Tapi begitu ia menemukan Nathan masuk ke kursi penumpang menemani Yoona—tanpa persetujuannya sama sekali, bola mata Kevin hampir mencuat keluar. Otaknya segera sadar, dia berusaha melupakan sikap Nathan yang hampir melukainya tadi. Tanpa berpikir panjang, mobil Kevin langsung melaju kencang, mengarah ke rumah sakit. Dalam perjalanan—pun, mereka tidak saling berbicara. Yoona lebih memilih untuk memejamkan kelopak mata menahan sakit, ia tak ingin membuang tenaga untuk berbicara pada siapapun. Sedangkan Nathan terus merangkul tubuh Yoona, menenggelamkan kepala Yoona ke bahunya. Kevin melirik mereka berdua dari spion tengah, dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sembari memalingkan pandangan ke arah samping. Kevin berpikir bahwa mereka menjalin hubungan begitu dekat. Lantas, kenapa ada rumor tentang Yoona dan Ayahnya. Untung saja Ibunya tidak mengetahui sama sekali, membuat hati Kevin sedikit lega. Dia berharap rumor itu tidak pernah benar, sehingga Ayahnya bisa fokus merawat Ibunya tanpa gangguan wanita lain. Mobil Kevin sudah terpakir dan ia segera mematikan mesin mobil, tiba-tiba Nathan sudah menarik kenop mobil, membukanya dengan kasar. Kevin langsung melemparkan tatapan tajam, tapi Nathan tidak menyadari itu. Pemuda itu langsung mengangkat tubuh Yoona, membawanya masuk ke dalam. Dengan langkah santai, Kevin berusaha mengikuti mereka berdua dari belakang. Dia tidak perlu membuang tenaga untuk berlari, seperti pria itu. Lagipula keadaan Yoona baik-baik saja, gadis itu hanya mengalami cidera pada kaki, bukan yang lainnya. Setelah sampai ke ruang UGD, Kevin sengaja agak menjauh dari keberadaan Nathan dan Yoona—enggan mendekat, dia hanya mengawasi dari jarak jauh dengan berdiri santai, menyandar pada dinding ruangan tersebut. Nathan masih setia menunggu Yoona saat diperiksa dokter. Gadis itu mengernyit dan mengeluarkan suara menahan sakit ketika kaki sebelah kanan tengah ditekan-tekan oleh dokter. Saat perawat selesai membalut kaki itu dengan perban, dokter langsung mengatakan bahwa keadaan Yoona baik-baik saja, tidak mengalami patah tulang. Lalu ia menyarankan untuk beristirahat disini terlebih dahulu. Yoona baru diperbolehkan pulang besok pagi. “Terima kasih, dok.” Kalimat Nathan terucap saat dokter mulai membalikan tubuh, meninggalkan tempat tidur Yoona. “Dimana dia?” “Siapa?” “Anak Tuan Joo?” Yoona mengubah posisi, ia bangkit dan sudah duduk dengan pelan tanpa bantuan Nathan. “Dimana dia?” “Jadi selama ini kamu pergi dengan dia?” Pertanyaan Nathan terdengar kecewa, raut wajahnya berubah seperti butuh belas kasihan. Bagaimana tidak kecewa, setiap hari Nathan selalu menyempatkan diri untuk mencari keberadaan Yoona, mendatangi rumahnya, tapi kenyataannya seperti ini. “Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi kamu malah pergi dengan pria yang hampir membunuhmu!” “Aku bertemu dia di depan apartemen,” Sahut Yoona dengan tenang, kepalanya masih menelusuri ruangan untuk mencari Kevin. Tapi dia hanya melihat tempat tidur berjejer dengan tirai terbuka tanpa ada pasien yang berbaring disana, sangat sepi. “Sebenarnya aku ingin menghindari dia, tapi aku terjatuh dari tangga.” “Hah?” Nathan terkejut, dia langsung bersikap kesal, kedua alis saling beradu. “Untuk apa dia disana? Untuk menyakitimu lagi?” “Entahlah, tapi dia langsung menolongku saat jatuh. Tidak mungkin dia ingin menyakitiku lagi.” Yoona meraih bantal dibelakangnya, lalu memindahkannya ke belakang punggung untuk dijadikan sandaran. “Dia bilang menyesal melakukan itu.” “Kamu percaya?” “Sepertinya aku percaya dengannya.” “Ingat, dia bukan pria baik. Dia sudah mempermalukanmu didepan umum, hmm?” Nathan meletakan kedua tangan dibahu Yoona dengan gerakan sedikit kasar, menariknya supaya menghadap ke arahnya yang sedang berdiri disamping Yoona. “Kamu harus sadar!” Yoona membuka rahangnya secara perlahan setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nathan—terlebih lagi Nathan menggerakan bahu Yoona berulang kali. Dia tidak percaya bahwa pria yang ada didepannya, berkata seperti itu. kekhawatirannya terlalu berlebihan sebagai seorang teman. Dan dia sedikit kasar, Yoona mengakui itu. Yoona menahan nafas beberapa detik, setelah menarik nafasnya kembali, dia membuang kedua tangan Nathan yang masih menempel dibahunyas sembari menghembuskan nafasnya. “Ayo pergi!” Kata Nathan dengan nada tinggi, membuat para petugas disekitar ruangan itu melirik mereka. Nathan berniat mengangkat tubuh Yoona, ingin membawanya keluar dari sini, tapi Yoona segera menangkis tangan Nathan agar tidak menyentuhnya. Dia sedikit kecewa terhadap sikap Nathan  yang terlalu berlebihan. “Kenapa?” “Kenapa berlebihan?” Tanya Yoona dengan hati-hati, “Maksudmu?” “Kenapa kamu bersikap berlebihan?” Yoona bertanya sekali lagi, tapi kalimat terakhir itu sedikit dengan nada protes dengan tatapan kecewa. “Aku tidak ingin kamu terluka lagi, aku khawatir.” “Kamu tidak perlu bersikap berlebihan, aku hanya mau itu.” Tanpa disadari, Yoona meneteskan air mata. Sontak, kedua tangannya segera mengusap wajahnya berulang kali. Nathan mengetahui itu, gadis dihadapannya menangis, langsung membantu Yoona untuk menghapus air mata di wajahnya. “Maafkan aku.” Nathan meraih tangan Yoona dengan lembut, mengarahkannya ke pangkuan Yoona. “Aku terlalu berlebihan, maafkan aku ya?” Yoona hanya menganggukan kepala beberapa kali tanpa mengeluarkan kata. Perlahan, dia melepaskan tangan Nathan. Pandangannya secara refleks mengarah pada seseorang yang berjalan mendekatinya. “Hai?” Tanya Kevin. “Apa kakimu baik-baik saja?” Pria itu sekilas melirik kaki Yoona yang terbalut perban. “Ya.” Jawab Yoona, wajahnya menunjukan senyum polos. Dia sedikit senang karena Kevin masih menunggunya disini. Tapi bagaimana mungkin Yoona mulai tertarik pada Kevin, pria yang sudah menghancurkan harga dirinya bahkan hampir membunuhnya. Gadis itu terlalu polos begitu mendengar ucapan penyesalan dari Kevin, entah itu tulus dari hatinya yang terdalam atau tidak. Yang jelas, Yoona terlalu mudah luluh pada orang yang baru saja ia kenal. “Kenapa kamu menunggu Yoona dirumah, ha?” Tanya Nathan dengan nada tinggi, bola matanya hampir saja keluar saat menatap Kevin. “Tentu saja aku ingin meminta maaf,” Kevin berusaha santai, gayanya terlihat sangat elegan. Ia memasukan kedua tangan ke dalam saku, menatap Nathan dengan sorot menantang. Dia berharap pria didepannya itu terpancing dan Kevin ingin balas dendam. “Kamu tidak perlu ikut campur.” “Tentu saja aku harus ikut campur, aku harus menjaga Yoona.” Protes Nathan, nadanya mulai terdengar ketus. “Stop!” Yoona menempelkan telapak tangan ke telinga, ia bosan mendengar mereka berdua saling berdebat dan mungkin tidak lama lagi mereka akan berkelahi di rumah sakit, dimana orang-orang butuh ketenangan. “Cepat keluar!” “Oke, aku akan mengabaikannya.” Nathan akhirnya mengalah, dia fokus dengan pandangannya ke arah Yoona, tidak peduli kalau ada orang selain Yoona di sekitarnya. Tapi ternyata dia salah besar. Tiba-tiba Kevin melempar kantong plastik berwarna hitam, didalam ada beberapa makanan dan s**u. Ia menaruhnya dipangkuan Yoona, membuat gadis itu menatapinya dengan haru. Dengan terpaksa Nathan melirik ke arah Kevin dengan kesal. “Hmm?” Yoona berkata sambil menatap Kevin. “Bukannya kamu lapar,” Kevin mengambil sebuah roti dari dalam kantong itu, membuka bungkusnya dengan cepat. Lalu dia memberikannya kepada Yoona. “Aku mendengar suara perutmu saat menggendongmu tadi.” “Sebelum peduli dengan orang lain, kamu peduli dengan dirimu sendiri.” Kata Yoona, mengambil makanan yang disodorkan Kevin ke arahnya. “Maksudmu?” Tanya Kevin sebelah alisnya terangkat. Dia bingung dengan ucapan Yoona, karena dia merasa dirinya baik-baik saja. “Bibirmu berdarah.” Sahut Yoona setelah menggigit potongan roti, telunjuk tangan dan manik matanya melirik ke bibir Kevin, membuat pria itu salah tingkah. “Ahhh… aku baik-baik saja.” Kevin mengeluarkan ponsel, lalu membuka menu kamera depan untuk memeriksa wajahnya. Dia mendekatkan bibirnya ke permukaan layar, menyadari bahwa darah yang keluar lumayan banyak. Tangannya segera mengusap darah yang menempel di sekitar bibirnya. Kurang ajar. Aku harus membalas semua itu. Kevin langsung melemparkan pandangan mengerikan ke arah Nathan, yang ternyata pria itu juga menatapnya dengan penuh dendam. “Why?” Kalimat itu keluar dari bibir Nathan dengan nada santai, tapi hal itu membuat Kevin menarik nafas panjang, hendak mengayunkan kepalan tangan ke wajah Nathan. Untung saja Kevin langsung menatap Yoona, yang dengan pasrah sedang memperhatikan tingah mereka berdua tanpa bersuara. Terpaksa, Kevin menahan amarahnya demi  menjaga ketenangan ditempat ini. “Aku pergi dulu. Cepat sembuh.” Ujar Kevin, membalikan tubuh dan meninggalkan mereka berdua. Bahkan dia tidak menyempatkan diri untuk menatap Yoona. Begitu juga dengan Yoona, dia hanya menggigit bibir bagian bawah melihat Kevin yang mendadak pergi begitu saja. “Sebaiknya kamu tidur. Aku akan menunggumu sampai besok.” Nathan menarik selimut ke seluruh tubuh Yoona agar tertutup rapat. Lalu dia menidurkan Yoona pelan-pelan. “Terima kasih.” Itu saja ucapan dari Yoona, lantas gadis itu memunggungi Nathan yang sedang duduk mengarah padanya. ** Saat Yoona terbangun dari tidurnya yang lumayan nyenyak, dia mencari keberadaan Nathan. Kursi yang menjadi tempat Nathan tidur semalaman kosong. Dia mengusap kelopak mata berulang kali, menoleh ke segala ruangan untuk memeriksa keadaan. Dia juga sebenarnya masih mengantuk, karena dia menguap berulang kali. Tubuhnya terperanjat, melihat Kevin muncul di pagi ini. Pria itu berjalan sambil mendorong kursi roda. “Selamat pagi.” Kevin berusaha menyapa Yoona yang masih menampakan raut terkejut. “Aku akan mengantarmu pulang.” “Kenapa kamu tiba-tiba baik dan peduli, hm?” Yoona pasrah saat Kevin membawa tubuhnya, memindahkannya ke kursi roda. “Aku masih tidak mempercayaimu.” “Terserah.” Jawab Kevin dengan singkat, lalu dia mendorong kursi yang sudah ditumpangi Yoona, keluar rumah sakit. Sebenarnya Kevin sudah melunasi biaya pengobatan dan menginap Yoona selama semala, jadi pagi ini yang perlu mereka lakukan hanya pulang tanpa mengurus administrasi. Mendengar jawaban Kevin, Yoona hanya diam pasrah, menikmati perjalanan tanpa mengeluarkan protes. ** Nathan dengan semangat berlari menuju rumah sakit dengan membawa bungkusan makanan berisi bubur. Dia masih mengingat makanan kesukaan Yoona, yaitu bubur. Kali ini dia memesannya di sebuah kedai tidak jauh dari rumah sakit. Saat dia hendak melangkah ke lobi, bola matanya langsung menangkap Kevin yang memasukan Yoona ke dalam mobil. Pria itu tentu saja kecewa, kenapa Yoona pergi begitu saja, meninggalkannya sendirian. Apa begini balasan dari seorang Yoona, padahal Nathan rela bertukar shift, seharusnya dia mendapatkan shift pagi. Tapi kenyataannya, semua sia-sia. Nathan mencengkram erat bungkusan yang ia bawa, yang sebenarnya ingin ia buang ke tempat sampah tak jauh dari dia berdiri. Dia langsung sadar kesulitan mencari makan. Akhirnya dia pasrah, melihat mobil Kevin melaju pergi, meninggalkan rumah sakit. ** Yoona memalingkan pandangan ke kaca jendela, ia duduk sejajar dengan Kevin. Dia enggan memulai pembicaraan karena Kevin masih saja diam mematung. Gadis itu mulai menikmati perjalanan, karena suasana masih pagi. Tiba-tiba Nathan terlintas dalam pikirannya, dia sedikit menyesal kenapa pria itu pergi tanpa berpamitan. Sebenarnya Yoona hanya mempermasalahkan Nathan yang pergi begitu saja, sedangkan dia belum mengucapkan terima kasih karena sudah menemaninya di rumah sakit. Tangan Yoona langsung menopang kepala, tatapannya mulai kosong, membuat Kevin mulai fokus dengannya. “Ada apa?” “Tidak apa-apa.” Jawab Yoona, langsung menegakan kepala, ia melemparkan senyum ke arah Kevin, lalu mulai memalingkan wajah. “Pasti memikirkan pacarmu ya?” “Siapa, pacar yang mana?” “Pria tadi malam,” “Hmm.. dia temanku.” Jawab Yoona dengan kalimat begitu yakin. Lantas, mendengar jawaban Yoona, Kevin langsung fokus ke depan sambil bersiul-siul. Wajahnya menampakan kebahagiaan setelah mendengar jawaban dari Yoona. Eitss.. bukannya dia harus khawatir karena Yoona tidak memiliki pacar, itu berarti rumor kedekatannya dengan Tuan Joo bisa jadi benar. Tapi kali ini Kevin melupakan hal itu, dia terlalu senang mendengar jawaban Yoona. “Kenapa dia bersikap berlebihan?” “Dia hanya khawatir denganku, dia sangat baik.” Kalimat itu membuat Kevin berhenti bersiul, dan memasang raut kesal. “Baiklah, lagian aku juga tidak peduli dengan hubungan kalian.” Dasar pembohong. “Iya.” Jawab Yoona sembari melirik Kevin yang masih terlihat bahagia. “Aku akan membawamu kerumahku, itu perintah Ayah.” Tiba-tiba Kevin meminta Yoona kerumahnya dengan nada enteng, membuat mulut Yoona sulit membungkamnya. Kevin yang melihat perubahan wajah Yoona hanya menyunggingkan senyum, mengetuk telunjuk sebelah kanan pada setir mobil. “Apa kamu menolaknya?” “Ngg….” Yooa terbata-bata, bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, entah apa yang ingin ia katakan, Kevin langsung memotongnya dengan senyum yang masih mengukir indah di wajahnya. “Kalau kamu menolaknya, aku tidak peduli.” Ujar Kevin, dia sengaja tidak memandangi Yoona, karena ia tahu gadis itu masih syok. “Karena Ayah yang memintanya.” “Baiklah.” Akhirnya Yoona mengiyakan, meskipun menolak permintaan Kevin, dia akan tetap diculik dan dibawa kerumahnya. Benar-benar permintaan yang memaksa. Yoona mendengus kesal, tanpa sepengetahuan Kevin yang masih fokus dengan pandangan ke depan karena kemacetan di pagi hari. Yoona berulang kali melirik wajah Kevin dari samping, dia sebenarnya sudah mempercayai Kevin tapi mengingat perbuatannya yang meninggalkan luka dan trauma, Yoona sulit melupakan itu. Selama sisa perjalanan, mereka hampir sampai di kediaman rumah Tuan Joo, Yoona dan Kevin memilih untuk tidak mengobrol. Kevin membiarkan Yoona untuk menyiapkan diri bertemu dengan Tuan Joo dan Ibunya—meskipun Ibunya hanya bisa berbaring di tempat tidur, setidaknya Yoona bisa menemuinya dan melihat keadaan Ibunya. Sepuluh menit telah berlalu, mobil Kevin mulai berhenti di sebuah rumah bergaya klasik berukuran besar. Seorang pria tengah berdiri didepan pintu, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang yang ia nanti sebelumnya. Kevin langsung berlari ke bagasi dan mengeluarkan kursi roda, lalu ia membuka—kan pintu dan mengeluarkan Yoona. Begitu Yoona mulai terlihat dari pandangannya, pria itu membuka lebar rahangnya, seakan tidak mempercayai kehadiran Yoona bersama Kevin. Memang sebelumnya Kevin sudah memberitahu kalau dia datang bersama Yoona, tapi Tuan Joo sedikit tidak percaya, karena memang anaknya terlalu sering berbohong. “Hai, bagaimana kabarmu?” Tuan Joo mengeluarkan sebelah tangan dari saku celana, berjalan menuju ke arah Yoona, dimana gadis itu juga sedang mengarah ke Tuan Joo. Kebahagiaan di wajah Tuan Joo benar-benar tidak dapat disembunyikan, melihat seorang gadis yang sudah beberapa hari membuatnya khawatir, akhirnya muncul dihadapannya—meskipun menggunakan kursi roda. Kevin langsung membungkam mulutnya sendiri, begitu sang Ayah berniat memeluk tubuh Yoona begitu jarak mereka sudah dekat—kedua tangan Tuan Joo terbuka lebar. Kevin yang berdiri dibelakang Yoona, sontak langsung mendorong tubuh Ayahnya agar menjauh dari Yoona Hal itu membuat Tuan Joo mengerucutkan bibir sambil menghembuskan nafas jengkel. “Apa yang dilakukan Ayah?” Tanya Kevin setelah berhasil mendorong tubuh Ayahnya sedikit kasar, karena ia harus mengeluarkan tenaga mengingat tubuh Ayahnya lumayan kekar. “Aku hanya senang melihat dia kembali.” Ucap Tuan Joo dengan santai. Lalu ia membalikan tubuh dan melangkah—kah kakinya ke dalam rumah. “Ayo kita sarapan.” “Hmmm.” Jawab Kevin dengan nada ketus, dia tidak menyadari bahwa tangannya mendarat dibahu Yoona. “Tolong lepaskan,” Yoona berusaha melepaskan tangannya dari Kevin, lantas pria itu langsung membuangnya dengan kasar, lalu mereka berdua segera pergi menyusul Ayahnya ke dalam. Yoona melihat perbuatan Kevin hanya menggelengkan kepala berulang kali, tidak percaya kalau sikapnya bisa berubah dengan cepat. ** Yoona terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tua di tengah keramaian, kepalanya bergerak memutar mencari seseorang tapi belum juga datang. Sempat ia melirik Tuan Joo dan Kevin saling bergantian—yang sedang duduk disamping dan hadapannya. Hal itu membuat Tuan Joo penasaran, sambil menyodorkan segelas s**u kepada Yoona. “Mencari siapa, hmm?” Tanya Tuan Joo, membenarkan kacamata yang ia kenakan. “Terima kasih, Tuan.” Yoona menerima s**u pemberian Tuan Joo, meletakannya di samping piring berisi sepotong roti bakar. “Dimana istri Tuan sekarang?” “Di kamarnya, nanti aku antar ke kamar Ibu.” Sahut Kevin setelah melahap potongan roti di garpu, lalu dia mengunyahnya dengan bersemangat sambil menatap Yoona yang sedang kebingungan. Lantas, Kevin hanya menahan tawa di sela-sela menghabiskan roti. “Ibu Kevin sedang sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur,” Ujar Tuan Joo sambil mengusap mulut dengan serbet berulang kali. Terlihat makanan di piringnya sudah habis, membuat Yoona semakin mempercepat gerakan mengunyahnya agar tidak tertinggal sendirian. Karena dihadapannya juga Kevin sudah mulai menyuapkan garpu ke mulut berisi roti untuk terakhir kalinya. Mendengar penjelasan Tuan Joo mengenai Ibu Kevin yang sedang tidak sehat, Yoona tidak terlalu fokus. Gadis itu kini melahap dengan cepat makanan yang masih tersisa setengah itu. “Kamu lapar?” Tanya Kevin, memukul permukaan meja dengan pelan, karena pandangan gadis itu fokus ke piringnya. Mendengar bunyi hentakan meja, sontak Yoona melotot, maniknya hampir saja terlepas dari kelopak mata saat menatap Kevin. “Pelan-pelan saja Yoona,” Kata Tuan Joo terkekeh, melihat tingkah Yoona yang menggemaskan—menurutnya. “Ngg… Baik.” Jawab Yoona kepada Tuan Joo. Setelah itu dia langsung melirik tajam ke arah Kevin yang sedang menatapnya juga. Setelah mereka sudah menghabiskan makanan, Tuan Joo membawa Yoona pergi ke kamarnya untuk mengunjungi istrinya tanpa Kevin. Karena Kevin langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Yoona dengan pasrah mengikuti keinginan Tuan Joo, tatapannya menyapu setiap sudut ruangan yang menjadi pemandangannya selama berjalan menuju ke kamar Tuan Joo—terlihat beberapa frame berukuran besar bergelantungan di dinding ruang keluarga. Beberapa diantara frame tersebut, terlihat foto Kevin yang lebih banyak mengisinya daripada kedua orang tuanya. Tentu saja begitu karena Kevin merupakan anak semata wayang dan kesayangan Ibunya. Kini Yoona tengah berada di sebuah kamar yang tertutup rapat. Saat Tuan Joo membuka daun pintu berwarna putih itu, terlihat sesosok wanita sedang tertidur di sebuah ranjang yang sangat besar, setiap sudut ranjang itu terdapat tiang kayu. Di sisi sebelah kanan ranjang tersebut, tirai berwarna putih menutupi bagian itu. Yoona diam terperangah, melihat Ibu Kevin sedang tertidur dengan lelap. Lantas, Tuan Joo menaruh tangannya ke dorongan kursi roda, mendorongnya lembut agar Yoona bisa lebih dekat melihat keadaan istrinya. “Dia sudah lama sakit, hanya bisa berbaring di tempat tidur.” Tuan Joo telah di samping istrinya, dia segera duduk di sebuah bangku. Tangannya mulai merapikan selimut agar menutupi tubuh istrinya dengan rapat. “Dia sangat ingin punya anak perempuan, tapi Tuhan belum mengizinkannya.” “Kenapa Tuan tidak mengadopsi anak?” “Tentu saja ada keinginan itu, tapi Ibu Kevin kurang setuju.” Tuan Joo mulai beranjak berdiri, berjalan ke arah jendela yang kacanya terbuka lebar. Tirai yang terpasang di jendela itu berterbangan karena angin berhembusan kencang. Setelah itu, Tuan Joo menutup jendela agar sang istri tidak kedinginan. “Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih, sudah mau memaafkan Kevin.” Yoona langsung menoleh ke Tuan Joo—gadis itu masih berada di samping Ibu Kevin sambil memandanginya dengan kasihan. Selesai menutup jendela, Tuan Joo kembali berjalan ke arah Yoona—lagi. Dengan gayanya yang khas, dia memasukan kedua tangan ke saku celana, menatap istrinya yang masih memejamkan kelopak mata sedari tadi. “Aku melakukan ini untuk Tuan Joo.” Jawab Yoona, dia sengaja tidak menatap Tuan Joo. Hatinya tiba-tiba saja terasa nyeri mengingat kejadian itu, entah kenapa dia masih bisa bersanding dengan Kevin dengan baik. “Benarkah?” seakan tidak percaya dengan kalimat yang keluar, Tuan Joo menoleh ke Yoona, membuat gadis itu juga menoleh ke arah Tuan Joo. “Kevin anak baik. Dia terlalu khawatir dengan Ibunya, makanya dia berbuat seperti itu.” “Iya, saya paham, maka dari itu saya berusaha memaafkan dia.” Yoona kembali memfokuskan pandangan ke depan. “Tenang saja, aku sudah menghajar anak itu.” Ucap Tuan Joo dengan nada bahagia, dia sedikit bangga karena bisa memukul anak kandungnya. Sudah lama ia ingin memberi pelajaran kepada Kevin tapi Ibunya selalu saja melarangnya—terlalu dimanja. Untung dengan adanya kejadian itu, jadi Tuan Joo bisa menghajar Kevin. “Aku seperti bukan anak kandung Ayah.” Protes Kevin yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dia sudah mengganti pakaian dengan yang baru. “Bagaimana bisa seorang Ayah menghajar anak kandungnya seperti kemarin, aku hampir saja tidak bernafas. Aku akan mengadu kepada Ibu kalau dia sudah sembuh.” “Lakukan sesukamu.” Sahut Tuan Joo terdengar acuh, tapi dia menambahkannya dengan tawa santai diakhir kalimatnya itu. “Aku ingin pria itu segera di pecat. Berani sekali dia menghajarku.” “Nathan?” Ujar Tuan Joo dengan nada bertanya, karena sedikit bingung. “Hmmmm.” “Aku tidak perlu memecatnya, aku menyukainya.” Jawab Tuan Joo, membentangkan kedua tangan sambil menikmati suasana hatinya yang sedang bahagia. Sedangkan Kevin hanya mengerutkan kening, menaikan sebelah sudut bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD