Kami Di Pertemukan Kembali

3300 Words
Langit-langit di daerah pusat kota bertambah gelap, menandakan bahwa hari mulai malam namun guyuran hujan belum berhenti. Banyak sekali orang-orang yang selesai bekerja mengurungkan niatnya untuk menerobos di tengah hujan sehingga mereka rela berdiri di depan bangunan atau perkantoran untuk berteduh. Wajah lelah mereka menampakan kekecewaan karena harus menghabiskan waktu untuk menunggu tanpa melakukan hal apapun, sangat membosankan. Seharusnya mereka dalam perjalanan pulang atau menikmati makan malam tapi tidak untuk kali ini. Begitu juga dengan seorang pemuda bertubuh tinggi, berkulit putih yang bergumam sejak beberapa menit yang lalu karena harus bertahan didalam sini. Dia sedang berdiri di samping pintu masuk kafe, pandangannya fokus mengarah keluar jendela memperhatikan volume air, apakah sudah berkurang atau malah semakin banyak. Pada akhirnya Nathan menyerah, ia sedang tidak ingin menikmati hujan, lalu berjalan menuju ke dalam dapur karena shift-nya hari ini sudah selesai. Tiba-tiba wajahnya berhenti pada satu titik, mengarah ke seseorang diluar sana yang berusaha menegakan tubuh ditengah-tengah hujan. Nathan tidak langsung menyadari bahwa gadis itu Yoona, dia sedikit membutuhkan waktu lama untuk mengenalinya, terlebih lagi keadaan diluar sana begitu gelap dan hanya disinari oleh lampu jalanan. Saat tubuh Yoona sudah berhasil berdiri dengan usahanya sendiri—tanpa bantuan orang lain, lalu dia berniat melangkah menuju kafe, bola mata Nathan membesar tanpa berkedip sekalipun. Refleks, dia langsung berlari keluar kafe tanpa memperhatikan sekitar sehingga bahunya menabrak beberapa pengunjung kafe yang sedang berjalan masuk. Dalam hitungan detik, Nathan segera meraih tubuh Yoona yang berjalan terhuyung-huyung, lalu menggendongnya—membawa masuk ke dalam kafe. Tubuh Yoona sekarang sudah berada didalam dekapan Nathan dan dia sedikit merasakan kehangatan. Lain halnya dengan Nathan, dia mengerutkan kening, menahan rasa sedihnya karena menemukan Yoona dalam keadaan seperti ini, terlebih lagi tubuh Yoona menggigil hebat. Setelah membawa Yoona masuk ke ruang istirahat karyawan, Nathan menyalakan penghangat diruangan tersebut, menarik selimut yang tersimpan di sebuah lemari plastik, disamping ranjang Yoona terbaring. Lalu dia menutupi seluruh tubuh Yoona menggunakan selimut itu. Kedua manik milik Nathan tidak pernah berhenti menatap wajah Yoona, dimana kelopak mata gadis itu sekarang tertutup rapat karena Yoona sudah merasa mendapatkan kehangatan. Dengan gerakan lembut, Nathan berusaha merapikan setiap ujung selimut, agar tubuh Yoona terbungkus selimut dengan rapat. Sejujurnya Nathan ingin sekali mengganti pakaian Yoona yang basah kuyup, tapi dia masih memiliki kesadaran sebagai pria yang baik, menghargai Yoona sebagai seorang perempuan. Setelah memutuskan sesuatu, Nathan beranjak dari kursi disamping ranjang, sneakers yang membalut kakinya mulai melangkah keluar ruangan. Tak berapa lama kemudian, Nathan datang dengan seorang teman wanita—karyawan kafe juga, menarik masuk ke dalam untuk meminta bantuan. Wanita yang bernama Kelly itu, sedikit terperanjat kaget ketika melihat Yoona sedang tidak sadarkan diri. Dia langsung menatap ke arah Nathan yang berdiri sejajar dengannya karena saat menyeret Kelly kesini, Nathan memang tidak mengatakan hal apapun mengenai Yoona. “Hah, Aku tadi melihat Yoona sedang bertemu dengan Tuan Kevin didepan kafe,” Ujar Kelly, berjalan mendekati Yoona. Telapak tangannya menyentuh wajah Yoona yang sudah membeku, dia mulai sedikit khawatir dengan kondisi Yoona sekarang. Mendengar ucapan Kelly, sontak Nathan langsung mendelik, kedua alisnya terangkat. Ia berjalan mondar-mandir sambil melipat kedua tangan didepan da-da. Ternyata rumor mengenai Yoona dan Tuan Joo sudah sampai ke keluarga Tuan Joo, termasuk anaknya sendiri yang bernama Kevin. Sehingga Kevin yang tidak ingin menyakiti perasaan Ibunya langung mendatangi Yoona, mungkin dia memintanya untuk tidak mengganggu Tuan Joo lagi. Lantas apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Yoona bisa tergeletak di tepi jalan, apakah itu semua ulah Kevin yang sengaja menyakitinya? Semua itu belum terbukti benar karena Yoona sendiri masih belum pulih—belum bisa memberikan penjelasan tentang kejadian yang ia alami. Tiba-tiba Nathan menghentikan langkah sesaat, lalu berdiri dihadapan Kelly, dia menatap wanita itu dengan serius. “Apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanya Nathan dengan hati-hati. “Aku tidak begitu tahu, karena aku mendapatkan shift sore, jadi aku langsung masuk ke dalam.” Tubuh Kelly sedikit membungkuk, berulang kali dia menempelkan punggung tangan pada kening Yoona. Setelah merasakan suhu tubuh gadis itu meningkat, Kelly segera beranjak dari tempat itu. “Aku akan mengambil kompres dan minuman hangat.” Nathan mengelai nafas, dia akhirnya duduk disamping Yoona. Secara sadar, dia meraih sebelah tangan Yoona dan menggenggamnya. Tidak lama kemudian, pemuda itu terlelap tidur, tidak memperhatikan keadaan sekitar. Setelah Nathan terbangun, dia masih mendapatkan keadaan Yoona sama seperti sebelumnya. Namun kali ini, kening dia sudah terbalut oleh kain, dan terdapat pula segelas teh di meja. Sebuah kepedihan jelas tertulis diwajah Nathan, dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa untuk Yoona. Di dalam ruangan ini, mereka berdua sudah menghabiskan waktu sekitar 3 jam, tapi keadaannya masih belum membaik. Nathan pikir, tubuh Yoona semakin memburuk karena kulitnya bertambah pucat. Bergegas Nathan untuk menggendong Yoona, berniat membawanya ke klinik yang tidak jauh dari kafe, meskipun diluar sana masih hujan deras. Kepala pemuda itu menoleh ke sumber bunyi begitu mendengar sebuah bantingan pintu sangat keras di sudut ruangan. Dia melihat Kimmy muncul dari balik pintu, diam mematung sambil memperhatikan Nathan dari kejauhan. Sorot mata Kimmy begitu menyimpan dendam, dia tidak berhenti menatap Nathan tanpa berkedip. “Apa yang kamu lakukan disana?” Teriak Nathan, dia berusaha mengabaikan Kimmy karena dia tahu bahwa gadis itu akan mengamuk melihat Nathan berduaan didalam kamar, setelah itu Nathan membawa Yoona keluar dari kamar. Kimmy memutar bola mata, hanya mendengus kesal ketika dia berusaha menahan kepergian Nathan dengan mencengkram bahu Nathan, namun pemuda itu menabrak bahunya tanpa mengucap sepatah kata, lalu pergi meninggalkan Kimmy begitu saja. Kimmy segera membalikan tubuh, melihat kepergian Nathan dengan keadaan berlari sambil membawa Yoona. *** Hujan tentu saja sudah berhenti beberapa menit yang lalu sejak Nathan dan Yoona berada didalam ruangan. Tapi kali ini mereka sedang mengalami nasib sial—berulang kali Nathan mencoba menghentikan taksi-taksi tapi mereka sedang tidak membutuhkan penumpang padahal mobil dalam keadaan kosong. Dengan langkah cepat, Nathan membawa Yoona lari ke arah klinik, sekitar 300 meter dari kafe. Untung saja Nathan selalu menyempatkan waktu rajin melakukan olahraga sepanjang hari, sehingga tubuhnya sudah sangat terlatih dalam kondisi seperti ini. Dalam perjalanan menuju ke klinik, tiba-tiba saja Yoona mengalami sesak nafas, membuat Nathan tambah keteteran dan khawatir. Dia takut kalau Yoona mengalami hal yang sama seperti Ibunya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu—ibunya mengalami sakit pernapasan dan tidak tertolong karena kendala biaya rumah sakit. Pemuda itu mempercepat gerakan kaki, meskipun sudah terbilang cepat, dia tidak ingin Yoona kesakitan. Setelah sampai di klinik, Nathan segera berteriak, bola matanya mengitari ruangan berukuran kecil, dia tidak menemukan penjaga didepan. Mendapatkan pelayanan seperti ini, Nathan semakin meninggikan suara dengan harapan orang-orang yang bertugas di klinik dapat mendengarnya. Sekali lagi, Nathan tidak melihat seorangpun muncul dari balik pintu atau mendekatinya untuk membantu Yoona mendapatkan perawatan, tidak ada sama sekali. Lantas, dia langsung pergi dari  klinik itu, dengan sebuah tendangan ke arah tempat sampah sebelum meninggalkannya. Karena gerakan kaki Nathan sangat kuat, membuat tempat sampah itu terjatuh dan isi didalamnya berserakan begitu saja. Setelah dia keluar dari klinik, dia melihat sebuah taksi sedang menurunkan penumpang. Nathan menghembuskan nafas dengan wajah sumringah, karena itu membantu meringankan penderitaan Nathan yang sebelumnya dia sangat kesulitan mencari taksi. Begitu melihat seorang pria menggendong seseorang, supir taksi itu mulai bergerak keluar dari dalam mobil, membuka—kan pintu agar Nathan dengan mudah memasukan Yoona ke dalam. Setelah Nathan duduk di kursi penumpang, sambil meletakan kepala Yoona ke pangkuannya, dia meminta kepada supir taksi agar diantarkan ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan penuh. Supir taksi itu langsung mengiyakan permintaan Nathan tanpa mengatakan hal apapun setelah itu, karena dia tahu saat ini sedang berhadapan dengan orang yang sekarat. *** Nathan tetap berdiri dengan pandangan penuh khawatir, menatap Yoona yang sedang diperiksa oleh dokter dan satu orang perawat. Begitu alat bantu pernapasan dan infus sudah terpasang ditubuh Yoona, Nathan berulang kali bersyukur karena keadaan Yoona mulai membaik, sehingga dokter memintanya untuk tidak perlu khawatir. Mendengar ucapan  itu, Nathan langsung mengucapkan kata terima kasih dengan penuh semangat. Dia menyatukan telapak tangan, dan menempelkannya ke bibir. Seulas senyum mulai terukir indah di wajahnya, membuat orang-orang yang berada disekitar juga merasa senang. Pemuda itu akhirnya bisa duduk santai di kursi, samping Yoona terbaring. Tak lama kemudian, Yoona membuat gerakan tangan setelah mengerjapan kelopak mata berulang kali, lantas membuat Nathan terbangun karena sebelumnya dia tertidur lagi. Sejujurnya tubuh Nathan sangat lelah, hari ini dia mendapatkan shift pagi, baginya tidur selama sepuluh menit sangat berharga. Selain tubuhnya yang lelah, pikirannya juga lelah, memikirkan keadaan Yoona sebelumnya. Nathan mendekatkan wajahnya ke arah Yoona, memeriksa setiap inchi wajah Yoona, apakah raut wajah gadis itu sedang kesakitan atau tidak. Tapi ternyata gerakan itu membuat Yoona refleks menjauh. Dia langsung duduk dengan cekatan. “Dimana aku?” Yoona bertanya dengan nada kebingungan, pandangannya menyapu ke segala arah. Sebelah tangannya menempel ke kepala, merasakan sakit. “Kamu di rumah sakit.” Nathan berusaha menidurkan Yoona kembali, mengingat dia baru saja siuman setelah beberapa jam tidak sadarkan diri. Yoona hanya pasrah, membiarkan tangan-tangan Nathan menyentuh tubuhnya yang masih terasa lemah. “Apa yang terjadi padaku?” “Hah?” Nathan terkejut mendapatkan pertanyaan dari Yoona, mana mungkin dia lupa pada kejadian tadi sore didepan kafe. Atau mungkin ini efek dari obat sehingga kesadaran dia menurun. Karena khawatir, Nathan segera berlari ke arah ruang jaga perawat untuk memanggilnya, meminta mereka untuk memeriksa Yoona. Nathan tidak mengira, waktu yang ia butuhkan saat memanggil perawat sangat lama. Setelah kembali memanggil perawat, Nathan sangat terkejut melihat tempat tidur yang sebelumnya digunakan oleh Yoona berubah menjadi kosong. Nathan ingin sekali mengejar Yoona, dipastikan kalau dia belum pergi jauh, terlebih lagi Yoona masih lemas tak berdaya. Namun yang dilakukan Nathan sekarang pergi ke bagian administrasi untuk membayar tagihan rumah sakit. Pemuda itu mondar-mandir, menunggu pembayaran yang juga belum selesai, karena harus mengurus beberapa hal. Setelah berdiri cukup lama—sekitar dua puluh menit, Nathan meninggalkan rumah sakit dan berlari mencari keberadaan Yoona. Pemuda itu menelusuri setiap sudut jalan yang mengarah ke tempat tinggal Yoona, tapi dia memasang wajah tidak bersemangat begitu sampai di apartemen studio milik Yoona. Tempat itu tidak bercahaya sama sekali, sangat gelap, beberapa surat bergelantungan di kenop pintu, memastikan bahwa Yoona belum menginjakan kaki ke dalam. Akhirnya Nathan duduk di anak tangga, depan apartemen Yoona, sedikit berharap pada Yoona agar kembali kerumah dengan selamat. Kenyataannya, pemuda itu mendengus kesal, karena sudah menunggu disini tanpa mendapatkan apapun. Lantas, dia segera pergi meninggalkan tempat itu. *** Yoona meraih kepalanya, menenggelamkannya ke permukaan meja berwarna putih di sebuah mini market. Dia merasakan kedinginan karena berada diluar, membuatnya berulang kali merapatkan kedua tangan. Baju dan celana yang melekat ditubuhnya sama sekali tidak membuatnya merasa hangat. Kepalanya menunduk, kedua bola matanya melirik kaus tipis, lalu dia mendesah kecewa. Karena udara malam semakin dingin dan Yoona merasa cukup menghabiskan waktu disini, dia segera pergi meninggalkan tempat ini. Dia sengaja bersembunyi dari Nathan, karena yang dia inginkan hanya menyendiri tanpa orang lain. Dia masih memikirkan kata-kata dari pemuda yang menyakitinya sore itu. Apakah mungkin dia kerabat dari Tuan Joo, atau mungkin dia anak kandungnya. *** Nathan masih bergelut melayani beberapa antrean pelanggan dihadapannya, dimana mereka ingin memesan minuman hangat dimusim hujan ini. Kedua sudut bibir pemuda itu terus tertarik ke atas, menciptakan sebuah senyuman hangat seperti minuman yang ia buat. Kedua tangan Nathan sudah sangat mahir dalam hal meracik minuman, karena dia sudah menghabiskan waktu bekerja disini selama 3 tahun. Meskipun ia melemparkan senyum kepada orang-orang, hatinya saat ini masih memikirkan keberadaan Yoona. Dia sudah sering kali mengunjungi kediamannya, tapi selalu tidak membuahkan hasil. Atau mungkin dia keluar kota, atau sudah berpindah tempat. Dalam keadaannya yang sedang sakit, mana mungkin dia nekad untuk pergi dari apartemen studionya. Nathan menghembuskan nafas kesal, akalnya sudah memikirkan banyak hal tentang Yoona. Saat dia membalikan tubuh, berniat mengambil kue dari lemari pendingin, tubuhnya sedikit tersentak dan hampir mengeluarkan kata u*****n. Untung saja dia sadar bahwa orang dihadapannya itu Tuan Joo. Melihat raut wajah bosnya yang penuh pertanyaan, Nathan segera memanggil temannya untuk menggantikannya sebentar. Setelah itu, Nathan dan Tuan Joo pergi ke belakang kafe untuk mengobrol. Dua cangkir berisi Americano tergeletak di atas meja, menemani obrolan santai mereka. Berulang kali Tuan Joo menanyakan keadaan kafe selama ia pergi. Begitu pula kabar mengenai Yoona, Tuan Joo sangat khawatir memikirkan gadis itu. Nathan dengan serius menatap Tuan Joo dengan penuh perhatian, memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Kedua tangan Nathan terus mengusap cangkir untuk memberikan kehangatan di tengah-tengah udara yang dingin ini. “Dimana anak itu sekarang?” Tuan Joo bertanya sambil mengangkat cangkir, mendekati mulutnya. Setelah ia merampungkan kalimatnya, ia segera menyeruput kopi secara perlahan dan membuatnya mendesah penuh nikmat. “Aku mendengar kabar kalau Kevin datang ke kafe untuk menemui Yoona.” “Dia sudah beberapa hari tidak berangkat kerja,” Nathan berusaha menjawab dengan hati-hati, sebenarnya ia ingin mengatakan kepada Tuan Joo bahwa Yoona sempat dirawat di rumah sakit karena mengalami Hipotermia. Tapi ia mengurungkan niatnya itu, tidak ingin menambah kekhawatirannya kepada Yoona. “Aku sudah memeriksa CCTV dan melihat kejadian itu. Apakah Yoona baik-baik saja?” “Hmm… Aku sudah mengunjungi kediamannya, tapi tidak ada orang sama sekali.” Ujar Nathan, ucapannya itu membuat Tuan Joo mengerutkan kening. “Kalau sudah mendapatkan kabar darinya, cepat beritahu aku.” Tuan Joo memberikan perintah kepada Nathan sembari mengambil ponsel di atas meja, jemarinya sibuk mencari kontak seseorang untuk dihubunginya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Tuan Joo beranjak berdiri dan menempelkan ponsel ke telinganya, lalu ia bergegas meninggalkan Nathan sendirian. Pemuda itu melirik kepergiaan Tuan Joo dengan wajah pasrah, berusaha menuruti perintah bosnya karena sebenarnya ia sudah lelah mencari kemana Yoona pergi. Selama dia berteman dengan Yoona, Nathan jarang sekali menghabiskan waktu berdua dengannya untuk jalan-jalan. Mereka lebih sering untuk makan siang bersama, itu saja sangat jarang dilakukan karena perbedaan shift kerja. Gadis itu juga tidak pernah mengenalkan Nathan kepada orang terdekatnya atau keluarganya, memang tidak ada yang harus diperkenalkan karena Yoona hidup seorang diri. Betapa menyedihkan hidupnya. *** Di tepian pantai, seorang gadis duduk sendiri, membiarkan tubuhnya terhempas ombak kecil, sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup. Ia sangat menikmati deburan ombak di ujung senja. Burung camar terbang bergerombol di atas hamparan lautan yang sangat tenang seraya bernyanyi. Lantas, hembusan angin yang semakin kencang mulai menyadarkan Yoona agar tidak perlu berlama-lama disini. Yoona segera beranjak berdiri, mulai berjalan ke sebuah penginapan murah, tidak jauh dari tepian pantai. Di samping penginapan, berdiri beberapa kedai makanan saling berjejer rapi, hal itu membuat cacing di perut Yoona melakukan demo. Karena ia sadar tidak berpenghasilan, Yoona mengabaikan aroma makanan lezat yang menusuk hidungnya. Ia berjalan begitu saja melewati kedai itu. Saat dia sudah berada dikamar yang disewanya, ia duduk seraya membuka jendela yang mengarah ke pantai. Angin malam mulai menerobos masuk, membuat rambut Yoona berterbangan dan kering secara perlahan. Dia sedang berusaha meninggalkan tempat ini, tapi kejadian saat bertemu dengan pria di depan kafe—Kevin, membuatnya trauma dan terlalu takut untuk kembali. Lagipula Yoona tidak mempunyai tujuan pergi, dia bisa pergi kemanapun sesuka hatinya, karena tidak ada yang mencarinya. Perlahan, dia mendorong wajahnya sedikit keluar jendela, kelopak mata yang sipit terpejam sesaat. Dia sedang berusaha mengambil keputusan, bagaimana untuk melanjutkan hidup. Setelah berpikir cukup lama, dia menarik kembali wajahnya ke dalam ruangan, segera bergegas membersihkan diri untuk pergi ke suatu tempat. ** Yoona melangkah masuk ke sebuah apartemen studio yang selama ini ia tempati. Bola matanya melirik ke segala ruangan, memperhatikan setiap sudut yang masih kosong. Ia sengaja membiarkan kamar itu tidak berisi perabotan penuh, agar saat ia meninggalkan tempat ini tidak perlu repot-repot membawanya pergi. Saat Yoona berusaha mendorong sebuah koper besar berwarna hitam, sedikit memudar, gadis itu sedikit kesulitan membawanya keluar dari kamarnya. Tas berukuran besar dengan melebih berat badan Yoona sendiri, akhirnya sudah berhasil ia keluarkan. Nafas Yoona mulai terengah-rengah, keringat yang jarang keluar dari tubuhnya sudah membasahi kausnya. Kedua manik Yoona sirna dalam sekejap, padahal ia mulai senang karena berhasil mengeluarkan koper besar itu karena Yoona harus berjuang lagi untuk menuruni tangga sambil membawa koper. Saat Yoona mulai melangkah perlahan, tangannya sibuk mengangkat koper itu, pandangan Yoona saling bertabrakan dengan seorang pria. Ia melihat seseorang berada ujung bawah tangga, berdiri  menyandar di sebuah tiang lampu. Wajahnya sedang mendongak ke atas, menatap Yoona sambil melipat kedua tangan. Meskipun kepalanya mengenakan topi hitam, Yoona dapat mengenali pria itu secara langsung. Wajahnya begitu jelas pada secercah cahaya di kegelapan malam. Yoona berusaha secepat mungkin membalikan tubuh, mencoba menghindari pria berpakaian gelap, namun koper besar yang sedang ia angkat tiba-tiba mendorong tubuh Yoona ke bawah. Dalam hitungan detik, Yoona terjungkal ke depan, lalu tubuhnya menggelinding ke bawah dengan cepat. Cekatan, pria yang sebelumnya hanya diam saja, mulai bergerak cepat, tangannya dengan sigap menangkap tubuh Yoona agar berhenti terguling. Ia segera mengangkat tubuh Yoona, memasukannya ke dalam mobil. Yoona berusaha menyadarkan dirinya, saat pria itu mencoba membantunya, berniat pergi ke rumah sakit. Tetapi gadis itu segera bangkit, memalingkan muka dari pandangan pria yang menatapnya dari kaca spion tengah. Kini Yoona sibuk membuka kenop pintu mobil, lalu mengeluarkan kakinya terlebih dahulu. Dia terkejut, ternyata kedua kakinya tidak berhasil menopang tubuhnya dengan baik. Refleks, wajahnya terbentur pintu mobil, menimbulkan bunyi keras sebelumnya ia terjatuh ke aspal. Pria yang sudah duduk di kursi pengemudi, dengan santainya melangkah keluar, raut wajahnya tidak memperlihatkan kepanikan. Karena gadis yang akan ia tolong, berusaha kabur sebelumnya. Jadi sebenarnya dia malas untuk menolong lagi untuk kedua kalinya. “Apa baik-baik saja?” Tanya pria itu, ia mengulurkan sebelah tangan sambil melemparkan tatapan kejam. “Ngg.... Aduh…” Yoona mengernyitkan kening saat ia berusaha menegakan tubuh tapi tidak berhasil. Berulang kali ia mencobanya, masih saja tidak berhasil. Sebuah harapan terpancar dari sorot mata Yoona saat menengadah ke atas, menatap pria itu. “Aku tadi sudah menolongmu ya, tapi kenapa kabur, hmm?” Dengan terpaksa, pria itu menegakan tubuh Yoona, lalu membantunya duduk di kursi penumpang. “Bagaimana bisa mempercayaimu? Kamu terlalu jahat bagi seorang pria.” Sahut Yoona, kalimatnya bernada protes. “Ngg… Ayah memintaku untuk menemukanmu, kecuali aku menolaknya, dia akan langsung memasukanku ke penjara.” “Hah?” Mendengar penjelasan pria itu, kedua alis Yoona saling terangkat, bibirnya terbuka lebar, menandakan bahwa dia tidak mengerti pada ucapannya. “Aku anak Tuan Joo, aku menyesal telah memperlakukanmu seperti kemarin.” “Sepertinya kamu tidak salah, aku yang harus seharusnya meminta maaf.” Sahut Yoona, terdengar ketus, tidak berniat meminta maaf. Kevin—pria itu, hanya menghembuskan nafas kesal setelah mendengar permintaan maaf Yoona yang tidak tulus. Lagipula memang tidak seharusnya dia meminta maaf. “Jadi kamu kesini karena permintaan Tuan Joo?” Kevin menggigit lembut bibirnya, otaknya berputar cepat untuk mencari jawaban tepat agar Yoona tidak sakit hati. “Aku selalu memikirkanmu, jujur. Aku khawatir dan merasa bersalah melakukan itu padamu.” Wajah Kevin menujukan penyesalan, suaranya yang terdengar lembut—tidak seperti saat pertama kali bertemu dengan Yoona, membuatnya sedikit luluh dan tidak percaya bahwa pria itu ternyata orang baik. Tanpa sadar, Yoona mengubah ekspresi wajahnya, menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang tipis tanpa polesan lipstik itu. Kevin membuka lebar kelopak mata, rahangnya sedikit terbuka melihat Yoona tersenyum manis kepadanya. Sontak, Yoona segera sadar, menarik diri dan memasang muka kesal. “Bisakah kamu membawaku masuk ke dalam rumah?” Ujar Yoona, berusaha memegang erat pintu mobil untuk membantunya berdiri. Cekatan, Kevin yang mendengar permintaan Yoona, segera meraih tubuh Yoona dan menggendongnya dengan lembut. “Hah?” Kevin terkejut, mendengar Yoona berkata seperti. Wajah Kevin dan Yoona saat ini saling berhadapan, nafas mereka saling bertukar, tatapan mereka mengisyaratkan bahwa hubungan mereka sudah baik-baik saja. Merasa tidak ada jarak diantara mereka, Yoona langsung mendorong kepalanya ke belakang, sedikit menjauhi wajah Kevin. “Maaf.” Ujar Yoona dengan memalingkan wajah ke belakang. Saat itu juga, bola matanya menangkap kedatangan seorang pria yang berjalan ke arahnya, namun raut wajah pria itu menandakan sebuah emosi, membuat Yoona sedikit ketakutan. Setelah mereka cukup dekat, hantaman  keras langsung mengenai sebelah pipi Kevin, ia tidak mengetahui ada orang yang mendekatinya. Karena terkejut, tubuh pria itu tidak seimbang, akhirnya membuat Yoona terlepas dari gendongannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD