Gelap. Awalnya, hanya itu yang tertinggal di kepalanya. Gelap tanpa batas, tanpa arah. Gelap yang bergetar setiap kali suara logam berdenting jauh entah di mana. Lalu bau itu mulai merayap masuk. Aroma khas yang familiar, bau gudang-gudang pesisir, bukan yang kerap ia temui di butik, kantor pusat Elroy Holdings, atau di bar-bar Montparnasse. Dan sialnya, bau seperti ini masih menyisakan trauma baginya. Gyan membuka mata perlahan. Atap logam kusam menyambutnya. Lampu neon menggantung miring, menyorot ruangan dengan cahaya redup. Ia mencoba menggerakkan tangan. Tak bisa. Pergelangan tangannya diikat ke belakang, pergelangan kaki dijerat ke kaki kursi. Tali itu kasar, sekali gesek saja, kulitnya terasa panas. ‘Sial!’ Ia menoleh ke sisi kanan. Bruno ada di sana. Duduk dengan bahu dan

