PENENGAH PERANG

2109 Words

Keheningan pecah. Suara berdengung menyapa pendengaran Gyan. Matanya belum terbuka, namun benaknya sudah bertanya-tanya; kenapa tak ada suara senjata? Mengapa gas yang menusuk tak membungkam napasnya? Perlahan, ia mengangkat kelopak mata. Cahaya kuning temaram menggantung di atasnya—tak seperti lampu rumah sakit, tak pula seperti lampu di fasilitas penahanan yang kerap seadany, namun lampu pijar yang mengingatkannya teras panti asuhan di mana ia dibesarkan. Keningnya mengerut. Ia menarik napas pelan. Dadanya terasa berat, namun tak ada nyeri dan sensasi terbakar seperti sebelumnya. Ujung jari bergerak meraba—menyentuh seprai kasar, merasakan serat linen, memastikan tubuhnya tak lagi terikat. Ia menyentuh lengan, d**a, perut. Tak ada luka tembus. Tak ada bau darah. Satu-satunya yang ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD