Bab 11 - Solusi Terbaik

1508 Words
Jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan situasi hati yang lebih parah dari sekedar hancur, mungkin itu akan sedikit menjelaskan bagaimana perasaan Sarah saat ini. Ya, ia hancur sehancur-hancurnya lantaran kondisi Michelle tak kunjung membaik. Bahkan sampai sore pun kesadarannya masih terbelenggu oleh kenangan malam pahit yang menyiksanya. Tidak sesuai harapan Sarah di mana Michelle akan terbangun dengan tenang, dia justru semakin menjadi-jadi. Teriakan ketakutannya semakin kencang dan semakin menyayat hati. Membuatnya terpaksa berujung kembali menerima suntikan obat penenang. Bayangkan, ibu mana yang tidak hancur melihat putri kecilnya harus menderita sampai sebegitu parahnya. Sarah sudah berdoa mati-matian supaya Tuhan meringankan sedikit beban putrinya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sarah mengganti doanya dengan pertukaran nasib supaya ia saja yang menerima penderitaan Michelle, tetapi takdir tetap saja begitu kukuh dengan pendiriannya. Kini Sarah telah berada di titik di mana ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerahkan segalanya pada Yang Kuasa. Bahkan ia pasrah akan diagnosis seorang ahli jiwa yang baru saja ditemuinya beberapa saat lalu. “Melihat dari gejala yang terjadi pada putri Anda dalam beberapa jam terakhir, ada kemungkinan dia mengidap suatu gangguan pasca trauma bernama Post Traumatic Stress Disorder, atau kami biasa menyebutnya PTSD. Itu adalah suatu gangguan panik akibat penderita terus-terusan terjebak dalam situasi paling buruk dalam hidupnya. Paling menakutkan, juga paling menyakitkan. Kebanyakan pasien penderita PTSD akan kesulitan tidur karena selalu dihantui rasa takut akan mimpi buruk mengenai hal yang membuatnya trauma. Dalam kasus putri Anda, gejalanya bisa dibilang lumayan parah karena dia hampir tidak bisa sadar dari masa-masa kelam itu. Dia mampu tertidur pulas, itu berkat bantuan obat penenang yang mengalir di selang infusnya. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama, Nyonya Brume. Karena sesungguhnya bergantung pada obat penenang hanya akan memperparah keadaannya.” Sarah masih ingat betul perkataan sang ahli jiwa dalam menjabarkan kondisi Michelle saat ini. Dan sungguh itu membuatnya semakin hancur tak terkira. “Lantas aku harus bagaimana, dokter? Tidak adakah obat yang dapat menyembuhkan trauma putriku secara instan? Jika kau mau tahu, aku juga hancur saat menyaksikannya harus diberi suntikan obat penenang demi menghentikan amukannya,” terang Sarah sambil menangis. Ia tak kuasa menahan perih yang membakar batinnya kala mendengar diagnosis yang tertuju pada putrinya. “Ada satu cara yang cukup ampuh,” sahut sang psikolog serius. Sarah langsung mendelik penuh harap begitu mendengar kalimat tersebut. “Yaitu hipnoterapi.” “Hipnoterapi? Maksudmu putriku akan dikendalikan pikirannya atau dihapus sebagian ingatan buruknya supaya bisa terlepas dari rasa sakitnya?” “Ya, kira-kira begitu.” “Apa itu artinya dia harus melupakan ayahnya juga?” tanya Sarah bergetar. Sang psikolog terdiam untuk sesaat. Lalu kemudian terpaksa mengangguk. “Sebagian kenangan traumatis Michelle berpusat pada insiden yang telah menimpa ayahnya. Maka dari itu akan lebih baik jika dia tidak mengingat ayahnya lagi demi mencegah ingatan akan kejadian kelam itu kembali,” jelas sang psikolog. Sarah betul-betul dibuat bungkam oleh solusi tersebut. Bagaimana bisa ia tega menghapus Antony dari ingatan Michelle? Ia tahu betul setiap kenangan yang Michelle lewati bersama ayahnya kecuali peristiwa naas yang menimpa mereka kemarin malam adalah kenangan terindah dalam hidup Michelle. Bagi Michelle, Antony adalah sosok nomor satu dalam hidupnya yang tidak ingin dia lupakan eksistensinya. Memaksa menghapus kenangan mereka adalah kejahatan besar bagi Sarah. Ia tidak sanggup melakukan itu. Menyadari ketidak setujuan Sarah akan gagasan tersebut, sang psikolog menggenggam tangannya berusaha meyakinkan. “Aku tahu saranku terkesan jahat. Tapi itu adalah cara terbaik untuk menyelamatkan Michelle. Aku tidak akan memaksa Anda untuk langsung menyetujuinya. Tapi kuharap Anda mempertimbangkannya, Nyonya Brume.” Dan sekarang di sinilah Sarah. Terjebak dalam dilema menyakitkan berkat percakapan singkatnya bersama sang psikolog yang menangani Michelle. Jika boleh jujur ia ingin menolak saran tersebut. Seumur hidupnya ia tidak rela jika harus menghilangkan sosok Antony dari ingatan putrinya. Kasihan mereka, Sarah tidak berhak memisahkan ayah dan anak yang begitu saling menyayangi satu sama lain walaupun itu hanya sekedar kenangan. Justru kenangan lah satu-satunya hal berharga yang masih tersisa untuk mengingat Antony. Kalau itu dihilangkan, bagaimana Michelle akan mengenang sosok ayahnya nanti? Namun kalau tidak melakukan itu, Michelle akan terus-terusan menderita. Sarah juga tidak mau putri kecilnya yang masih memiliki jalan hidup panjang harus mengalami penderitaan seumur hidupnya. Sekarang ia harus bagaimana? Kedua pilihan itu betul-betul menyayat hati baginya. Ia tidak bisa memilih salah satu di antaranya karena keduanya sama buruknya. Tapi kalau ia tidak segera memilih, keadaan akan semakin memburuk. Hah ... di saat seperti ini rasanya Sarah ingin memaki pada takdir, mengapa ia tidak diberi pilihan yang mudah? Belum cukup kah penderitaan yang harus dilaluinya atas kehilangan Antony dengan cara yang sangat tragis? Kenapa hidup begitu tidak adil? Di tengah keputus asaan berkat dilema yang dideranya, Ellisa lagi-lagi hadir di sisinya. Seperti biasa, dia menepuk pundaknya memberi kekuatan untuknya. Tak lupa senyum lembut terukir di bibirnya memberi efek ketenangan bagi siapa saja yang melihatnya. “Ini memang keputusan berat, pikirkanlah matang-matang,” ujarnya menasihati. “Tapi jika kau tanya pendapatku, aku setuju dengan saran psikolog itu. Walaupun kedengarannya kejam, tetapi itu yang terbaik untuk Michelle.” Mendengar sahabatnya berkata begitu Sarah jadi merenung lagi. Apakah ia memang harus menyetujui saran hipnoterapi itu? Kalaupun harus, setidaknya itu demi kebaikan Michelle di masa mendatang. Ia tidak akan terlalu menyesal bukan? ••• Di sisi lain Billy juga sedang dipusingkan dengan gencatan para polisi yang menekannya untuk membiarkan mereka menginterogasi Winter. Ini sangat menyebalkan. Tidakkah mereka punya hati sampai tega mendesak seorang anak yang sedang mengalami trauma untuk mengingat kembali penyebab trauma itu? Padahal mereka sudah mendapat cukup banyak bukti yang membenarkan pernyataan Billy bahwa tadi malam telah terjadi perampokan di kediamannya saat ia sedang tidak ada di rumah, yang akhirnya berujung pada terjadinya penculikan Winter. Tapi tetap saja mereka tidak mudah percaya. Dasar para polisi menyusahkan. Sekarang Billy benar-benar bingung harus bagaimana. Ia ingin bersikukuh untuk tidak membiarkan mereka mengorek informasi dari Winter. Tapi itu akan membuatnya dicurigai menutupi sesuatu. Apakah ia biarkan saja mereka mencoba menginterogasi Winter? Tapi bagaimana kalau anak itu buka mulut nanti? Tidak. Mengingat bagaimana takutnya Winter saat Billy mengancamnya tadi siang, dia pasti tidak akan mengatakan apa pun pada polisi. Billy kenal betul putranya, dia paling tidak bisa diancam. Mentalnya cukup lemah sedari kecil karena sering diejek tidak punya ibu oleh teman-teman sekolahnya. Mangkanya Billy pada akhirnya memutuskan untuk memberinya home shcooling alih-alih sekolah umum. Karena itu untuk melindungi mental Winter. Tapi sekarang ia malah menjadi orang yang paling menghancurkan mentalnya, benar-benar miris. Billy pun akhirnya mendengus di hadapan para polisi. Dengusan sebal tentu saja karena terpaksa harus menuruti keinginan mereka untuk menginterogasi putranya. “Baiklah, aku izinkan,” ucapnya. “Tapi kumohon jangan terlalu memaksanya. Aku tidak mau mental putraku semakin rusak gara-gara kalian oknum-oknum tidak berhati nurani yang memaksa seorang anak sepuluh tahun untuk bersaksi mengenai peristiwa kejahatan keji. Jika Winter tidak mengatakan apa pun hari ini, kalian jangan menekannya. Kalian punya waktu seumur hidup sampai dia mau bicara.” Mendengar persetujuan darinya, para polisi pun tersenyum lebar. “Terima kasih, Tuan Auxton,” ujar sang inspektur polisi mewakilkan rekannya alias para detektif yang akan bertugas menginterogasi Winter. “Ya, silakan masuk,” sahut Billy malas seraya mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang rawat Winter. Kebetulan Winter sedang terjaga saat ini. Dia tampak tegang saat melihat para polisi menghadapnya dengan ayahnya mengawasi di barisan paling belakang. Sekilas ia sempat melirik takut pada manik ayahnya. Namun Billy segera mengecamnya untuk jangan melakukan itu lagi karena itu dapat membuat para polisi mencurigainya. Winter pun langsung menurut dan mengalihkan pandangan ke polisi yang berada di paling depan barisan, alias Calvin. “Selamat sore, Winter.” Seorang detektif menyapanya hangat. “Wah, kau punya nama yang sangat bagus.” “Terima kasih.” Winter menjawab dengan tertunduk antara malu bercampur takut. Sementara para polisi sibuk mengerubungi Winter, Billy mengambil posisi duduk di tepian sofa yang memang terpasang di ruangan VIP ini. Dari sini ia memerhatikan betul-betul gerak-gerik mereka. Rupanya para detektif cukup cerdik dalam melakukan sesi interogasi ini. Mereka melakukan basa-basi pendekatan dulu dengan Winter sebelum benar-benar melontarkan pertanyaan-pertanyaan sensitif. Hal tersebut sedikit membuat Billy gelisah, jangan-jangan Winter akan terbuka pada mereka nanti. Apalagi melihat dia sudah mulai tertawa lepas di hadapan para polisi, Billy jadi meragukan kesetiaan putranya. “Nah, Winter, karena kita sudah akrab boleh kan kalau aku menanyaimu beberapa hal?” tanya salah seorang detektif. Di sini Billy sudah semakin gelisah. Mereka bergerak terlalu cepat, dan Winter juga menunjukkan gelagat tidak peduli padanya. “Memangnya kau ingin menanyakan apa?” Winter menyahut dengan raut sumringah. Sang detektif pun memulai aksinya. “Ini soal peristiwa penculikan yang menimpamu tadi malam. Menurut rekaman CCTV yang kami lihat, kau loncat dari mobil penculik itu lalu berlari menuju area pabrik terbengkalai. Um, apa kau melihat atau mendengar sesuatu terjadi di sana?” Deg! Jantung Billy seolah berhenti beberapa detik saat para detektif sudah sampai di sesi pertanyaan ini. Dan yang lebih membuatnya berdebar, Winter malah menatap ke arahnya. Ada apa ini? Apa dia mau mengungkapkan yang sebenarnya? “Aku ....” Winter mulai menjawab—masih sambil menatap Billy. “Aku melihat Ayah.” Deg! Apa-apaan ini? Winter benar-benar akan buka mulut?! •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD