“Daddy ... tolong selamatkan Daddy. Orang itu sangat menakutkan, selamatkan Daddy. Tidak ... tidak, jangan sakiti Daddy! Daddy!!!”
Suara jeritan anak kecil yang mengamuk membangunkan Sarah dari tidur asalnya di atas bangku tunggu yang terletak di depan kamar rawat Michelle. Awalnya ibu tiga puluh tahun itu tidak menyadari itu suara siapa. Sampai kesadarannya pulih sepenuhnya, ia langsung terkejut panik dan bergegas masuk ke kamar rawat Michelle. Tak hanya Sarah, Ellisa pun ikut terbangun lantaran kencangnya suara itu. Ia menyusul Sarah masuk ke dalam kamar rawat Michelle.
Rupanya Michelle sedang ditangani oleh seorang dokter sambil dipegangi oleh beberapa suster saat Sarah tiba di dalam. Tubuhnya kejang-kejang, dia mengamuk hebat sambil memandang takut orang-orang di sekelilingnya. Berulang kali dia memanggil ayahnya menyuruh semua orang untuk tidak menyakitinya. Sesekali dia juga memohon ampun minta dibebaskan.
Melihat pemandangan itu, jelas hati Sarah remuk. Bahkan setiap sentuhan lembut para suster sanggup membuat putri kecilnya meringis ketakutan bukan main. Hal itu membuat Sarah jadi turut membayangkan, seberapa menyakitkan pemandangan yang Michelle saksikan tadi malam. Itu pasti sangat mengerikan baginya. Jelas saja, apa hal yang lebih mengerikan dari mendapat perilaku tidak senonoh dari orang dewasa lantas menyaksikan langsung saat peluru menembus kepala ayahnya. Sarah saja hampir tidak sanggup membayangkannya bagaimana Michelle yang merasakan tragedi itu langsung? Sungguh Sarah tidak tega melihat keadaan putrinya saat ini.
“Ya Tuhan, Michelle-ku yang malang. Kenapa ini harus terjadi padamu?” isak Sarah.
Melihat sahabatnya kembali menangis, Ellisa langsung memeluknya berharap itu dapat sedikit membantu menenangkan hatinya. Walau ia tahu tidak akan semudah itu. Kalau ia yang ada di posisi Sarah, ia pasti sudah gila.
Di depan sana, Michelle masih tak hentinya menangis dan mengamuk. Sampai akhirnya sang dokter menyarankan untuk kembali menyuntikkan obat penenang di selang infusnya. Sarah tidak berani melihat. Mangkanya ia hanya mendekapkan wajahnya di bahu Ellisa sampai suara teriakan Michelle perlahan mereda, lantas lama kelamaan menghilang menciptakan suasana hening. Ya, dia sudah kembali terlelap berkat obat penenang itu.
Sarah segera menghampiri ranjang putrinya begitu keadaannya sudah membaik. Walau tidak bisa dibilang baik juga kalau selama Michelle berada di sini dia hanya bergantung pada obat penenang.
Dibelainya lembut rambut putri kecilnya itu, lantas dikecupnya keningnya. Hati Sarah semakin remuk kala mendapati hanya keheningan yang menyambutnya. Padahal biasanya Michelle akan tersenyum hangat ketika dicium keningnya oleh ayah maupun ibunya. Tapi sekarang tidak lagi. Dia hanya diam termakan sensasi obat penenang yang mengalir dalam darahnya, karena kesadaran hanya akan membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat.
Menyaksikan kondisi putrinya semengenaskan ini ingin sekali rasanya Sarah berteriak protes pada takdir, kenapa keadaan berubah begitu drastis? Gara-gara tragedi satu malam mencekam menimpa suami dan putrinya, kini keharmonisan keluarganya mendadak lenyap terhisap oleh rasa sakit mendalam, trauma serta dendam. Ya, Sarah begitu dendam terhadap oknum-oknum biadab yang merampas senyum putrinya serta nyawa suaminya. Sarah bertekad akan membunuh siapa pun dia yang telah melakukan ini pada suami dan putrinya. Bahkan kalau perlu sampai keturunannya pun akan ia habiskan. Lihat saja nanti, tak akan Sarah biarkan mereka merasakan hidup sehari pun meskipun itu di penjara.
Menyadari ada getaran emosi yang mengalir kuat pada kepalan tangan Sarah, Ellisa kembali berusaha menenangkannya. Ia mengelus bahu sahabatnya itu sambil mencoba mengalihkan pikiran buruknya dengan hal lain.
“Bicaralah pada putrimu, hibur dia.” Ellisa memberi saran. “Walaupun dia tampak terlelap pulas, tetapi aku yakin dia pasti bisa mendengarmu.”
Sarah menatap Ellisa sendu. “Aku ... merasa tidak pantas melakukan itu. Aku ini ibu yang buruk baginya, Ellisa.”
“Sstt. Kau sudah mengatakan itu berulang kali sejak tadi malam. Jangan terus-terusan mengatakan kalimat buruk semacam itu. Itu hanya akan menciptakan sugesti negatif bagi hubunganmu dengan Michelle. Mulai sekarang katakan hal yang baik-baik saja.”
Sarah kembali menoleh pada Michelle. Walaupun ia masih diliputi rasa bersalah karena gagal menjadi sosok istri dan ibu yang baik bagi suami dan putrinya, tetapi ia sadar kalau perkataan Ellisa benar. Sesuatu yang baik, akan menyugestikan hal yang baik pula. Begitu pun sebaliknya.
Sekali lagi Sarah mencium kening Michelle. Kali ini cukup lama. Kemudian bibirnya bergerak turun ke telinga putrinya lantas membisikkan, “Michelle putriku, maaf jika selama ini Mommy menjadi ibu yang buruk bagimu. Tapi mulai sekarang, Mommy berjanji akan selalu ada untukmu. Mommy akan menjadi sosok ibu sekaligus ayah yang sempurna untukmu. Kita mulai semua dari awal ya, Sayang?”
Beberapa saat setelah mengatakan itu, setetes air mata merembes keluar dari mata Michelle yang tengah terpejam. Sarah dan Ellisa yang menyaksikan itu pun turut menangis. Benar ternyata, Michelle mampu mendengarnya walau di tengah kondisinya yang terpengaruh obat penenang.
Sarah mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi mungil putrinya. Ia lantas membelai penuh kasih wajah polos itu.
“Kau benar-benar mendengar Mommy rupanya,” ucap Sarah dengan suara bergetar. Ia menarik napas untuk menetralisir nada suaranya. Setelah merasa lebih baik, ia kembali berkata pada Michelle, “Kalau begitu, jangan mengamuk lagi ya kalau kau terbangun nanti. Percayalah, semua orang yang kau lihat di depan matamu ketika kau membuka mata, mereka adalah orang-orang baik yang ingin membantumu terlepas dari rasa sakit ini.”
Setelah mengatakan itu Sarah yang sudah tidak kuat lagi menahan tangis segera berlari keluar entah kemana. Ellisa tidak sempat mengejar. Karena saat ia berbalik hendak mengejar, ternyata dokter yang tadi menangani Michelle masih berdiam diri di balik pintu seolah sedang menunggu para wali selesai dengan urusannya karena dia mau bicara. Yah, sayang sekali Sarah sudah kabur.
Sang dokter kemudian melangkah maju mendekati Ellisa. Ellisa yang merasa bersalah atas kaburnya Sarah, ia segera meminta maaf padanya.
“Sepertinya kau ingin bicara dengan Sarah,” ujarnya. “Maaf sudah membuang waktumu, dokter. Sarah masih terguncang. Jika perlu menyampaikan sesuatu sampaikanlah kepadaku. Aku juga wali Michelle.”
“Baiklah kalau begitu,” jawab sang dokter. “Aku hanya ingin mengatakan, kondisi mental Michelle saat ini tidak stabil. Sore ini kami akan mendatangkan psikolog untuknya. Kuharap Nyonya Brume tidak keberatan.”
Ellisa mendengus lemah mendengar itu. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Melihat kondisi Michelle yang terus mengamuk dan meracau seolah kejadian itu masih menimpanya, dia jelas membutuhkan ahli jiwa untuk menenangkannya.
“Selama itu demi kebaikan Michelle, aku yakin Sarah tidak akan keberatan. Aku akan bicara padanya nanti.”
“Baik, kalau begitu aku permisi,” pamit sang dokter.
Kini tinggal Ellisa seorang diri bersama Michelle yang sedang asik terlelap. Ia menatap anak malang itu sendu, lantas mencoba memasang senyum teduh.
“Aku akan membawakan teman untukmu supaya kau tidak merasa sendirian. Kau siap-siap ya, Kai pasti akan membuat telingamu penuh oleh celoteh berisiknya,” pesan Ellisa sebelum akhirnya ikut meninggalkan kamar rawat Michelle.
•••
Pukul dua siang. Terhitung dari waktu kedatangan Billy tadi malam, Winter sudah terbangun sebanyak empat kali. Sayangnya sudah empat kali juga dia harus mengalami kejang-kejang bahkan sampai mulutnya mengeluarkan busa. Pemicunya masih sama, yaitu setelah dia memandang rintik salju di luar.
Sejujurnya pemandangan itu membuat hati Billy terkoyak. Bahkan beberapa dokter yang sedikit mengerti urusan mental sudah mulai menduga-duga penyakit macam apa yang kemungkinan telah menyerang Winter akibat peristiwa yang dilaluinya tadi malam. Billy jelas merasa bersalah, karena ia lah penyebab putranya berkemungkinan menderita suatu gangguan mental yang akan mengubah hidupnya. Sebagai ayah tentu ia menyesal.
Namun dibalik itu, rupanya Billy sedikit diuntungkan dengan keadaan Winter saat ini. Ya, para polisi jadi enggan untuk menginterogasinya. Dengan begitu resiko ia akan tertangkap basah akibat kesaksian putranya sendiri pun jadi lumayan berkurang. Terlebih polisi tampaknya sudah mulai menemukan bukti-bukti kecil buatan Fredy mengenai alasan Winter berada di lokasi pabrik terbengkalai tadi malam. Dan itu tidak ada hubungannya dengan tragedi ciptaan Billy, alias yang telah menimpa Antony dan Michelle.
Sekarang masalahnya hanya tinggal meyakinkan Winter untuk tidak berkata apa-apa pada polisi. Tapi masalahnya, apa ia tega melakukan itu terhadap putranya sendiri? Sampai di sini saja rasanya Billy sudah ingin memotong lidahnya atau mencungkil matanya dengan pisau sebagai hukuman atas apa yang telah menimpa putranya karena ulahnya. Bagaimana ia bisa menyiksanya lebih jauh lagi dengan memintanya untuk bungkam? Ia akan benar-benar menjadi ayah yang jahat jika ia melakukan itu.
Tapi kalau tidak dilakukan, sia-sia sudah bukti-bukti kecil yang telah Fredy ciptakan untuknya sebagai pengalihan. Padahal itu tidak mudah dan tidak murah. Terlebih lagi masalah ini tidak hanya akan menyeretnya tetapi juga Fredy. Biar seberapa menyebalkan pun Fredy baginya, dia tetaplah rekannya yang paling ia hargai. Ia tidak mau menjerumuskannya ke dalam jeruji besi hanya karena Winter buka suara.
Maka dari itu pada akhirnya Billy terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ya, ia harus meyakinkan Winter supaya tetap tutup mulut. Ini akan menjadi pekerjaan tersulit baginya. Ia harus menyingkirkan naluri ayah dalam dirinya supaya Winter gentar dan benar-benar takut untuk buka suara. Kedengaran sangat kejam memang, tetapi ini harus dilakukan demi kepentingan banyak orang.
Di sini, di ruang rawat Winter Billy memandang putranya itu lamat-lamat. Barusan dia terbangun dan langsung meringkuk menghindar setelah menemukan keberadaan ayahnya. Melalui tatapannya Billy sudah dapat memastikan bahwa memang benar dia telah menyaksikan peristiwa itu. Padahal Billy berharap tidak. Barangkali malam itu terjadi peristiwa kejahatan lain di lokasi yang sama yang melibatkan Winter, ia jadi tidak harus menjadi sosok ayah yang jahat bagi Winter. Namun sayangnya tidak. Ia lah yang berperan sebagai penjahat di mata putranya sendiri. Sungguh mengenaskan.
“Kau menghindari Ayah?” tanya Billy basa-basi. “Kenapa?”
Winter jadi semakin gelisah setelah ditanya begitu. Dia bahkan tidak berani berkontak mata dengannya. Sakit sebenarnya melihat putranya sendiri takut dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menjadi sosok yang mengerikan di mata Winter.
“Kau takut pada Ayah?” tanya Billy lagi.
Winter tertunduk, napasnya terlihat mulai agak memburu pertanda kegelisahan yang semakin menjadi. Namun lagi-lagi ia masih bungkam.
Tak kunjung mendapat respon positif, Billy pun terpaksa mempertegas situasi. Ditatapnya Winter dekat-dekat sembari menunjukkan sorot ancaman padanya.
“Dengar, Winter,” katanya pelan namun terkesan mengintimidasi, “kau tidak melihat apa pun tadi malam. Kalaupun kau merasa telah melihat suatu kejadian menyeramkan, itu hanyalah mimpi buruk yang terjadi di kala kau terdampar di tengah tumpukan salju setelah meloloskan diri dari penculik. Kau mengerti?”
Kali ini Winter memberanikan diri menatap mata ayahnya. Namun ia langsung buru-buru menunduk lagi setelah mendapati tatapan menyeramkan dari Billy.
“Ayah bilang, kau mengerti bukan, Winter?” ulang Billy dengan nada suara yang terkesan semakin mengancam. Ia juga memperdekat tatapan tajamnya pada manik hazel putranya.
Winter yang takut pun langsung mengangguk. “A-aku mengerti,” jawabnya.
Billy tersenyum puas mendengar itu.
“Bagus. Tetaplah menjadi putra kebanggaan Ayah.” Billy mengelus pucuk kepala Winter. “Lupakan segala mimpi burukmu, karena itu hanyalah mimpi yang tidak boleh kau bawa ke dunia nyata. Kau tahu betul ayahmu ini tidak seperti yang terlihat dalam mimpi burukmu itu. Ayahmu ini adalah ayah terbaik di dunia. Dia bahkan membelikanmu banyak sekali kado pra natal. Setidaknya kau harus membalasnya dengan menuruti segala perkataannya. Benar begitu bukan?”
Sekali lagi Winter mengangguk takut. Tatapan dan nada bicara Billy sungguh terkesan mengancam baginya. Dan itu membuatnya tidak berani membantah. Terlebih setelah membayangkan ayahnya bisa melakukan hal yang sama terhadapnya seperti yang dia lakukan terhadap anak perempuan malang itu.
“Anak pintar.”
Itu adalah kalimat terakhir yang ayahnya utarakan kepadanya di siang menakutkan ini. Seumur hidup Winter, ia tak akan pernah melupakan pembicaraan yang membuatnya melihat sisi lain dari sosok ayah terbaik dalam hidupnya.
•••