Bab 9 - Rencana Pembersihan

1792 Words
Billy akhirnya tiba di rumah sakit. Sebelum benar-benar turun dari mobil untuk menghadap polisi, sekali lagi ia merenungi matang-matang apa saja kiranya percakapan-percakapan yang akan ia hadapi di dalam. Dengan memikirkan segala kemungkinannya, Billy dapat mengatur strategi terbaik mengenai bagaimana ia akan bersikap di hadapan para polisi nantinya. Pokoknya sandiwaranya kali ini harus lebih apik dari sebelumnya. Ini langsung masalahnya, polisi bisa jadi akan membaca segala kebohongannya. Ia harus lebih cerdik dan hati-hati dalam setiap ucapan maupun gerak-geriknya. Setelah merasa yakin ia sudah siap menghadapi segala sesuatu yang akan ia hadapi, Billy segera turun dari mobil. Ia melangkah terburu-buru menerobos area parkiran menuju pintu masuk rumah sakit. Tak lupa ia mulai berlakon layaknya seorang ayah yang panik bukan main setelah mendapat kabar putranya ditemukan oleh polisi dan dibawa ke rumah sakit. Namun di tengah langkahnya, ponsel Billy berdering, membuatnya terkejut dan refleks melontarkan kata-kata makian. Ia melihat nama yang tertera di layar, ternyata Fredy yang menelepon. Sungguh, membaca namanya di tengah situasi ini membuatnya semakin ingin membunuh rekannya yang tak berguna itu. Sebelum menjawab panggilan Fredy, Billy celingak-celinguk ke sekitar memastikan apakah ada pasang mata atau kamera yang bisa jadi akan menjadi sedikit bukti mengenai gerak-geriknya yang mencurigakan. Setelah memastikan semuanya bersih, Billy mencari tempat yang aman untuk menjawab panggilan Fredy. “Hallo? Billy, um, maaf aku tidak menjawab rentetan teleponmu. Dan maaf juga baru sempat menghubungi. Aku ... um, kau tahu, kadang kita perlu sedikit menghibur diri di pub untuk menetralisir adrenalin yang telah dipacu maksimal. Ya, kau tahu lah maksudku, hahaha.” Fredy berusaha menjelaskan keadaannya dengan harapan Billy tidak akan terlalu marah padanya. “Omong-omong, Billy, kau tidak akan membunuhku bukan?” Demi Tuhan, ingin sekali Billy mencekik Fredy detik ini juga. Berani-beraninya dia pamer habis menghibur diri sementara dirinya di sini sibuk seorang diri mengatur strategi supaya ia dan kompeninya tetap aman terkendali. Andai saja ia tidak sedang punya masalah yang harus ia hadapi, ia pastikan ia sudah mendatangi kediaman Fredy dan menggorok lehernya. Hah ... sayang sekali rekannya yang satu itu masih berguna baginya. “Simpan ceritamu untuk nanti, Fred. Karena ada hal yang lebih penting untuk kau lakukan dari pada sekedar berceloteh tidak berguna,” tukas Billy menahan kesal. “Ba-baik. Kau mau aku melakukan apa?” Billy berpikir cepat. Ia perlu Fredy untuk melakukan pembersihan diam-diam yang tidak boleh diketahui oleh kompeninya. Masalahnya ada Winter yang terlibat. Billy tidak mau putra semata wayangnya diperlakukan kejam apalagi sampai disingkirkan hanya karena dia mengetahui hal yang seharusnya tidak dia ketahui. “Dengar.” Billy mulai menjelaskan. “Telah terjadi sesuatu di luar dugaan kita. Putraku, Winter, dia ditemukan oleh polisi di area pabrik terbengkalai.” Mendengar itu, jelas saja Fredy di seberang terkejut bukan main. “Apa?! Bagaimana bisa?!” serunya “Aku belum tahu pasti. Maka dari itu aku harus segera membungkamnya sebelum polisi berhasil menginterogasinya. Dan kau, aku mau kau bantu aku melindungi Winter dari kompeni.” “Apa maksudmu?” Billy menjawab, “Jangan sampai kompeni tahu mengenai kejadian ini. Aku ingin kau melakukan pembersihan secara menyeluruh supaya orang-orang dalam tidak ada yang tahu mengenai keterlibatan putraku dalam insiden ini.” Pembersihan di sini maksudnya adalah, jangan sampai ada bukti yang menunjukkan keterlibatan Winter. Misalnya seperti rekaman CCTV mengenai bagaimana cara dia tiba di kawasan pabrik terbengkalai. Billy mau semuanya dibersihkan, alias dihapus lalu direkayasa seolah-olah Winter bisa ada di sana karena suatu alasan lain, seperti penculikan misalnya. Pembersihan juga dimaksudkan untuk membersihkan jejak kejahatan mereka dengan memunculkan beberapa oknum bayaran yang akan berlakon sebagai penjahat yang sebenarnya. Kedengarannya memang mustahil, tetapi Fredy mampu melakukannya. Dia punya orang-orang pribadi yang sengaja diperkerjakan untuk menjadi kambing hitam. Dengan bayaran yang tidak murah, juga perjanjian yang tidak sembarang tentu saja. Sebetulnya kompeni mereka juga memiliki sistem pembersihan, lebih menjanjikan malah. Tapi akan terlalu berbahaya jika Billy meminta kompeni untuk melakukan itu. Ia dan Fredy bisa dikecam habis, dimaki ceroboh dan tidak becus dalam beraksi, bahkan yang terburuk bisa disingkirkan—walaupun tidak akan semudah itu karena mendiang ayah Billy lah pemimpin kompeni ini dan rencananya akan segera diwariskan kepadanya tidak lama lagi. Tapi tetap saja, namanya kumpulan penjahat, tidak ada yang bisa dipercaya. Mereka bisa menyingkirkan Billy kapan saja selagi ia lengah. “Baik, akan segera kubereskan,” tukas Fredy. Setelahnya panggilan pun di tutup. Billy menghela napas. Satu masalah beres, pikirnya. Sekarang tersisa masalah inti yang harus ia bereskan sendiri. *** “Putraku! Di mana putraku!” Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi tegap berlarian dengan wajah panik di sepanjang koridor area kamar rawat inap VIP. Dia tampak sibuk mengintip setiap kaca pintu kamar rawat inap mencari keberadaan wajah yang dikenalinya. Ya, putranya. Dia mencari putranya yang katanya dirawat di salah satu ruangan yang ada di koridor ini. Merasa tahu siapa pria itu, Ronald dan Eden—dua polisi yang bertugas menjaga Winter—segera menghampirinya. “Apakah Anda Tuan Auxton?” tanya Ronald yang langsung menyita pandangan pria itu. Dia mengangguk. “Ya, aku Billy Auxton, ayah Winter. Di mana putraku? Apa dia baik-baik saja?!” tanyanya panik seraya mencengkeram kedua lengan Ronald dan menggoyang-goyangkannya. Alih-alih menjawab, Ronald melirik tidak senang pada tangan Billy yang menyentuh lengannya. Billy yang menyadari tatapan itu langsung menurunkan tangannya. “Maaf.” Setelah merapikan lengan bajunya yang agak berantakan dibuat Billy, Ronald memberi tahu, “Putra Anda ada di ruangan yang itu.” Billy menunjuk pada pintu nomor 203. “Saat ini kondisinya masih dalam pengaruh obat bius. Tadi dia sempat—” “Obat bius katamu?!” selang Billy dengan disertai raut panik buatan yang tampak begitu meyakinkan. “Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa putraku sampai harus dibius?!” “Tuan Auxton, harap tenang! Ini rumah sakit, sebaiknya Anda jangan membuat keributan di sini!” seru seseorang berseragam petugas yang baru saja muncul dari balik pintu kamar 203. Air mukanya tampak tegas nan karismatik, membuat siapa saja langsung tahu bahwa dia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari dua petugas yang lain tanpa harus melihat lencana yang bertengger di seragamnya. Ya, itu adalah Calvin sang inspektur yang baru saja melihat kondisi Winter. Billy diam-diam mengamati Calvin dibalik sandiwaranya. Ia punya firasat ia harus ekstra hati-hati di hadapan orang ini. Perlahan dan sesopan mungkin Billy mendekati Calvin. Tak lupa ia memasang tampang rasa bersalah serta hormat yang bercampur dengan rasa khawatir. Membuat ekspresi seperti ini sangat sulit sejujurnya. Tapi berkat kegigihan Billy dalam rencana pembersihan aksi bejatnya, ia mampu meyakinkan Calvin bahwa ekspresinya saat ini sungguh-sungguh, bukan rekayasa. “Inspektur, maaf jika kehadiranku berpotensi mengganggu ketenangan pasien lain,” ucap Billy. “Tapi bolehkah aku tahu apa yang telah terjadi pada putraku? Kenapa dia sampai harus dibius? Apa yang telah diperbuatnya sampai dia harus ditenangkan?” Calvin menghela napas iba melihat kekhawatiran yang terpancar di mata Billy. Pikirnya, Billy pasti sangat terkejut mendengar putranya ditemukan oleh polisi di lokasi kejahatan telah terjadi malam ini. Kalau ia ada di posisi Billy, ia juga pasti akan sangat kalut mendapati putranya terlibat dalam sebuah kasus yang lumayan pelik. Calvin jadi tidak tega memberi tahu detailnya pada Billy. “Bagaimana kalau kita bicarakan ini nanti setelah Anda melihat kondisi putra Anda?” tawar Calvin. Billy mengangguk. “Baiklah.” Calvin memberi isyarat untuk mengajak Billy menuju ruangan Winter. Tanpa banyak protes Billy langsung mengikuti langkahnya. Tenang, teduh. Itulah dua kata pertama yang terlintas dalam benak Billy begitu melihat wajah putra kecilnya yang sedang terlelap pulas. Namun saat menemukan ada bekas sembab di bawah matanya, hati Billy langsung terkoyak. Winter habis menangis? Apa dia mengalami trauma? Pikiran itu membuatnya merasa takut serta bersalah. Pada detik ini, naluri ayah dalam dirinya seolah sedang berapi-api menyalahkan dirinya atas kecerobohannya yang tidak sengaja membiarkan Winter terlibat dalam kasus besar ini. Sekarang Billy jadi berpikir, kalau ternyata dugaannya benar bahwa Winter menyaksikan aksi bejatnya, sebesar apa rasa trauma yang didapatinya? Seharusnya hal ini lah yang ia khawatirkan pertama kali saat mengetahui Winter ditemukan di kawasan pabrik terbengkalai, alias tempat di mana ia melakukan aksi kejinya. Tapi alih-alih ia malah mengkhawatirkan dirinya sendiri. Sungguh ia merasa telah menjadi ayah paling buruk di dunia ini. Billy melangkah maju mendekati Winter lantas membelai wajah putranya lembut. Ia hampir menangis, kali ini bukan sandiwara. Ia sungguh-sungguh merasa buruk menjadi sosok ayah Winter. Mau menyesal pun tidak berguna. Sudah takdirnya menjalani pekerjaan keji ini. Ia tidak bisa mengelak walaupun terkadang ia ingin keluar dari zona merah ini. “Telah terjadi kasus pelecehan dan pembunuhan tidak jauh dari lokasi tempat ditemukannya Winter.” Calvin mulai menjelaskan masalah yang tengah terjadi demi memecah kesedihan Billy. Billy langsung fokus mendengarkan dan kembali berkutat dengan lakonnya. “Kondisinya pun tampak tidak baik saat itu,” lanjut Calvin seraya menatap Billy. “Ma-maksudnya?” “Putra Anda mengalami epilepsi dan hipotermia ketika ditemukan. Saat tim kami mencoba menginterogasinya perihal apa yang sebenarnya telah dialaminya, dia tampak terganggu dan berujung kembali mengamuk dan kejang-kejang, setelah sempat melihat salju lewat jendela.” jawab Calvin yang langsung membuat Billy menegang. “Itulah alasan mengapa putra Anda harus dibius.” “Ya Tuhan, putraku ....” Billy merespon setengah berlakon, setengah betulan. “Kami menduga kuat Winter telah menjadi saksi atas peristiwa kejahatan yang terjadi di lokasi itu. Maka dari itu kami berniat untuk meminta izin Anda selaku ayah Winter untuk menginterogasinya lebih lanjut.” Mendengar itu, Billy langsung mendelik marah. “Apa kau bilang?! Menginterogasi?! Yang benar saja, dia masih sepuluh tahun!” seru Billy. Dadanya naik turun menahan amarah. “Apa yang kau harapkan dari kesaksian anak sepuluh tahun yang bahkan sedang mengalami trauma?! Kau sungguh tidak punya hati, inspektur!” Calvin masih tampak tenang di posisinya. “Aku minta maaf jika permintaanku menyinggung Anda,” ujarnya. “Tapi coba pikirkan, Tuan Auxton. Kesaksian Winter bisa jadi akan mengungkap pelaku p*******a yang sedang kami incar selama beberapa tahun terakhir. Kesaksian Winter bisa jadi akan menyelamatkan banyak anak lain yang berkemungkinan menjadi korban berikutnya. Aku harap Anda mempertimbangkan hal tersebut, Tuan Auxton.” Alih-alih terbujuk, Billy semakin berapi-api. Matanya mengilat marah, napasnya semakin memburu seperti banteng yang siap menerjang bendera merah. Namun dibalik topeng itu, ada rencana yang sedang bekerja di sisi lain otaknya. Ya, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menghindar dari masalah. Billy pun mengepalkan tangan kuat-kuat, kemudian menunjuk pintu keluar. “Keluar,” ucapnya pelan, nadanya kentara sekali menunjukkan kalau dia sedang berusaha menahan amarah. “Aku tidak ingin membuat ribut. Putraku sedang tidur.” Calvin yang mengerti Billy sedang marah, ia tidak mencoba membujuknya lebih lanjut. “Baik. Tapi aku akan datang lagi besok untuk menanyakan hal yang sama. Kuharap Anda mempertimbangkannya, Tuan Auxton.” Setelah mengucapkan itu Calvin pergi meninggalkan ruangan. Billy pun akhirnya bisa menghela napas lega karena bisa terbebas dari tekanan sandiwara ini. Namun ia punya firasat, bahwa kelegaannya tidak akan bertahan lama. Ia masih harus mencari cara untuk membersihkan semuanya secara permanen. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD