Billy masih sibuk mondar-mandir gelisah di kediamannya sambil beberapa kali mencoba menghubungi seseorang. Tapi betapa mengesalkannya, orang yang ia hubungi tak kunjung menjawab panggilannya padahal situasi genting sedang terjadi. Ia sampai memaki dan menendang barang-barang kecil di sekitar aula utama rumah besarnya demi melampiaskan kekesalannya. Ia bersumpah dalam hati ia akan membunuh Fredy ketika ia bertemu dengannya nanti. Ya, rekannya yang satu itu lah yang sedang ia coba hubungi sedari tadi. Ia perlu berdiskusi soal hilangnya Winter dengannya.
“Argh! k*****t itu! Kenapa dia tidak menjawab teleponku?!” geramnya.
Billy kemudian mencoba mengatur napas demi mengontrol emosi. Di saat seperti ini kepala dingin sangat diperlukan supaya ia bisa segera menemukan solusi.
Kini Billy merenung. Dalam seumur hidupnya, tidak pernah ia merasa secemas dan segelisah ini sebelumnya. Walaupun keluarganya secara turun-temurun menjalani bisnis ilegal yang mewajarkan setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk selalu merasa cemas dan gelisah, tetapi Billy tidak pernah merasa begitu. Ia bahkan tidak takut suatu hari polisi akan meringkusnya, karena ia tahu kompeninya sangat cerdik dan hati-hati dalam menjalani bisnis ini.
Namun kali ini sepertinya ia agak ceroboh. Dengan menghilangnya Winter, ia curiga jangan-jangan ia telah membiarkan putra kecilnya mengetahui kebusukannya. Ini gawat. Bagaimana jika Winter ditemukan oleh polisi dan membongkar aksi kecilnya dua jam lalu? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Pokoknya Billy harus segera menemukan Winter sebelum polisi menemukannya.
Billy pun akhirnya membuat keputusan. Ya, biar ia sendiri yang akan mencari putranya.
Diambilnya kembali kunci mobilnya yang tadi ia lempar sembarang ke sofa ketika baru tiba di rumah. Tapi saat baru saja tiga langkah kakinya berjalan menuju pintu, ia teringat akan sesuatu. Betul, tidak mungkin ia membawa mobil yang sama dengan mobil yang tadi digunakannya untuk berkendara ke area pabrik terbengkalai. Bisa-bisa ia akan langsung tertangkap basah jika ternyata situasi mengharuskannya untuk berhadapan dengan polisi.
Maka dari itu ia segera berbalik arah menuju ruang kerjanya lantas menukar kunci mobil yang ada di tangannya dengan kunci mobil lain. Setelahnya ia langsung buru-buru melangkah ke garasi untuk memulai pencarian putranya yang hilang.
Sebenarnya pada situasi ini hati kecil Billy merasa bersalah pada Winter. Bagaimana tidak, seharusnya ia mencemaskan keadaan putranya terlebih dahulu di samping nasib dirinya beserta kompeninya yang terancam ketahuan. Rasanya ia telah menjadi ayah paling jahat di muka bumi ini.
Bayangkan, Winter bisa ada di mana saja saat ini. Kemungkinannya bukan hanya yang sedang Billy takutkan saja. Winter tidak ada di rumah, bisa jadi dia sedang iseng berkeliling di sekitar kompleks. Atau parahnya, jangan-jangan ada perampok yang datang ke rumah saat Billy pergi lalu menculik Winter untuk dimintai tebusan. Seharusnya Billy sebagai ayahnya mengkhawatirkan kemungkinan itu. Tapi entahlah, di saat panik seperti ini naluri ayah dalam dirinya seolah hilang terhisap oleh nalurinya sebagai penjahat yang sedang takut akan ketahuan bejatnya.
Billy menghela napas frustasi ketika baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kemudi Ford abu-abu miliknya. Setelah memikirkan kemungkinan Winter sedang diculik, ia jadi semakin merasa buruk. Tapi ini bukan saatnya untuk merenungi keburukannya sebagai seorang ayah. Ini saatnya ia waspada akan segala kemungkinan. Ya, ia harus berpikiran objektif di saat seperti ini. Semuanya harus segera ia bereskan, tak terkecuali. Tidak ada prioritas karena segala hal yang genting adalah prioritas baginya.
Sekali lagi Billy mengembuskan napas, kali ini sebagai penguat diri. Setelahnya ia memfokuskan konsentrasi, lantas menyalakan mesin mobil dengan yakin. Ia pasti bisa membereskan segalanya seorang diri. Toh ia sudah biasa melakukannya sejak remaja.
Namun, ketika baru saja Billy hendak menekan pedal gas, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Awalnya ia pikir itu Fredy yang menelepon untuk meminta maaf karena mengabaikan teleponnya atau sekedar menanyakan masalah yang sedang terjadi. Tapi saat melihat nomor yang tertera di layar adalah nomor asing, Billy menegang. Siapa ini? Ia hampir tidak pernah mendapat telepon anonim. Jangan-jangan ....
Billy meneguk salivanya. Ia mencoba menenangkan diri sambil bersiap menjawab panggilan tersebut dengan senormal mungkin. Sebelum benar-benar menekan tombol hijau di layar ponselnya, Billy merenungkan reaksi seperti apa yang kiranya normal terjadi pada dirinya pada detik-detik ini.
Cemas. Betul, ia sedang mencemaskan keberadaan Winter saat ini. Berarti nadanya harus terdengar selayaknya seorang ayah yang sedang panik atas hilangnya putra semata wayangnya.
Billy pun sudah siap menekan tombol hijau di layar ponselnya.
“Selamat ma—”
“Siapa ini?!” Billy langsung memotong lawan bicaranya di seberang telepon. Nadanya sarat akan rasa kalut panik dan cemas, ia sukses memerankan sandiwaranya dengan apik. “Ah, lupakan. Siapa pun ini, apa kau tahu di mana putraku?! Bisa kau bantu aku mencari putraku? Namanya Winter, usia sepuluh tahun, tingginya sekitar lima puluh tiga inci. Dia mengenakan—”
“Tuan, harap tenang,” sasar seseorang di seberang telepon memotong balik tuturan Billy yang tak karuan. “Kami dari kepolisian.”
Kalimat terakhirnya sukses membuat Billy terpaku di tempatnya. Benar ternyata dugaannya, ia akan berhadapan dengan polisi. Untung saja ia tidak gegabah dan memutuskan untuk sedikit bermain sandiwara.
“Po-polisi?!” Billy kembali memainkan peran. “Ada perlu apa kalian menghubungiku di waktu dini hari seperti ini? Ja-jangan kalian ... Ya Tuhan, putraku?! A-apa dia ada bersama kalian?!”
“Tenang dulu, Tuan.” Sang polisi di seberang rupanya termakan sandiwara Billy. “Betul, putra Anda, Winter, ada bersama kami. Dia sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Kami menemukannya tergeletak di sebuah lokasi tindak kejahatan terjadi sekitar tiga jam lalu. Kondisinya agak kurang baik, sebaiknya Anda segera datang menemui putra Anda. Sekalian kami juga perlu menanyai beberapa hal terkait kasus kejahatan yang secara tidak sengaja telah melibatkan putra Anda.”
“Apa ... putraku .... Ba-baik, aku segera ke sana.”
Billy buru-buru mematikan panggilan. Ia merasa sangat terkejut dengan informasi yang barusan didengarnya sampai rasanya hampir saja ia kehilangan kendali akan sandiwaranya. Benar rupanya, Winter mengikutinya sampai ke pabrik terbengkalai. Bodoh, kenapa ia bisa tidak menyadari keberadaannya? Bagaimana cara Winter mengikutinya sampai ke tempat itu tanpa ketahuan? Dan apa dia menyaksikan semuanya?
Gawat. Benar-benar gawat. Jangan sampai Winter memberikan keterangan saksi. Bisa kacau semuanya kalau itu sampai terjadi. Billy harus segera menemui putranya, sebelum terlambat.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, Billy mengesampingkan keterkejutannya, lantas segera menancap gas menuju rumah sakit tempat Winter dirawat.
***