Lelah, benar-benar lelah. Saking lelahnya, tubuh Sarah saat ini sudah seperti seonggok raga tanpa jiwa yang hanya bisa duduk mematung dengan pandangan kosong. Sementara jiwanya melayang jauh entah kemana setelah mati dihantam beban tragedi kelam yang menimpa sumber sinar kehidupannya, alias Michelle dan Antony. Kini Sarah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk menangis pun ia sudah tidak sanggup. Karena sumber air matanya yang telah terbendung selama beberapa tahun terakhir lantaran ia menjalani hidup bahagia, kini telah jebol parah lantas mengering akibat terbakar oleh api yang membara dalam batinnya.
Di saat seperti ini, rasanya Sarah ingin mati saja menyusul belahan jiwanya yang telah pergi lebih dulu menghadap sang Ilahi. Walaupun ia sadar masih ada Michelle di sini yang sangat membutuhkan kehadirannya, tetapi rasanya Sarah tidak cukup kuat untuk membangun kepercayaan putrinya kembali seorang diri. Ia membutuhkan Antony, sosok yang ia tahu paling bisa membawa senyum Michelle kembali.
Selama enam tahun hidupnya, sosok terdekat dan paling berharga bagi Michelle adalah ayahnya, bukan ibunya. Sarah sadar diri bahwa ia terlalu terobsesi dengan karirnya sebagai model sampai sering kali mengesampingkan keluarganya dibanding pekerjaannya. Walaupun Antony maupun Michelle tidak pernah sekalipun memprotes—mereka bahkan selalu mendukungnya—tetapi tetap saja Sarah merasa telah menjadi sosok istri dan ibu yang buruk bagi suami dan putrinya. Dan betapa mengenaskannya, Sarah sudah tidak punya kesempatan untuk bisa memperbaiki diri. Semesta sudah terlanjur merenggut beberapa hal yang harusnya menjadi saksi atas perubahannya. Sungguh Sarah menyesal baru menyadari keburukannya di saat tragedi kelam menimpa keluarga kecilnya.
Jika saja Sarah diberi pilihan untuk merubah takdir, ia akan meminta pertukaran nasib dengan Antony. Biar ia saja yang pergi, karena ada atau tidaknya dirinya tidak akan berpengaruh apa pun bagi Michelle. Putrinya akan cepat melupakannya lantas hidup bahagia bersama ayahnya. Mungkin mereka akan menghabiskan hidup dengan berlatih piano bersama, atau menonton berbagai pertunjukkan teater sambil tertawa riang tanpa beban. Mereka tidak akan merasa terbebani walau tidak ada Sarah di sisi mereka. Toh biasanya Sarah hampir tidak pernah hadir dalam acara-acara semacam itu. Ya, ia betul-betul tidak berguna.
Memikirkan itu membuat d**a Sarah kembali memanas. Lalu rasa panas itu menjalar naik ke atas dan berhenti di pelupuk mata, menciptakan genangan yang membanjir hingga mengalir di pipi. Rasanya menangis setelah sumber air mata mengering sungguh lebih menusuk dibanding saat masih baru. Sampai Sarah harus menekan kencang dadanya untuk meredakan rasa sakit yang menumpuk di sana.
Saat Sarah melakukan itu ternyata bertepatan dengan Ellisa yang baru saja keluar dari ruangan dokter untuk menggantikan Sarah berbicara dengan dokter perihal kondisi Michelle. Sebelumnya ia juga mewakilkan Sarah mengurus proses autopsi Antony. Kebetulan inspektur yang menangani langsung kasus ini adalah sepupunya, Calvin.
Ellisa ikut duduk di samping Sarah seraya menatapnya prihatin. Ia tidak berusaha menghiburnya, karena ia tahu tragedi ini terlalu menyakitkan untuk bisa dihibur dengan kata-kata. Malahan menurutnya, akan menjadi sebuah penghinaan bagi Sarah kalau Ellisa mengucapkan kalimat-kalimat penghibur. Jadi yang ia lakukan hanya memeluk dan menepuk bahu Sarah untuk membagi kekuatan padanya supaya ia bisa tetap waras dalam kondisi sepelik ini.
“Menangislah, tidak apa,” ujar Ellisa di tengah pelukan hangatnya. Saat ini matanya juga sudah ikut berkaca-kaca turut meratapi kesedihan sahabatnya. “Kau memang pantas menangis dalam kondisi sepelik ini.”
Mendengar itu tangis Sarah semakin menjadi. Ia sampai menjatuhkan kepalanya sepenuhnya di atas bahu Ellisa. Ia benar-benar tidak sanggup menopang rasa sakit ini seorang diri.
Ellisa yang menyadari hal itu tidak keberatan sama sekali. Malahan ia semakin mengencangkan pelukannya pada Sarah sebagai isyarat kalau ia ada di sini untuk Sarah. Ia bahkan bersedia ikut merasakan sakit jika itu bisa meringankan beban Sarah. Ya, memang sebesar itu rasa sayangnya terhadap Sarah sahabatnya. Karena Ellisa tahu Sarah juga akan melakukan hal yang sama kepadanya jika ia ada di posisi Sarah.
“Apa seperti ini rasa hancur yang kau rasakan saat mendapat kabar kecelakaan Dokter Kim enam tahun lalu?” Sarah bertanya di sela tangis pilunya.
Diingatkan kembali soal tragedi yang menghilangkan nyawa suaminya enam tahun silam, air mata Ellisa membanjir. Namun ia menggeleng menjawab pertanyaan sahabatnya. Walaupun itu adalah tragedi terkelam dalam hidupnya, di mana ia mendapat kabar buruk di saat seharusnya ia tengah berbahagia atas kelahiran putranya, tetapi tetap saja itu tidak sebanding dengan apa yang telah terjadi pada keluarga Sarah. Rasa hancur yang Sarah rasakan pasti sangatlah pelik. Dia mampu bertahan, itu adalah sebuah keajaiban. Kalau Ellisa jadi Sarah, ia pasti sudah pingsan berkali-kali akibat tidak mampu bernapas lalu memilih bunuh diri demi mengurangi rasa sakit yang menyerang bertubi-tubi.
“Apa yang menimpaku waktu itu jelas tidak sebanding dengan apa yang menimpamu saat ini. Maka dari itu kau boleh menangis sejadi-jadinya asalkan itu bisa mengurangi rasa sakitmu,” tutur Ellisa sambil menahan sesenggukan.
“Tapi ini tidak berhasil, Ellisa. Batinku tetap terasa sangat-sangat sakit, bahkan sampai membuatku ingin menusuk jantungku supaya tidak terasa sakit lagi.”
Mendengar itu, Ellisa sontak melepas pelukannya lantas mendelik tajam pada Sarah.
“Apa yang kau katakan?!” serunya. “Kau tidak boleh berkata seperti itu! Ingat, kau masih punya Michelle yang membutuhkan kehadiranmu.”
Sarah menggeleng. Ia membalas tatapan Ellisa dengan sorot yang sarat akan rasa pilu mendalam.
“Tidak ... Michelle lebih membutuhkan ayahnya dari pada aku, Ellisa. Aku ini ibu yang tidak berguna baginya. Akulah yang harusnya ma—”
“Sstt!” Ellisa menempelkan telunjuknya di bibir Sarah. “Jangan kau berani-beraninya mengucap kata haram itu!”
Sarah hanya menatap Ellisa sendu saat iris biru sahabatnya berkilat tajam memandangnya. Ia lantas tertunduk sesenggukan melanjutkan tangisnya. Sampai kemudian Ellisa kembali melontarkan kata-kata untuknya.
“Dengar, Sarah. Yang membutuhkan kehadiranmu di sini bukan hanya putrimu, tetapi juga aku! Bukankah kita sudah berjanji akan menikahkan putra putri kita saat mereka dewasa nanti?” Ellisa terdiam sejenak untuk melihat reaksi Sarah. Sahabatnya itu masih sesenggukan, tetapi tangisnya sudah sedikit mereda.
Ellisa pun melanjutkan, “Untuk melaksanakan janji itu, kau harus bertahan, Sarah. Kita sama-sama tahu bahwa kita sama-sama menginginkan putra putri kita bersanding bersama di hadapan pendeta, mengenakan gaun pengantin dan tuksedo dari desainer kesukaanmu, Megan Wilen. Kau masih ingat itu bukan? Maka dari itu kumohon kuatlah. Aku menantikan momen itu bersamamu.”
Setelah mengucapkan itu Ellisa kembali menangis, kepalanya jatuh di atas bahu Sarah. Sarah yang turut merasakan emosinya pun jadi ikutan menangis lantas kembali memeluknya.
Kini tanpa sadar mereka menghabiskan sisa malam dengan menangis dan menangis. Berharap air mata dapat menambal lubang besar yang ada di hati Sarah.
***
“Kalian sudah menghubungi pihak keluarga anak laki-laki itu?” Calvin yang baru saja tiba di depan kamar rawat Winter bertanya pada dua rekannya yang bertugas mengurus serta menjaga Winter selama proses penyelidikan berlangsung. Mereka tampak sedang sibuk meneliti beberapa lembar kertas informasi ketika Calvin datang.
Menyadari keberadaannya, kedua rekannya yang tak lain adalah Ronald dan Eden pun langsung berdiri dari duduk mereka untuk memberi penghormatan kepada sang inspektur sebelum memberikan jawaban.
“Belum, Inspektur. Kami baru saja menerima data keluarga anak itu dari kantor. Kami masih memeriksanya,” jawab Ronald.
Calvin berdecak jengkel mendengar jawaban itu. Menurutnya kedua rekannya ini terlalu lamban dalam bekerja. Yang benar saja, mereka punya banyak waktu untuk sekedar menanyai kontak keluarga anak itu ketika dia siuman, lantas kenapa harus meminta data dari kantor yang jelas-jelas memakan waktu? Apa sesulit itu menanyakan kontak orang tua anak itu langsung padanya? Sebenarnya apa yang mereka lakukan sedari tadi?
Namun walau begitu Calvin memilih untuk menghela napas, berusaha mengusir rasa jengkel dan kesal dalam batinnya yang ia yakini dapat berubah menjadi pisau tajam nan mematikan jika sudah menjalar sampai ke mulut. Sementara Ronald dan Eden yang menyadari amarah atasannya hanya bisa tertunduk ciut seraya menunggu pengampunan.
“Ya sudah lakukan dengan cepat, habis itu segera minta pihak keluarganya supaya datang kemari. Kita perlu izin darinya untuk menginterogasi anak itu lebih lanjut. Bagaimanapun hanya dia satu-satunya saksi kunci atas kasus ini.” Perintah Calvin serius.
Ronald dan Eden mengerti. Sebagai isyarat formalitas mereka sekali lagi memberikan penghormatan kepada Calvin sambil berseru, “Siap, Komandan!”
Calvin membalas penghormatan itu dengan anggukkan takzim. Sebelum akhirnya pamit undur diri untuk mengurus hal lain yang tak kalah penting.
***