Bab 6 - Dugaan Sang Ayah

1104 Words
Di sudut lain dari kesibukan yang mengitari para korban, Billy sang pelaku utama justru tampak tenang. Ia mengendarai mobilnya begitu santai tanpa beban, seolah tidak pernah melalui malam mengerikan yang ia ciptakan. Padahal Billy sedang dalam pelarian. Harusnya ia panik, takut akan ada polisi yang mengejarnya sampai ke titik ini. Tapi tidak, Billy menyetir menuju kediamannya seolah ia hanya warga biasa yang sedang berusaha menembus badai salju supaya bisa segera sampai ke rumah dengan selamat dan menemui putra kesayangannya yang sedang berulang tahun. Bahkan di bagasi mobilnya sudah penuh berbagai macam kotak hadiah yang ia janjikan kepada putranya. Billy tampak begitu antusias dengan pesta kecil ini, tanpa memedulikan resiko dari pesta besar yang ia hadiri sekitar tiga puluh menit lalu. Billy tampak tenang seperti ini bukannya tanpa alasan. Ia sudah membereskan semuanya, ia sangat ahli dalam hal satu itu. Tadi saat suara sirine mobil polisi mengitari tempat pesta itu, dengan gerakan cepat dan sigap Billy beserta Fredy rekannya bergegas pergi tanpa meninggalkan jejak apalagi barang bukti. Mereka pergi menggunakan mobil milik Billy, melalui jalur belakang yang terhalang pagar besar yang kuncinya ada di tangan Fredy. Memang sempat ada beberapa polisi yang menangkap pelarian mereka. Tapi para polisi itu gagal mengejar karena pagar sudah terlanjur dikunci kembali oleh Fredy. Untuk mencapai titik di mana Billy dan Fredy berada, polisi harus memutar sangat jauh. Tindakan itu tentu sangat tidak efisien. Akan lebih bagus jika mereka menghancurkan pagar saja daripada mencari jalan memutar. Tapi tetap saja tindakan itu akan memakan waktu. Sehingga Billy dan Fredy punya cukup waktu untuk kabur. Lalu bagaimana dengan nasib mobil Billy yang sempat terlihat oleh para polisi? Mereka pasti sudah mencatat nomor pelat mobilnya untuk mencari identitasnya. Mengenai hal itu Billy juga penasaran, apakah mereka mampu menangkapnya hanya dengan bermodalkan informasi itu? Lihat saja nanti. Billy tersenyum miring memikirkannya. Kembali ke waktu saat ini, kini akhirnya Billy telah sampai di kediamannya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapih di garasi serta membawa dua kantong super besar berisi kado-kado untuk putranya, Billy berlari kecil masuk ke dalam rumah. Ia meneriaki nama putranya dengan begitu bersemangat. “Winter, Ayah pulang!” serunya. Namun hening, tidak ada jawaban. Mungkin Winter sudah tidur, pikirnya. Billy pun menyusun semua kotak hadiah yang ia bawa di bawah pohon natal indah yang berdiri di tengah-tengah aula rumah besarnya. Ia menatap puas pada pemandangan di hadapannya. Pikirnya Winter pasti akan senang sekali melihat pohon natal mereka sudah dikelilingi banyak kado. Billy jadi tidak sabar ingin segera membangunkannya untuk memulai pesta kecil ini. Pokoknya, malam ulang tahun Winter kali ini harus sangat berkesan baginya, Billy bertekad. Setelah puas menikmati kejutan ciptaannya untuk Winter, Billy melihat arloji di tangannya. Pukul 1.40 dini hari, artinya sudah dua jam ia pergi. Ia berjanji akan pulang sebelum pukul dua. Dan ia berhasil menepatinya walau tadi terjadi hal yang tidak terduga. Sekarang waktunya untuk membangunkan Winter. Billy pun kembali berlari kecil, kali ini menaiki tangga menuju kamar Winter. Setelah tiba di sana, ia mengetuk pintunya pelan. “Winter, Ayah pulang,” ucapnya. “Kau tidak melupakan pesta kecil kita bukan?” Namun lagi-lagi hening, tidak ada jawaban dari putra semata wayangnya. Membuat kening Billy berkerut heran, tumben sekali Winter sulit dibangunkan. Padahal biasanya hanya dengan satu kali panggilan Winter akan langsung terjaga. Terlebih kalau dia tahu akan ada momen menggembirakan yang menyambutnya, Billy ragu dia akan benar-benar tertidur. Winter pasti akan memilih terjaga sambil menunggu momen itu datang. Tidak mau menyerah, diketuknya pintu kamar putranya sekali lagi. Barangkali dia ketiduran karena terlalu antusias menunggu kepulangan ayahnya, siapa tahu ‘kan. “Hei, jagoan, sampai kapan kau mau terus berkutat dengan bantal? Ayolah bangun, di luar ada hal yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar tidur. Kau tidak mau melewatinya bukan? Oh! Kecuali kalau kau ingin Ayah saja yang membuka kado-kadomu?” Harusnya sekarang Winter akan langsung terjaga dari tidurnya. Billy tahu betul dia sangat tidak suka jika ada yang mengusik kado-kado miliknya. Dia akan marah kalau ada satu saja kado di rumah ini yang dibuka oleh orang lain. Tapi anehnya Winter tidak juga keluar dari kamarnya. Oke, kali ini sudah tidak wajar. Ada yang tidak beres dengan putranya, tebak Billy. Tanpa menunggu lagi kali ini Billy langsung membuka kamar Winter. Pemandangan gelap menyambutnya kala pintu itu terbuka. Billy pun segera menyalakan tombol lampu. Penampakan seonggok tubuh tertutup selimut langsung terpampang jelas di atas ranjang. Billy menghampirinya sambil tersenyum teduh. Ternyata putranya hanya sedang terlelap. Padahal tadi ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Hah ... pikirannya jadi terlalu berlebihan akibat pekerjaannya yang menuntutnya untuk punya pikiran luas ke segala arah. Padahal semua hal tidak selalu serumit yang ada dalam pikirannya. Seperti soal Winter misalnya. Namun pemikiran itu langsung pecah belah begitu indra peraba di tangannya menangkap sebuah kejanggalan kala ia bermaksud untuk mengelus kepala putranya dari lapisan luar selimut. Empuk, benda ini terlalu empuk untuk sebuah kepala manusia. Billy pun tanpa banyak pikir langsung menyingkap selimut yang menutupi seonggok tubuh itu, yang ternyata isinya hanyalah serangkaian bantal guling yang dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai tubuh manusia. Sialan, ia telah dibodohi oleh putranya sendiri. Untuk apa sebenarnya Winter melakukan ini? Dan di mana dia sekarang? Dengan rasa marah bercampur khawatir Billy bergegas keluar kamar lantas mulai menyisir seluruh area rumah untuk menemukan keberadaan Winter. Ia tak hentinya memanggil-manggil nama putranya di sepanjang pencarian. Namun nihil, Winter tidak ditemukan di mana pun. Membuatnya frustasi bukan main dan mulai menduga-duga beberapa kemungkinan terburuk. Sambil berpikir, Billy sekali lagi berteriak, “Winter, ini sama sekali tidak lucu! Cepat tunjukkan dirimu! Ayah sudah lelah bermain petak umpat seperti ini!” Lagi-lagi hening, hanya kesunyian malam yang menyambutnya di tengah kepanikan ini. Billy berpikir keras sambil mondar-mandir tak tentu arah. Ia kemudian kepikiran untuk menghubungi pengasuh Winter yang sudah pulang dari pukul lima sore tadi, Arash McKendle. Tut, tut ..., suara dering nada tunggu yang cukup lama terdengar membuat Billy semakin gugup, takut kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap putranya. Tapi syukurlah akhirnya Arash menjawab panggilannya walau ia harus menunggu sampai empat kali panggilan. Billy pun langsung bicara, “Ah, Nyonya McKendle, maaf mengganggu tidurmu. Tapi aku harus menanyai soal Winter. Apakah dia ada bersamamu saat ini?” “Apa? Winter? Di tengah malam begini? Tentu saja tidak, Tuan Auxton,” jawab Arash di seberang yang langsung membuat Billy lemas. “Be-begitu? Kau yakin sudah memastikannya dengan betul?” tanya Billy lagi terdengar panik. “Tentu sa—Tuan, ada apa ini sebenarnya? Apa Winter tidak ada di rumah?” Billy mengusap wajah frustasi. Ia memutuskan untuk menutup telepon dan memikirkan sendiri jalan keluar dari masalah ini. Karena sejujurnya, pikirannya mencurigai sesuatu yang sedari tadi berusaha tidak dihiraukannya. Bahwa jangan-jangan Winter diam-diam ikut bersamanya ke kawasan pabrik terbengkalai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD