Bab 5 - Interogasi

1638 Words
Masih di lokasi yang sama, yaitu rumah sakit tempat di mana Michelle kecil dan mendiang ayahnya ditangani, anak laki-laki yang ditemukan bersama Michelle di sekitar kawasan pabrik terbengkalai—yang tak lain adalah Winter—tengah ditangani juga di ruangan yang berbeda. Kondisinya tidak lebih baik dari Michelle, bahkan lebih buruk jika dilihat dari kacamata luar. Ia pingsan setelah mengalami kejang di sepanjang perjalanan. Gejala hipotermia yang tadi sempat menyerangnya pun masih belum hilang sepenuhnya. Membuatnya harus terlelap sambil sesekali menggigil kedinginan. Saat ini Winter masih belum sadar dari pingsannya, sehingga para polisi belum bisa menghubungi pihak keluarganya. Rasanya kasihan memang, harusnya di saat seperti ini yang paling dia butuhkan adalah pelukan hangat dari orang tua. Tapi mau bagaimana lagi, anak laki-laki itu tidak membawa identitas apa pun di tubuhnya saat ditemukan. Mangkanya polisi hanya bisa mengandalkan bertanya langsung padanya saat dia sudah bangun nanti. Sambil menunggu kesadarannya, para polisi sibuk berdiskusi menerka-nerka kira-kira seberapa persen kemungkinan Winter merupakan salah satu saksi kunci peristiwa naas yang menimpa Michelle dan Antony. Melihat dari kesamaan waktu dan lokasi, serta kondisi saat dia ditemukan, rasanya terlalu janggal jika dia tidak berkaitan dengan insiden tersebut. Tapi tentu saja ini masih dugaan tanpa dasar. Jawaban pastinya baru akan mereka dapatkan ketika Winter sudah bangun nanti. Ah, itu pun kalau dia tidak terlalu syok untuk bisa diinterogasi. Setelah menunggu sekitar setengah jam, dokter yang menangani Winter akhirnya keluar dari ruangan dan menghadap dua orang petugas berseragam navy yang sedari tadi berjaga di depan. Kedua petugas itu pun yang semula duduk berdiskusi langsung berdiri tegak antusias. “Anak itu sudah sadar.” Sang dokter memberi tahu. “Tapi kondisinya belum stabil. Sepertinya dia baru saja mengalami suatu kejadian traumatis yang membuatnya syok berat. Mangkanya tubuhnya kejang hebat saat dibawa kemari.” Kedua petugas yang mendengar itu mengangguk sekali mencerna informasi dengan saksama. Lantas salah satunya bertanya, “Apa kami sudah boleh menginterogasinya?” “Boleh saja. Tapi sebaiknya jangan terlalu memaksakan. Kondisi mentalnya bisa jadi akan memburuk jika ditanya soal sesuatu yang membuatnya syok.” Sekali lagi kedua petugas itu mengangguk mengerti. Setelahnya sang dokter pergi, sementara mereka masuk ke dalam untuk menemui Winter kecil. Benar kata sang dokter, kondisinya memang belum stabil. Karena saat para petugas masuk ke dalam menyapanya, dia malah meringkuk heboh di atas ranjang dan menutupi diri dengan selimut layaknya orang ketakutan. Padahal biasanya anak laki-laki seusia Winter akan sangat antusias kala bersapa dengan polisi. Penemuan ini sontak membuat kedua petugas itu saling tatap seolah memberikan telepati satu sama lain, “Sepertinya benar dia telah melihat sesuatu di lokasi kejadian.” Salah satu petugas berdeham pelan. Tidak mau menyerah sebelum bertindak, ia memasang senyum cerah sambil berjalan perlahan mendekati Winter dengan lagak seolah mereka adalah sahabat dekat yang sudah lama saling mengenal. “Ay yo, sobat kecil! Wah, akhirnya kau sadar juga,” sapanya. Setelah mendengar nada ramah itu, Winter berhasil sedikit tergerak untuk menurunkan selimut yang menutupi pandangannya supaya ia bisa melihat sosok yang mengajaknya bicara. Petugas itu semakin melebarkan senyum teduhnya pada Winter saat anak laki-laki itu sudah berani menatap matanya. “Anak pintar. Kau melewati mimpi buruk itu dengan berani. Aku bangga padamu,” ujar sang petugas seraya mengusap pucuk kepala Winter dan mengacak gemas rambutnya. “Kau ... tahu dari mana aku habis mengalami mimpi buruk?” tanya Winter takut-takut. Sang petugas kembali tersenyum. Kali ini senyumnya menyiratkan sedikit kepuasan. Ya, ia berhasil memancing sedikit informasi dari Winter. Dia membenarkan soal mimpi buruk itu, berarti memang benar dia habis mengalami suatu kejadian buruk yang bisa jadi itu adalah peristiwa naas yang menimpa Michelle dan Antony. “Eum ... rahasia. Kalau kau mau tahu, mari kita berkenalan terlebih dahulu,” jawab sang petugas polisi seraya menyodorkan tangannya dengan ramah nan bersahabat di hadapan Winter. “Namaku Ronald Smith. Kalau kau? Siapa namamu?” Winter tampak ragu-ragu untuk menjawab. Wajar sih, dia jelas masih waspada akan orang asing yang tiba-tiba mendekatinya. Kalau saja pria dewasa di hadapannya tidak mengenakan seragam polisi, Winter pasti sudah berlari kabur sedari tadi. Setelah beberapa menit menimbang-nimbang, akhirnya Winter mau menjawab. “Winter. Namaku ... Winter Jeff Auxton.” Sekali lagi Ronald tersenyum puas mendengar itu. Sepertinya ia dapat sinyal bagus untuk bisa menginterogasi Winter. Ia pun menoleh ke belakang untuk mengisyaratkan temannya supaya ikut kemari, bergabung bersamanya dalam mengorek informasi dari anak bernama Winter ini. “Nah, kalau aku Eden. Eden Brian Kenedy,” ujarnya ikut memperkenalkan diri. Tak lupa ia juga memberikan senyum paling ramah supaya Winter tidak merasa terancam dengan kehadirannya. Selama beberapa saat setelah basa-basi perkenalan ini, baik Ronald maupun Eden tidak ada yang berbicara lagi. Mereka sengaja memberi jeda sejenak supaya Winter dapat terbiasa dengan kehadiran mereka. Saat dirasa sudah mendapat cukup kepercayaan, barulah Ronald kembali berdeham, isyarat kalau ia akan mulai memasuki sesi interogasi. “Hm, karena sekarang kita sudah berteman, boleh tidak kami bertanya beberapa hal padamu? Kami ingin mengenalmu lebih dekat. Ah, kau juga boleh bertanya banyak hal pada kami nanti. Tentang apa saja, kami pasti akan menjawabnya. Iya ‘kan, Ed?” Eden langsung menyahut antusias. “Tentu saja. Sesama teman 'kan harus saling terbuka. Pasti akan sangat menyenangkan jika kita bisa saling berbagi cerita satu sama lain.” “Betul sekali,” timpal Ronald. Setelah mendengar bujukan itu, tatapan ketakutan serta waspada yang sedari tadi terpancar di mata biru Winter kala menatap kedua petugas polisi, perlahan mulai meneduh menandakan rasa percaya yang sudah mulai terbangun. Itu juga terbukti dari gelagatnya yang menyingkirkan selimut dari tubuhnya lantas memasang posisi duduk dan tatapan tertarik. “Memangnya kalian ingin bertanya soal apa?” tanya Winter sudah mulai berani. Ronald dan Eden saling tatap puas selama beberapa detik. Kemudian Ronald mengambil alih jawaban. “Banyak sih yang ingin kami tanyakan padamu. Tapi bagaimana kalau mulai dari ini.” Ronald memulai aksinya. “Kau bilang kau baru saja mengalami mimpi buruk bukan? Nah, mau menceritakannya pada kami?” Ditanya soal itu, entah kenapa Winter malah kembali terlihat gusar. Napasnya sedikit memburu cepat, jemarinya sibuk memainkan kuku-kukunya sampai sedikit koyak. Sementara pandangannya terarah pada jendela di samping kiri ranjangnya yang tertutup oleh gorden, hanya menyisakan sedikit celah untuknya dapat memandang hamparan hujan salju yang belum juga mereda. Anehnya, kegusaran Winter seketika berubah menjadi kepanikan bercampur ketakutan kala irisnya menatap pemandangan di luar. Mendadak dia kembali menutupi diri dengan selimut sambil meringkuk gemetar membelakangi jendela. Hal ini pun membuat Ronald dan Eden bingung, ada apa dengan anak ini? Namun tidak butuh waktu lama, kedua polisi itu langsung bisa menyadari hal apa yang membuat Winter berubah sikap secara mendadak. Hujan salju di luar, tidak salah lagi. Kalau kata dokter benar dia habis mengalami suatu kejadian yang membuatnya syok berat sampai tubuhnya kejang-kejang, maka tidak aneh jika dia ketakutan saat melihat badai salju di luar. Karena itu adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum dia mengalami kejang. Kini Ronald dan Eden kembali saling tatap. Spekulasi baru ini membuat kening mereka berkerut tajam, pertanda kalau otak mereka sedang bekerja ekstra dalam menghubungkan setiap informasi dengan kasus yang sedang mereka selidiki. Sekarang rasanya kemungkinan kalau Winter ada hubungannya dengan kasus ini jadi semakin menguat. Tapi mereka harus ekstra hati-hati dalam mengorek informasi. Karena sepertinya ada kemungkinan dia akan memilih untuk tidak mengatakan apa pun lantaran trauma yang dialaminya terlalu menyiksa baginya. Setelah beberapa saat hanya membiarkan Winter berkutat seorang diri dengan rasa takutnya, Ronald berinisiatif untuk menenangkannya—sambil tak lupa untuk mengorek informasi tentu saja. Dipegangnya tubuh bergetar Winter yang tertutup selimut, kemudian ia bertanya dengan nada prihatin, “Hey, kau kenapa, kawan?” Winter menggeleng tegas menanggapinya. Namun ia tidak menjawab, hanya menunjuk pada arah luar jendela. “Ada apa? Kau takut dengan badai?” tanya Eden tidak sabar. Ronald langsung memberi tatapan tajam pada rekannya itu saat dia mengucapkan pertanyaan tersebut. Baginya Eden terlalu gegabah. Winter bisa-bisa tahu kalau mereka sedang menginterogasinya. Itu bukan hal bagus karena rasa percaya anak itu terhadap mereka para petugas polisi bisa hilang. Namun yang mengejutkan, ternyata Winter justru memberikan sebuah sahutan dengan suara gemetar. “Salju. Pemandangan itu membuat kepalaku sakit. Aku takut.” Lagi, Ronald dan Eden saling tatap untuk melontarkan isi pikiran mereka lewat telepati. Tidak berlangsung lama, setelahnya Ronald kembali mengorek informasi dari Winter. “Kau takut dengan salju? Memangnya apa yang perlu kau takutkan dari salju? Benda itu justru indah. Warnanya putih bersih, teksturnya lembut, bisa digunakan untuk bermain-main. Seru bukan? Dan lagi, salju juga merupakan simbol dari namamu, Winter. Jadi harusnya kau tidak perlu takut dengan salju.” Walau sudah diiming-imingi soal itu, Winter tetap kukuh. Ia tetap takut pada salju. “Tidak. Bagiku sekarang salju terlihat sangat menyeramkan. Benda itu mengingatkanku pada mimpi buruk itu. Aku takut ... sangat-sangat takut,” racaunya terdengar semakin ketakutan. Melihat rasa takut Winter tampak begitu serius, Eden yang sedari tadi hanya mendengarkan segera bergerak untuk menutup jendela dengan harapan itu dapat membantu Winter dalam menenangkan diri. Tapi sepertinya tidak mempan. Dia masih terus gemetar ketakutan sambil meracau soal betapa menyeramkannya salju baginya. Kondisinya betul-betul serius sekarang, membuat Ronald dan Eden kelimpungan tidak tahu harus bagaimana. “Berhenti! Singkirkan bayang-bayang itu dari kepalaku! Aku takut ....” Winter masih terus meracau tanpa ada yang bisa menghentikannya. Dia bahkan sudah menangis histeris. Kini Ronald dan Eden panik. Mereka sudah berusaha menenangkan Winter tetapi anak itu malah semakin histeris saat tubuhnya disentuh. “Kita harus panggil dokter, Ronald. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan interogasi.” Eden memberi usul. Ronald langsung mengangguk. “Kau benar. Tunggu di sini, biar aku yang panggilkan dokter.” Kali ini gantian Eden yang mengangguk. Setelahnya Ronald segera berlari keluar, meninggalkannya seorang diri bersama Winter yang semakin kalut tak karuan. Tapi melihat ini Eden jadi bertanya-tanya, sebenarnya hal buruk macam apa yang telah Winter lalui di kala badai melanda sampai-sampai dia begitu takut melihat salju? Sayangnya pertanyaan itu belum ditakdirkan untuk terjawab sekarang. Mereka masih harus menunggu, entah sampai kapan. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD