1. Aroma Kopi dan Tatapan yang Membekukan

814 Words
Dentuman musik elektronik yang memekakkan telinga berpadu dengan riuh rendah percakapan pengunjung memenuhi setiap sudut "Kafe Kofi," sebuah kedai kopi yang sedang naik daun di pusat kota Yogyakarta. Cuaca sedang sangat bagus hari ini, cukup cerah dan sangat menyenangkan. Langit terlihat cerah dan berwarna biru, memperlihatkan indahnya awan yang berarak. Aroma kopi robusta yang kuat bercampur dengan manisnya latte art memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus energik. Di tengah keramaian itu, Han duduk di sudut favoritnya dekat jendela besar, menikmati secangkir americano sambil sesekali melirik layar laptopnya. Ia tengah sibuk dan menyibukkan diri. Jari-jemarinya lincah menari di atas keyboard, merangkai kata demi kata untuk artikel terbarunya tentang seni jalanan. Tiba-tiba, bel pintu berdenting nyaring, mengalihkan perhatiannya. Seorang wanita anggun berdiri di ambang pintu, siluetnya diterpa cahaya matahari sore yang menyelinap masuk. Rambutnya yang panjang dan bergelombang tergerai indah di punggungnya, dan gaun merah marun yang dikenakannya tampak begitu serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Ada sesuatu yang familiar dari postur tubuhnya, dari caranya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Jantung Han berdebar tak karuan. Mungkinkah ini hanya ilusinya? Wanita itu melangkah masuk, dan saat wajahnya sepenuhnya tertangkap cahaya, Han membeku. Ia melihatnya lagi, seseorang yang pernah menjadi yang terbaik di hatinya. Itu dia. Erina. Mantan kekasih yang telah menghilang dari hidupnya hampir dua tahun lalu tanpa jejak. Pandangannya mengedar seperti sedang mencari sesuatu, ingin rasanya dia menyapa namun hati enggan bahkan sungkan. Erina … Sosok yang pernah menjadi pusat dunianya, candu yang membuatnya sulit bernapas setiap kali mengingatnya. Dia tampak sedikit berbeda. Lebih dewasa, lebih memancarkan aura kepercayaan diri yang dulu tak terlalu ia lihat. Matanya yang dulu selalu berbinar lembut kini tampak lebih tajam, menyimpan cerita yang entah seperti apa isinya. Han merasakan tenggorokannya tercekat. Berbagai pertanyaan menyerbu benaknya. Apa yang membawanya kembali ke Yogyakarta ini? Mengapa setelah sekian lama? Apakah perasaannya yang dulu, yang ia kira sudah terkubur dalam-dalam, akan kembali menggerogotinya? Pertanyaan-pertanyaan itu timbul di benaknya, ia tak mengira jika hari ini masih bisa melihat sosok yang manis itu. Ia terperangah, jantungnya kembali berdetak cepat seperti mereka saling berpapasan saja padahal hanya dia yang merasakannya. Tanpa menyadari, Han menumpahkan sedikit kopi ke mejanya. Tangannya gemetar. Ia berusaha mengendalikan diri, menarik napas dalam-dalam. Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Namun, Erina terus melangkah, pandangannya menyapu setiap sudut kedai, seolah mencari seseorang. Rambutnya tersapu angin dan semerbak parfum yang sangat ia kenali meski mereka berjauhan tanpa berdekatan. Dan kemudian, mata mereka bertemu. Sesaat waktu terasa berhenti. Di tengah hiruk pikuk kafe, hanya ada tatapan mereka yang saling mengunci. Mata Erina melebar sedikit, tampak terkejut sekaligus... entah apa. Han tidak bisa membacanya dengan pasti. Ada kerinduan? Keterkejutan? Atau mungkin hanya rasa asing setelah sekian lama tak bersua. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibir Erina. Ia mengangguk kecil, seolah menyapa seseorang yang sudah lama tak dijumpainya. Kemudian, tanpa diduga, ia melangkah menuju mejanya. Jantungnya serasa tak aman meski ia merasa tenang dan baik-baik saja. "Mas Han?" Suara Erina, yang dulu selalu terdengar merdu di telinganya, kini terasa sedikit asing namun tetap mampu mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh tubuh Han. Han mendengarnya, tapi reaksinya hanya bisa mengangguk kaku, berusaha menyembunyikan keterkejutannya yang luar biasa. Jantungnya berdebar semakin kencang, seperti genderang yang dipukul bertalu-talu. Ia hampir gelisah dan tak bisa mengendalikan dirinya. "Boleh aku duduk, Mas?" tanya Erina, menunjuk kursi kosong di depannya dengan senyum yang kini tampak lebih jelas. Han masih terpaku, otaknya belum mampu mencerna kenyataan bahwa Erina benar-benar ada di hadapannya. Di kedai kopi favoritnya. Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar. "Mas Han?" Erina mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada sedikit khawatir. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang membuatnya sedikit sungkan. "Ah... ya. Tentu," jawab Han akhirnya, suaranya terdengar serak. Seperti kehausan padahal bisa saja dia langsung minum untuk menghilangan dahaganya. Erina tersenyum, merasa didengar permintaannya dan tak merasa malu. Ia menarik kursi dan duduk, menatap Han lekat-lekat. Keheningan canggung menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh riuh rendah suara di sekitar. Han nmerasa seperti berada di tengah badai yang tiba-tiba mereda, meninggalkan kebingungan dan rasa tak percaya yang mendalam. "Apa kabarnya, Mas?" tanya erina akhirnya, memecah keheningan. Rambutnya tergerai tersapu angin dan menimbulkan getaran yang aneh. Han menelan ludah, ia melihat aura kecantikan yang tak pernah pudar meski tahun telah bertambah di setiap saat. "Baik... baik. Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?" "Aku juga baik, Mas," jawab Erina singkat, namun ada sesuatu dalam intonasinya yang membuat Han merasa ada lebih banyak hal yang ingin ia katakan. Ia ingin gadis itu menanyakan lagi banyak hal padanya, meski gugup tapi ia akan merasa senang jika pertemuan ini terus berlangsung lama. Tatapan mereka kembali bertemu, dan kali ini Han melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Erina. Bukan hanya keterkejutan, tapi juga ... adanya kerinduan. Meski sebuah penyesalan kadang sedikit terngiang dalam pikirannya. Han berimajinasi, merasakan tubuhnya seolah kembali ke masa lalu. Ia serasa berada dalam alam nyata saat menyentuh kenangan itu. Atau mungkin hanya imajinasinya saja yang bermain-main.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD