2. Candunya Telah Kembali

804 Words
Han tak ingin melewatkan ini tapi dia tiada daya untuk bisa menemukan keberaniannya. Erina terlihat rileks dan penuh kepercayaan diri. Sejak dulu memang selalu lebih optimis dalam melakukan apapun. Terkecuali dirinya. Sebelum Han sempat menjawab atau bertanya apa pun, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya ramah. Pelayan itu tersenyum ramah pada mereka dan bertanya pada si pemilik kuasa setiap ada sejoli yang berkunjung. Erina mengalihkan pandangannya sejenak pada pelayan, lalu kembali menatap Han. Tatapan itu penuh dengan sesuatu yang magic, ia seolah terhipnotis. “Aku pesan cappuccino satu." “Ok, satu capucino,” ulang pelayan itu memastikan pesanan Erina. “Ya, itu saja,” jawab Erina. Setelah pelayan pergi, keheningan kembali menyelimuti mereka. Han merasa jantungnya masih berpacu liar. Kehadiran Erina yang tiba-tiba ini benar-benar mengacaukan dunianya yang sudah mulai tertata rapi setelah kepergiannya. Ia mulai grogi setelah sekian lama tak bersua. "Jadi... apa yang membawamu kembali ke Yogyakarta ini?" tanya Han akhirnya, sesuai dengan apa yang dipikirkannya tadi. Han berusaha terdengar setenang mungkin. Nada bicaranya dibuat teratur seolah ia tidak gugup atau grogi. Erina menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang penting. Tatapannya menerawang sejenak ke luar jendela, sebelum kembali menatap Han dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Ada urusan yang harus kuselesaikan di sini," jawab Erina pelan. Setelah itu dia terdiam, sorot matanya menunjukkan ia tengah memikirkan sesuatu untuk diucapkan. "Dan... aku juga ingin bertemu denganmu." Pengakuan Erina itu bagai petir di siang bolong bagi Han. Bertemu dengannya? Setelah semua yang terjadi? Untuk apa? Rasa penasaran, kebingungan, dan secercah harapan yang selama ini ia kubur dalam-dalam kembali bergejolak di dadanya. "Bertemu denganku?" ulang Han, alisnya bertaut. Erina mengangguk pelan. "Ya. Ada hal yang ingin kubicarakan." Sebelum Erina sempat melanjutkan kalimatnya, ponsel Han berdering nyaring, memecah ketegangan di antara mereka. Han meraih ponselnya dan melihat nama sahabatnya, Bagas, tertera di layar. "Maaf," ucap Han, mengangkat panggilan itu. "Bro, lo di mana? Gue udah nungguin di depan studio dari tadi!" suara Bagas terdengar sedikit kesal di ujung telepon. Han menepuk dahinya, lupa bahwa ia ada janji untuk membahas proyek mural terbaru mereka. "Astaga, gue lupa! Sori, Gas. Gue lagi di Kafe Kofi, ada urusan sebentar." "Urusan apa? Penting banget sampe lupa sama gue?" goda Bagas. Han melirik Erina yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Nanti gue jelasin. Lo tunggu sebentar ya, gue ke sana sekarang." Setelah menutup telepon, Han kembali menatap Erina. "Maaf, aku ada janji yang harus segera kupenuhi." Erina tersenyum tipis, mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa. Mungkin... kita bisa bicara lain waktu?" Han mengangguk, ia merasakan harapan kembali membuncah di dadanya. "Tentu. Kapan?" "Nanti kukabari," jawab Erina, tatapannya kembali sulit dibaca. Pelayan datang mengantarkan cappuccino pesanan Risa. Han berdiri, meraih tasnya. "Senang bertemu kamu lagi, Erina." "Aku juga, Han," balas Erina, mengulurkan tangannya. Sentuhan tangan mereka, meskipun hanya sesaat, mampu mengirimkan aliran listrik ke seluruh tubuh Han. Ada kehangatan, keakraban yang dulu begitu ia rindukan. Han berbalik dan melangkah meninggalkan kedai, pikirannya berkecamuk. Pertemuan yang tak terduga ini telah membuka kembali luka lama dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang mendesak untuk dijawab. Siapa sangka, aroma kopi sore itu akan membawa kembali candu yang selama ini berusaha ia lupakan. Dan Han tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. ** Keesokan harinya, Han masih diliputi kebingungan dan rasa penasaran yang tak tertahankan setelah pertemuannya yang singkat namun membekas dengan Erina. Janji Erina untuk menghubunginya menggantung di udara, antara harapan dan kecemasan. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, menyelesaikan sketsa mural untuk proyek terbarunya, namun bayangan Erina terus saja melintas di benaknya. Ia gelisah, bahkan sampai hampir tak bersemangat. Sore itu, Bagas, sahabat sekaligus rekan kerjanya, mengajaknya makan malam di sebuah restoran Italia baru yang sedang populer di kalangan anak muda Yogyakarta, "La Spaghetti." “Kita kesana nanti malam, jangan lupa!” Han setuju, berharap suasana ramai dan hidangan lezat dapat mengalihkan pikirannya sejenak. Saat mereka memasuki restoran yang didominasi warna hangat dan dekorasi klasik Italia itu, Han langsung terkesan dengan suasananya yang romantis namun tetap kasual. Aroma pizza yang baru dipanggang dan saus marinara yang kaya rempah langsung menggugah selera. Ia ingin duduk di tempat yang sangat tenang dan membuatnya hilang kegelisahan serta ketidaknyamanannya. Mereka memilih meja di sudut yang agak tenang, memesan calzone dan dua gelas iced tea. Ia merindukan minuman itu. Sambil menunggu pesanan datang, Han memulai bahan perbincangan dengan Bagas yang membahas proyek mereka. Tak lupa ia juga menceritakan pertemuannya yang tak sengaja dengan Erina kemarin sore. Bagas tahu tentang siapa Erina dan ia cukup mempercayainya. Bagas mendengarkannya dengan seksama, sesekali menyeringai dan memberikan komentar-komentar khasnya yang ceplas-ceplos. Han sedikit lega bisa berbagi berita tentang pertemuan itu tapi ia sedikit gugup jika ada notif ponsel yang masuk, ia mengira itu dari Erina. Tangannya terasa dingin dan terkesan gugup saat membicarakan Erina di depan Bagas. Bagas tertawa saat melihat wajahnya yang bersemu merah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD