3. Gugup Melihatnya

877 Words
Mereka masih melanjutkan obrolan yang membuat Bagas menjadi tertawa renyah saat mendengar curhatan Han. "Wah, wah... cinta lama bersemi kembali nih ceritanya," goda Bagas sambil menyedot iced tea-nya. "Gue kira dia udah terbang ke antah berantah." kelakarnya. "Jangan ngaco, Gas. Gue juga nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba muncul lagi," jawab Han, menghela napas. "Yang bikin gue bingung, dia bilang mau ngobrol sesuatu." "Nah, itu dia intinya! Pasti ada udang di balik batu," timpal Bagas penuh spekulasi. "Mungkin dia bangkrut terus mau pinjam duit lo? Atau mungkin dia nyesel udah ninggalin cowok sekeren elo?" timpalnya dengan penuh percaya diri. Han tertawa kecil mendengar celotehan sahabatnya. "Gue nggak yakin ada hubungannya sama duit. Dan soal nyesel... kayaknya itu cuma mimpi di siang bolong." Diakuinya jika Erina tidak akan segampang itu memiliki penyesalan dalam hidupnya. Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Aroma calzone yang gurih langsung memenuhi meja. Mereka mulai menyantap makanan sambil terus berbincang. Han berusaha menikmati makan malamnya, namun matanya sesekali menjelajahi seisi restoran, tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja hatinya ingin matanya melihat ke sekeliling restoran ini. Dan kemudian, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Di antara para pelayan yang sibuk hilir mudik mengantarkan pesanan, Han melihat seorang wanita dengan seragam hitam dan celemek putih. Rambutnya dicepol rapi, namun ia tetap mengenali lekuk wajah itu, senyum tipis saat berinteraksi dengan pelanggan, dan cara berjalannya yang anggun. Itu Erina. Tidak salah lagi, dan matanya masih cukup sehat untuk melihat wanita itu dari arah tempatnya duduk. Han tertegun, garpu yang sedang ia pegang membeku di udara. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Erina? Bekerja sebagai pelayan di restoran ini? Dunia terasa berputar sejenak. Bukankah dulu Erina selalu bercerita tentang mimpinya untuk menjadi seorang model yang sukses? Apa yang membuatnya kini bekerja di sebuah restoran Italia? Bagas yang menyadari perubahan ekspresi Han mengikuti arah pandangnya. "Kenapa, Bro? Ada yang salah?" Han menelan ludah, suaranya tercekat. "Itu... itu Erina." Bagas menoleh dan ikut terkejut melihat sosok Erina yang sedang mengantarkan piring pasta ke meja lain. "Serius? Erina mantan lo? Dia... kerja di sini?" Han mengangguk pelan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Gue nggak tahu." Rasa penasaran Han semakin membuncah. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Erina selama dua tahun terakhir. Mengapa ia bekerja di sini? Apakah kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang pernah ia impikan? Han menelan ludahnya dengan susah payah. Betapa dulu Erina memiliki mimpi besar menjadi seorang model yang memiliki banyak yang dan akan masuk daftar model dengan bayaran yang tinggi. Bagas menepuk bahunya. “Han, mantan lo, mantan terindah lo, dia …” “Gue tahu, Gas,” ucap Han lirih. Mereka memandangi Erina yang tengah sibuk melayani para pengunjung restoran ini. “Pulang, yuk! Gue udah kenyang,” ujar Han. Bagas masih terus memandangi Erina yang tidak tahu keberadaan mereka disana. ** Erina mengganti pakaiannya dan mengintip layar ponselnya. Tidak ada panggilan, yang ada hanya notif dari seseorang yang tidak ia inginkan. “Huft, menyebalkan!” gerutunya sambil meraih tasnya dan keluar dari area restoran Italia ini. Seorang teman mencoleknya dan memberitahu kalau ada satu kotak nasi untuknya. “Eh, dari siapa?” teriaknya. “Acaranya besok, Er. Untuk alamatnya baca saja kertas di dalamnya!” Erina mengangguk dan langsung mengambil nasi kotak yang ada di dekat jendela. Dari Edi Silitonga, menikah besok dan dirayakan di gedung. “Hem, lumayan nih makan gratis malam ini,” gumamnya seraya melangkah keluar dan berjalan menyusuri lorong jalanan belakang restoran Italia ini. Ketika tiba di depan pintu gerbang area kos, dilihatnya ada dua orang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia segera bersembunyi dan berbalik arah. Langkahnya dipercepat dan ia menghentikan sebuah mobil yang lewat. “Tolong beri akh tumpangan,” pintanya sedikit memohon. Seorang pria tersenyum penuh arti dan membukakan pintu mobilnya. Erina dengan cepat masuk dan tersenyum pada pengemudi mobil. ** Suasana di restoran cukup ramai hari ini. Erina dengan cepat meletakkan beberapa gelas ke dalam nampan dan berjalan cepat ke meja yang sudah menunggu pengantaran pesanan darinya. Saat Erina selesai mengantarkan pesanan, ia berbalik dan tanpa sengaja matanya kembali bertemu dengan Han. Kali ini, ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang lebih jelas. Ia tampak sedikit gugup, namun berusaha mempertahankan senyum profesionalnya. Ia ingat sedang bekerja dimana dan harus hati-hati dalam bersikap. Han ternyata datang ke restoran ini dan menatapnya tanpa kedip. Ia merasa gugup. Han bersama temannya tengah menikmati makanan ala Eropa. Erina menghampiri meja mereka dengan langkah ragu. "Mas? Kamu... makan di sini?" "Eh... iya," jawab Han, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Aku nggak tahu kamu kerja di sini." Erina tersenyum tipis. "Aku baru kerja beberapa bulan. Kebetulan pemiliknya teman lamaku." Ada jeda canggung di antara mereka. Bagas berdeham pelan, menyadari ketegangan yang terasa di udara. "Hai, Erina. Apa kabar?" sapanya ramah. "Hai, Bagas. Baik," jawab Erina singkat, pandangannya kembali tertuju pada Han. "Jadi... ada yang bisa kubantu?" tanyanya dengan nada profesional seorang pelayan. Han merasa ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka. Erina yang dulu begitu dekat dan mengenalnya luar dalam, kini bersikap seolah mereka hanyalah pelanggan dan pelayan. "Tidak... kami sudah selesai memesan," jawab Han. "Hanya saja... aku terkejut melihatmu di sini." Erina menghela napas pelan. "Banyak hal yang berubah, Mas." Erina terlihat lesu dan berusaha tenang meski raut wajahnya berubah. Keterkejutannya membuatnya gugup dalam bergerak. Han menyadari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD