02 Kenyataannya

1691 Words
"Jasmine!" Teriakan cempreng Desi mendapat respon delikan setajam silet dari Jasmine dan Cika. Perempuan itu memberikan cengiran lebar seolah tak melakukan apa-apa. "Gw nggak nyangka, Jass. Impian lo buat bersanding sama Alvaro sebentar lagi bakal terwujud" riang Desi yang diangguki mantap oleh Cika. "Hem.... Akhirnya perjuangan lo selama ini nggak sia-sia!" Timpal Cika dengan senyum tulus menghiasi wajahnya. Saat ini mereka sedang makan siang di salah satu Restoran yang cukup terkenal dalam sebuah Mall, Jakarta. Rencananya Desi dan Cika akan menemani sahabat mereka untuk memilih cincin pernikahan, karena Alvaro sibuk. Itulah yang dikatakan Jasmine pagi tadi melalui chat group mereka. Mendengar ucapan kedua sahabatnya membuat sepasang mata cantik Jasmine bersinar terang. Wajahnya pun bercahaya, kebahagiaannya terlihat begitu nyata. Teringat akan sesuatu, Cika lantas bertanya. "Ehh, tapi emang nggak pa-pa nih kita yang bantuin lo milih cincinnya? Maksud kita, selera Alvaro itu kayak gimana? Setuju apa enggak sama pilihan lo, Jass?" Mengingat pesan Alvaro pagi tadi, Jasmine mengulas senyum pahit. "Dia emang lagi sibuk banget belakangan ini, mungkin tugas kampusnya banyak yang numpuk." Alibinya, yang diangguki oleh kedua sahabatnya. Padahal dia sendiri tidak tau apa yang lelaki itu sibukkan. "Lo beruntung banget, Jass. Alvaro itu paket lengkap pakai banget! Udah ganteng, kaya pula. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kau dustakan." Ungkap Cika sambil memegang dadanya dramatis lengkap dengan senyum lebar. "Tapi, gw penasaran sama sahabatnya si Safira itu. Mereka berdua beneran sahabat apa bukan sih? Kok kayaknya Alvaro lebih deket sama dia ketimbang sama lo, Jass?" Desi tidak dapat menahan rasa penasaran yang menggelayut dihatinya. Cika mengangguk cepat, seolah memiliki isi hati yang sama. "Mereka berdua beneran sahabat kok. Kayak kita aja. Wajar kalau mereka berdua kelihatan lebih deket, kan Safira kenal Alvaro lebih dulu dibandingin gw. Mereka udah saling kenal dari TK." Jelas Jasmine apa adanya. Meski hati kecilnya memiliki pertanyaan yang sama. "Yaudah lah, kita tuh harus positif thinking! Sekarang kan Jasmine udah mau nikah sama Alvaro tinggal nunggu seminggu doang, loh. Kalau emang mereka punya hubungan khusus atau salah satunya punya perasaan lebih kenapa juga masih sahabatan sampai sekarang iya gak sih?" Desi menatap bergantian kedua sahabatnya meminta persetujuan. "Bener juga tuh, Jass." Timpal Cika sambil mengetuk jari telunjuknya ke dagu. "Udahlah, dari pada mikir yang aneh-aneh mendingan sekarang kita berburu cincin kawin. Ahh, jadi pengen kawin juga tapi sama siapa ya?" Sambungnya lagi dengan wajah masam. "Nikah, bego!" Ralat Desi gemas sambil menoyor kepala Cika, membuat perempuan itu mendelik, mencebikkan bibirnya kesal. "Jahat lo berdua!" Sinis Desi, disambuk gelak tawa dari Jasmine dan Cika. "Gw ke toilet dulu bentar ya, kebelet pipis nih gw." Kata Desi tiba-tiba sambil menggoyangkan kedua kakinya. "Ck, kualat kan lo sama gw! Makanya jangan nistain gw begitu. Jadi beser kan lo sekarang. Ayo, gw temenin. Karena gw temen yang baik dan pengertian." Sembur Cika dengan satu tarikan nafas. "Semerdeka lo aja ,markonah." Sahut Desi sebal. Jasmine menggeleng kecil, tingkah absurd kedua sahabatnya mampu menjadi mood booster untuknya. "Yaudah, gw langsung nunggu di tokonya aja, ya. Yang di lantai lima jangan sampai nyasar lo berdua." Ucap Jasmine, setelahnya dia terkekeh geli karena mendapatkan lirikan tajam dari kedua sahabatnya. Desi mendengus kesal. "Lo kata kita berdua bocah, Jass? Pakai acara nyasar segala!" Sungutnya tidak terima. Dengan wajah menahan sesuatu Desi menarik tangan Cika tak sabaran. "Pelan-pelan anjir, sakit tangan gw, woii!" Pekik Cika sebal. "Bawel banget sih lo! Gw udah kebelet, nyet!" Ketus Desi lalu berjalan cepat meninggalkan Cika yang masih mengelus pergelangan tangannya. Group Cecan Badai Desi Anjir Lah, ngantri beut mau beser doang. Cika Terima deritamu nak, makanya jangan kualat sama yang lebih muda. Desi Nggak gitu konsepnya maemunah!! Jasmine Ckckck.. di toilet aja masih sibuk perang urat ya lo berdua?? Cika Tau nih si desong! Efek kebelet jadi rada geser otaknya. Desi Terus aja lo nistain gw! Gw sumpahin jodoh lo jauh! Sejauh mata memandang. Cika Kayak jodoh lu deket aja kambing! Cowok aja lo kaga punya, anjir! pakai ngomongin jodoh segala. Noh, jodoh lo masih ngintipin lo dari langit, pakai kekeran mainan bocah!! Desi Jauh banget, nyet! Pakai kekeran mainan pula! Cika Lah, dari pada pakai sedotan aqua gelas, pilih mane lo?? Desi Setan emang lo! Bukannya doain supaya jodoh temen deket malah dibikin makin jauh, dasar temen laknat!!! Jasmine tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala, tak habis pikir. "Berapa kali sih aku harus bilang ke kamu, Fir? Kamu itu prioritas utama aku." Ungkap seorang pria yang terdengar frustasi. Jasmine samar-samar mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Percakapan antara dua orang yang berada tepat di belakang kursinya. Posisi duduknya yang membelakangi mereka, memudahkan Jasmine untuk mendengarkan semuanya. Menoleh sedikit kebelakang, Jasmine begitu terkejut karena ternyata itu adalah suara Alvaro dan perempuan yang dia yakini Safira. Bukannya lelaki itu bilang kalau dia sibuk? Jadi ini yang di maksudkan dengan sibuknya itu? Jasmine tersenyum getir sambil terus mendengarkan percakapan mereka dalam diam. Memang kenyataannya Safira itu adalah prioritas utama Alvaro, seperti yang lelaki itu tadi ucapkan. Safira menatap Alvaro serius. "Al, walau bagaimanapun kamu itu sekarang calon suaminya Jasmine. Kamu harus sedikit lebih perduli sama dia, kalian sebentar lagi akan menikah. Coba buka sedikit aja hati kamu untuk dia, Al." Safira jadi gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya. "Dan kamu tau jawabannya kan, Fir? Kalau bukan karena Mami dan kamu yang minta. Aku nggak akan mau nikah sama dia. Semua yang aku lakukan itu terpaksa dan kamu tau itu dengan jelas kan, Fir? Bahkan kamu juga ikut-ikutan maksa aku untuk nikah sama dia. Kamu pernah mikirin perasaan aku sedikit aja nggak sih, Fir? Aku itu itu cintanya sama kamu bukan sama Jasmine" Alvaro menjeda sejenak ucapannya, menatap dalam mata Safira. "Kalau bukan karen kalian berdua yang minta, wanita spesial di hati aku. Nggak bakalan aku mau merelakan masa depan aku kayak gini, Fir. Aku ini masih 20 tahun! Coba kamu bayangin aja, diusia aku yang masih muda kayak gini harus terpaksa nikah sama orang yang sama sekali nggak aku cinta. Aku itu cuma kasihan sama dia karena dia yatim piatu sekarang. Tapi kalian semua menganggap lebih perasaan aku. Jujur aja aku tuh benar-benar ngerasa nggak nyaman dengan keadaan ini, Fir." Alvaro menghembuskan nafas lega karena sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya. Jantung Jasmine berdebar kencang hingga rasanya begitu sakit setelah mendengar semua pengakuan jujur yang keluar dari bibir Alvaro. Jadi selama ini Alvaro hanya kasihan padanya? Tidak lebih? Jasmine hanya mampu menunduk dalam, berusaha keras menahan semua perasaan sesak di dadanya. Rasanya seperti dihantam palu besar tepat di bagian jantungnya. Sepasang matanya berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat seakan bernafas pun sulit. Sebegitu rendah kah dia menurut penilaian Alvaro? kasihan? Jasmine ternyata hanya seseorang yang dikasihani tidak lebih. Ternyata selama ini bukan hanya jauh. Tapi memang kenyataannya Jasmine tidak pernah sanggup untuk menggapai hati seorang Alvaro Aldebaran. Seperti terjun bebas dari tebing, semua terasa sia-sia. Usahanya selama ini tidak ada yang membuahkan hasil sedikitpun. Semua berlalu begitu saja seperti tidak ada artinya. Pada akhirnya, Jasmine tersadar. Tidak seharusnya dia hadir diantara Alvaro dan Safira. Dia harus memikirkan bagaimana caranya pergi secara perlahan tanpa menyakiti siapapun. Terlebih kedua orang tua Alvaro yang sudah sangat baik kepadanya. "Aku yakin, pasti seiiring berjalannya waktu kamu bakalan sayang sama Jasmine. Dan untuk perasaan kamu itu, pasti kamu udah tau kan jawabannya apa, Al? Aku gak mau kasih kamu harapan lebih, Al." Lirih Safira, detik berikutnya wajahnya berpaling tak sanggup menatap wajah Alvaro lebih lama lagi. Alvaro membuang nafas kasar. Sebesar apapun dia berusaha hasilnya akan tetap sama. Safira perempuan yang amat dicintainya tidak memiliki perasaaan yang lebih padanya selain sebagai seorang sahabat. Kenapa takdir menjungkir balikkan hidupnya? Alvaro mengusap wajahnya frustasi sambil mendesah berat. Sementara Jasmine, rasanya sudah tidak sanggup lagi mendengar percakapan mereka yang mungkin akan membuat hatinya lebih sakit. Seharusnya Jasmine sudah sadar sejak awal. Perhatian yang ditunjukkan Alvaro pada Safira lebih dari sekedar perhatian kepada sahabatnya. Perhatian itu murni karena cinta, bukan bertopeng sahabat seperti yang dia ketahui selama ini. Jasmine beranjak dari duduknya perlahan, berjalan cepat keluar dari restoran itu dengan perasaan yang berkecamuk. Dia menyeka air matanya yang menetes dengan lancang tanpa persetujuannya. Ternyata dugaannya selama ini benar bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. **** "Kayaknya cocok nih ditangan gw." Cika senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan cincin cantik yang mengambil perhatiannya sejak tadi. Desi menatap jijik sahabatnya. "Yang mau nikah Jasmine, d***o! Bukan lo, halu aja kerjaan lo." "Ck, kaga bisa banget ngeliat temen seneng lo, nyet!" Sungut Cika sebal. Desi tak menyahuti ucapan Cika lagi. Kini perhatiannya terfokus pada Jasmine karena sejak tadi sahabatnya itu hanya diam tanpa suara. "Mbak... Mbak jadi mau yang mane nih cincinnya?" Cika menyodorkan beberapa model cincin yang menurutnya bagus. "Lah, dia bengong. Woii, Jass! hellooowww!" Desi berderu heboh seraya menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah Jasmine. Jasmine terkesiap lalu menoleh linglung, "Ehh, kenapa?" Tanyanya dengan wajah bingung. "Dih, lo yang kenapa, woii? Dari tadi bengong mulu." Cika malah balik bertanya dengan alis berkerut. Jasmine tersenyum kikuk. "Ahh, nggak pa-pa." Jasmine tidak mungkin menceritakan apa yang membuat hatinya perih. Mengabaikan rasa janggal di hatinya, Desi kembali bertanya. "Udah ini, mana yang mau lo pilih?" Jasmine menatap jejeran cincin emas putih berlapis berlian yang tampak mewah dihadapannya dengan tatapan sulit diartikan. "Ini aja deh." Setelah lama menimbang, pilihan Jasmine jatuh pada cincin dengan design sederhana. Toh, hanya sebagai simbol saja. Tidak perlu memilih yang bagus apalagi berlebihan. Cika menaikkan satu alisnya, "Yakin lo?" tanyanya memastikan. Jasmine mengangguk seraya tersenyum berusaha menyembunyikan semua kegundahannya. "Iya, bagus kan? sederhana" "Coba dulu deh, ukurannya udah pas belom dijari lo." Desi memberikan cincin yang di pilih oleh Jasmine. Jasmine memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Menatapnya dengan pandangan yang menyiratkan banyak arti. "Pas, nih," ucapnya, menunjukkan jari manisnya pada kedua sahabatnya. Desi dan Cika saling tatap lantas tersenyum lebar. "Bungkus, Mas!!" Pekik Cika heboh. Jasmine dan Desi kompak memberikan tatapan bersalah pada pegawai toko yang dibuat tersentak karena seruan heboh Cika. "Bikin malu aja lo! Bener-bener dah nih anak satu." Desi menoyor gemas kepala Cika. Yang dikasih tau cuek saja, seperti tak terjadi apa-apa. "Kampret emang, kaga ada malunya nih bocah!" Desi gondok sendiri dibuatnya. "Kita langsung balik nih?" tanya Cika tidak nyambung. "Iya, langsung aja deh." Sahut Jasmine cepat yang memang sudah tidak mau berada di Mall ini lagi. "Oke, cantik." Desi dan Cika menjawab serempak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD