bc

Jasmine

book_age18+
331
FOLLOW
1.6K
READ
family
love after marriage
goodgirl
drama
sweet
city
first love
asexual
affair
wife
like
intro-logo
Blurb

21++

Konten dewasa. Harap bijak dalam memilih bacaan!

Hidup Clarissa Jasmine terombang ambing dalam pernikahan yang dilandaskan oleh rasa iba. Alvaro Aldebaran, pria yang dia cintai sejak duduk di bangku SMA akhirnya mau menikahinya. Jasmine pikir Alvaro benar-benar menaruh rasa cinta padanya. Namun kenyataan pahit harus dia telan bulat-bulat ketika Jasmine hendak mencari cincin pernikahan mereka, tanpa sengaja dia mendengar dengan jelas apa penyebab Alvaro mau menikahinya. Dan yang membuatnya bertambah sakit, ternyata Alvaro mencintai perempuan lain yang tak lain sahabat pria itu sendiri, Safira Mhendara. Biduk rumah tangga yang dia jalani terasa hambar. Jasmine terpaksa menjual rumah, satu-satunya harta peninggalan kedua orangtuanya untuk dia jadikan ladang uang. Tidak mungkin Jasmine harus tetap hidup bergantung pada Alvaro, sementara di hari pernikahan mereka Alvaro mengakui semuanya dan menawarkan kontrak pernikahan selama satu tahun. Hingga tiba-tiba saja sikap pria itu berubah drastis. Masih menyimpan rasa yang sama, Jasmine lemah dan mempercayai begitu saja ketika Alvaro mengatakan bahwa dia ingin mencoba menerima Jasmine sebagai istrinya. Semuanya berjalan baik, hingga akhirnya Safira kembali datang membuat kekacauan yang berdampak buruk dalam keutuhan rumah tangga mereka. Jasmine memilih pergi, membesarkan kedua anak kembarnya sendiri. Apalagi yang dia harapkan jika Alvaro saja tidak menginginkan mereka dalam hidupnya. Dan ketika penyesalan itu datang, semuanya sudah terlambat. Alvaro mengetahui kebenaran disaat Jasmine sudah menghilang dari kehidupannya.

chap-preview
Free preview
01 Awalnya
Ini bukan hanya sekedar perasaan Ini adalah sebuah pertanda Clarissa Jasmine Happy Reading.... Jasmine menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Alvaro. Dengan jantung yang berdebar kencang Jasmine menunggu panggilan itu diangkat lelaki itu. Di tempat lain, seorang lelaki tampan dan perempuan cantik sedang duduk santai di sebuah kursi Cafe. "Ck," Alvaro berdecak saat ponselnya berdering, nama yang terpampang dilayar ponsel itulah yang membuatnya muak. "Siapa?!" Safira bertanya. Sedikit heran melihat raut wajah sahabatnya berubah. Safira membuang nafas setelah melihat siapa yang menghubungi Alvaro. "Angkat dulu siapa tau penting." Alvaro melirik Safira sekilas sebelum mengangkat panggilan itu dengan wajah malas. "Hem..." "Hallo, Al." Suara Jasmine terdengar gugup seperti sedang menghubungi gebetan, padahal calon suami sendiri. Aneh memang, tapi memang Jasmine segugup itu jika mendengar suara berat Alvaro. "Ya, kenapa?" Berbanding terbalik dengan Jasmine, suara Alvaro sangat datar terdengar jelas sangat terganggu. Mendapat respon seperti itu, Jasmine menunduk seraya tersenyum kecut, entah hanya perasaannya saja atau memang Alvaro terdengar malas jika berbicara dengannya. Menahan sesak yang semakin menghimpit dadanya, Jasmine berusaha untuk menetralkan suaranya. Dia coba untuk mengambil nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Begitu seterusnya, hingga dirasa cukup tenang, Jasmine pun mulai kembali bersuara. "Ada yang mau aku omongin sama kamu, penting. Kamu ada waktu?" "Malam aja jam delapan, aku lagi anter Safira pemotretan" Sudah Jasmine duga. 'Inget, Jass mereka cuma sahabatan' batinnya mengingatkan. "Oh, iy--ya oke, aku tunggu di rumah kamu ya. Hati-hati" Setelah kalimat itu terucap panggilan terputus sepihak. Tidak ada salam perpisahan seperti kebanyakan pasangan lainnya. Jasmine menggeleng samar, merutuki kebodohannya yang terus terjebak dengan lelaki yang jelas-jelas tidak pernah menganggapnya ada. **** "Jangan cuek gitu," tegur Safira ketika melihat Alvaro meletakkan kembali ponselnya di atas meja. "Ck, ganggu!" Alvaro menjawab acuh. Matanya terlalu sibuk mengagumi wajah cantik yang selalu membuatnya terpesona. Hatinya menjeritkan kekaguman akan visual cantik yang membuat jantungnya berdebar tak keruan. Safira menghela nafas, lelah rasanya menasehati sahabatnya yang keras kepala. "Udah belum? Ayo balik." Ajak Alvaro, sengaja menghindari pembahasan yang berpotensi membuat mood-nya turun. Safira mengangguk dan menghabiskan minumannya sebelum beranjak. "Yuk, aku juga udah capek banget." Keluhnya setengah merengek. Setelah menyelesaikan pembayaran, Alvaro segera mengajak Safira pergi dari Cafe. Tangannya dengan sigap membukakan pintu penumpang untuk safira. "Thanks, Al." Safira tersenyum disambut anggukan kepala serta balasan senyum dari Alvaro. Lelaki itu menutup kembali pintunya setelah memastikan Safira sudah duduk dengan nyaman di kursi. Sedetik setelahnya Alvaro memutari mobil menuju pintu kemudi. Kemacetan kota Jakarta menjadi khalayak umum bagi pengendara beroda dua ataupun empat. Seperti saat ini, dikarenakan masih sibuk, kemacetan pun tak dapat terhindar. Keadaan hening di dalam mobil. Safira terlihat sangat lelah sehingga hanya diam menatap lalu lalang kendaraan di sekitarnya. Alvaro pun yang peka turut diam, tidak ingin mengganggu perempuan yang duduk manis di sebelahnya. Hingga akhirnya mobilnya memasuki Apartemen tempat Safira tinggal. "Aku turun di depan aja, kamu langsung pulang. Kasian Jasmine nunggu." Ucap Safira sembari membuka seatbelt yang membungkus tubuhnya. Alvaro menghela nafas lalu mengangguk. Bukan karena karena perkataan Safira, namun karena dia lelah. Sejak pagi Alvaro sudah keluar rumah. Pagi-pagi dia harus ke kampus dan siangnya menjemput dan menemani Safira pemotretan hingga selesai, lalu kembali mengantar perempuan itu pulang. Memang itu adalah rutinitas Alvaro setiap harinya. Tidak ada kata menolak untuk Safira. Sesibuk apapun, dia akan menyempatkan diri untuk menemui perempuan cantik itu. "Aku pulang ya," pamit Alvaro memberikan sorot teduh seperti biasa. "Hem, hati-hati, Al." Safira sedikit membungkuk, melambaikan tangannya sekaligus memberikan seulas senyum mengantar kepergian Alvaro. **** Alvaro Aldebaran anak semata wayang dari pasangan pengusaha Juan Aldebaran dan Renata Pricilla. Terlahir kaya raya juga dikenal dengan kecerdasan otaknya. Visualnya pun tak main-main mampu menjerat kaum hawa hanya dengan lirikan mata walaupun wajahnya datar-datar saja. Alvaro itu dingin. Alvaro itu cuek. Alvaro itu kaku. Meski begitu, banyak perempuan yang berbondong-bondong menarik perhatiannya dari yang memakai cara sopan hingga yang menjijikkan. Alvaro benar-benar tak habis pikir dengan perempuan-perempuan tersebut bahkan sampai ada yang rela melemparkan dirinya hanya untuk seorang Alvaro. Hingga suatu saat, ada satu sosok perempuan yang dikenalnya semenjak dia SMA. Perempuan tangguh, riang, ceria dan berhati malaikat yang ingin menaklukkan hati seorang alvaro. Clarissa Jasmine, perempuan cantik dengan rambut coklat bergelombang, kulit putih bersih, mata bulat, hidung bangir, dan bulu mata yang indah. Dengan rasa percaya diri yang tinggi dan dukungan dari kedua sahabatnya Desi dan Cika. Jasmine memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada Alvaro saat kelas satu SMA, namun yang didapatkan adalah penolakan dan wajah terganggu yang ditunjukkan oleh lelaki itu kepadanya. Jasmine hidup sebatang kara. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan saat Jasmine memasuki kelas dua SMA. Sejak saat itu, Jasmine menjadi lebih dekat Alvaro dan karena kegigihannya mendekati Alvaro, Renata dan Juan pun akhirnya mencoblangi mereka. Selain karena memang dinilai perempuan yang baik, Jasmine juga pintar mengambil hati Renata dan Juan. Jengah dengan desakan Renata, dengan sangat terpaksa Alvaro mencoba untuk menjalin hubungan dengan Jasmine atas dasar kasihan. Yang lebih membuat Alvaro kesal, Safira ikut mendukung hubungannya dengan Jasmine. Hubungan toxic relationship mereka tetap berlanjut hingga setelah setahun kelulusan mereka dari SMA. Alvaro melamar Jasmine untuk menjadi istrinya dan itupun masih dengan sangat terpaksa Alvaro menjalani semuanya. Dan yang paling membuatnya geram, Renata dan Juan seakan tak bosan mendesak dirinya untuk segera meminang Jasmine karena perempuan itu hidup sebatang kara. Renata dan Juan memberikan alasana menghindari fitnah karena mereka sudah cukup lama menjalin kasih. Padahal, mereka tidak pernah berbuat diluar batas. Awalnya, Alvaro menolak mentah-mentah permintaan ngawur Renata dan Juan. Namun, dengan bujuk rayu serta sedikit bumbu ancaman dari Renata, akhirnya Alvaro luluh juga. Butuh pertimbangan besar bagi Alvaro untuk mengambil keputusan yang tidak main-main dalam hidupnya. Disaat semua sahabatnya masih mencari jati diri, di usianya yang baru akan menanjak dua puluh tahun, Alvaro justru dibebankan oleh tanggung jawab besar. Tidak jauh berbeda dengan Alvaro, awalnya Jasmine juga menolak keras. Selain karena belum merasakan keseriusan Alvaro pada hubungan mereka. Jasmine juga tidak mau menjadi beban, terutama untuk Alvaro. Ngomong-ngomong soal Safira, perempuan cantik itu berprofesi sebagai model yang cukup naik daun saat ini. Rambutnya panjang sepunggung warna coklat terang, matanya indah, hidung mancung dan kulit yang putih bersih. Di dunia model, Safiria mendapatkan julukan barbie hidup karena kecantikannya yang tidak perlu diragukan. Alvaro memang sudah memendam perasaan pada Safira sejak dulu. Namun, Safira kekeuh menolaknya dengan alasan persahabatan. Tapi, dimana pun Safira berada disanalah Alvaro berada. Hampir setiap hari Alvaro menghabiskan waktunya untuk menemani Safira kemanapun perempuan itu mau. Bahkan, Alvaro tidak segan membatalkan janjinya dengan orangtuanya, Jasmine, maupun sahabatnya yang lain demi menemani Safira. Namun sayang, masa lalu dari orang tua Safira membuat dirinya tidak disukai oleh Renata dan Juan, khususnya Renata. Memiliki banyak penggemar ternyata membuat Safira lupa diri. Safira menjadi pribadi yang sombong dan angkuh. Anehnya, para penggemarnya tidak mempermasalahkan hal itu. **** Saat ini Jasmine dan Alvaro sedang duduk di sebuah taman cukup luas, tepatnya dikediaman Alvaro. Seperti biasa, Jasmine tidak pernah sekalipun absen mengunjungi kediaman Alvaro, ada ataupun tidak adanya Alvaro. Jasmine melirik Alvaro yang duduk diam disebelahnya. Rasanya Jasmine ingin pulang saja daripada harus melihat wajah tak bersahabat yang lelaki itu tunjukkan kepadanya. "Al, eum.... kamu yakin mau nerusin acara pernikahan kita?" Jasmine membuka suara setelah mereka cukup lama dalam diam. Suaranya terdengar gugup. "Kenapa nanya gitu?" Alvaro melirik Jasmine dengan wajah datar khasnya. Sumpah demi apapun, Alvaro sangat lelah saat ini. Dia hanya ingin mandi dan tidur setelah seharian mengantarkan Safira. "Aku cuma ngerasa makin kesini kamu semakin jauh, Al. Mungkin hanya perasaanku aja, tapi aku ngerasa kamu semakin menjaga jarak dari aku" lirihnya sendu, pandangannya lurus ke bawah sambil memilin jari-jari lentiknya. Alvaro bergeming tak berniat untuk menjawab, hatinya tidak bisa berbohong bahwa hanya satu nama perempuan yang dicintainya hinga detik ini, Safira Mahendara. Selama menjalin hubungan dengan Jasmine, Alvaro tidak memiliki perasaan lebih pada perempuan itu. Mereka bisa sampai pada tahap ini murni paksaan dari Renata dan Juan juga sedikit gertakan dari Safira. Perempuan itu berkata tidak akan mau berbicara dan bertemu dengannya lagi jika Alvaro tidak menikahi Jasmine. Tentu saja, dengan perasaan yang amat sangat terpaksa Alvaro mengabulkan permintaan Safira. Karena baginya, Safira itu adalah hidupnya, cintanya, dunianya. Walaupun harus mengorbankan statusnya dan masa depannya. Asalkan perempuan itu tetap berada disisinya, Alvaro yakin akan bisa melewati drama penikahannya nanti. "Nggak usah mikir macem-macem, mending sekarang kamu tetap fokus sama acara pernikahan ini." Pungkas Alvaro dingin sebelum beranjak meninggalkan Jasmine. Alvaro sudah terlalu malas harus menghadapi atau menjawab pertanyaan konyol dari Jasmine. Sudah ditengah jalan gini baru nanya, kemarin kemana aja? 'Aku takut, Al. Aku punya perasaan yang nggak enak tentang kelanjutan pernikahan ini' Jasmine hanya mampu memandang sedih punggung Alvaro yang semakin menjauh. Sambil merenung, Jasmine memandang langit gelap ditemani angin malam. Dia mengeratkan kardigan-nya menghalau dingin yang menusuk hingga ke tulang. Bibirnya tetap menyunggingkan senyum walaupun hatinya sangat resah. Cukup lama Jasmine duduk sendirian, hingga akhirnya dia pun beranjak. Entah dimana Alvaro berada saat ini, Jasmine sudah terbiasa dengan sikap cuek dan dingin Alvaro yang seolah tidak menganggap kehadirannya. "Loh, Non, mau makan malam? Bibi masak banyak nih." Bik Imah menatap Jasmine yang baru saja melewati ruang makan. "Nggak usah Bik, aku mau langsung pulang aja. Al udah makan, bik?" Tanyanya dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya. "Masih kenyang katanya, Non. Mau langsung istirahat aja." Sahutnya dengan wajah sungkan. Jasmine mengangguk, "aku pulang dulu Bik, udah malam juga." "Hati-hati, Non." sahut Bik Imah iba. Jasmine mengayunkan kakinya dengan kepala menunduk menuju gerbang rumah Alvaro. "Malam, Non," sapa Pak Husein sembari membukakan pintu gerbang. "Malam, Pak." Jasmine balik menyapa dengan senyum tersungging di bibirnya. "Ojeknya sudah sampai, Non." Beritahu Pak Husein sambil menunjuk motor yang terparkir di depan gerbang. "Iya Pak, makasih. Aku pulang dulu." "Sama-sama Non, hati-hati dijalan." Katanya memperingati. Pak Husein berjalan dibelakang Jasmine mengantarkan perempuan muda itu hingga memakai helm. "Sesuai aplikasi ya, Pak." "Siap mbak!" Abang ojeknya tersenyum sangat manis dan memberikan hormat membuat Jasmine tertawa karenanya. Jasmine pulang sendiri ke rumahnya jangan harap Alvaro mau mengantarnya pulang. Mengantar hingga pintu utama saja bisa dihitung jari selama mereka menjalin hubungan. Begitu sampai di depan pintu rumahnya, Jasmine disambut oleh keheningan serta dinginnya malam. Jasmine membuka pintu, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang gelap. Jasmine mendesah lelah, selalu seperti ini setiap kali dia kembali ke rumahnya. Rumah sepi tak berpenghuni, hanya Jasmine sendiri yang tinggal rumahnya semenjak orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Sepi dan sendiri sudah menjadi sahabat terbaiknya saat ini. Setelah masuk, Jasmine mengunci kembali pintu rumahnya. Mengayunkan kakinya ke arah kamarnya tak lupa menyalakan lampu dapur hanya untuk formalitas agar rumahnya sedikit terang. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Jasmine kembali melangkah gontai menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket. Setelah mandi, Jasmine melakukan ritual malamnya memakai cream malam. Dirasa sudah cukup, Jasmine berjalan menuju ranjang lantas membaringkan tubuhnya sambil berucap dan berdoa dalam hati semoga hari esok bisa lebih baik lagi dari hari ini. Jasmine menutup perlahan matanya lelah, mencoba untuk menggapai mimpi indah yang selalu dia impikan dan harapkan. Hanya satu mimpinya, hidup bahagia bersama laki-laki yang dia cintai sampai saat ini, Alvaro. Meskipun Jasmine tau mimpinya terlalu jauh dari sebuah harapan yang sia-sia.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook