Refleks, Sehun menghentikan langkahnya. Matanya melebar sempurna. Genggaman pada tangan Nara menguat tanpa sadar. Dalam hati tak henti-hentinya mengumpati sosok Kenneth yang berdiri di belakang punggung. Sehun menggeram marah dan hampir berbalik guna memberi Kenneth pelajaran, tapi Nara sudah lebih dulu mencecarnya dengan pertanyaan, “Paman, apa maksud Kak Kenneth?” Tatapan dan raut wajah Nara tampak tak percaya. Tangannya menahan milik sang paman agar tak pergi ke mana-mana. Mau tak mau, Sehun mengalihkan atensi kepada sang keponakan. Sial, ia hampir lupa kalau Nara mendengarnya! Cepat-cepat Sehun pun menyarangkan tangannya pada bahu gadis itu. Ia menjelaskan, “Itu bukan apa-apa. Kau tidak perlu memikirkan—“ “Jujur saja padanya, Aldrich Arnault! Katakan yang sejujurnya pada Nara kalau

