Penunggu Pohon Belakang Sekolah

1401 Words
Aku tengah duduk menikmati alunan suara merdu Abang-abang Taruna AAU, rekaman yel-yel yang Bang Arta berikan kemarin. Hidup di dunia militer bersama ayah dan orang-orang tercinta membuat aku terbiasa dengan banyak hal yang berbau militer. Bahkan genre musik yang aku sukai bukan Rock, Pop, Jazz, Klasik atau yang lainnya, jika ada genre militer maka itulah genreku. Di bawah pohon kecil di belakang sekolah. Akhir-akhir ini aku, Ipeh dan Dirga sering kali nongkrong di sini, ssekedar menunggu rapat OSIS atau menikmati ciloknya Mang Jono. Jika biasanya berdua atau bertiga, sekarang aku sendirian saja, Ipeh tak masuk karena sedang tidak enak badan, terlalu lama nongkrong di Malioboro mungkin. Sementara Dirga, dia sibuk dengan urusan tugas-tugasnya, bahkan rapat OSIS di tunda besok sore. Ini jam istirahat kedua, saat orang lain lebih suka nongkrong di kantin, menikmati nasi-nasi hasil karya Simbok. Di sini, Ibu Kantin biasa dipanggil Simbok. Tapi aku lebih memilih duduk di bawah pohon daripada di kantin Simbok yang terlalu ramai, terlebih banyak Adik kelas yang cerewetnya minta ampun, belum lagi ada Byan and the geng. Mataku terpejam menikmati hembus angin yang syahdu, membuatku lupa perihal cerita mistis di bawah pohon belakang sekolah. Nyatanya aku pun tidak merasakan apa-apa selama ini. Kisah mistis itu hanya bayangan dan terkadang ilusi yang kita ciptakan sendiri, kalaupun mereka ada, biarkan saja mereka hidup berdampingan dengan kita, Tuhan juga yang menciptakan mereka. “Wuushh...” Baru juga aku selesai berbicara tentang mistis, sudah ada yang mengganggu leherku, ditiup-tiupnya begitu lembut. Aku berusaha tidak peduli, masa bodoh mau mereka mengajakku berbicara, mungkin mereka juga hanya ilusiku semata. Tapi jika dirasa-rasa, hembusan angin itu semakin nyata. Jika itu benar-benar angin, pasti tidak hanya menyerbu rambut dan leher bagian kananku. Sementara leher bagian kiriku tak merasakan hembusan angin yang sama. “Duh, penunggu pohon, saya cuma mau duduk menikmati oksigen yang sehat ini. Tidak berniat mengganggu waktu istirahatmu,” kataku dengan suara tipis. Hembusan itu justru semakin terasa, membuat bulu kudukku merinding. Baiklah, tadi aku benar-benar tak takut, tapi sekarang rasanya makhluk-makhluk semacam itu memang ada. “Mbak Kunti, Pak Genderuwo, Dik Tuyul, Om Pocong, sungguh siapapun itu. Izinkan saya duduk di sini,” kataku lagi, masih dengan mata terpejam. Takutnya ketika aku membuka mata, yang di depanku adalah hantu itu sendiri. Lebih baik menutup mata sampai nanti. Masih kurasakan hembusan itu, jahil sekali penunggu pohon di belakang sekolah ini. Kuletakkan cilok yang katanya khas Tasik itu di kursi sampingku. Kumasukkan ponsel ke dalam sakuku. Tangan kanan dan kiriku juga bergerilya, meraba, mencari jalan agar aku bisa berdiri dan beranjak pergi tanpa membuka mata. Baru mulai menggeser kaki, aku sudah tergelincir sisa-sisa bangunan sekolah yang dirobohkan satu bulan yang lalu. Alhasil aku tak bisa menahan keseimbanganku dan aku tetap tidak mau membuka mata. Coba saja sekarang kalian memejamkan mata, lantas kalian membuka mata dan di depan kalian adalah Mbak Kunti atau Om Pocong yang wajahnya menyeramkan. Tepat di depan mata kalian dengan jarak 10 cm. Ya semacam itu yang aku takutkan, makanya aku tak mau membuka mata. Kupikir aku akan terjatuh dan luka-luka di beberapa bagian, terbentur beton-beton sisa bangunan. Tapi nyatanya aku jatuh dalam pelukan hangat yang sangat kuat, dan bau wangi melati yang sangat menyengat. Tunggu, melati? Sungguh ini melati? Jangan-jangan yang menangkapku sekarang adalah hantu? Iyakah? “Aaakk, ampun penunggu pohon belakang sekolah, ampun. Saya cuma numpang duduk dan makan saja,” kataku langsung melepas pelukan dan berjongkok macam orang mohon ampun. “Hi hi hi,” suara tawa yang terdengar sangat usil, semacam suara tawanya Mbak Kunti. Aduh, Mbak, siang-siang gini keluar juga cari apa sih, Mbak? Lebih baik nanti malam saja. “Ha ha ha. Kamu itu penakut banget ya?” Aku langsung membuka mataku. Suara dan tawanya sungguh tidak asing lagi. Jelas, siapa lagi kalau bukan Byan, manusia paling usil di dunia dan di akhirat. Berdiri dan sudah kukepalkan tanganku, siap menghantam wajahnya tapi terhenti di 30 cm di depan wajah Byan. Aku ingat Bunda, aku ingat ayah dan aku ingat semua orang yang tidak menginginkan aku menjadi perempuan brutal. “Kenapa nggak jadi?” tanya Byan menatap kepalan tanganku di depan wajahnya. “Kamu tuh! Ih, kapan sih mau berhenti jahil dan usil sama aku?” Kutarik lagi tanganku dan menahan segala amarah di rahangku. Alis Byan terangkat satu, bola hitam matanya bergerak untuk berpikir. “Em, kalau kamu sudah jadi pacarku,” jawabnya santai dan berhasil membuatku tertawa jahat. “Mimpi!” tegasku. “Kan mimpi itu bisa saja jadi nyata dan tidak. Tapi gimana ya? Siswa SMA jelas kalah sama Taruna AAU.” Dahiku mengernyit. “Biar kutebak. Pacarmu itu taruna tingkat akhir kan? Harusnya dia praspa tahun ini.” “Tebak-tebak, kaya dukun! Pergi sana! Ganggu!” mendorong tubuhnya. “Kan aku penunggu pohon belakang sekolah. Jadi di sini yang paling pantas pergi adalah kamu,” menunjukku dengan telunjuknya. Mengerlingkan mata, jelas aku yang akan kalah dalam hal ini. Tak penting juga berada di sini juga dengan Byan. Dan satu hal, aku sudah kepalang malu dengan sikapku yang tadi. Penakut sekali, percuma punya ayah tentara kalau penakut. “Oke baiklah, penunggu pohon belakang sekolah! Bye!” Kulangkahkan kakiku meninggalkan Byan, kuhentakkan kakiku menahan kesal, laiknya raksasa yang berusaha mengguncang bumi. Sesekali aku masih menengok ke arah belakang, memandang Byan penuh dengan kemarahan yang berapi-api. Anak yang satu itu pantasnya memang ditendang tapi aku tak bisa melakukannya. “Eh, terima kasih ciloknya,” teriaknya membuat perutku kembali keroncongan. Itu makan siangku hari ini, tapi sudah berpindah tangan. Gengsi mau mengambilnya lagi. Tetap melangkah pergi dan berusaha sok tidak peduli. “Oh iya,” menoleh ke belakang lagi. Aku ingat sesuatu yang bisa membuatnya mati kutu. “Jangan lupa ganti parfum. Katanya sih cowok paling cool di sekolah tapi parfumnya melati!” cibirku cukup keras, lalu berjalan lagi tidak peduli. “Ini juga karena ketumpaham parfumnya Ibuku, woy! Kamvert lu! Untung gua suka!” teriaknya membuatku semakin merasa menang dalam hal ini. Sungguh hari yang membahagiakan setelah aku bisa mengejeknya dengan parfum melati itu, sungat tidak pantas baginya. Aku terus berjalan ke kelas sambil menahan tawa. Hanya sedikit merasa menang, seperti mendapat medali emas dalam sebuah Olimpiade. “Ngopo koe, Ra? Edan?” tanya teman sekelasku. (Kenapa kamu, Ra? Gila?) “Iyo, bar ngomongan karo leh nunggu uwit mburi sekolah,” jawabku asal saja lalu tertawa. (Iya, habis bicara sama yang nunggu pohon di belakang sekolah) “Woo, edan tenan bocah iki,” sahut temanku satunya lagi. (Woo, gila beneran anak ini) Masuk seseorang yang paling jahil di kelas ini, dia satu geng dengan Byan, si songong—Baron. Dia baru saja datang dan duduk di kursi dekat denganku. “Habis berduaan dia sama Byan di belakang sekolah. Maklum kalau dia ketawa sendiri, hampir jatuh cinta dia sama Byan.” Tunggu, Baron tahu soal aku dan Byan tadi? Di sisi mana dia? Tampaknya tadi hanya aku dan Byan, kenapa Baron bisa tahu? “Sama Byan dia?” sekelas langsung heboh. “Eh lupa-lupa, jangan bikin gosip kata Byan. Ara sudah punya pacar, Taruna AAU. Dan Byan tidak mau menggunakan trik menyebar gosip untuk merebut pacar orang. Dia mau menggunakan trik halus untuk merebut Ara,” kata Baron dengan nada suara yang keras. Salah satu perempuan di kelasku, yang katanya juga suka sama Byan langsung mendekatiku dan Baron. Namanya Renita, dia cantik tapi jujur dari segi akademik dia jauh di bawahku. “Byan suka sama Ara? Bukannya Byan benci banget sama Ara ya?” tanya Renita pada Baron. Baron terawa. “Meskipun dia usil, dia tidak pernah bisa membohongi sahabatnya. Dia suka sama Ara dan itu semua adalah caranya untuk mendapatkan perhatian dari Ara. Sayang dia pilih Taruna AAU, bukan calon Taruna AAU.” Aku menghela napas. “Seganteng apa Taruna AAU itu, Ra? Kalau dia lebih tampan dari Byan, kita bisa kerjasama. Taruna AAU itu buat aku dan Byan bisa buat kamu. Tapi kalau Taruna AAU itu biasa saja, langkahi mayatku dulu sebelum dekat dengan Byan,” sadisnya Renita yang aku tahu hanya didongeng kelas karena aku anak baru, sekarang akhirnya aku merasakan juga. Mengangkat kedua alisku. Sudah bagus aku tertawa bahagia karena bisa membuat Byan kesal malah tambah lagi cewek ganjen yang satu ini. “Taruna AAU itu tampan, penyayang tapi dia bukan pacarku, dia itu Abangku. Jadi, tidak akan mudah aku serahkan ke kamu hanya untuk seorang Byan. Lagipula, Renita, cewek yang katanya paling hits seantero dunia. Byan bukan pacar kamu, kenapa harus melangkahi mayatmu dulu? Kamu bodyguard yang harus melindungi Byan? Cantik sih! Tapi jangan bodoh hanya karena perasaan!” tekanku sampai menggebrak meja. Semua orang terdiam, tidak ada yang berani ikut campur. Renita saja kicep tak bisa berbicara. “Dan satu lagi, sampai detik ini aku tidak tertarik dengan Byan!” “Benar? Baguslah!” Kupandang Renita sekilas namun mematikan, lalu kubiarkan dia mematung di sana. Kesal rasanya, hanya karena seorang Byan saja sampai segitunya. Apa hebatnya Byan itu? Toh dia tidak bisa membuatku jatuh cinta. “Beneran taruna AAU itu Abangmu, Ra?” tanya Baron ingin memperjelas. “Kalau iya, kenapa?” “Ya, berita bagus.” Menghela napas kesal. Berjalan pergi, terus berjalan entah kemana kaki ini akan melangkah. Yang pasti mencari sesuatu untuk mengganjal lapar sampai jamnya pulang nanti. Oh satu lagi, mencari sesuatu yang bisa mendinginkan hati dan otak bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD